Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 20 (Lapar di pagi buta)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


.


.


.


.


Pelukan di perut datar semakin menguat, pangkal hidung mancung tuan muda Yamato mengendus leher jenjang sang istri. Perempuan yang berada di pelukan Leo mengerang kesal, karena merasa geli dengan apa yang sang suami lakukan. Senyum terbit di bibir merah tebal seksi Leo Yamato. Kala mendengar erangan kesal dari sang istri.


"Sayang!" panggil nya dengan nada serak.


Vera tak menyahut. Vera terlalu mengantuk untuk membuka mata. Waktu baru menunjukkan pukul empat pagi, Vera tidak tau apa yang membuat Leo mengganggu nya di jam yang masih terlalu pagi untuk bangun.


"Sayang! Aku lapar," keluh Leo. Sebelum melayangkan kecupan di leher Vera.


"Eeghh!" Erang Vera dengan tubuh bergerak. Mencoba menjauhi tubuh sang suami.


Leo terkekeh renyah kala mendapatkan penolakan Vera. Sayangnya, ke dua tangan nya membelit erat perut sang istri.


"Ayolah, lapar!" Seru Leo kembali sembari menarik cepat tubuh Vera masuk ke dalam pelukannya.


Kecupan basah, sungguh menganggu. Vera berteriak tertahan kala kecupan berubah menjadi sesapan. Vera terlonjak, hingga pelukan di perutnya terlepas. Wanita berpipi chuby itu bahkan terduduk dengan rambut berantakan. Ke dua mata yang terbuka terlihat memerah. Sebenarnya Leo kasihan melihat wajah kacau sang istri. Mau bagaimana lagi, dia benar-benar merasa lapar. Makan malam di luar tidak membuat Leo makan dengan kenyang.


"Apa sih kak! Ngantuk tau," kesal Vera dengan kelopak mata terkulai. Pertanda sang pemilik tubuh benar-benar mengantuk.


Leo ikut bangkit dari posisi tidur nya. Meringusut ke arah Vera. Membenahi rambut megar sang istri.


"Lapar, bikinin makan ya!" Pintanya setengah memelas di sela kegiatan nya.


Vera mendesah pelan. Ke dua matanya benar-benar mengantuk, akan tetapi hati nuraninya tak membiarkan sang suami kelaparan. Mengingat kewajiban nya sebagai seorang istri.


"Mau di masakin apa?" tanya sebelum menutup ke dua matanya.


"Ayam kecap, tumis cumi pedas manis sama gorengin kerupuk jengkol ya," ucapnya dengan nada antusias.


Kontan saja ke dua kelopak mata sayu Vera terbuka cepat. Dengan pandangan mendelik pada sang suami.


"Gak ah, banyak banget. Itu mau sarapan pagi atau gimana sih," tolak Vera dengan ke dua mata melotot.


Leo terkekeh. Lucu! Wajah istri nya semakin terlihat menggemaskan.


"Jangan ketawa!" Kesal Vera sebelum melayangkan pukulan kecil di lengan berotot Leo.


"Ouch! Sakit sayang!" Seru Leo mengusap cepat pada lengannya.


Vera mencibir."Sakit dari mana pukul nya pelan juga," cemooh Vera.

__ADS_1


Leo cengengesan.


"Makanan yang simpel aja ya," usul Vera.


"Memang masakan yang simpel apa saja?"


"Ya, mie instan atau gak yah... telur mata sapi."


"Gak ah," tolak Leo dengan tidak tau dirinya.


Vera mendengus kesal."Ya udah masak sendiri aja," kesalnya.


Kembali tubuh nya di rebahkan. Leo panik, tangannya menggoyang-goyangkan pergelangan tangan Vera.


"Sayang! Jangan dong. Aku benar-benar lapar nih!" Bujuknya tak lupa wajah di buat-buat seimut mungkin.


"Gak mau, kakak maunya banyak banget. Udah kayak pergi ke restoran saja!"


"Ayolah, kalau aku mati kelaparan nanti gak punya suami tampan lagi loh!" ujarnya,"jadi janda gak enak loh sayang!" Lanjut nya menggoyang kan pergelangan tangan Vera.


Kelopak mata yang di tutup kembali terbuka. Wajah tampan sang suami terlihat sangat nelangsa. Kasihan. Satu kata yang di gambarkan jika melihat wajah nelangsa Leo Yamato.


