Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 53 (Jahil nya Vera)


__ADS_3

Leo mengusap pelan puncak kepala Vera. Ibu hamil itu bersandar pada bahu kokoh Leo. Kepalanya menengadah menatap wajah tampan sang suami. Leo tersenyum lembut menatap pandangan sang istri.


"Kenapa, Hem?" Tanya Leo di sela usapan nya.


Vera hanya mengulas senyum dan mengeleng pelan."Nggak ada kok," jawab Vera pelan.


"Apa ada yang menganggu pikiranmu, Hem?"


Vera melirik lambat sang suami. Kedua sisi pipinya mengembung membuat Leo merasa gemas sendiri. Sebelum telapak tangannya mengusap pelan kandungan nya perlahan.


"Sejujur nya aku merasa masih nggak percaya kalau aku sedang hamil, kak." Jawab Vera di sela elusan di perut nya.


Leo mengangguk pelan. Ia menyetujui perkataan sang istri. Sebelum telapak tangan besarnya berpindah pada perut Vera. Mengusap pelan, jabang bayi mereka. Angin di pulau berhembus perlahan. Membuat ke duanya tersenyum lembut. Vera menegakan tubuh nya yang sempat bersandar pada bahu Leo.


"Kak lurusin dong kakinya," pinta Vera dengan wajah imut.


Leo menurut saja. Meluruskan ke dua kaki panjang nya di karpet santai. Vera merebahkan tubuhnya dan meletakan kepalanya di atas paha Leo. Ibu hamil ini seperti nya tengah mengantuk. Perjalanan ke duanya dari Jakarta ke pulau Bidara kurang lebih memakan waktu 3 jam. Hingga mendapatkan tempat strategis. Semua nya berkat Nara, sang ibu bersikeras untuk keduanya berlibur ke pulau. Saat Vera juga tengah libur satu bulan. Ada baiknya mereka keluar dari ibu kota. Sekedar melepas penat dan stress. Untuk pekerjaan Leo, dengan kurang ajarnya. Pria ini meminta Lucas untuk menghandle pekerjaan nya. Hanya satu Minggu, begitu lah perjanjian nya dengan Lucas. Awalnya pria itu menolak, namun saat setelah berbicara dengan Nara. Tiba-tiba saja sahabat nya berubah pikiran. Dengan wajah sumringah, Lucas menyetujui hal itu.


Leo Yamato tidak terlalu banyak pikir. Bagi pria ini, mungkin ada baiknya membawa Vera keluar dari hiruk-pikuk kota Jakarta. Apa lagi saat kandungan sang istri telah membesar. Bahkan saat melahirkan anaknya nanti, kemungkinan besar ia dan Vera tak bisa bergerak terlalu banyak. Terkurung menjaga sang buah hati. Ah, Leo tak sabar menunggu tumbuh kembang buah hatinya. Sampai menyapanya, kala lahir di dunia. Mendengar celoteh nya, mirip siapakah anaknya nanti. Dan paling membuat Leo tak sabar adalah saat mendengar buah hatinya dan Vera memanggil nya dengan panggilan papa.


Leo tersenyum lebar. Tubuhnya di bungkuk. Dan mengecup dahi Vera, turun ke arah hidung. Hingga berlabuh pada bibir sang istri. Hanya sebatas kecupan ringan. Leo menarik wajahnya dan duduk dengan tegap. Ke dua tangannya tak berhenti bergerak. Mengusap pipi Vera dan berakhir pada perut sang istri.


"Terimakasih sayang!" Ucapnya di sela usapan tangan nya.


...***...


"Bagaimana dengan hasilnya Mbak Lili?" tanya Ana penasaran dengan pembicaraan Lili kemarin bertemu dengan ibu Leo.


Lili menghembuskan napas perlahan. Sebelum mengeleng pelan. Ana mendengus di dalam hati sebelum memaki kebodohan Lili. Gadis ini begitu bodoh, bagaimana bisa tidak berhasil membuat orang tua Leo berpihak padanya. Padahal sudah lama kenal dengan nya.

__ADS_1


Beda hati beda di bibir. Senyum di tarik perlahan. Ana mengusap pelan punggung belakang Lili.


"Tidak apa-apa, Mbak. Semuanya kan baru di mulai. Jangan menyerah, mungkin mereka belum melihat betapa murahannya menantu mereka. Lambat-laun mereka akan tau kok, Mbak. Yang terpenting di sini adalah Mbak selalu berjuang. Karena cinta itu harus di perjuangkan." Ucapnya di sela usapan di punggung Lili.


Lili menoleh ke arah Ana. Kepalanya mengangguk pelan, senyum segaris di tarik ke atas. Ya, dirinya tidak boleh menyerah pada apa yang terjadi. Bagaimana bisa ia kalah pada Vera. Wanita yang biasa, tidak bisa di banding dengan kecantikan nya. Mau di lihat darimana pun ia tetap lebih dari Vera.


"Ya, aku nggak boleh menyerah. Aku harus bisa meyakinkan keluarga Leo dengan lebih gigih lagi."


"Harus itu Mbak. Jangan mau kalah sama Vera."


"Tapi apakah Leo tidak akan membenciku jika tau apa yang aku lakukan?"


"Saat ini mungkin ia marah pada Mbak Lili. Tapi suatu saat ia akan berterimakasih pada Mbak. Karena Mbak sudah membuka matanya. Tentang siapa Vera sesungguhnya. Percayalah, Mbak!" dusta Ana dengan wajah serius.


