
Vera mengulas senyum lembut. Sebelum tangannya mengusap pelan pundak sang suami. Tak sampai satu Minggu kantor nya besar milik sang suami telah di tarik oleh Bank. Bahkan rumah besar mereka juga tak mampu di selamat kan. Bukan hanya mereka yang merugi. Bahkan ke dua orang tua Leo juga begitu. Membuat banyak berita miring di sosial media menjamur. Dalam satu Minggu topik hangat ke bangkrutan perusahaan terbesar di Indonesia membuat geger. Beruntung perusahaan di ambil oleh orang lain, orang itu berjanji mempertahankan semua pegawai yang sudah bekerja di sana.
Rumah petak dengan dua kamar menjadi tempat berteduh ke duanya. Meskipun orang tua Vera telah memberikan uluran untuk ke duanya. Leo menolak bantuan orang tua Vera. Begitu pula dengan teman-teman nya. Pria ini belum pernah merasakan bagaimana hidup susah. Namun harga diri lebih tinggi membuat Leo menolak beberapa bantuan. Pria ini sempat menangis di pangkuan Nara. Wanita yang telah melahirkan Leo memilih pulang kampung. Zeo dan Nara memilih untuk kembali ke kampung halaman Nara. Ke duanya sudah berada di Tasik Malaya. Mengingat Jakarta bukan tempat yang ramah bagi mereka yang tak punya.
"Kak!" panggil Vera untuk kesekian kalinya.
Leo menengadah menatap wajah sang istri. Wajah yang terlihat tenang bahkan bersahaja.
"Hem!" jawab Leo pelan.
"Ayo makan, aku sudah siapkan makan kesukaan kakak!" Ajak Vera mengusap pelan pundak Leo dengan lembut.
Kepala Leo mengangguk pelan. Ia berdiri dari posisi duduk nya. Ke duanya keluar dari kamar menuju ruangan makan yang kecil. Ruangan makan yang langsung bergabung dengan dapur.
"Kenapa ada banyak makanan?" tanya Leo kala ke duanya sampai di samping meja makan.
Vera menyenangkan senyum lembut. Tidak terlihat ke bar-baran Vera. Wanita ini cenderung lemah lembut beberapa hari belakangan. Tidak seperti istri pada umumnya. Yang merasa kesal pada sang suami karena di ajak hidup susah. Padahal, orang tua Vera bukanlah orang susah. Ke dua orang tua Vera memiliki banyak kontrakan yang tersebar di beberapa tempat di Jakarta. Dari kontrakan yang sederhana sampai yang mewah. Dan Leo dengan jelas menolak pertolongan ke dua orang tua istri nya ini.
Vera menarik cepat kursi kayu."Nggak banyak kok, ini makanan yang sedikit di banding yang dulu kak!" Jawab Vera dengan nada tenang sembari menarik tangan Leo untuk segera duduk di kursi.
Leo duduk. Menatap lauk pauk yang ada di atas meja. Ada ayam goreng dengan sambal ijo, daun singkong yang di rebus, ikan gurame panggang dan kerupuk sebagai pelengkap terhidang di atas meja. Leo menoleh ke samping, menatap Vera yang telaten mengisi nasi ke atas piring Leo.
__ADS_1
"Kakak mau makan yang mana nih?" tanya Vera menoleh ke arah Leo.
"Yang mana saja," jawab Leo pelan.
Vera bergerak cepat meraih ikan gurame panggang dan daun singkong. Meletakan beberapa buah kerupuk. Sebelum meletakkan nya dia atas meja.
"Apa kamu menerima uang dari ibu mertua?" tanya Leo kala Vera meletakan makanan di hadapan Leo.
Vera mengeleng pelan."Bukankah kakak melarang. Aku tidak akan melakukan apa yang di larang oleh suamiku," jawab Vera jujur.
"Lalu ini?" Leo memberikan jeda,"aku bahkan tidak memberikan uang sepersen pun padamu, Vera!" lanjut nya.
Vera menghela napas."Ini uang dari mu, kak. Apa kakak lupa, jika uang yang selalu kakak berikan hanya aku masukan ke tabungan. Terkadang aku sumbang kan pada panti asuhan. Uang di tabungan ada banyak. Sekitar tiga ratus juta. Jadi, ke depan nya mungkin bisa untuk modal kakak dan aku," jawab Vera.
