
Kaki kursi mencicit kala di tarik kebelakang. Senyum lugu terukir jelas di wajah cantik nya. Vera membalas. Wanita ini tidak ingin terlihat terlalu jelas ketidak sukaan nya pada wanita di depannya ini.
"Maaf, membuat mu menunggu lama!" ujarnya dengan nada sok lembut.
"Ya, tidak apa-apa," balas Vera pelan,"maaf aku sudah memesan minuman mu lebih dahulu. Kalau kamu tidak suka, mungkin bisa pesan minuman yang baru," lanjut Vera.
Lili menatap hot lemon di atas meja dan satu lagi coklat hangat. Hujan di luar sana masih menguyur jalan sangat lebat.
"Tidak masalah. Aku masih menyukai hot lemon," jawab Lili lembut,"pasti nona Vera tau minuman kesukaanku dari Leo, ya?" lanjut nya.
Kepala Vera mengangguk pelan. Benar adanya, ia tau minuman kesukaan wanita di depan nya ini dari sang suami.
"Wah! Aku tidak menyangka jika Leo masih mengingat minuman kesukaanku," ujarnya lagi.
"Tentu saja, kalian adalah teman. Tentu saja ia tau minuman yang di sukai oleh teman nya," balas Vera dengan menekankan setiap kata teman. Ia ingin wanita ini sadar dimana tempat ia berdiri.
Senyum yang sempat ia umbar luntur dalam sekejap mata. Lili tidak suka dengan perkataan yang baru saja di keluarkan oleh wanita yang menyandang status sebagai nyonya muda Yamato. Tempat itu harusnya miliknya, dengan tidak tau dirinya. Wanita di depan nya ini merebut posisi nya. Lili sangat tidak ikhlas. Apa lagi, wanita di depan nya ini tidak lebih apapun darinya. Tidak lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar ataupun lebih segala-galanya. Bagaimana bisa ia melepaskan Leo pada wanita begini.
Setidaknya, itulah yang di pikirkan oleh Lili. Ketidak relaan akan posisi Vera.
"Begitu kah di matamu?" tanya Lili dengan nada yang berbeda.
Dahi Vera berlipat halus."Maksud nya?"
"Apakah menurut mu kami hanya teman?"
"Ya, tentu saja."
Lili melipat ke dua tangannya di depan dada. Menatap remeh Vera. Aura tak sedap mulai terasa di antara ke duanya.
"Aku dengar kau dan Leo telah menikah satu tahun enam bulan. Tapi, belum memiliki anak." Ucap Lili menarik tinggi garis senyum. Memasang wajah pongah pada lawan nya.
Vera tercekat. Tangan yang berada di pangkuan nya. Di remas pelan. Namun, ekspresi wajahnya terlihat sebisa mungkin harus tenang.
"Kenapa memangnya?" tanya Vera dengan nada bodoh.
Lili mengulas senyum remeh."Leo adalah pria yang menyukai anak-anak. Saat berpacaran dengan ku dahulu. Kami selalu membicarakan tentang berapa anak yang akan kami punya. Leo bilang, ia ingin langsung memilih anak agar rumah tangga kami terasa lebih hidup. Nona Vera, masih belum memiliki anak setelah satu tahun enam bulan bersama Leo. Anda pikir, bagaimana pemikiran keluarga Leo maupun Leo sendiri?" ujar Lili semakin menarik senyum lebar,"Leo adalah lelaki dan pribadi yang egois. Kau tau, dia meninggalkan aku yang bersamanya hitungan tahun dan menikah dengan mu. Hanya karena aku memintanya menunggu sebentar. Sebelum aku kembali. Lalu kau pikir ia akan menunggu untuk memiliki anak bersama mu," lanjut nya dengan nada penuh kemenangan.
__ADS_1
Ke dua sisi rahang Vera mengeras. Tangannya mengepal. Rasa sesak, takut dan tak terima bergelantung di dalam hati. Apa yang di katakan oleh Lili tidak lah salah. Tidak ada kebohongan, Leo pribadi yang egois. Pria itu nyaris otoriter.
Cenderung tak sabar dan memaksakan kehendak. Melihat kebungkaman Vera semakin membuat Lili tersenyum puas.
"Kami sebentar lagi pasti memiliki anak." Ujar Vera sembari menyadarkan punggung belakang nya di kursi. Wanita ini berhasil menenangkan hati yang bergejolak. Bermaksud memperingati Lili. Ia malah tersudutkan.
"Ah, begitu kah?" remeh Lili.
"Tentu, saja."
