Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 61 (Keadilan Tuhan)


__ADS_3

Bunyi jarum jam di dinding terus berdetak keras. Orang-orang di lorong tepat di depan ruang tunggu operasi terlihat khawatir. Zita baru saja pulang di jemput oleh suami ibu hamil itu. Tak mungkin Zita berlama-lama di Rumah Sakit. Mengingat keadaan nya juga sulit, ia akan semakin tertekan jika berada di Rumah Sakit. Tangan Leo saling bertautan. Kepalanya menunduk dalam sudah satu jam lebih Vera di dalam sana. Ada seribu doa yang di lontarkan oleh hati kecil Leo.


Bukan hanya Leo saja yang terpukul dengan keadaan ini. Siti tak kalah sama, wanita paruh baya yang telah melahirkan sang istri itu sempat pingsan saat tau keadaan Vera dan anak dalam kandungan Vera. Bagas, ayah mertuanya berusaha semaksimal mungkin menenangkan ibu mertua nya.


Derap langkah kaki mendekati orang-orang yang ada di lorong. Helaan nafas lelah terdengar jelas, Reza membawa beberapa kantong roti dan minuman di bawa oleh Lucas dan Mark. Ke tiganya berinisiatif membawakan makanan untuk orang-orang yang ada di Rumah Sakit.


"Makanlah sedikit roti untuk mengganjal perutmu, Leo!" Ucap Reza menyodorkan roti dengan isian kacang susu kesukaan Leo.


Pria itu mengeleng kecil."Aku tidak lapar, Za!" bantahnya.


Reza menghela nafas pelan."Setidaknya walaupun nggak ada rasa lapar. Isi dikit saja, agar nanti punya tenaga lebih untuk bisa menjaga Vera. Kita nggak tau kapan Vera akan selesai Operasi," bujuk Reza.


Leo masih mengeleng. Wajahnya tampak pucat. Bagas melangkah mendekati sang menantu yang duduk di seberang sana. Tepukan di bahu membuat Leo menengadah. Bagas mengulas senyum lembut pada tampan menantunya ini.


"Makanlah sedikit, Leo. Papa nggak mau Vera jadi marah saat tau keadaanmu yang lemah. Kau tak ingin bukan membuat Vera khawatir?" nasehat Bagas.


Leo terdiam sesaat. Terbayang di matanya bagaimana raut sedih dan khawatir Vera. Tidak! Leo tak mau membuat istri tercinta nya khawatir.


"Ya, papa benar," jawab Leo pelan.


Reza tersenyum lega kala tangan besar Leo mengambil alih roti yang ada di tangannya. Mark melangkah mendekati Leo, pria itu memberikan sebotol air mineral pada Leo. Meskipun terasa sulit mengunyah roti yang kini telah ia gigit. Leo tetap memaksakan untuk mengunyah.


"Yang lain sudah dapat semua?" tanya Mark pada Reza dengan nada lambat.


"Ya, sudah. Bagaimana dengan airnya?" Reza balik bertanya.


"Sudah. Semuanya sudah di bagi," jawab Mark.


Kepala Reza mengangguk paham. Pria ini melirik lampu operasi yang masih tampak hidup. Pria ini berharap apapun hasilnya nanti. Semoga Vera bisa di selamatkan. Meskipun pendarahan hebat menghampiri Vera. Membuat nyawa wanita itu ikut terancam.


...***...


Ana mengigit-gigit kecil buku jarinya. Ia terlihat mondar mandir di sel tahanan. Ia benar-benar takut saat ini. Damar tidak lagi mau membantunya. Satu-satunya orang yang bisa menolong nya adalah ke dua orang tuanya. Willem pria tua itu memiliki banyak uang. Ana yakin, hanya ayahnya yang akan membantu nya keluar dari penjara. Tapi yang membuat Ana kesal saat ini adalah bagaimana reaksi ayahnya nanti. Jika tau ia masuk penjara lantara karena mendorong ibu hamil dari tangga.


"Tidak. Vera pantas menerima nya. Karena dia telah menjebak ku," ucapnya kala berhenti mendadak.


Kepalanya mengangguk yakin. Semuanya adalah kesalahan Vera. Tidak lain dan tidak bukan. Semua nya hanya karena Vera. Setidaknya itu lah terus berkecamuk di hati Ana.


"Nona William," seru Sipir wanita itu di luar pintu.


"Ya, saya!" Jawab Ana dengan cepat mengangkat tangan nya.


