
Teriakan tertahan terus terdengar samar. Ke dua gadis cantik itu mengerang melihat bagaimana video romantis ke dua pasangan suami-istri yang kini di pertontonkan. Vera menutup ke dua matanya dengan ke dua telapak tangannya. Teriakan heboh Nadia dan Zita terdengar jelas. Kala kecupan di layangkan oleh pria di video pendek berdurasi empat menit pas itu.
"Gila. Aku mau nikah juga!" Ujar Nadia gigit jari melihat ke romantis Vera dan Leo.
"Kalau aku mah tinggal hitung hari saja," timpal Zita membuat Nadia melenguh iri. Jadi jomblo di usia yang semakin matang memang membuat hati gelisah. Saat teman-teman ada gandengan. Sebaliknya, Nadia malah kosong gandengan.
"Irinya," keluh Nadia,"kalian berdua tahun besok Wisudanya udah ada gandengan. Aku boro-boro punya gandengan. Pesan di ponsel yang perhatian hanya operator semata," lanjut nya.
Hahahaha!!!!!!!!
Tawa keras dari Zita dan Vera terdengar jelas mengalun. Nadia semakin mencibir kesal. Sudah jomblo ngenes, malah di ketawa kan lagi. Benar-benar menyebalkan bagi Nadia. Ke dua pipinya mengembung.
Vera yang tadi menutup muka kini tertawa bebas dengan menyentuh perutnya. Sedangkan Zita, mengusap pelan sebulir air mata yang turun karena tertawa. Bagaimana tidak, mendengar kekesalan seorang jomblo ngenes memang sangat menyenangkan. Apa lagi, wajah Nadia semakin terlihat kesal.
"Ah! Kalian nyebelin!" ujar Nadia semakin kesal saja.
"Owh! Sakit sekali perutku!" Keluh Vera mengusap pelan perutnya. Wajahnya sudah memerah karena tawa.
"Kau benar-benar lucu, Nad!" kini Zita berucap. Gadis itu mencoba meredakan tawa.
"Nggak sayang lagi sama kalian berdua, ah! Masa tertawa di atas penderita aku sih." Ke dua matanya mendelik kesal.
Vera merangkul pundak Nadia dengan gerakan cepat."Maafkan kita Nadia karena tertawa di atas kejombloan mu. Sungguh, wajahmu sangat lucu sih. Karena itu kita ketawa."
"Bener banget. Kamu udah kayak gadis yang ngebet kawin!" ujar Zita ikut membenarkan,"eh salah. Maksudnya ngebet nikah!" lanjut Zita.
Untuk kedua kalinya mereka tertawa. Bukan hanya Vera dan Zita saja yang tertawa. Namun Nadia juga ikut tertawa dengan candaan Zita. Ke tiganya terlihat tertawa lepas duduk di cafe outdoor di dekat kampus. Sesekali terlihat pertengkaran kecil dan tertawa pelan.
__ADS_1
Langkah kaki tungkai panjang itu terhenti di pagar cafe outdoor. Tawa dan senyum wanita di ujung sana tampak lepas tanpa beban. Tidak ada kekhawatiran atau kegelisahan di ke dua mata wanita itu. Wanita yang pernah memiliki status spesial di antara mereka. Status persahabatan yang kandas karena nya. Namun, ia yang membenci wanita yang kini merangkul gadis yang ia ketahui bernama Nadia. Senyum sinis tercetak jelas di bibir merah merekah seksi miliknya.
"Kau selalu begitu dari SMA. Begitu banyak orang di sekeliling mu. Kau selalu beruntung dan bisa tanpa aku. Itu membuat aku benar-benar membencimu, Vera!" monolognya dengan nada datar.
Ia benci Vera yang ceria. Vera yang datang ke sekolah dengan ceria. Vera yang bercerita tentang keluarga nya yang begitu bahagia. Ia benci dengan Vera yang mudah mendapatkan banyak teman di sekeliling nya. Sedangkan ia?
Kehidupan keluarga yang berantakan. Teman-teman yang selalu bergunjing di belakang nya. Pria-pria yang mendekati nya bahkan memacarinya hanya karena ia cantik. Dan hanya ingin terlihat keren di mata banyak orang karena berhasil menaklukkan hatinya. Tapi Vera? Wanita itu malah dengan mudahnya mendapatkan Leo Yamato. Pria yang sangat tampan dengan pekerjaan mapan. Tanpa melihat bagaimana fisik Vera. Pria itu mencintai Vera, hingga membuat hati-hati yang penuh rasa iri dan dengki semakin memburuk dari waktu ke waktu.
