
Roda ranjang Rumah Sakit berderit keras kala bergesekan dengan lantai marmer Rumah Sakit. Vera mengerang keras, perutnya benar-benar sangat sakit. Di samping nya Nadia tetap setia menggenggam tangan Vera. Zita terlihat berdiri resah di depan gedung Rumah Sakit. Wanita tengah hamil muda ini, tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa merapalkan doa. Menunggu kedatangan Leo dan keluarga Vera.
Sepatu pantofel bergesekan kasar dengan lantai. Peluh menghiasai ke dua sisi dahinya. Leo berhenti mendadak di hadapan Zita.
"Di—dimana Vera?" tanyanya di sela hembusan napas memburu.
"UGD. Dia di bawa ke UGD," jawab Zita cepat, air mata masih setia membanjiri ke dua pipinya.
Tanpa kata Leo kembali berlari kencang. Membiarkan penampilan nya tampak kacau. Beberapa orang yang berada di lorong menatap penuh kagum pada wajah tampan Leo Yamato. Pria berhenti di pintu UGD yang tertutup rapat.
"Kak Leo!" seru Nadia saat menatap suami dari sang teman.
"Vera?"
"Di dalam kak. Sekarang Dokter tengah menangani nya," jawab Nadia lirih.
Manik mata coklat kelam itu jatuh di tangan Nadia dan baju Nadia. Cairan merah anyir itu terlihat melekat di beberapa bagian baju Nadia. Tangan gadis itu terkena bekas darah.
"Apa yang terjadi?" tanya Leo dengan nada lemah.
Nadia menyembunyikan tangannya di belakang tubuh saat melihat pandangan mata terluka Leo. Bagaimana caranya Nadia berkata pada Leo tentang kondisi Vera. Gigi putih itu mengigit perlahan bibir bawahnya.
"Vera di dorong dari tangga kak," jawab Nadia jujur.
Hanya itu yang mampu gadis ini katakan. Melihat wajah pucat pasi dari Leo. Hembusan napas tak teratur membantu Nadia iba dengan suami Vera. Apa lagi jika yang ada di posisinya tadi adalah Leo. Pria ini mungkin akan lebih tersiksa lagi melihat kondisi Vera. Melihat bagaimana Vera merintih kesakitan. Wanita itu meminta untuk anak di dalam kandungan di selamatkan di sela rintihan.
"Siapa yang mendorongnya?" tanya Leo dengan nada menyeramkan.
Bahkan ke dua sisi giginya bergemererak. Beradu menahan kemarahan dan ketakutan. Siapa pun dia, Leo Yamato tidak akan pernah melepaskan orang itu. Pria ini akan mencincang orang itu. Bahkan Leo rela menukar seluruh harta yang ia milik untuk menghancurkan orang itu.
"A——ana, kak. Dia salah paham pada Vera. Meskipun Vera sudah menjelaskan nya dengan baik-baik. Seperti nya Ana tidak percaya dan mendorong Vera saat Vera dan kami tengah menuruni anak tangga," jelas Nadia singkat.
Ke dua tangan Leo mengepal di ke dua sisi tubuh nya. Belum sempat bibir merah itu terbuka. Pintu UGD terbuka. Menampilkan Dokter wanita yang beberapa bulan ini menanggani Vera.
"Tuan Leo," serunya dengan nada panik.
"Bagaimana Vera, Dokter?" tanya Leo panik. Matanya bahkan mencoba mencuri lihat pada pintu yang terbuka lebar. Sebelum tertutup kembali.
Meri menunduk perlahan. Wajahnya tampak muram. Dokter Meri mengangkat wajah nya. Menatap iba pada Leo. Vera berjuang keras untuk bisa hamil. Saat hamil, wanita itu sangat bahagia. Menunggu buah hati untuk datang. Sayangnya, saat setelah ada. Malah terjadi hal yang tidak di inginkan oleh ke duanya. Hanya hitungan Minggu lagi, bayi yang di tunggu-tunggu akan lahir. Membawa kebahagiaan untuk keluarga Yamato. Terutama pada Vera dan Leo.
__ADS_1
"Maaf tuan Leo," jawab Dokter Meri lirih,"kondisi nyonya Vera sangat mengkhawatirkan. Vera mengalami pendarahan parah, bahkan punggung belakang nya juga bermasalah. Beberapa jam lagi kami akan melakukan operasi pengangkatan bayi tuan dan nyonya Vera. Kita tidak bisa menyelamatkan ke duanya. Tuan harus memilih antara ibu dan anak. Maaf, dengan berat hati hanya ini yang bisa saya sampaikan," lanjut nya dengan wajah berduka.
Ke dua tungkai kaki Leo terasa begitu lemah. Pria gagah itu kehilangan kekuatan untuk berdiri tegap. Ia merosot ke lantai. Nadia menangis dalam diam. Nadia dan Zita tentu tau akan keresahan dan kebahagiaan Vera saat wanita itu mendapati diri hamil.
Leo mengatur napas sesak. Seolah-olah udara begitu enggan masuk ke dalam paru-paru. Dadanya terasa begitu sesak. Dokter Meri membuang muka, meskipun telah sering kali melihat keluarga pasien yang seperti Leo. Wanita ini merasa tak tega.
