
Leo mengecup puncak kepala sang istri. Wanita yang sudah tiga jam lebih menemaninya di ruang kerja. Bahkan, sampai tertidur di sofa. Leo terkekeh kecil saat gumaman tidak jelas dari bibir pink Vera.
"Cantik nya, istri ku!" Ujar Leo mengusap pelan pipi chubby sang istri. Ia tersenyum lagi.
Ah, Leo Yamato seperti orang gila saja jika sudah bersama sang istri. Dimana bagi orang-orang, Vera terlihat sangat biasa. Tidak cantik ataupun seksi. Beda lagi di mata pria terlalu tampan satu ini, ia melihat Vera dengan pandangan penuh kekaguman. Paras sederhana, namun kecantikan hati yang memukau.
"Kau mungkin tidak ingat, tapi berbeda dengan ku. Saat itu, aku benar-benar terpesona dengan mu!" ujar Leo lagi. Pria yang tengah berjongkok di pinggir sofa itu kembali mengulas senyum.
Flashback on
Beberapa kali Leo remaja menghela napas kesal. Pria yang menguasai dua bahasa ini beberapa kali mendengus kesal. Pasalnya ia tidak ingin mengunjungi kampung sang ibu di Tasikmalaya. Tapi Nara bersikeras untuk membawanya pulang ke kampung halaman. Bahkan ia baru saja pindah ke Indonesia. Sudah di ajak ke kampung yang terlihat tidak menarik. Tidak ada sinyal internet dan begitu panas tidak seperti Osaka Jepang.
"Hei! Jangan terus merenggut wajah tampan putra mama bisa jadi jelek, loh!" goda Nara pada sang putra.
Leo menghela napas."Kita hanya tiga hari di sini kan ya?" tanya Leo dengan pandangan penuh harap. Setidaknya Jakarta jauh lebih baik daripada di Tasikmalaya.
Nara mengulas senyum. Sebelum menarik sang putra melihat hamparan sawah yang masih begitu luas.
"Kenapa begitu. Di sini seru, ada banyak lapangan bermain. Atau sekedar tempat untuk memancing. Tidakkah kamu bosan menatap gedung-gedung tinggi dengan orang-orang yang begitu sibuk?" bujuk Nara.
"Hah! Apa bagusnya. Di sini tidak ada tempat bermain yang menakjubkan. Atau supermarket untuk berbelanja cemilan dan permen. Bahkan sinyal ponsel saja susah!" gerutu Leo.
Anak pria yang beranjak remaja ini memang sangat enggan dengan perkampungan. Ia lebih suka dengan dengan kota. Bermain game online yang belum populer di Indonesia. Mengingat sinyal ponsel yang belum merata.
__ADS_1
Nara menghela napas pelan. Inilah yang terjadi jika menikah dan tinggal di negara orang. Apa lagi, Nara jarang menanamkan kebudayaan Indonesia pada sang putra. Leo Yamato, anak yang sangat aktif. Saat di Sekolah Dasar, ia sudah banyak mengikuti olimpiade. Bahkan juga lomba gamer. Bisa di bilang, Leo sangat suka bermain game. Beberapa kali memenangkan lomba game. Bercita-cita mendirikan perusahaan aplikasi game.
"Begini saja, kita satu minggu di sini. Cobalah cari teman di sini, mencoba suasana baru itu juga termasuk tantangan loh!" Nara kembali berujar, masih berusaha membujuk sang putra.
Kepala Leo mengangguk pelan. Meskipun tak suka desa, Leo masih patuh pada ke dua orang tuanya. Meski dengan hati yang tidak rela.
"Leo! Main yuk," seruan keras dari belakang membuat Leo dan Nara membalikkan tubuh.
Anak perempuan seusia Leo tersenyum lebar. Anak dari kakak sang ibu itu tersenyum. Sebelum menarik ingus yang sempat turun. Wajah Leo remaja berubah jijik. Nara terkekeh melihat raut wajah jijik sang putra.
Nessa tersenyum malu. Nessa baru duduk di bangku kelas satu SMP. Tabiatnya masih belum berubah, masih sedikit kekanak-kanakan dan tidak terurus.
