Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 52 (Aku bahagia karena itu kamu)


__ADS_3

Nara menatap lambat gadis cantik yang kini duduk di depannya. Senyum lembut terlihat di wajahnya. Gadis yang sempat berhubungan dengan anaknya sejak SMA itu jelas sangat ia tau.


Nara menghela napas perlahan, gadis di depan nya ini meminta sedikit waktu luangnya.


"Bagaimana kabar Tante sekarang?" ujar Lili,"sudah lama kita nggak mengobrol," lanjut Lili dengan nada lembut.


"Kabarku baik. Ya, sudah lama sudah tidak mengobrol denganmu. Kabarmu sediri bagaimana, Li?" balas Nara. Ibu dari pria yang sangat gadis ini cintai hanya ingin di menghargai gadis cantik di depan nya ini saja.


Senyum lebar terlihat semakin lebar saja. Ia senang karena ibu Leo terlihat bersahabat padanya.


"Sehat juga Tante," jawab Lili,"aku mendapatkan kabar tentang keadaan Leo dan keluarga Tante saat ini. Aku turut prihatin."


Nara hanya mengulas senyum saja. Setidaknya orang-orang di luar sana menganggap ia dan keluarganya tengah susah. Tidak ada yang tau permainan apa yang telah suaminya lakukan. Kejahilan sang suami membuat banyak orang berpikir jika keluarga nya benar-benar telah jatuh miskin. Ingin sekali Nara tertawa pelan karena merasa aneh dengan keadaan.


"Terimakasih, Lili," balas Nara seadanya.


"Jika ada sesuatu yang bisa aku bantu. Tante jangan sungkan-sungkan menghubungi aku. Aku akan sangat senang membantu dan terlebih jika ada masalah dalam keuangan. Aku pasti akan membantu, Tante!" Lili memulai serangannya untuk merebut hati Nara.


Sayang nya, gadis cantik itu tidak tau saja. Kalau untuk uang, tentu saja uang Nara lebih banyak. Nyonya besar Yamato ini tidak perlu takut kehabisan uang. Zeo Yamato menyimpan banyak tanpa harus takut habis. Sampai tujuh turunan pun, uang mereka masih tetap tak berkurang.


"Sekali lagi terimakasih. Tapi, aku dan keluarga kami tidak ada masalah dengan keungan. Hanya karena jatuh bangkrut, bukan berarti melarat, Lili," ucap Nara lembut.


Air wajah Lili berubah. Gadis ini berpikir calon ibu mertua nya tersinggung dengan apa yang ia katakan.

__ADS_1


"Ja——jangan, salah paham Tante. Aku bukan bermaksud merendahkan Tante, kok. Cuma hanya ingin membantu Tante saja kalau Tante merasa kesulitan," ucap Lili dengan nada dan wajah panik.


Nara mengulas senyum."Tidak masalah kok. Aku tau, dan aku berkata benar. Tidak ada masalah dengan keuangan kami," balas Nara. Sebelum Nara melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya."Tante pulang dulu ya, karena jam 10 nanti Vera akan periksa kandungan," ujar Nara setelah menurunkan pergelangan tangan nya.


Lili membeku. Meski hatinya merasa tak suka. Namun ia tetap mengulas senyum dan berdiri kala Nara bangkit dari posisi duduknya.


...***...


Vera menghela napas pelan saat rumah petak sempit itu ramai oleh suara dan perdebatan ke dua orang tuanya dan sang suami. Setelah ia diantarkan ke dokter kandungan. Orang tuanya malah berdebat soal tempat tinggal. Siti bersikeras untuk Vera dan Leo pindah ke rumah nya. Sedangkan Nara, wanita itu bersikeras mereka tinggal bersama wanita itu. Sedangkan untuk ke dua suami masing-masing malah memilih duduk di teras rumah. Meninggal kan ke dua istri mereka di ruangan tamu. Biarkan mereka berdebat.


Kreat!


Pintu kamar terbuka perlahan memperlihatkan Leo masuk dengan membawa segelas susu coklat hangat dengan kue kering dengan taburan kacang almond yang di buat sendiri oleh ia dan Leo saat hari Minggu kemarin.


