
"Selamat nyonya Vera!" ujar sang Dokter selesai membaca surat keterangan hasil tes,"nyonya hamil dua Minggu," lanjut nya.
Vera tersenyum penuh haru.
"Benarkan ya Dok?" tanya Vera masih mencoba memastikan,"aku benar-benar hamil kan Dokter?" lanjut nya.
Kepala Dokter Meri mengangguk cepat. Wanita itu tersenyum lebar, Meri turut senang melihat hasil tes pasien nya satu ini. Mengingat, Vera sering kali berkonsultasi dan juga sering mendatanginya satu bulan sekali secara rutin.
"Mau di USG biar lebih jelas, dan biar nyonya Vera tidak merasa seperti mimpi." Ujar Meri sembari meletakan kertas tes di atas meja nya.
"Bo——boleh Dokter. Aku mau lihat!" balas Vera antusias.
Meri mengangguk."Kalau begitu ayo kita pindah ke sebelah sana!" ujar Meri sebelum berdiri dari kursi kerja nya.
Ke duanya melangkah mendekati ranjang pemeriksaan. Yang mana sudah terdapat alat USG di samping ranjang. Di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda. Leo tampak tengah di sibukkan dengan urusan kantor. Kantor besar Yamato tampak gaduh.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Leo mengerang frustasi.
Helaan napas letih dari orang-orang terdengar jelas di ruangan rapat. Mereka mengadakan rapat darurat. E-mail penolakan kerja sama masuk ke dalam komputer milik CEO besar itu. Membuat banyak orang kalang kabut. Wajah Leo tampak memerah.
"Kami tidak tau Pak. Ada yang bilang jika rancangan bangunan yang kita sodorkan sama dengan lawan kita," jawab salah satu bawahan Leo.
"Sekarang ada banyak spekulasi yang terjadi di luar sana, Pak!" kini suara ke dua terdengar.
"Apakah ada musuh dalam selimut. Hingga rancangan bangunan yang telah kita bangun itu sama dengan perusahaan properti lain nya?" suara selanjutnya membuat kegaduhan di dalam ruangan rapat.
Kepala Leo pening seketika. Sudah banyak biaya yang di keluarkan oleh perusahaan mereka untuk membangun rumah. Meski rumah itu telah rampung, sayangnya. Yang menjual dan memperlihatkan nya pada khalayak umum bukan lah dari mereka. Anehnya, sudah ada rumah lain yang sama desain yang di usung. Sama persis dengan apa yang telah mereka buat. Hanya letak nya saja yang berbeda. Dan hak desain pun sudah di patenkan.
Bisa-bisa mereka akan di cap sebagai memplagiat desain rumah yang ingin mereka jual. Di jual pun, akan menjadi perbincangan dari bibir ke bibir. Leo menutup ke dua kelopak matanya. Menahan gejolak amarah yang ingin ia keluarkan bak lahar panas pada bawahan nya. Kerugian yang di derita untuk pertama kalinya mencapai ratusan juta triliun bukan rupiah.
Keluarga Yamato bisa bangkrut dalam satu waktu.
"Temukan apapun yang aneh. Dan hubungi orang yang bisa menyelidiki hal ini. Tangguh kan berita keluar ke media sosial," seru Leo setelah sekian lama terdiam.
Orang-orang yang awalnya ribut kini terdiam sesaat. Sebelum kembali gaduh. Leo berdiri dari kursi kuasanya. Melangkah keluar dari ruangan rapat. Kepalanya sudah ingin pecah saat ini. Mau tak mau ia butuh waktu dan tempat untuk melampiaskan rasa amarah yang kini bergejolak.
Sektretaris melangkah di belakang tubuh Leo dengan pandangan takut-takut. Ini kali pertama nya, ia melihat raut wajah menakutkan sang CEO. Nina bertahap bos besarnya ini tidak kan marah-marah padanya.
Brak!
__ADS_1
Kaki Nina berhenti melangkah. Kala pintu di buka dan di tutup keras. Wanita itu hanya dapat mendesah pelan. Ia hanya bisa berdiri di depan pintu masuk ruangan Leo Yamato. Hingga rungu nya menangkap bunyi gaduh.
Brang!
Brak!
Prang!
Bunyi di dalam ruangan terdengar begitu gaduh. Seperti nya Leo melampiaskan amarahnya pada semua benda yang ada di ruangan nya. Kepala Nina mengeleng kecil. Sebelum membalik kan tubuh nya. Melangkah mendekati mejanya, yang tak jauh berada di depan pintu masuk ruangan CEO.
...***...
Vera tersenyum lebar, menatap semua makanan yang berada di atas meja makan. Di bantu beberapa pembantu rumah. Vera menyiapkan banyak makanan, termasuk makanan yang Leo sukai. Ada beberapa cemilan yang ia buat karena merasa ingin memakannya.
"Apakah masih ada yang perlu kami lakukan lagi nyonya?" tanya kepala pembantu rumah nya.
