
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....βΊοΈβΊοΈπππ
.
.
.
.
Uap susu hangat mengepul di permukaan. Ke dua mata sipit Vera yang awalnya bengkak kini terlihat sudah menyusut. Pria di depannya menatap lambat wajah Vera yang terlihat kusut. Pemuda ini cukup syok kala mendengar pembicaraan Ana dengan orang di telepon. Damar tak mengira jika Ana bisa senekat itu pada Vera. Damar pikir Ana hanya berencana tanpa benar-benar melakukan nya. Siapa sangka, Ana benar bisa melakukan hal semengerikan itu. Hingga Damar dengan gilanya membawa mobil ngebut di jam macetnya Jakarta. Beruntung ia menemukan Vera di dekat tangga darurat. Menangis tertahan. Keadaan nya tampak kacau.
"Minumlah Vera, susu hangat akan membuatmu jauh lebih tenang," kata Damar dengan nada lembut.
Tangan Vera meraih gelas berisi susu yang sudah mulai agak dingin. Dengan perlahan ia meneguk nya. Sebelum kembali meletakkan susu yang tinggal setengah di atas meja.
"Abang tidak ingin bertanya?" ujar Vera dengan nada serak sehabis menangis.
Damar hanya menyembuhkan napas frustasi.
"Tidak. Kamu tenang saja, Abang tidak bertanya apa-apa. Abang tau Vera sedang dalam keadaan tidak tenang," kata Damar seperti biasa nya.
Pria satu ini selalu saja hangat. Membuat hati Vera cukup tenang.
"Terimakasih Bang," balas Vera penuh rasa syukur.
Damar hanya mengangguk kecil. Bunyi bel apartemen mengalun mengisi seluruh penjuru ruangan. Damar bangkit dari posisi duduknya. Melangkah cepat ke pintu masuk. Vera menghembuskan napas gusar.
Derap langkah kaki Damar dapat di tangkap oleh Vera. Pepper bag hitam berukuran sedang di letakan di atas paha Vera.
"Mandilah. Di sana ada perlengkapan mandi sekaligus baju yang layak untuk mu," ujar Damar kala mendapatkan tatapan aneh dari Vera.
Vera tak tau harus berkata apa. Ia mengangguk pelan.
"Sekali lagi, terimakasih Bang!" Kata Vera sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Ruangan tamu ada di pintu coklat itu. Abang harus kembali bekerja," ujar Damar.
Vera mengangguk patah-patah. Sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu. Damar memijat pelan pangkal hidung nya. Jika terjadi sesuatu pada Vera, Damarlah yang harus bertanggung jawab. Karena gagal dalam mendidik sepupunya. Hingga Ana melaksanakan hal gila. Telapak tangan besar Damar mengusap kasar wajah tampannya.
Jika di apartemen Damar, pria itu tengah gusar. Tak jauh beda dengan apartemen tuan muda Yamato. Leo masih berada di rumah, setelah beberapa kali keluar dari apartemen mencari keberadaan Vera. Layar ponselnya tidak henti-hentinya memanggil sang istri. Yang terdengar hanya nada sambung. Tidak di angkat.
"Dimana dia?" Monolog Leo mengusap kasar rambut hitam legamnya.
Wajahnya tampak kusut. Ke dua kantong matanya tampak menghitam.
KLIK!
Tiga orang pria masuk ke dalam apartemen Leo. Ke tiganya ikut mencari Vera. Sayang nya tidak menemukan jejak apapun atas keberadaan Vera.
"Bagaimana?" tanya Leo kala ketiganya memasuki apartemen.
Serentak kepala ke tiga pria itu mengeleng cepat.
__ADS_1
"Kami sudah mencari dimana-mana tidak ada," ujar Reza membuka pembicaraan.
"Maaf, Leo!" kini giliran Lucas angkat suara.
"Bagaimana kalau kita lapor polisi?" usul Mark.
"Hah! Ini masih belum dua puluh empat jam dan ke dua orang tua kami pasti akan khawatir," keluh Leo pelan.
Serentak ke empat nya mendesah kasar. Hingga bunyi kata sandi di masukan membuat atensi ke empat nya langsung menuju pintu.
Leo melangkah terburu-buru. Ke dua bibirnya melengkung ke atas kala mendapati seluet Vera di ambang pintu masuk yang terbuka.
Hap!
"Kemana saja kau, hah! Aku sudah menelepon dan mengirimkanmu pesan. Kenapa kau tidak menjawabnya, hah!" Kesal Leo di sela pelukan eratnya pada tubuh Vera.
"Maaf," seru Vera pelan.
