Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 8 (Posesif)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏


.


.


.


.


.


Hujan kecil tercipta, menghujam tubuh tuan muda Yamato. Air jatuh menuruni tubuh kekarnya. Mungkin ada banyak wanita di luar sana yang iri pada tetesan air yang mampu membelai tubuh kekar dalam batuan hot Leo.



Leo memutuskan untuk mendinginkan otaknya dan hatinya yang kembali memanas di karena foto dari nomor tak di kenal. Pria ini benar-benar ingin memberikan pria di foto itu bugem mentah saat ini juga. Namun mengurungkan niat nya, mencoba tetap rasional. Meski iblis di dalam hati menghasut diri untuk menghancurkan pria yang tertawa bersama istri nya.


"Aku harus tenang. Vera hanya milik ku. Hanya istri ku," monolognya resah.


Ketukan di luar pintu kamar tidak di sahut. Vera mendorong pintu kamar Leo perlahan. Menelusup kan kepalanya di balik daun pintu. Kosong! Tidak ada pria itu.


"Kemana dia?" ujarnya pelan.


Sayup-sayup pendengaran nya menangkap suara air di kamar mandi.


"Ah, mandi ternyata!" seru Vera lagi.


Gadis ini menarik kembali kepalanya dari pintu. Berdiri dengan tegap. Gadis ini memutuskan melangkah ke dapur yang memang tak terlalu jauh. Tangan nya mulai bergerak lincah. Tubuh mungil Vera di bawa ke sana dan ke di sini. Meraih beberapa bahan masakan. Hujan lebat mulai mengguyur ibu kota Indonesia.


Vera terlihat sangat cekatan. Memotong sayur mayur, membasuh ikan yang sudah di buang isi perutnya. Tidak butuh waktu lama Vera memasak. Meningkatkan bahan yang di gunakan sudah siap jadi. Gadis ini, di hari liburnya di gunakan untuk mengisi kulkas dengan bahan yang sudah ia giling sendiri. Mulai dari kunyit yang di haluskan, bawang merah dan bawang putih yang telah di kupas. Agar, saat pagi dan menjelang magrib. Makanan yang ia buat telah terhidang.


Aroma sayur asem, ikan goreng balado dan nasi yang asapnya mengepul telah terhidang. Vera tersenyum puas dengan makanan yang telah ia buat. Perlahan ia membalik kan tubuh nya.


"Astaga naga!" Vera terpekik. Gadis ini terkejut dengan sang suami yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Bersandar bak model menatap nya dengan pandangan aneh. Dengan ke dua tangan di lipat di perut.



"Kenapa terkejut?" tanya Leo mendapatkan hembusan napas dari Vera.


"Bagaimana tidak terkejut. Aku tidak mendengar kan langkah kaki tuan. Tiba-tiba sudah berada di sana!" balas Vera dengan wajah serius.


Leo menurunkan tangan yang di lipat di perut nya. Melangkah mendekati sang istri.


"Berapa kali harus aku bilang jangan memanggilku dengan panggilan itu," tukas Leo dengan raut wajah tak suka.


"Memang nya apa masalahnya dengan panggilan nya?" protes Vera,"lagipula panggilan itu sopan," lanjut nya.


Leo mengetatkan ke dua sisi rahang keras nya.


"Aku tidak suka," tolak Leo.


"Kenapa?"


"Aku suamimu, bukan majikanmu!"


Bibir pink Vera terbuka. Namun terkatup kembali, jika di pikir-pikir pria di depannya ini benar juga. Tuan adalah panggilan untuk majikan atau orang lain yang baru di kenal. Tapi ia dan Leo bukan ke dua-duanya.


"Lalu, panggil nya apa?"

__ADS_1


"Sayang, honey, my love, atau my hubby juga boleh!" Kata Leo mengembangkan senyum lebar.


Ke dua mata sipit itu berkedip cepat. Mendadak mual mendengar panggilan manis namun entah mengapa terasa menjijikkan di telinga Vera.


"O-g-a-h!" kata Vera sembari menjeda huruf yang keluar dari bibir nya.


Leo merenggut. "Apa susahnya sih. Panggil nya kan pas untuk suamimu ini!"


"Tidak mau!" tolak Vera.


"Harus mau!"


"Tidak mau!"


"Harus mau!"


"Tidak mau!"


Tling!!


Suara pintu terbuka membuat lanjut pertengkaran ke duanya berhenti. Ke duanya serentak saling melempar kan tatapan pada satu sama lain. Siapa yang punya kartu kunci apartemen mereka?


"Anak-anak!!" Seruan dengan langkah kaki membuat ke duanya menoleh ke arah suara.


