
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....โบ๏ธโบ๏ธ๐๐๐
.
.
.
.
Vera menurunkan ujung bawah gaun hitam pendek yang ia pakai. Di tarik bawah atas yang bermasalah, Vera merasa risih. Beberapa kali ia bilang pada Ana jika gaun yang gadis itu pakai tidak sesuai dengan tubuh nya. Dimana ujung gaun satu jengkal di atas lutut. Belahan dada yang lebih rendah dari yang biasa ia pakai. belum lagi, gaun hitam itu terlalu menguasai tubuh nya. Memperlihatkan perut rata serta lekukan tubuh nya. Meski Vera pendek, namun tubuh nya terlihat ramping. Memiliki body yang berisi meski tak seksi dan dada yang berukuran sedang. Membuat ia seperti anak remaja yang begitu menggairahkan dalam balutan gaun hitam.
"Ana! Arga! Di sini." Seruan keras bersautan dengan musik keras yang memekakkan gendang telinga Vera.
Di ujung sana ada sekelompok wanita dan pria berbaur dengan gaya yang sangat tidak pernah di lihat Vera. Selesai makan malam, Ana dan Arga membawanya ke butik untuk menukar pakaian. Meski Vera sempat menolak, namun dengan pemaksaan dari Ana dan Arga. Nyonya muda Yamato itu terpaksa melakukannya.
"Ayo, Ver!" Ujar Ana menarik Vera ke arah teman-teman nya.
"Siapa itu yang kalian bawa?" tanya salah satu gadis dengan pakaian seksi. Duduk di atas pangkuan seorang pria terlihat nakal di mata Vera.
"Dia sahabat Ana!" seru Arga dengan suara keras.
Pandangan mata orang-orang terlihat menilai. Menatap dari ujung ramping sampai ujung kaki.
"Dia sudah legalkan?" tutur perempuan berbaju merah dengan belahan dada yang terlihat jelas.
Ana menoleh ke arah Vera."Tentu saja. Usianya sudah dua puluh kok," jawab Ana.
"Perkenalkan kita sama dia dong," tutur pria memakai jaket kulit mahal.
Arga melirik Vera yang menggenggam erat tangan Ana. Perempuan itu takut. Itulah yang dapat di baca oleh Arga di ke dua manik mata hitam legam Vera. Ana terlihat menyeringai kecil.
"Gak usah takut, Vera. Teman-teman ku ini baik kok!" Ujar Ana menarik Vera hingga perempuan itu berdiri di depan Ana.
"Kenalkan namaku, Yohan!" Tutur pria dengan mata coklat itu pada Vera. Tak lupa mengulurkan tangan.
Vera membalas uluran tangan Yohan. Ke duanya bersalaman.
"Vera," jawab Vera seadanya sebelum menarik tangan nya cepat.
Yohan menyeringai. Polos, lugu dan masih tak terjamah oleh tangan nakal. Itu pendapat Yohan pada Vera.
"Aku Monik!" Ujar gadis berpakaian merah maron itu. Mengulurkan tangannya.
"Vera!" Jawab Vera pelan sembari membalas uluran tangan nya pada Monik.
__ADS_1
"Itu namanya, Sinta dan itu Dio!" Papar Monik menunjuk satu persatu orang yang tersisa kala tangan nya di lepas oleh Vera. Dimana yang namanya Sinta masih berada di pangkuan Dio.
Ke duanya hanya melambaikan tangan. Vera memaksa kan senyum pada ke duanya.
"Ayo sini bergabung kita minum-minum!" Teriak Dio keras dengan tangan mengangkat satu minuman ke atas.
Belum sempat bibir Vera terbuka. Ana lebih dahulu menarik tangan nya. Membawa Vera di samping nya. Arga dan Ana berada di sebelah kanan dan kiri Vera. Agar Vera tidak bisa kabur.
"Ayo, Vera minum!" Ujar Sinta memberikan gelas yang minuman merah pekat di ruang di dalamnya.
Vera mengeleng dengan tangan di kibaskan ke depan. Ia menolak minuman yang di berikan oleh Sinta.
"Maafkan aku sebelum nya, aku tidak bisa minum beralkohol. Aku punya penyakit yang tidak bisa bersinggungan dengan Alkohol," tolak Vera halus.
Sinta dan yang lainnya tampak kecewa. Ana menatap Vera dengan pandangan tak terbaca.
"Bisa bohong juga ternyata. Aku pikir dia polos dan tidak pernah berbohong. Siapa sangka Vera juga bisa berbohong," hati kecil Ana mencibir ke bohongan Vera.
"Yah, sayang banget kalau begitu. Padahal kan kita ke sini untuk senang-senang. Menghilangkan letih dari hingar-bingar nya dunia," tutur Monik dengan raut wajah kecewa.
