
Kelopak mata sipit itu terbuka perlahan. Sebelum tertutup kembali dan terbuka perlahan. Wanita imut itu mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retina mata. Tirai jendela melambai-lambai belai angin pagi. Mata Vera melirik jam yang berada di dinding kamar. Sebelum menoleh menatap Leo. Pria itu masih terlihat tenang dengan deru napas teratur.
Vera tersenyum pelan sebelum bergerak memiringkan tubuhnya ke arah Leo. Ibu hamil itu tersenyum lebar melihat sang suami. Tangan kanan nya terangkat, mengusap pelan bulu mata lentik tebal Leo. Sebelum jari telunjuk nya jatuh pada pangkal hidung Leo. Jari tangannya mengikuti garis hidung mancung Leo yang terbentang. Sebelum kembali jatuh pada bibir merah seksi milik sang suami.
"Ah, terlalu tampan!" sebalnya dengan nada serak.
Melihat wajah suami yang terlalu tampan itu sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak, kemanapun mereka pergi. Baju apapun dan mau naik kendaraan apapun. Para wanita tetap saja menjerit-jerit dan terpesona oleh ketampanan Leo. Tak peduli mau jatuh miskin ataupun kaya sekalipun. Para wanita tetap saja keganjenan ingin di perhatikan oleh sang suami.
Ada yang lebih gila lagi. Sampai ada yang mau di madu oleh Leo. Enak saja, siapa juga yang mau berbagi suami. Vera mendengus sebal, kala pemikiran itu kembali hadir. Saat Lili dengan lugas nya berkata mau jadi istri ke dua.
Vera menatap dengan mata penuh api cemburu yang menyala-nyala di ke dua matanya.
"Kakak jika berani selingkuh, aku potong adik kecilnya sampai nggak bisa kawin lagi!" ucap Vera dengan nada pelan namun tajam.
Ke dua sudut bibir Leo terangkat. Pupil mata Vera terbelalak. Oh, God! Leo Yamato tidak tidur kah?
Siapa tolong bunuh Vera saat ini juga. Bagaimana bisa ia tidak sadar jika Leo hanya memejamkan mata. Terbukti kedua kelopak mata Leo terbuka dengan senyum merekah.
"Siapa yang mau selingkuh darimu, Hem?" ucapnya dengan nada serak seksi khas miliknya,"dan apakah sudah puas mengusap wajah tampan suamimu ini? Kalau belum, aku tidak keberatan di usap lagi. Mau dimana saja silahkan. Aku pasrah kok, kalau sama istriku tercinta!" lanjut nya. Sebelum memberikan kedipan maut ke arah Vera.
Blus!!
Kontan saja wajah Vera memerah bak kepiting rebus. Senyum Leo semakin terlihat kala melihat wajah imut Vera memerah.
"Mau usapan yang lebih ke bawah juga boleh. Aku nggak keberatan olahraga pagi," lanjut Leo.
Oh, tidak. Kini bukan hanya wajah saja yang memerah. Daun telinga nya ikut memerah. Wajah Vera memanas, ke dua telapak tangannya bergerak cepat menutup seluruh permukaan wajahnya karena malu. Leo terkekeh. Tubuh nya bergerak bergeser mengikis jarak antara ia dan Vera. Aroma maskulin tubuh Leo tercium jelas. Sangat harum.
"Sayang!" panggil Leo menggoda Vera.
"Kakak! Nyebelin!" ucap Vera teredam telapak tangannya.
__ADS_1
Leo tertawa keras. Tangan besarnya menarik tubuh Vera yang semakin berisi kedalam pelukannya.
"Nyebelin nya dari mana coba?" tukas Leo,"jelas-jelas yang pegang-pegang duluan kamu. Dan yang cemburu juga kamu. Lalu letak nyebelin nya aku dari mana?" lanjut nya di seta tawa.
Vera mendorong pelan dada bidang Leo. Lucunya, Leo malah menahan pinggang sang istri. Meskipun pelukan Leo tak lagi sempurna pada Vera. Mengingatkan ada pemisah antara mereka. Ada jabang bayi yang juga ikut dalam pelukan.
"Kakak suka sekali ngerjain aku," kesal Vera. Sebelum membuka telapak tangan yang menghalangi wajah memerahnya.
"Jahil ke istri sendiri nggak ada larangan sayang. Asalkan jangan jahil pada wanita lain. Pilih mana, mau aku jahilnya cuma sama kamu. Atau jahilnya ke wanita lain?"
"Sama aku. Berani sama wanita lain aku kebiri!" jawab Vera dengan cepat.
Leo tergelak keras. Siapa sangka ibu hamil ini posesif dan suka cemburu. Lucunya, Leo suka sekali di posesif dan di cemburui sama Vera. Vera memukul kecil dada bidang keras milik Leo. Pria itu bukan nya berhenti tertawa malah semakin tertawa keras karena pukulan Vera.