Vera menoleh ke samping. Sebelum menatap apa yang sekiranya masih kurang. Kepalanya menoleh kembali ke samping.
"Tidak. Ini sudah cukup kok," jawab Vera.
"Kalau begitu kami permisi ke belakang nyonya," ujarnya lagi.
"Oke, sekarang saatnya siap-siap untuk mandi sebelum kak Leo pulang!" Ujar Vera sehari mengusap pelan perut ratanya.
Wanita yang tengah hamil dua minggu itu melangkah cepat menuju tangga. Melakukan ritual mandi dan berias diri. Di habiskan waktu kurang lebih tiga puluh lima menit untuk bersiap-siap dan berdiri menunggu ke datangkan sang suami di teras rumah.
Senyum lebar mengembangkan kala mendengar klakson mobil di depan pintu gerbang. Dapat Vera lihat satpam rumah nya membuka kan pintu untuk mobil sedan hitam itu masuk ke dalam perkaran rumah. Hingga berhenti di depan teras. Pintu mobil di buka cepat.
"Kak Leo!" panggil Vera keras. Sebelum melambaikan tangannya pada Leo.
Raut wajah kusut Leo berubah dalam hitungan detik. Ia tersenyum ceria, sebelum melangkah lebar mendekati sang istri.
Hap!
Leo memeluk tubuh Vera dengan erat. Di balas tak kalah erat oleh Vera. Jika Vera memeluk Leo erat lantaran rasa bahagia yang memuncak. Maka beda lagi dengan Leo. Pria Yamato itu memeluk Vera dengan rasa sesal bercampur rasa sedih. Banyak pemikiran yang berkecamuk di dalam otak Leo saat ini.
Bukanlah sifat pria cenderung tenang saat menghadapi masalah. Meskipun di dalam hati berkecamuk. Tepukkan pelan di punggung belakang nya membuat Leo melepas pelukan eratnya.
"Ayo masuk. Kakak harus membersihkan diri sebelum makan malam." Ujar Vera menarik tangan Leo masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
...***...
"Bagaimana?" tanya Vera menatap sang suami penuh harap.
Leo mengulas senyum."Selalu enak," jawab Leo dengan senyum lembut.
Vera tersenyum lebar. Ia menyuapi makan ke dalam mulutnya. Sebelum menguyah pelan dan meneguknya kala telah halus. Ke dua sudut bibir nya tidak pernah berhenti tersenyum ke arah sang suami. Menatap Leo dengan pandangan bahagia. Hatinya tak sabar melihat bagaimana ekspresi bahagia Leo saat tau jika dirinya hamil. Kehamilan yang telah lama mereka tunggu-tunggu.
Leo sesekali tersenyum paksa. Dan terdiam. Rasanya napsu makannya menghilang. Kala ingat pundi-pundi uang yang terkuras habis. Bagaimana kehidupan nya dengan sang istri kedepannya. Itulah yang bergelayut di otak Leo. Sebagai seorang pria yang tidak pernah hidup sudah. Leo benar-benar galau. Mengingat ia di besarkan dengan harta berlimpah. Sampai membangun perusahaan yang modal dasarnya tentunya dari kedua orang tuanya.
"Kak!" Panggil Vera menggoyang kan pelan tangan Leo.
Pria itu terlihat beggong dan itu di tangkap oleh penglihatan Vera.
"Eh?"
"Kenapa, kok benggong?" tanya Vera menatap khawatir.
"Tidak. Hanya lelah saja," bohong Leo.
"Benar nggak ada masalah?" tanya Vera dengan manik mata menatap intens raut wajah Leo.
Kepala Leo mengangguk cepat. Tak lupa tersenyum ceria.
"Kamu terlihat bahagia hari ini. Apa ada kabar bahagia?"
"Hem.... rahasia!" jawab Vera. Sebelum tertawa kecil bersama Leo.
"Ver!"
"Ya."
"Misalkan, kita hidup di rumah yang hanya ada satu kamar saja. Nggak ada AC. Nggak ada pembantu, kamu mau nggak?" tanya Leo dengan nada hati-hati.
Vera tampak berpikir. Terlihat jelas dengan kerutan di dahinya. Sebelum senyum bersahaja tampak.
"Nggak masalah," jawab Vera,"yang terpenting itu bukan hidup mewah atau sederhana. Yang terpenting dalam rumah tangga itu adalah kehangatan keluarga. Ada kamu, aku dan anak kita. Sederhana belum tentu tidak bahagia kak. Aku nggak keberatan hidup sederhana," lanjut Vera bersungguh-sungguh.
Vera bukan pribadi yang suka kemewahan. Hanya kebetulan keberuntungan menghampiri nya. Hingga ia mendapat suami sekaya Leo. Dulu, saat SMA ia ingin menikah dengan pria biasa-biasa saja. Hidup di rumah dengan dua kamar. Dan keseharian yang sederhana. Tapi bahagia, seperti ke dua orang tuanya dulu.
__ADS_1
Leo tersenyum lega. Ia benar-benar tak salah pilih. Itulah yang ada di hati dan benaknya.