"Aku ingin menghilangkan kebahagiaan mu," ujar Ana dengan nada pelan. Masih menatap intens wajah Vera.
...***...
Leo mengeluh kesal melihat pelampung nya tidak kunjung bergerak umpannya tak kunjung di makan ikan. Sedangkan punya sang papa dan ayah mertuanya telah dua kali bergerak. Leo menghela napas kembali. Sebelum melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kenapa ikan di sungai sini, pada sombong ya," ujar Leo membuat ke dua pria tua yang mengapit tempat duduk Leo menoleh ke arah Leo dengan berbagai pandangan.
Leo melenguh kesal mendengar ledekan sang ayah.
"Belum rezeki aja," ujar sang ayah mertua dengan kalem.
Leo menoleh menatap ayah mertua nya. Pria di samping kanannya ini memang sangat kalem dan hangat. Wajahnya selalu terlihat tenang kapanpun dan di manapun. Senyum bersahaja yang selalu ia tampilkan terkadang membuat Leo merasa tenang. Bagas memang sangat berwibawa dan jarang berbicara aneh-aneh.
"Anak muda zaman sekarang memang begini Bagas. Mereka cenderung tidak sabar dan suka terburu-buru," timpal Zeo.
"Bukan masalah terburu nya papa. Ini masalah istri ku," tukas Leo dengan raut kesal.
"Ada apa dengan Vera?" tanya Zeo dengan wajah tak mengerti.
__ADS_1
"Vera akan sedih jika suami tampannya ini tidak mendapatkan satupun ikan pancingan. Padahal kan katanya tadi mau makan ikan bakar," jelas Leo,"kalau begini, aku mau beli ikan saja. Biar bisa bikin ikan bakar untuk Vera," lanjut nya.
Zeo mendengus mendengar perkataan sang putra. Beda lagi dengan Bagas. Pria paruh baya ini tersenyum lebar. Ia senang mendengar perkataan Leo. Secara tak langsung ia tau jika Leo sangat mencintai sang putri. Dan ia merasa sangat tenang karena sang putri mendapatkan pria yang mencintai nya. Namun, di balik rasa bahagia itu terselip gumpalan rasa takut. Ia kembali mengingat tangisan sang putri beberapa bulan yang lalu di rumahnya. Anak perempuan satu-satunya itu menangis karena dirinya belum hamil-hamil. Dan, jujur saja. Bagas takut, jika sang menantu akan meninggalkan sang putri.
Bukan tentang takut kehilangan kekayaan Leo. Yang Bagas takutkan adalah putri nya terluka. Terluka saat ia merasa tak sempurna dan di tinggal kan oleh pria tampan ini. Alangkah sangat terlukanya putrinya.
"Ada kala nya hidup itu harus belajar sabar dari memancing Leo," ujar Bagas.
Kontan saja ayah dan putra itu menoleh menatap ke arah Bagas. Bagas tersenyum, kala menolehkan wajah nya menatap Leo dan Zoe berganti-gantian.
"Kenapa menatap ku begitu?" tanya Bagas. Sebelum tergelak pelan.
Kepala Zeo mengeleng pelan. Sedangkan Leo menatap ayah mertua nya dengan pandangan dalam. Seolah-olah ia merasakan ada banyak makna di ucapan ayah mertuanya ini.
...***...
"Selesai!"
Seru keras dari pasangan suami istri itu terdengar bahagia. Ke duanya mundur dua langkah dan menatap lukisan mereka saat di Bali. Terlihat senyum bahagia dengan binar kebahagiaan di ke dua mata masing-masing.
"Indah ya kak," ucap Vera menatap bahagia lukisan besar yang di pajang di ruangan tengah rumah mereka.
Kepala Leo mengangguk cepat."Ya, sangat indah. Seindah rumah tangga kita!" jawab Leo.
Vera melirik Leo dari ekor matanya. Sebelum menatap lagi ke arah lukisan mereka. Mereka melukis butuh waktu lama bertahan dalam satu pose saja. Kesabaran yang di miliki, memang selalu berbuah manis. Saat melihat lukisan mereka jadi untuk pertama kalinya. Keduanya sangat puas.
"Aamiin!" ujar Vera dengan nada penuh harap.
__ADS_1
Semoga ke indah dan kebahagiaan selalu bersama mereka. Itulah doa Vera dalam diam.