Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 14 (Tamu di pagi hari)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏


.


.


.


.


.


Leo dan Vera berwajah masam di pagi minggu. Jadwal pagi minggu yang biasa nya mereka lakoni tak lagi sama. Kala ke dua orang tua ke duanya merecoki mereka. Vera merasa begah dengan jamu yang telah masuk ke dalam perut nya. Tak jauh berbeda dengan Vera, tuan muda Yamato ini juga sama. Ingin rasanya muntah, karena jamu dari ke dua orang tua mereka.


"Kenapa dengan wajah kalian?" sapa Siti yang terlihat menatap wajah ke duanya.


Kontan saja Nara ikut menatap ke dua pasangan suami istri itu dengan pandangan heran.


"Begah saja, Ma. Soalnya, minum jamu nya tidak di kasih permen," jawab Vera cepat.


Ke dua wanita paruh baya itu mengangguk mengerti. Leo hanya tersenyum kecil mendengar kebohongan sang istri. Ke duanya tidak pernah meminum jamu yang di berikan oleh Nara maupun Siti. Jamu yang rutin di berikan oleh ke duanya malah di berikan pada orang lain.


Bayangan, rasa jamu yang benar-benar tidak enak. Baik Leo dan Vera benar-benar memiliki kemiripan. Sama-sama tidak suka minuman tradisional itu.


"Kalau begitu nanti Mama bakal beliin permen satu kardus," ujar Nara dengan penuh semangat.


"Banyak banget Besan. Beli dua pack saja sudah. Pemborosan itu," timpal Siti.


"Terlalu banyak kah?" tanya Nara dengan raut aneh.


Kontan saja Ibu dan anak itu mengangguk cepat. Leo hanya menggeleng pelan.


"Ya, sudah. Dua pack nanti deh, mama kirim. Tapi harus rutin ya minum jamunya. Dan jangan lupa praktek nya. Biar cepat hamil. Mama udah gak sabar menimang cucu. Yang lain udah pada pamer. Lah mama sama mama Siti nggak bisa pamer," curhat Nara.


Siti mengangguk."Benar itu. Kalau lagi arisan sama teman-teman. Mama sama mama Nara malah diam saja, kalau yang lain ngomongin cucu. Kata Dokter kalian kan sehat-sehat saja. Tidak ada masalah baik dari Leo maupun Vera. Cuma kurang sering bikin saja. Lagipula apa susahnya bikin sih, sama-sama enak," crocos Siti membuat wajah Vera memerah seketika.


Leo hanya tersenyum geli. Pria ini sih, suka-suka saja. Yang susah di ajak itu sang Istri. Nara terkekeh melihat ekspresi Vera. Menantu nya satu ini memang suka malu-malu kucing. Seperti saat ini.


"Mama Siti tenang saja. Aku akan berusaha keras agar Vera cepat hamil. Jangan khawatir, Ma!" Seru Leo sembari merangkul pinggang Vera.


Seruan keras dari ke dua Ibu mereka terdengar jelas.


"Ah, kita pulang saja Besan. Aku iri jika terus di sini!" Ajak Siti sembari bangkit dari posisi duduknya.


Nara mengikuti jejak Siti."Ya, udah. Kami berdua pulang dulu. Ingat pesan mama dan mama Nara. Semangat bikin, kalau soal membesarkan serahkan pada mama dan mama Nara. Kita bersedia mengurus si kecil." Peringat Siti tak lupa mengusap pelan puncak kepala Vera dan Leo berganti-gantian.


Ke duanya nya hanya mengangguk patuh. Biarkanlah ke duanya mau bilang apa. Yang penting menurut saja dahulu pada ke duanya. Mengingat Siti dan Nara adalah duo ibu yang tengah ngebet mau dapat cucu.


...***...

__ADS_1


Tidak ada orang yang bisa mengalihkan pandangan mata mereka dari wajah tampan Leo Yamato. Dengan kaos putih bergambar love di padu padankan dengan celana jins hitam. Sepatu Sneaker Desainer Buscemi yang memiliki harga Rp.1,9 Milliar. Siapa saja akan menjerit tertahan akan harga sepasang sepatu. Yang kini tengah menginjak debu di tanah Dufan. Beda Leo maka beda lagi dengan Vera. Nyonya muda Yamato itu, hanya memakai gaun pink pastel selutut. Dengan sepatu putih senada dengan Leo. Tanpa merek. Ya, wanita satu itu memang unik. Begitu banyak dari baju, sepatu, tas dan aksesoris berharga fantastis. Vera lebih nyaman memakai pakaian yang dengan harga standar. Tidak membuat dompet menjerit.


"Kita mau naik apa?" Tanya Leo kala mengedarkan pandangan matanya pada begitu banyak nya wahana permainan.


"Naik yang santai dulu saja. Bagaimana kalau naik Kora-kora saja dulu?" usul Vera.


Manik mata coklat dingin Leo menatap wahana dengan bentuk kapal yang begitu besar. Di depan sana begitu banyak antrian.