Leo tersenyum menyambut ke datang sang Ibu. Sedangkan Vera merasa pening. Bukan gadis ini tidak suka dengan kedatangan nyonya besar Yamato dan tuan besar Yamato. Akan tetapi ada hal yang membuat gadis ini merasa——pusing dengan ke datangan ke duanya.


...***...


Decak kagum dari penata rias membuat wanita paruh baya yang masih saja cantik di usia yang tidak lagi muda terlihat tersenyum puas.


"Buka ke dua matamu sayang!" titah Nara pada sang menantu.


Ke dua kelopak mata Vera terbuka perlahan. Ke dua manik mata hitam legam itu menggerjab cepat. Ia tak percaya dengan hasil riasan. Dari penata rias make up artis, Korea itu.


"Ini aku?" tanya Vera tak percaya.


Nara tersenyum lebar."Tentu saja menantu, Mama. Siapa lagi!"


Vera masih tak percaya dengan pandangan nya.


"Ayo keluar. Leo pasti semakin ke sem-sem liat istri nya!" Ujar Nara menarik Vera berdiri dari posisi duduk nya.


Vera hanya menurut saja. Sepatu tinggi terasa menyusahkan langkah nya. Demi senyum ibu mertua, Vera rela merasakan ketidak nyaman pada ke dua kakinya. Gadis ini berani bertaruh jika pergelangan kakinya akan membengkak pada akhirnya.


Kreat!


Pintu kamar ruangan khusus itu terbuka. Leo yang duduk bersandar menoleh ke arah pintu.




Ke dua pipik mata nya membesar melihat siapa yang tersenyum keluar bersama sang Ibu.


"Leo!" panggil Nara.


Kontan saja Leo berdiri dari posisi duduknya. Mendekati ke duanya.


"Bagaimana?" Nara menanyai pendapat Leo akan penampilan Vera yang di rubah habis-habisan.

__ADS_1


Rambut hitam tak lagi terlihat. Rambut sang istri telah berubah warna menjadi coklat terang. Kulit Vera terlihat lebih kinclong dari pada sebelumnya. Ternyata, satu Minggu bersama Nara membuat Vera berubah drastis. Cantik. Satu kata yang melintas di otak nya.


"Hei! Di tanyai malah bengong!" Tegur Nara menepuk bahu Leo.


Vera hanya tersenyum di paksakan. Malu, jujur saja Vera tidak PD dengan penampilan nya saat ini. Terlalu full make up dan juga pakaiannya terlalu terbuka.


"Eh?"


"Bagaimana penampilan dan perubahan Vera?" kesal Nara harus mengulang kembali pertanyaan.


"Jelek!" tukas Leo.


Jika tadi Leo yang melongo. Maka kali ini Nara lah yang melongo mendengar jawaban Leo. Sedangkan Vera hanya meringis mendengar jawaban Leo.


"Dari mana jelek nya?" protes Nara.


"Jelek saja. Riasannya kayak topeng, bajunya kayak orang miskin. Kurang bahan," balas Leo kesal.


Nara terkekeh pelan. Air wajah'nya berubah. Putranya takut ternyata, takut pria lain melirik Vera.


"Lalau maunya bagaimana?"


"Bajunya pakai baju panjang saja, dan itu make up-nya di hapus saja. Tidak cantik!" ujarnya lagi.


Nara tertawa keras. Vera mendesah jengkel. Awas saja pria satu ini, pria ini tidak tau saja selama satu Minggu penderitaan apa yang ia terima hanya untuk memuaskan ibu mertua nya ini. Dan seenak jidat nya, Leo bilang ia jelek. Kurang ajar.


"Tidak. Vera tetap akan seperti ini. Sana bawa Vera ke taman belakang!" Nara mendorong pelan punggung Leo dan Vera.


Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan tuan besar dan nyonya besar Yamato ini. Hingga rumah besar Yamato sangat ramai.


"Leo! Vera!"


Seruan keras di lorong masuk taman membuat ke duanya berhenti melangkah. Leo tampak mengandeng tangan Vera.


Ketiga pria dengan jas mahal melekat di tubuh masing-masing melangkah lebar.



"Jaga mata mu!" Delik Leo memberikan tatapan membunuh pada Lucas kala mata pria itu menatap nakal istri nya.




Kontan saja Reza dan Mark membulatkan ke dua mata mereka tak percaya. Mereka bertiga pikir yang di gandeng oleh Leo malam ini adalah gadis lain. Tapi ternyata Vera.


"Wah! Ini Vera?" seru Mark tak percaya.


"Cantik!" timpal Reza.


Tatapan tajam di hunuskan oleh Leo pada ke duanya. Posesif. Satu kata yang mereka dapatkan.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏


.


__ADS_2