"Baiklah," ujar Lili memberi jeda,"ngomong-ngomong apa yang membuat nona Vera meminta pertemuan kita hari ini?" lanjut nya.
"Aku dengar Anda melakukan kerja sama dengan perusahaan kami. Aku berharap nona Lili yang terhormat bisa menjaga batasan. Ingat tempat masing-masing. Jangan sampai rumor buruk menimpamu. Meskipun nona Lili mencoba membuat rumor pun. Nona harus ingat, meskipun wanita yang benar dan pria yang salah. Dunia cenderung lebih suka menyudutkan perempuan. Jangan sampai karir nona hancur hanya karena obsesi semata," papar Vera dengan nada dingin.
Lili terkanga mendengar perkataan Vera. Ia tidak menyangka wanita ini memperingatkan dirinya akan status. Secara tidak langsung, menekannya.
"Aku bukan wanita lemah nona," balas Lili.
"Lalu, nona Lili pikir aku istri lemah dan bodoh?" tukas Vera,"aku bisa menjadi ganas saat milik ku di sentuh. Untuk masalah keluarga ku. Aku yang akan menanganinya dengan baik. Jangan melihat aku dari luar saja nona Lili. Aku menang terlihat biasa dari luar. Bukan kah orang-orang berkata dalamnya lautan dapat di Selami. Namun dangkal nya hati, terlalu kelam untuk terlihat dasarnya," lanjut Vera.
"Aku ingin, nona bisa memikirkan nya. Jikapun, nona bisa masuk ke dalam rumah tangga kami. Nona akan di sambut dengan neraka dunia. Aku bisa menjadi apa saja. Aku bisa gila dari pada orang gila. Jika ada yang berani-beraninya, melukai perasaan ku!" ujar Vera lagi.
"Wah! Aku tidak bisa berkata apa-apa pada mu. Tapi, aku tidak akan menyerah!" balas Lili dengan raut wajah setengah kesal.
"Oke, silahkan saja!" jawab Vera dengan nada menakutkan.
Lili diam-diam merasa takut pada Vera. Kemana wanita yang lugu dan penakut kemarin ia temui. Vera yang sekarang duduk dengan nya sangat berbeda dengan yang beberapa minggu lalu ia temui.
...***...
Vera mengerang kesal. Masih satu garis terlihat di tespek. Vera terduduk lemah di atas closed. Sudah lima tespek yang ia coba. Kelima-limanya mengeluarkan satu garis.
"Ugh! Bagaimana ini!" ujarnya lemah.
Tangannya di turunkan perlahan. Kepalanya menunduk dalam.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Dua ketukan membuat kepalanya terangkat.
"Vera!"
"Ya, tunggu sebentar kak!" balas Vera cepat kala ia mendengar panggilan dari Leo.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Leo terdengar cemas,"kenapa sang lama di kamar mandi?" lanjut Leo.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Tunggu sebentar!" balas Vera. Wanita ini langsung bergerak menarik tisu dan membungkus kelima beda pipih itu. Sebelum membuangnya ke tong sampah.
Ia tidak ingin Leo tau apa yang membuat nya selalu lama jika di kamar mandi. Wanita ini bergegas membasuh tangan. Dan mengeringkan nya dengan tisu. Kembali membuang tisu ke tong sampah. Vera melangkah menuju pintu. Membukanya perlahan. Wajah tampan sang suami terlihat.
"Kenapa lama sekali sih!" Gerutu Leo menarik tangan Vera. Pria ini memeluk sang istri. Mengusap punggung belakang Vera.
"Wanita selalu lama kalau di kamar mandi kak," balas Vera.
Leo mengulas senyum. Sebelum melepaskan pelukannya dari Vera. Menarik tangan Vera menuju tempat tidur. Sebelum ke duanya naik ke atas tempat tidur dengan tubuh Vera di dalam dekapan tubuh Leo.
"Nyaman sekali!" Ujar Leo kala semakin membawa masuk tubuh sang istri pada pelukannya.
Vera menengadah."Kak!" panggil Vera pelan.
"Hem!"
"Kakak mau punya anak berapa?" tanya Vera pelan.
"Aku maunya punya dua belas. Biar rumah besar ini ramai. Setiap pulang dari kantor ada suara berisik dari anak-anak kita," jawab Leo dengan nada ceria.
Vera tersenyum getir."Misalkan. Jika aku tidak bisa memiliki anak bagaimana?" tanya Vera pelan.
"Kalau tidak bisa.....kita cerai!"
Deg!
Vera tercekat. Ia bahkan menahan napas. Leo tampak berwajah datar.
__ADS_1