"Hehe...mau bagaimana lagi," ujar Vera terkekeh kecil.
"Kalau begitu aku pesankan minuman yang tidak beralkohol dulu ya. Kau tunggu di sini ya Ver!" Ujar Ana sembari bangkit dari sofa bundar.
Vera mengangguk patah-patah. Jujur saja ia ingin keluar dari tempat terkutuk yang baru pertama kali ia injak. Siapa sangka, Arga dan Ana mengajaknya ke klub malam.
Vera mengangguk kecil."Ya," jawabnya.
Ana datang dengan jus jeruk. Meletakan nya di depan Vera.
"Minim Ver," ujar Ana.
Gadis itu meraih gelas yang berisikan red wine meneguknya bersamaan dengan Vera. Arga ikut meneguknya. Sesekali berbincang dengan teman Ana. Vera hanya menjadi pendengar setia, meneguk sedikit demi sedikit jus jeruk sampai tandas.
Sedangkan di lain tempat. Leo tengah sibuk melihat beberapa rancangan dari Lucas.
"Bagaimana?" tanya Lucas menatap sang sahabat.
Wajah Leo tampak serius. Jika urusan kerja, Leo akan berubah 180ยฐ lebih serius dan dingin. Sangat berbeda saat mereka tengah berkumpul bersama. Beberapa gambar rancangan bangunan yang di buat Lucas di lihat teliti.
Lucas Winata, bukan semata-mata pria kaya dan player. Pria itu juga memiliki kemampuan yang di akui banyak orang di balik sifat gilanya. Lucas punya nama yang besar. Seperti saat ini.
"Aku suka yang ini. Hanya saja untuk penghijauan alaminya masih kurang. Aku maunya, ada beberapa kesan budayanya." Ujar Leo menunjuk bagian gambar di depannya.
Lucas mengangguk pelan."Kau suka yang ini?" tanya memastikan.
__ADS_1
"Ya. Aku lebih suka yang ini dari desain bangunan dan interior nya. Tapi kekurangan nya di dekorasi penghijauan nya. Aku mau lebih alami dan ada unsur budaya nya. Agar lebih terkesan..... wow!" balas Leo.
"Oke, aku akan perbaiki gambar ini untuk penghijauan nya. Tapi soal harga ingat, tidak ada tawar menawar. Kau tau bukan tidak mudah bekerja sama dengan aku?"
"Aku tau kawan!" balas Leo dengan nada santai.
Lucas tersenyum. Leo meraih kuping cup kopi hitam miliknya.
PRANG!
"Leo!" Seru Lucas terkejut.
Pria Yamato itu menyentuh dadanya. Perasaan nya tak enak. Seperti gelas yang terpecah di bawan sana. Terdengar samar-samar, Lucas cemas pada Leo. Beberapa pembantu rumah Lucas terlihat bergegas membersihkan gelas yang pecah.
"Hei! Kau tidak apa-apa?" Lucas mengguncang tubuh Leo.
"Eh?" Leo tersentak,"Entahlah, rasanya di sini tidak enak!" Ujar Leo menyentuh dadanya.
"Kau sakit?" ujar Lucas cemas.
Leo mengeleng."Aku harus pulang!" Ujarnya bergerak cepat bangkit dari kursi.
...***...
Vera tampak kacau. Perempuan itu keluar dari salah satu kamar hotel dengan rambut acak-acakan. Ia terlihat menatap nanar lantai dengan tangan bergetar hebat kala meraih ponsel milik nya. Ia membuka pintu tangga darurat. Ia bergegas masuk. Vera menghidupkan, ponsel putih itu memperlihatkan ratusan pesan dan dua ratus panggilan tak terjawab dari Leo.
Air mata meleleh. Ia terjerembab jatuh di lantai dingin. Ingin rasanya Vera berteriak keras. Begitu banyak pesan menanyakan keadaannya dan dimana dia saat ini. Vera merasa sangat kotor untuk saat ini.
Bagaimana tidak? Ia terbangun dengan Arga di samping nya. Pria itu tidak memakai apapun di balik selimut tebal begitu pula dengan nya. Ia bangun di samping kekasih sahabat nya. Ia tidak ingat apa yang terjadi. Satu kesimpulan yang Vera dapat kan saat ini. Ia telah tidur dengan kekasih sahabat nya. Isakan pelan mengalun pelan.
Derap langkah kaki membuat Vera kelimpungan.
"Vera!" Seruan berat membuat pupil mata Vera melebar.
Tidak. Hanya kata itu yang ingin di teriakan oleh bibir Vera.
.
.
.
Bersambung....
Vera๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบknp ya๐๐๐๐
__ADS_1
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....โบ๏ธโบ๏ธ๐๐๐
.