Oh. Ana memang seorang penghasut yang hebat. Membolak-balik kan fakta dan kebohongan di tukar. Seolah kebohongan menjadi sebuah yang benar. Dan pembenaran adalah kebohongan. Jika wanita cantik itu bermain drama, mungkin bisa mendapatkan banyak penghargaan. Sebagai wanita antagonis yang hebat.


Dengan bodohnya Lili tersenyum dan menganggap hasutan Ana adalah dorongan semangat untuk nya. Damar menyandarkan punggung belakang nya di dinding. Ia mendengar pembicaraan Ana dan gadis bernama Lili itu. Tak habis pikir kenapa Ana masih saja gila.


Lili pamit setelah lima belas menit duduk berbicara banyak hal pada Ana. Terlihat Ana mengantarkan Lili sampai di depan pintu rumah. Derap langkah kaki mendekati tubuh Ana yang membelakangi.


Tuk!


Telapak tangan Damar jatuh pada bahu kanan Ana. Ana tersentak sesaat, sebelum menoleh ke arah pemilik tangan. Hembusan napas gusar terlihat. Ana sudah dapat menebak jika Damar mendengar seluruh pembicaraan ia dan Lili. Dan sudah pasti kakak sepupunya ini akan memberikan ceramah lagi dan lagi. Terkadang Ana merasa kesal mendengar nasehat yang di nilai tidak bermutu dari Damar.


"Lepaskan, Bang!" tegur nya. Sebelum menepis tangan Damar.


Ia melangkah masuk kembali ke dalam rumah di ikuti oleh Damar dari belakang.


"Tidakkah kau jera dengan apa yang terjadi, Ana?" Tegur Damar di sela langkah kakinya.

__ADS_1


Ana memutar malas ke dua bola matanya."Jangan ikut campur masalahku, Bang."


"Bagaimana aku tidak ikut campur jika adik sepupuku salah jalan Ana?"


"Berhentilah bertingkah seperti orang alim, Bang Damar. Jika ingin berkhotbah sana ke depan khalayak umum. Aku tidak butuh bualanmu itu."


Damar menghentikan langkahnya mendadak kala Ana masuk dan menutup pintu kamar dengan keras. Membuat Damar mengusap pelan dadanya.


...***...


Bara api menyala-nyala terlihat Leo mengipas perlahan bara api agar gak padam. Vera terlihat mengolesi ikan segar, yang baru di tangkap oleh nelayan dan di bersihkan. Dengan telaten Vera memeras sari pati santan kelapa. Di atas permukaan daging ikan. Kala ikan di letakan di atas besi berbentuk jaring.


"Sana duduk saja, biar aku yang lanjut kan." Ujar Leo di sela kipasannya.


Kepala Vera mengeleng kecil. Sebenarnya air liurnya sudah mau menetes melihat ikan yang mulai mengeluarkan aroma gurih. Leo melepaskan kipas berukuran sedang di tangan nya. Sebelum meraih udang lobster yang telah di bumbui. Ia melegakan nya di atas besi. Sebelum membalik kan sisi ikan yang sudah matang. Ia menengadah melihat bibir mungil Vera bergerak-gerak aneh. Seperti bibir ikan yang ingin makan.


Senyum lebar terlihat."Lapar, hem?" tanya Leo.


Kepala Vera mengangguk antusias."Lapar. Apa lagi mencium aroma ikan bakar yang mulai menggoda untuk di santap." Ucap Vera dengan mengusap pelan pipi Leo yang terkenal arang.


Ia terkekeh melihat muka sang suami. Padahal baru satu jam mandi pagi. Malah kembali kotor, Vera pikir mengusap bekas arang akan ke samping akan menghilangkan bekas arang. Siapa sangka malah melebar saat di tarik ke samping.


"Hei! Ada apa dengan wajahmu itu?" tegur Leo kala melihat sudut bibir Vera bergerak-gerak. Seakan menahan tawa.


"Ti——tidak apa-apa!" jawab Vera. Sebelum membuang wajahnya ke samping.


Leo menaikkan sebelah alis mata tebal nya karena curiga. Satu tahun lebih bersama Vera, tentunya Leo hapal tingkah Vera. Ibu hamil itu terlihat menahan tawa. Leo kembali menghadap ke depan. Ia membalikkan sisi ikan lain yang matang bersama dengan lobster.


"Kakak tampan, deh!" ujarnya sebelum mengusap kembali bekas arang yang sempat menempel di tangannya di pipi Leo berhenti kumis kucing.

__ADS_1


Lucunya, Leo malah tersenyum lebar. Ia bahagia di bilang tampan oleh Vera. Meskipun banyak orang di luar sana memuji ketampanan nya. Entah mengapa kalau Vera yang memuji rasa nya berbeda. Seakan ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri.


Beberapa orang yang lewat terkikik geli melihat wajah Leo. Kala Vera kembali mengusap sisi lain di pipi Leo dan pangkal hidung pria itu. Leo hanya tersenyum seperti anak kecil. Ugh! Mengemaskan. Vera membuang asal pandangan nya tak tahan melihat wajah sang suami sudah seperti kucing dengan kumis hitam. Di temani bentol hitam pula di pangkal hidung.


__ADS_2