Air mata jatuh mengalir. Ini ke dua kalinya ia menangis setelah ia tumbuh dewasa. Lorong di penuhi oleh suara derap langkah kaki yang berlari. Siti dan Nara berdiri di belakang tubuh Leo dan Nadia.
"Vera! Bagaimana dengan Vera?" tanya Siti panik.
Nadia mengusap punggung belakang ibu Siti. Nara menunduk menatap sang putra yang menangis. Nara merasa sesak melihat putra yang ia lahir kan tampak kacau. Ia menunduk menepuk-nepuk pelan punggung lebar sang putra.
Kepala Leo menengadah.
"Bo——boleh aku, melihat nya terlebih dahulu?" tanya Leo menahan Isak.
"Ya, silahkan. Setelah itu, mohon untuk segera menandatangani surat operasi daruratnya," balas Dokter Meri.
Kepala Leo mengangguk pelan. Pria itu di bantu berdiri oleh Nara. Siti masih terlihat linglung. Nara melangkah memapah Leo, namun berhenti kala pintu terbuka. Hanya satu orang yang di perbolehkan masuk. Di ruangan pesakitan itu. Ada banyak berbagai macam orang yang di rawat di sana. Leo beberapa kali mengusap air mata yang mengalir di pipi nya.
Srak!
"Kak!" panggil Vera berat.
Bibirnya tampak pucat. Wajah nya begitu. Leo meraih tangan Vera yang terasa sangat dingin. Sial! Air mata yang coba di tahan mengalir tanpa permisi. Vera mengigit bibirnya. Menahan rasa sakit.
"Kakak!" panggil Vera sekali lagi.
Leo menengadahkan wajahnya. Ke dua tangannya meremas tangan Vera. Leo mencoba menahan air mata yang ingin jatuh lagi. Vera mengerti sangat mengerti perasaan Leo saat ini. Jika boleh memutar ulang waktu, wanita ini tidak ingin pergi ke Kampus. Ia akan membiarkan surat cuti nya di antar orang suruhan Leo saja. Asalkan anaknya bisa selamat. Vera menyesal. Seribu kata sesal tidak mampu mengobati rasa sakit di ulu hati Vera.
"Suamiku," untuk ketiga kalinya Vera memanggil Leo dengan nada lemah.
Leo menunduk. Sebelum tangan kanannya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"O——oh," jawabnya terbata.
"Tolong, selamat kan putra kita. Apapun yang terjadi, selamatkan dia. Tolong," ucapnya lemah.
Leo tak mampu berkata-kata. Kepalanya hanya mengangguk pelan. Sebelum mencoba menarik segaris senyum.
__ADS_1
"Hem! Kau tolong bertahan, ya!" balasnya.
Vera hanya mengulas senyum. Leo melepaskan tangan Vera. Menunduk dalam. Mengecup pipi Vera lama. Sebelum jatuh pada ke dua sisi pipi Vera. Hingga memeluk tubuh Vera. Leo tak lupa mengecup perut Vera. Pria ini keluar dari dalam bilik yang di batasi tirai kain.
"Tuan Leo!" panggil Dokter Meri kala Leo keluar. Wanita itu menyodorkan berkas ke tangan Leo.
Leo meraihnya. Menatap lambat kertas persetujuan untuk Operasi.
"Tolong selamatkan Vera," ucap Leo. Sebelum mengerakkan pena untuk menandatangani berkas persetujuan.
Wanita ini hanya mengangguk kecil. Leo memberikan berkas itu kembali pada Dokter Meri. Ia melangkah keluar dari ruangan UGD dengan hati hancur.
"Sayang! Maafkan papa," hati hanya bisa memberikan rasa sesal.
Jika boleh memilih Leo ingin kedua nya. Namun jika hanya bisa menyelamatkan satu. Leo menginginkan Vera tetap bersamanya.
...***...
Tubuh wanita cantik itu bergetar. Ke dua pergelangan tangannya memiliki gelang khusus. Gelang yang membuat diri di cap sebagai narapidana. Setelah ia mendorong Vera, Ana langsung di amankan pihak sekolah. Dan polisi langsung menangkap Ana. Mengurungnya di ruangan tahan wanita sementara.
Kreat!
Ana berdiri dari posisi duduknya. Kala pintu terbuka, Damar mendekati Ana dengan wajah pias. Pria ini tidak tau bagaimana bisa Ana segila itu.
"Bang Damar!" seru Ana dengan nada setengah lega.
"Ana," jawab Damar dengan nada dalam.
"Abang aku..."
PLAK!
Ana terdiam. Ia terpaku dengan denyutan di pipinya. Pipi kirinya terasa sangat panas. Ini kali pertama Damar menampar diri nya.
"Bang?" panggilnya tak percaya.
"Aku sudah sangat jauh kecewa pada dirimu, Ana. Berkali-kali kau mengecewakan aku. Dan hari ini benar-benar membuat aku sangat kecewa Ana," ucap Damar dengan nada bergetar.
Ana menunduk dalam. Tanpa kata Damar keluar dari ruangan khusus. Dimana tahanan dan keluarga atau teman bisa bertemu.
__ADS_1