
Langkah kaki Vera di hadang, membuat ia mau tak mau menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menengadah, menatap sang pemilik sepatu high heels mahal di depannya dengan dahi mengerut.
"Mari kita bicara," ujarnya seakan memberikan perintah pada ibu hamil di depannya.
"Maaf, apakah ada hal yang harus Anda dan saya harus bahas?" ujar Vera dengan nada dingin.
Gadis berkacamata itu menurunkan sedikit kacamata yang membingkai hidung banggir nya.
"Ya, tentu saja ada!" balasnya dengan nada tegas.
Ugh. Ke dua bola mata Vera berotasi malas melihat sikap otoriter Lili. Gadis itu tampak menatap pongah ke arahnya.
"Dan bisakah kita berbicara di kafe di dekat daerah sini. Aku tidak ingin kulitku gosong karena berdiri di bawah sinar matahari," lanjut Lili.
Vera melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Ingin rasanya tidak meladeni mantan kekasih sang suami. Namun, Vera tidak dapat menepis jika ia memiliki rasa penasaran pada apa yang ingin gadis ini katakan. Hingga mau datang ke perumahan padat penduduk. Ke duanya berdiri saling berhadapan di dalam gang sempit.
"Baiklah. Tapi, aku hanya bisa bicara paling lama dua puluh menit," ujar Vera. Ibu hamil ini ada kelas satu jam lagi. Dan kebiasaan Vera selalu datang tiga puluh menit lebih dahulu sebelum jam belajarnya di mulai.
Kepala Lili mengangguk pelan. Sebelum melangkah cepat keluar dari gang, di ikuti oleh Vera dari belakang. Ke duanya berjalan tak terlalu jauh. Hingga berhenti di dekat kafe dengan gaya klasik. Mengambil tempat duduk di dekat jendela transparan langsung berhadapan dengan jalan raya. Minuman telah di pesan oleh ke duanya.
"Langsung ke inti nya saja. Apa yang membuat Anda mendatangi saya lagi?" ujar Vera dengan nada formal.
Lili tersenyum remeh. Sebelum manik matanya jatuh pada permukaan perut Vera yang sedikit terlihat jelas. Di balik dress putih polos tanpa banyak gaya dan motif sampai di bawah lutut.
"Apa itu anak Leo?"
"Ah?"
"Aku tanya apakah janin itu anak Leo!"
Vera terkanga. Ia tidak mengerti kenapa Lili bertanya perihal janin di kandungan nya. Bukankah itu sudah jelas, jika anak yang ada di dalam kandungan nya adalah anak suaminya. Ia tidak pernah di sentuh oleh pria manapun. Lalu bagaimana bisa Lili bertanya anak siapa yang kini ia kandung.
"Tentu saja anak kak Leo. Anak siapa lagi jika bukan anak kak Leo," jawab Vera menahan rasa kesal.
Lili kembali mengulas senyum mengejek.
"Aku meragukan jika bayi itu anak Leo. Mengingat kau tidur dengan banyak pria. Bahkan kekasih sahabatmu saja kau bawa ke ranjang. Aku tidak menyangka, tampang pas-pasan sepertimu malah tidur dengan banyak pria," sinis Lili.
__ADS_1
Buku-buku tangan Vera memutih bawa meja. Beruntung tidak ada gelas berisi air di atas meja. Jika ada, sudah pasti air yang ada di gelas sudah berpindah di wajah Lili yang cantik. Sayang sekali, wajah cantik tidak dianugerahi hati yang cantik pula.
"Bagaimana wanita berpendidikan seperti Anda menghina wanita lain yang tidak pernah bergaul denganmu. Kau bahkan tidak tau bagaimana sifat saya di kehidupan sehari-hari. Dan seenaknya Anda berkata seperti itu?" ucap Vera menahan gejolak amarah.
Ibu hamil ini mengalami emosi yang turun-naik dengan mudah. Mengingat hormon hamil yang tidak seimbang. Dari awal Lili mencegat langkah kakinya. Vera sudah merasa kesal. Entah kenapa, saat melihat wajah cantik gadis di depannya ini. Vera merasa gerah, seakan api cemburu berkobar membakar dada. Akan tetapi, masih bisa mengontrol raut wajah.
"Tidak perlu harus bergaul denganmu. Sekali lihat aku sudah tau, kau wanita seperti apa. Lucunya, bagaimana Leo mau menikah dengan wanita sepertimu. Bahkan sudah tau tidur dengan pria lain. Masih saja mau," dengus Lili dengan tatapan merendahkan.
"Apa maksudmu?" kesal Vera setengah menahan tekanan emosi.
Lili melipat kedua tangannya di depan dada. Menyandarkan punggungnya di kursi.
"Bukankah itu benar, kau tidur dengan kekasih teman mu!"
"Bukan itu. Kau bilang kak Leo tau aku tidur dengan pacar sahabatku. Apa maksudnya dengan itu?"