Vera duduk di ranjang dengan wajah letih. Leo melangkah mendekati ranjang sederhana mereka. Meletakan nampan di atas nakas. Sebelum duduk di bibir ranjang. Jari tangan panjang nya itu mengusap pipi chubby Vera. Makin hari tubuh Vera semakin berisi saja. Apa lagi pipi nya terlihat semakin mengemaskan.


"Emangnya apa salahnya sih tinggal di sini?" tanya Vera menatap sang suami dengan pandangan penasaran.


Leo menghentikan pergerakan jari tangannya yang menoel-noel pipi chubby sang istri.


"Karena mama kita merasakan tempat ini kurang bagus untuk ibu hamil. Itu saja," jawab Leo jujur.


Jika saja Leo masih memiliki kekayaan. Tentu saja ia akan memiliki tempat yang layak untuk Vera. Ia sangat tau apa yang di khawatir kan oleh ke dua orang tua mereka. Mengingat kondisi Vera yang rawan. Saat pulang malam atau pun senja dari kuliah. Istri tercinta nya harus berjalan cukup jauh dari halte ke rumah mereka. Belum lagi masuk ke dalam gang-gang sempit. Leo juga sangat mengkhawatirkan hal itu. Saat mereka pindah, ia tak tau jika sang istri dalam keadaan hamil saat itu. Jika saja Leo tau tentu saja ia akan memilih tempat yang dekat dengan kampus Vera. Tidak peduli jika harga nya akan sangat mahal. Yang terpenting istri dan anaknya aman.

__ADS_1


"Kak!" Panggil Vera menggoyang kan pelan tangan Leo.


Leo tersentak dari lamunannya. Tersenyum ke arah Vera.


"Maaf, aku melamun," ujarnya pelan.


Kepala Vera mengeleng kecil."Apa yang membuat kakak terlihat khawatir?" tanya Vera menangkap kekhawatiran dalam manik mata sang istri.


Leo menghela napas pelan. Vera benar-benar sangat peka.


"Maaf," ujarnya lirih,"maaf karena membuatmu harus hidup susah," lanjut nya semakin memelan.


"Bukankah kita sudah membicarakan hal ini kak. Tidak ada masalah dengan kehidupan. Ada kalanya naik dan turun itu perkara biasa. Aku tidak menyalahkan kakak sama sekali. Kenapa harus merasa bersalah," ucap Vera dengan nada serius.


Leo menatap lambat wajah Vera. Ibu yang tengah hamil anaknya ini mengulas senyum lembut.


"Yang terpenting adalah kita nyaman dan bahagia. Aku merasa kesetiaan dan cinta kakak lebih berharga dari pada kemewahan. Perhatikan sederhana dari kakak adalah hal yang paling menakjubkan. Contoh nya, kakak membantu meringankan pekerjaanku. Meskipun capek pulang dari kantor. Kakak malah setelah mandi langsung mencuci baju. Memasak dan bangun pagi-pagi hanya untuk membereskan semuanya. Dimana aku harus mencari suami seperti kakak?" papar Vera menyentuh perasaan terdalam Leo,"suami kaya dan tampan di dunia ini banyak kak. Namun suami yang setia, tau cara menghargai seorang istri bahkan mau mengerjakan pekerjaan yang selalu di katakan sebagai tugas istri. Apakah ada banyak? Tidak bukan. Karena itu. Aku merasa menikah dengan kakak adalah kebahagiaan melebih kekayaan." Lanjut Vera sembari menangkupkan tangannya di dua sisi wajah Leo.


"Ah, aku jadi semakin terbang karena pujianmu ini," jawab Leo dengan nada senang.


"Terimakasih, telah menjadi suami dan ayah dari anak-anak ku, kak. Aku merasa kehidupan yang akan ku habiskan adalah kehidupan yang menakjubkan karena kakak!"


Leo merasa hatinya semakin membuncah dengan kebahagiaan. Leo mengusap pelan punggung tangan Vera yang ada di wajahnya.

__ADS_1


"Aku lebih bahagia karena istriku adalah kamu, sayang!" jawabnya pelan dan dalam.


Keduanya sama-sama tersenyum lebar. Ke dua wanita yang mengintip di tirai pintu kamar ikut mengulas senyum. Sebelum melirik satu sama lain. Memberikan kode untuk keluar dari rumah.


__ADS_2