...***...
"Tidak ada yang kurang kan di sana?" tanya Nara pada sang suami yang tengah duduk di sofa dengan laptop di pangkuan nya.
"Tentu tidak dong sayang. Mereka liburan di sana tentunya nggak ada yang kurang. Villa di sanakan punya kita," jawab Zeo pelan.
"Lalu bagaimana dengan rumah yang akan mereka tempati setelah pulang dari sana?"
"Rumah baru lah, masa di rumah petak sempit itu."
"Kenapa nggak rumah lama. Kembali kan lagi perusahaan dan rumah Leo. Aku nggak mau lihat putra tampan dan menantu tersayangaku kesulitan. Papakan udah lihat kalau Vera hamil. Emangnya mau lihat menantu kita kesusahan karena ulah papa," kesal Nara.
Zeo menghela napas pelan."Ya ya ya! Papa balikin semuanya. Mama mah suka sekali marah-marah sama papa. Padahal kan papa nggak niat buruk," balas Zeo cepat.
Nara sangat cerewet minta ampun kalau sudah soal putra tunggal mereka. Dari awal datang ke Jakarta, sang istri selalu saja mendesak ia untuk mengembalikan perusahaan. Dan memulihkan kembali keadaan Leo.
"Gitu dong. Papa sih, bikin kesal saja. Masa suka sekali ngerjain Leo, nggak tau apa lihat Leo susah mama ikutan susah. Papa mah nggak akan tau rasanya perasaan itu. Karena bukan papa yang hamil, bukan papa yang susah saat ngurusin dan nggak papa yang mempertaruhkan nyawa saat melahirkan," cerocos Nara.
__ADS_1
Nah! Ini dia. Kalah ibu-ibu sudah marah. Mereka suka sekali merembet ke banyak hal. Dari satu masalah maka masalah yang lain juga ikut serta. Kadang Zeo merasa aneh dengan Nara. Padahal saat remaja dulu, istri cantik nya ini sangat manis. Tidak suka ceramah panjang kali lebar kali tinggi. Atau tidak suka adu mulut. Sukanya kalem dan tak banyak mau. Tapi saat sudah memiliki anak, sifat Nara jadi berubah.
Suka sekali marah. Suka sekali membahas satu masalah lalu nyerempet ke masalah lain. Seperti saat ini. Zeo tidak tau apakah perempuan jika sudah beranak dan sudah mau tua suka nyinyir.
...***...
Leo memeluk Vera dari belakang dengan lantar belakang air ombak sedikit beriak. Sang fotografer berteriak menyuarakan untuk menahan posisi. Hingga pose di abadikan.
Satu jam mereka mengambil foto di beberapa tempat dengan baju berbeda. Ke duanya tidak tau, di siang hari beberapa orang datang ke villa dan mengatakan jika mereka di bayar oleh Nara untuk mengabadikan moment liburan Leo dan Vera. Beserta kandungan Vera.
"Kak, lelah!" ucap Vera setelah foto di ambil.
Leo merogoh saku celananya. Mengusap pelan peluh yang menghiasi wajah manis sang istri. Seorang asisten fotografer setelah berlari ke asah Vera dan Leo. Payung berukuran besar di kembangkan. Dan satu botol air putih di sodorkan. Kipas kecil memberikan kesejukan di sela hembusan angin pantai.
"Minim dulu," ucap Leo. Sebelum membuka tutup botol.
Leo menyodorkan pada sang istri. Sebelah tangannya masih bekerja mengusap pelan dahi sang istri. Ke duanya sudah seperti artis saja. Memiliki asisten pribadi untuk sesi foto.
"Apa ini pengambil foto terakhir?" tanya Leo tanpa mengalihkan pandangannya pada asisten fotografer.
"Ya, pak. Ini foto terakhir. Lagipula kita tidak akan mengambil foto banyak. Katanya hanya foto untuk mengabdikan momen saja. Dan nanti saat perut nyonya muda Yamato udah lebih besar lagi. Saat kandung delapan bulan bakal di ambil lagi foto barunya," jelasnya.
Dahi Leo berlipat. Berapa banyak uang yang di keluarkan oleh sang ibu untuk foto pribadi. Bukankah mereka tidak punya banyak uang. Setidaknya itu pemikiran yang terlintas di otak Leo.
"Kak! Pulang, yuk!" Ajak Vera menyentuh tangan Leo.
Leo tersentak dari lamunannya. Ia tersenyum dan mengangguk. Leo menyerahkan botol air di tangannya pada wanita yang tadinya memberikan air. Sebelum mengendong sang istri. Vera terpekek perlahan, sebelum menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Leo.
"Kenapa di gedong!" cicit Vera.
"Tadi katanya capek," jawab Leo dengan mudahnya. Lelaki itu melangkah menuju Villa.
__ADS_1
Beberapa orang yang melihat ke duanya menatap iri.