Pintu sel di buka. Ana melangkah cepat keluar dari dalam ruangan tahanan yang pengap. Ana mengikuti kemana sipir itu mengantarkan nya. Hingga mereka masuk ke dalam ruangan menerima tamu.


"Waktu nya hanya lima belas menit dan tidak lebih," ujar sang Sipir sebelum melangkah cepat keluar dari ruangan untuk menerima tamu.


Ana melangkah menuju tempat duduk. Di depannya wajah yang masih sangat cantik itu terlihat dingin. Ana tidak tau kapan terakhir kali ia bertemu dengan wanita yang telah melahirkan nya. Hanya melahirkan nya, tidak dengan membesarkannya dan memberikan nya kasih sayang padanya.

__ADS_1


"Mama," panggil Ana pelan.


Wanita yang masih begitu cantik itu menatap lambat putri semata wayangnya. Harus ia melahirkan anak lelaki untuk sang suami. Agar pria yang sangat ia cintai itu tidak beralih hati pada wanita lain. Sayangnya, ia hanya bisa memiliki satu anak perempuan saja. Sejauh dan sekeras apapun ia mencoba membuat Ana menjadi anak yang sempurna di mata sang suami. Tetap saja tuan besar William tidak melirik Ana. Ini membuat ia menjadi semakin kalap saja. Melupakan Ana, hanya untuk mengejar cinta sang suami.


"Apa begini kesuksesan yang kau agungkan pada mama dan papamu, Ana?" ujarnya dengan nada menyeramkan.


Ana tertegun sesaat. Masih saja tentang kata sukses yang ada di otak mamanya. Hanya tentang membuat papanya terkesima. Wah! Keluarga nya benar-benar sesuatu sekali.


"Apa hanya kata itu yang ingin mama katakan padaku yang baru kali ini bertemu setelah sekian lama, Ma?" ucap Ana penuh kekecewaan.


Bunga hanya menatap datar putri cantik nya.


"Jika kau menjadi anak yang berguna dan membanggakan maka aku sudah pasti akan memperlakukan mu dengan baik, Ana!" tukas Bunga.


Ana tergelak keras. Membawa pantulan dari tawa Ana mengalun. Dahi Bunga berlipat dalam melihat wajah Ana yang terlihat aneh dan mendengar tawanya yang masih mengudara.


"Oh, astaga. Ini benar-benar lucu!" Ucap Ana sembari mengusap dua bulir air mata yang mengalir karena tawanya.


"Kau tertawa?"


"Lalu apakah aku harus senang dengan apa yang baru saja mama katakan?"


"Kau..."


"Sudahlah. Pulanglah ke rumah Jeo William pria yang sangat mama cintai. Hingga lupa pernah melahirkan anak. Seberapa keras pun aku menjadi yang terbaik. Mama tak akan pernah menyayangi ku. Aku seperti ini karena mama dan papa. Aku haus kasih sayang. Tapi ini apa? Jangan kan kasih sayang. Perlindungan saja tidak ada. Inilah yang membuat aku iri pada sahabat aku sendiri. Aku...aku iri padanya. Karena kalian tidak bisa seperti orang tuanya yang memperlakukan nya dengan hangat dan penuh kasih sayang. Meski Vera sangat jauh dari kata sempurna. Aku! Aku, Ma! Lebih dari Vera. Tapi yang aku dapat kan adalah kesepian dan penderita. Lalu bagaimana bisa mama datang berkata begitu padaku yang telah berjuang?" potong Ana cepat. Wanita cantik itu berteriak keras.


...***...


Tangan dingin itu tak pernah lepas dari genggaman. Leo senantiasa menggenggam tangan Vera. Rintik cairan infus turun lambat. Sesekali Leo mengecup telapak tangan dingin Vera.


Srak!


Pintu kamar ruang rawat di geser kesampaian. Siti masuk membawa tas besar di tangannya. Tak lupa menutup kembali pintu ruangan rawat. Wanita paruh baya itu masuk semakin ke dalam. Berdiri di samping menantunya. Tepukan pelan membuat Leo menengadah.


"Istirahatlah kau pasti lelah," ujar Siti lembut.


Leo mengulas senyum."Tidak apa-apa mama. Aku masih tidak letih. Mama istirahat saja," jawab Leo dengan nada lemah.