"Oke, yang manapun yang ingin sayangku naiki. Maka harus kita naiki. Lagipula, kartu nya berapa kali gesek pun tidak akan habis," ujar Leo mendapatkan gelengan kepala dari Vera.


Jari jemari Vera dan Leo saling bertautan. Ke duanya memasuki antrian. Beberapa kelompok remaja sampai yang sudah punya pasangan. Terlihat curi-curi pandang pada Leo. Pria itu memilih acuh. Membungkukkan tubuhnya, tak lupa tangan nya melingkar di leher Vera. Dagu lancipnya, bertengger indah di atas puncak kepala Vera.


Aroma sampo Strawberry tercium oleh hidung bangir Leo. Pria ini tersenyum.


"Berat, kak!" desis Vera dengan nada pelan.


"Siapa suruh kamu kurang tinggi," goda Leo.


Ke dua bola mata Vera berotasi kesal.


"Memang apa bedanya?"


"Bedalah sayang. Kalau kamu tinggi. Otomatis, daguku jatuh nya di bahumu. Bukan puncak kepalamu," balas Leo.


"CK! Kakak saja yang terlalu tinggi seperti jerapah!" tukas Vera.


"Gini gak berat kan?" tanya Leo memastikan.


Vera mendesah pendek."Berat juga!"


"Ah, masa sih?"


"Benar. Aku gak bohong," ujar Vera.


Leo manyun. Raut wajah Leo membuat banyak gadis yang gemas. Ingin rasanya mencubit ke dua pipi Leo. Melihat betapa mengemasnya pria tampan itu.


"Kya! Ingin rasanya aku karungin. Kalau tau ada pria setampan itu, aku pasti bawa karung!"


"Gila! Rasanya pingin jadi cewek pendek di sana!"


"Kapan ya dapat cowok kayak gitu. Bikin gemes aja."


"Kayak nya itu cowok di pelet sama si cewek. Lihat aja, cewek ya biasa aja. Gak cantik dan gak seksi. Tapi si cowok mau. Mau tanya tar, di mana itu cewek dapat dukun. Aku juga mau kayak dia!"


Segelintir kata-kata dapat di dengar dengan jelas oleh Vera. Ingin rasanya Vera menjambak rambut mereka satu persatu. Memangnya kenapa kalau dia tidak cantik dan tidak seksi?


"Lepas, ah! Berat!" tutur Vera ketus.


Leo merasakan perubahan Vera melepaskan belitan tangan nya di leher Vera. Pria ini hanya memilih berdiri di samping Vera. Menggenggam tangan sang istri. Ia pikir Vera marah lantaran ia meledek tinggi sang istri.

__ADS_1


...***...


Manik mata Ana terlihat liar. Menatap foto yang di panjang di dinding apartemen Vera. Wanita itu tampak sibuk di dapur membuatkan minuman dan meletakan cemilan kaleng ke atas piring. Tak lupa juga mengupas buah Apel untuk sang sahabat.


"Maaf lama, An!" Seru Vera membawa minuman dan makanan yang telah selesai.


Ia meletakan di atas meja. Ana duduk kembali dengan sopan di atas sofa.


"Di minum!" ujar Vera.


"Terimakasih, Ver!" Ujar Ana meraih gelas dan menegak cepat minuman yang Vera buat.


"Sama-sama," jawab Vera. Tak lupa ia tersenyum lembut.


"Oh, iya. Dimana kak Leo?" Tanya Ana mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan.


Tidak ia lihat ada tanda-tanda Leo di dalam rumah.


"Kak Leo ada urusan keluar. Baru saja keluar selesai mandi," jawab Vera.


"Ah, begitu ternyata!" Balas Ana mengangguk pelan.


"Oh, iya. Kamu ke sini ada apa?"


"Gak ada apa-apa sih, cuma kangen aja sama kamu. Emang gak boleh?"


"Bukan begitu. Hanya saja....sudahlah. Kamu sudah makan belum?"


Ana mengeleng pelan."Kita makan di luar yuk. Sebenarnya Arga ngajak makan malam bareng. Cuma aku merasa males kalau gak ada kamu nya," ujarnya.


Vera hanya terkekeh kecil."Ini sebenarnya siapa yang pacaran sih. Aku apa kamu, sampai kalau kalian makan, selalu ada aku. Emang Arga gak risih, karena ada aku?"


"Gak kok, Arga orang nya baik banget. Dia suka kalau aku ajak kamu," tukas Ana.


Vera hanya tersenyum tipis. Wanita ini terlalu positif thinking pada banyak hal. Sampai niat aneh sang sahabat saja tidak mampu terbaca. Hanya mengangguk saja saat Ana membawanya keluar. Makan di luar. Begitu lah katanya.


.


.


.


Bersambung....


Selamat Hari kemerdekaan Indonesia yang ke-75 🇮🇩😁😁🙏


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....☺️☺️🙏🙏🙏


.

__ADS_1


__ADS_2