"Ternyata begitu," lirihnya.
Vera menarik tangan Leo. Membawanya ke atas perutnya. Membuat Leo mengerut kan pangkal hidungnya.
"Kita pasti akan bahagia kak. Kaya tidak menjamin ke bahagian. Jika kakak merasa buruk karena sebuah masalah kecil. Aku berharap tolong berhenti menyalahkan diri. Aku bukan wanita gila harta. Yang aku harapkan adalah keluarga yang lengkap dan hidup sederhana namun bahagia. Apa lagi, saat ini bukan cuma ada aku dan kakak. Tapi ada dia. Dia yang masih berkembang!" Ujar Vera mengusap tangan Leo yang berada di perutnya.
Leo mengedipkan beberapa kali kelopak matanya. Ia terlibat tak mengerti atau malah linglung akan apa yang di katakan yang ada di otaknya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin memberikan kabar bahagia ini ada kakak saat itu. Karena masalah yang membuat suasana memburuk. Aku memilih menunda nya," ujar Vera lagi,"apakah kakak tidak merasakan ke hadirannya?" tanya Vera lembut.
Dahi Leo berkerut dalam."Ver...kau——kau, hamil?" tanya Leo tergagap.
Mata indah itu menatap sang istri dengan pandangan tak percaya. Vera mengulum bibirnya, membasahkan bibir nya yang kering. Sebelum mengulas senyum lebar, binar bahagia di ke dua manik mata Vera terlihat.
"Ya, dia telah hadir. Seperti nya dia hadir untuk memberikan papanya semangat. Dia hadir di saat yang paling tepat," jawab Vera.
Leo membuka mulut nya. Sebelum tertutup kembali. Terbuka lagi dan tertutup kembali. Leo Yamato benar-benar tak tau harus bagaimana dan bereaksi seperti apa saat ini. Jantung nya berdebar keras saat jari jemarinya bergerak mengelus permukaan perut Vera di balik baju dress Vera. Hatinya berdebar, rasa sakit dan kemarahan bahkan kekecewaan yang menghantam diri seakan mengguar di udara dan menghilang entah kemana. Di gantikan dengan rasa bahagia yang membuncah di dadanya.
"A——aku, akan jadi seorang papa?" tanya Leo dengan nada dan ekspresi wajah tak yakin.
"Hem! Delapan bulan lagi kakak akan menjadi papa. Akan ada tambahan anggota baru yang akan memeriahkan kehidupan kita berdua kak!" jawab Vera dengan wajah bahagia.
Ke dua mata Leo berkaca-kaca. Seorang pria sangat sulit untuk tersentuh. Termasuk Leo Yamato, pria ini hanya menangis saat ia dilahirkan. Saat ia mengecewakan ibunya kemarin. Dan saat ini, saat ia mendapat berita paling bahagia.
Air matanya meleleh sendiri. Vera terkekeh kecil. Sebelum sebelah tangan nya mengusap lembut air mata yang meleleh di pipi Leo. Pria ini begitu tersentuh, menangis bahagia. Ini kali ke dua Vera melihat sang suami menangis. Setelah kemarin ia menangis di pangkuan Nara, ibu mertua nya.
"Maka dari itu, bangkit lah kak. Lihat lah hal indah di balik hal buruk. Harta dunia tidak ada apa-apa nya di banding harta sosok bayi mungil ini nantinya." Ujar Vera di balik usapan di pipi Leo.
Kepala Leo mengangguk cepat. Sebelum tangan nya bergerak menarik Vera di dalam pelukannya. Vera menepuk pelan punggung belakang Leo dengan lembut.
__ADS_1
"Terimakasih," seru Leo dengan nada serak,"terimakasih telah memberikan hadiah paling indah di hidupku, Vera!" lanjut nya sebelum tangis dan tawa pecah dalam waktu bersamaan.
Oh. Begitu indah. Bukankah di balik kesulitan Tuhan selalu mengiringi nya dengan kebahagiaan. Tidak banyak manusia yang tau jika ada kebahagiaan di balik rasa sakit yang mereka rasakan. Jika kita fokus pada rasa sakit. Maka kebahagiaan itu hanya akan menjadi bayangan. Namun, jika kita melepaskan rasa sakit. Menoleh pada hadiah lain dari tuhan. Saat itu, kita akan temukan kata syukur yang sebenarnya.