Siti mengangguk. Ia tau Leo masih sangat khawatir pada Vera. Keadaan Vera lebih baik, berkat masuknya banyak kantong darah sebagai penunjang.


"Mamaku ke mana, Ma?" tanya Leo masih dengan keadaan menengadah menatap ibu mertua nya.


"Nara masih berada di luar. Katanya masih ingin di sana," jawab Siti.


Leo hanya mengangguk kecil. Siti melangkah menuju ruangan lain. Ruangan yang di khusus kan untuk yang menunggu sang pasien.


Di lain tempat Nara masih terlalu asik memandang dinding kaca tebal. Menatap bayi merah didalam kotak inkubator. Zeo mengusap pelan punggung sang istri.

__ADS_1


"Meskipun menyayangkan kelahiran nya terlalu awal. Syukur nya, ia dan Vera bisa selamat tanpa harus memilih," ujar Nara pelan.


"Tuhan itu maha adil, sayang. Vera adalah perempuan yang baik dan berhati lembut. Tentu saja, kebaikan nya tidak akan pernah di anggap remeh. Meskipun keadaan baik Vera maupun Prince tampan kita masih agak lemah. Setidaknya, kita bisa melihat keduanya. Bukankah saat keluar dari ruangan operasi Leo terlihat sangat bahagia. Mengetahui ke duanya selamat," balas Zeo.


"Ya, dia bahkan menangis sejadi-jadinya. Terlihat lucu dan juga kasihan melihat bagaimana ekspresi nya satu jam yang lalu," ujar Nara.


Zeo mengakui jika ia merasa kasihan pada sang putra. Bukan hanya mendebarkan saja, tapi juga hampir membuat jantung keluar dari tempat nya saking menakutkan kejadian beberapa jam yang lalu.


"Cucu kita tampan ya, Ma. Kayak papa," ucap Zeo memuji sang cucu dan dirinya sendiri.


Nara menatap cucu nya dan sang suami berganti-gantian.


"Maaf, papa. Cucu kita lebih dan jauh lebih tampan dari pada papa," tukas Nara.


Zeo merenggut."Cobalah tatap lagi dengan seksama. Kamu akan melihat jika cucu kita itu tampan nya nurun dari papa," ujar Zeo bersikeras.


Nara mendelik."Terus papa pikir Leo itu hanya gen pada. Dan cucu kita gen dari papa?" sinis Nara.


Zeo mendadak diam. Ini nih yang bikin pusing. Lebih baik cari aman. Zeo terkekeh dibuat-buat.


"I——iya, dari mamalah. Gen mama paling bagus," puji Zeo tergagap.


Nara tersenyum pongah. Bukankah perempuan selalu benar? Ya, begitu lah. Lebih baik mundur satu langkah dari pada langsung di tendang ke lubang lahat.


...***...


Leo tersenyum lebar. Sesekali mengusap pelan pipi Vera. Wanita cantik itu tersenyum. Tangannya terjulur menggenggam lembut tangan bayi yang ada di dalam inkubator.


"Tampan, kayak kakak!" puji Vera.


Leo merona. Lucu saja, di puji oleh Vera membuat seorang Leo Yamato merona.


"Masa, sih?"


"Ya, lihat. Hidungnya mancung, matanya sipit meskipun nggak sebesar mata kakak. Tapi bola matanya indah kayak mata kakak. Bibirnya merah terlihat seksi. Aku yakin aku beberapa tahun nanti akan kerepotan karena memiliki putra yang tampan," ucap Vera serius.


Leo tersenyum."Tenang saja. Putra kita akan tau cara mengatasinya," jawab Leo pelan.


Vera mengangguk pelan."Oh, iya. Namanya mau pakek nama yang mana?" tanya Vera sebelum mengasah menatap wajah sang suami yang begitu tampan dan cerah di pagi hari ini.


Leo mengerutkan dahinya."Kai Yamato," jawab Leo penuh keyakinan.


"Kai Yamato?" ulang Vera.


Kepala Leo mengangguk pelan."Ya, yang artinya lautan atau kejayaan. Dia akan menjadi lautan terindah untuk kebahagiaan kita. Memiliki hati yang lapang kayak mamanya. Dan terus berjaya. Aku berharap ia akan begitu," jawab Leo.


Vera tersenyum."Kai, nama yang indah."

__ADS_1


Keduanya tersenyum. Sebelum kembali menatap sang buah hati yang terlihat masih merah. Dengan bobot tubuh yang lumayan berat.


__ADS_2