"Apa Leo tidak bilang kalau dia tau kau tidur dengan kekasih Ana. Dan katanya, Ana sendiri yang memperhatikan foto kalian satu ranjang," papar Lili,"lucunya, Leo malah seolah-olah tidak terjadi apa-apa," lanjut Lili dengan raut wajah penuh kemenangan saat melihat raut wajah pucat Vera.
Ibu hamil ini bukan nya takut dengan fitnah yang di hadirkan padanya dulu. Namun, tubuh nya kini terasa bergetar cemas. Ia tidak tau jika Leo Yamato, sang suami tau jika tidur dengan Arga. Yang lebih tidak menyangka adalah Ana mempunyai foto nya dan Arga. Bahkan memperlihatkan nya pada Leo. Kenapa Leo tidak berkata apa-apa padanya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi. Meskipun itu adalah jebakan Ana. Yang Vera takutkan adalah Leo percaya dengan apa yang di karang oleh Ana.
Krek!
...***...
Rapat kecil terjadi di ruangan berukuran sedang di kantor baru yang di bangun oleh Leo. Infocus terlihat menyala, memperlihatkan proposal rancangan baru dari proyek baru yang tengah di garap oleh Leo. Pria itu terlihat sangat antusias membangun kembali usahanya dari awal.
"Sekian proposal dari kami," ujar karyawan yang mengakhiri penjelasan nya.
Gemuruh tepuk tangan mengalun. Infocus dimatikan di ikuti dengan lampu ruangan yang di nyalakan. Belum sempat bibir Leo memuji. Ketukan di luar pintu mengalihkan pandangannya dan beberapa karyawan di sana.
"Masuk!" titah Leo keras.
Klik!
"Maaf, Pak. Bu Vera datang dan menunggu di ruangan kerja Bapak," ujar OB wanita di ambang pintu yang terbuka.
Leo mengangguk pelan. Dan memberikan kode untuk OB itu keluar.
__ADS_1
"Baiklah. Kita sudahi dulu rapat nya sampai disini. Jika merasa ada kekurangan, mungkin bisa kita lanjutkan besok!" ucap Leo. Sebelum berdiri di ikuti beberapa karyawan.
...***...
"Hei! Ada apa dengan wajahmu?" Seru Leo kala mendekati Vera di sofa di depan meja kerjanya.
Leo duduk dengan cepat di samping Vera. Telapak tangan besarnya menyentuh ke dua sisi wajah sang istri. Wajah Vera tampak pucat dan dingin.
Vera masih tidak membuka mulut untuk menjawab. Wanita itu hanya menatap dalam Leo dengan pandangan tak terbaca. Itu membuat Leo semakin merasa tak tenang.
"Ver!" panggil Leo,"ada apa denganmu. Kenapa wajahmu pucat seperti ini, Ver?" tanyanya lagi.
Vera menghela napas pendek."Kak!" panggil Vera pelan.
"Ya, ada apa?" balas Leo cepat.
"Bisa nggak jawab jujur dengan pertanyaan yang akan aku katakan?"
Kepala Leo mengangguk cepat."Apa itu?"
"Kakak," Vera memberikan jeda,"tentang tujuh bulan lalu, kurang lebih. Apakah kakak mendapatkan foto aku dan Arga?" lanjut nya menguatkan hati atas apa yang di tanyakan.
Leo membeku. Pria ini tidak tau harus menjawab apa.
"Kak!" desak Vera. Tangannya menyentuh telapak tangan Leo yang masih membingkai ke dua sisi wajahnya.
"Hah!" desahan letih terdengar,"ya, aku tau," jawabnya jujur.
"Lalu?"
"Aku tentu mempercayaimu. Aku jelas tau kau wanita seperti apa Vera. Aku benci pengkhianatan, namun aku tau kau tidak akan berkhianat."
"Bagaimana kakak yakin?"
"Karena aku merasakan dengan hati bukan otak. Perasanku mengatakan jika kau, sama sekali tidak mengkhianati ku!"
Vera menghela napas perlahan. Entah kenapa, rasanya rongga dadanya yang awalnya terasa sesak mulai berangsur kembali lapang. Leo menarik tubuh Vera masuk ke dalam pelukannya. Seolah tau, jika ibu dari anaknya ini merasa ketakutan. Ketakutan yang tak bisa di jabarkan dengan gamblang.
__ADS_1
"Aku akan terus mempercayaimu. Seperti apapun keadaan nya. Aku akan tetap mempercayaimu, Vera!" Ucap Leo mengeratkan pelukannya.
Vera semakin membenamkan wajah nya di dada bidang sang suami. Untuk kesekian kalinya, Vera terharu. Suaminya, benar-benar mempercayai tanpa setitik kecurigaan. Dan dalam hubungan rumah tangga Vera. Satu tiang kokoh terlihat jelas, di antara tiang kejujuran dan perasaan cinta. Ada tiang kepercayaan yang terbangun di diri Leo untuk nya.