"Gini aja deh, pilih makan mie instan atau makan nasi goreng aja?" tawar Vera.


Leo menghentikan pergerakan tangannya. Dahinya berlipat dalam, seolah berpikir keras.


"Nasi goreng pedas saja deh kalau begitu. Tapi gorengin kerupuk jengkol nya ya," balas Leo dengan mata penuh harap. Pria Yamato ini licik, lihatlah bagaimana ekspresi nelangsanya berubah menjadi wajah anak berusia lima tahun minta di belikan permen.


"Oke, aku mau cuci muka dulu!" pada akhirnya Vera memasak makanan untuk sang suami tercinta.


Leo bersorak seperti anak kecil saja. Diam-diam Vera tersenyum tipis kala mendengar sorakan bahagia sang suami.


...***...


Segaris senyum terus di bentuk. Seperti pagi minggu biasanya. Ke dua pasangan suami-istri ini tentunya berkunjung ke rumah ke dua orang tua mereka. Sesibuk-sibuknya anak-anak, orang tua tidak boleh di lupakan. Hingga kesepakatan terbentuk, di mana di hari libur mereka akan mengunjungi ke dua orang tua mereka.


Beruntung rumah Leo dan Vera bersebelahan. Hingga tidak akan ada yang namanya kepusingan melanda.


"Bagaimana perkembangan nya, Vera?" Tanya Nara sembari mengisi sedikit pewarna pada puding yang mereka tengah buat.


"Masih belum juga kah?" kini giliran Siti membuka suara.


Vera tersenyum. Ia memaksakan senyum senatural mungkin. Ia sama sekali tidak tau apakah dia sudah isi atau belum. Vera terlalu sibuk dengan kegiatan di luar rumah. Di tambah masalah ia dan Ana. Belum lagi masalah gosip kurang sedap tentangnya menyebar di kampus.


Kepalanya menggeleng pelan."Seperti nya belum, Ma!" jawab Vera jujur.


Benar bukan? Ia tidak mendapatkan tamu di pagi hari atau sekedar tidak datang bulan. Mood nya baik-baik saja, yang pasti di sini tidak ada yang salah pada dirinya. Itulah yang ia pikirkan.


Siti dan Nara serentak melenguh kecewa. Vera mengigit pelan bibir bawahnya, kepalanya menunduk dalam.

__ADS_1


Tap!


Tap!


Tap!


"Ada apa dengan suasana di sini!" Seru Leo mendekati ke tiga wanita yang ada di dapur besar rumah kediaman Yamato.


Ketiga nya menoleh menatap asal suara. Leo tersenyum lembut seperti biasanya.


"Kenapa ke sini, apa ada yang kau butuh kan sayang?" tanya Nara melihat sang putra semakin mendekati mereka.


"Tentu saja ada, Ma," balas Leo sebelum tangan besar milik nya menarik Vera. Mengikis jarak mereka."Aku butuh istri ku!" Lanjut nya tak lupa mengulas senyum lebar.


Siti dan Nara terkikik kecil. Leo Yamato memang tidak ada malu-malu pada orang tua. Memperlihatkan kemesraan mereka di depan keluarga. Vera memerah. Kala tangan Leo menyentuh pinggang nya.


"Aku harus masak puding bersama mama kak," kata Vera dengan nada pelan.


"Mama! Boleh bawa Vera," tanya Leo menatap ibu mertua dan juga sang ibu meminta persetujuan.


"Mau kemana kalian berdua?" bukannya menjawab. Siti malah balik bertanya.


"Bikin anak!" Jawab Leo tidak tau malunya.


"AW! Sakit sayang," protes Leo mendapatkan cubitan dari Vera.


Nara dan Siti tertawa mesum mendengar ucapan Leo.


"Jangan buat malu," bisik Vera dengan nada kecil.


"Siapa yang buat malu juga, lagipula mamaku dan mamamu akan mengerti. Buat cucu, gak ada yang salah kok!" belanya dengan suara keras.


Vera mengerang tertahan. Nara dan Siti semakin menjadi saja tertawanya.


"Sana deh, bikin. Jangan lama-lama ya!" ucap Nara.


"Dan kalau bisa bikin yang bagus ya. Biar yang jadi imut." Siti berucap di sela tawanya.


"Siap! Mama!" teriaknya kala di tarik keluar dari area dapur oleh Vera. Sebelum suaminya ini semakin membuat wajahnya memerah.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


.


__ADS_2