"Ayuk, kita main!" Ujar Nessa sembari melangkah cepat mendekati sepupu tampannya itu.
"Ini! Buang ingus mu." Kita Leo menyodorkan selembar tisu dari balik bajunya.
Nessa menerima nya dengan senyum bahagia. Suara yang menjijikkan dari ingus yang beradu dengan tisu membuat Leo kembali bergidik jijik. Apakah anak desa memang begitu. Setidaknya itulah yang berada di otak Leo.
Nessa tersenyum kala membuang tisu. Ia menarik cepat tangan Leo. Anak perempuan itu ingin menyombong kan pada teman-temannya jika ia mempunyai sepupu sangat tampan. Apalagi Leo adalah sepupu nya yang lama tinggal di Jepang. Leo beberapa kali melirik Nara. Wanita itu tersenyum dan melambai.
Lima belas menit di habiskan berjalan melalui jalan kecil sawah. Leo di tarik pada kerumunan anak-anak seusianya. Di lapangan luas, dengan beberapa pohon besar yang tidak Leo tau namanya. Di sana ada banyak anak-anak desa. Yang masih bermain benda bulat yang menggelinding. Dan anak lelaki yang menerbangkan layangan. Dengan wajah merenggut Leo di seret cepat.
Tiga puluh menit bermain permainan yang dinamakan lempar kelereng. Leo memilih meneduh di akar pohon beringin. Dari kejauhan, ia dapat melihat interaksi anak perempuan yang terlihat manis dengan rambut kepang dua. Anak perempuan itu terlihat tersenyum dan menyapa beberapa orang tua di pematang sawah. Sebelum sampai ke tempat nya.
__ADS_1
"Itu Verakan!" seruan terdengar jelas dari beberapa anak perempuan yang tak jauh darinya.
"Ah, iya. Anak kota itu kan ya?" ujar yang lain.
"Ya. Aku ingin berteman dengan nya. Kata Eyang ku, Vera itu anak yang baik dan manis!" timpal yang lain nya.
"Kemarin aku melihat dia membantu ibu nya Ayu, yang butuh uang melahirkan. Dengan uang celengannya," Nessa berucap.
"Dia juga nggak malu main sama anak desa kayak kita!" ujarnya lain.
"Kak!" Teriak keras dengan tangan melambai membuat perkumpulan anak beranjak remaja itu ikut membalas lambaian tangan Vera kecil.
Anak memakai dress putih selutut itu sedikit berlari menuju perkumpulan anak-anak perempuan. Leo masih memperhatikan adik manis yang kini bergabung dengan teman-teman sepupunya.
Beberapa niat awal ingin pulang cepat ke Jakarta di undur lantaran Leo penasaran dengan anak perempuan manis yang baik hati itu. Beberapa kali Leo yang membututi Vera kecil dari jauh melihat keseharian Vera. Seperti yang teman sepupu nya katakan. Ia melihat Vera membantu wanita lanjut usia mendorong gerobak ke pasar. Atau sekedar memberikan beberapa orang cacat meminta-minta.
Tiba-tiba saja Vera tak lagi tampak. Dan saat di tanyakan pada sang sepupu. Vera anak kecil yang manis itu kembali ke Jakarta. Leo yang tak tau jelas siapa Vera, pun juga kembali ke Jakarta. Ia berpikir perasaan aneh, yang senang melihat Vera kecil dari jauh adalah hal biasa. Sampai saat itu, saat ia pindah ke rumah baru. Yang berada tepat di samping rumah Vera.
Sepupunya, Nessa yang sudah terlihat cantik datang ke rumah. Tak sengaja berkenalan dengan sang tetangga. Pernah bermain bersama, membuat ke duanya cepat tau siapa diri masing-masing. Saat itu Leo tengah patah hati di tinggal Lili.
Bukankah jodoh tak kemana. Meski terdengar lucu dan klise. Tapi itu nyata adanya. Leo meminang Vera dengan membujuk ke dua orang tua Vera.
Flashback off
__ADS_1
"Hah! Cinta pertama ku, dan kau kembali menjadi istri ku. Aku senang bisa menikahi cinta monyetku!" Ujar Leo pelan sebelum melayangkan kecupan di bibir pink Vera yang masih terlelap.