Leo melepaskan pelukannya. Kedua tangan Leo berada di ke dua sisi bahu Vera.
"Kau dari mana saja, kenapa tidak pulang ke rumah. Ana bilang kau tidak dengannya. Aku khawatir sekali," desak Leo dengan rentetan pertanyaan.
"Aku kehilangan ponsel ku tadi malam. Aku lupa mengabari Kakak kalau aku melakukan tugas kelompok sampai bergadang di rumah Zita," dusta Vera. Tak lupa ia menarik ke dua sudut bibirnya ke atas.
"Ah, syukur lah!" desah Leo penuh kelegaan.
Reza, Lucas dan Mark hanya mampu mengeleng pelan. Mereka tidak menyangka bisa melihat kepanikan Leo pada Vera. Pria itu sempat menanyai keberadaan Vera pada orang tua Vera. Hasilnya nihil.
Kontak ke empat nya mengangguk pelan tanpa rasa curiga. Membiarkan Vera melangkah menuju kamarnya.
...***...
"Bagaimana rasanya?" ujar Ana dengan senyum lebar pada Arga.
"Apanya?" Tanya Arga sebelum menyesap jus Mangga miliknya.
"CK! Pura-pura polos, huh?" kesal Ana,"itu loh, Vera. Apakah seru main dengan nya?" lanjut Ana.
Arga terkekeh pelan."Aku tidak menyentuh nya Ana. Kau membuat nya kehilangan kesadaran tadi malam. Kau pikir aku sebejad itu mengambil keuntungan dari Vera. Tapi, lain lagi jika Vera yang menginginkan nya dengan sadar," balas Arga.
Ke dua mata Ana melebar. Raut wajah tidak percaya tercetak jelas pada wajah Ana. Seorang Arga tidak meniduri Vera? Rasanya tidak mungkin sekali.
"Kau bercanda?" decak Ana.
"Tidak. Aku tidak bercanda," tukas Arga.
"Kenapa kau tidak meniduri nya. Jangan sok suci, kau memang brengsek bagaimana bisa kau begitu?"
Arga tertawa pelan."Jangan salah menilaiku, Ana. Aku memang pria brengsek. Sebrengsek-brengsek nya aku. Aku tidak akan merusak perempuan baik Ana. Aku hanya merusak perempuan yang sepertimu. Yang menginginkan kehangatan di atas ranjang. Setidaknya, itulah prinsipku. Aku sudah membantumu sesuai kesepakatan kita. Jangan lupa dengan perjanjian kita, Ana!" kata Arga dengan senyum menyeringai.
Ana tak tau harus berbicara apa. Bagaimana bisa pria seberengsek Arga mau menghargai perempuan seperti Vera. Apa lebih nya Vera.
"Apa beda Vera dan aku?" tanya Ana dengan wajah masam.
__ADS_1
"Bedanya?" jeda Arga,"bukankah kau tau dengan jelas bedanya. Vera adalah perempuan yang baik. Dia mau menuruti keinginanmu. Dia tulus dan apa adanya. Berbeda denganmu, yang penuh muslihat. Sekali lihat saja aku sudah tau perbedaan kalian. Meski kau cantik, jujur saja. Cantik bukan jaminan orang selalu menyukaimu, Ana. Sebagian besar pria suka kamu karena tubuhmu. Tapi hanya sebatas itu. Berbeda dengan Ana, wajahnya memang biasa dan tubuh nya tak seksi seperti mu. Tapi dia punya ketulusan dan kesederhanaan yang mampu membuat lelaki nyaman. Lelaki yang tertarik pada kecantikan wanita yeah.....hanya suka karena cantik saja. Kalau cewek nya berubah jelek sewaktu-waktu. Cowok gak bakal mau lagi. Beda lagi jika cowok yang suka sama wanita dengan wajah biasa. Bisa di pastikan cowok itu suka dia karena apa adanya dia," papar Arga dengan lugas.
Ana merasa tertampar dengan penuturan Arga. Ia berdiri dari posisi duduknya. Melangkah meninggalkan Arga di cafe sendiri tanpa kata.
...***...
Leo dengan telaten membantu menyuapi Vera dengan bubur. Setelah pulang, tubuh Vera panas sekali. Sang istri terkena demam. Leo sempat panik satu jam yang lalu. Memanggil Dokter pribadi keluarga Yamato mereka ke apartemen.
"Sudah kak!" tolak Vera kala sendok di tangan Leo terangkat.
"Satu suap lagi ya? Sebelum minum obat," bujuk Leo.
Vera hanya mendesah kecil. Menerima suapan Leo. Pria itu tersenyum. Ia meletakan mangkok bubur di samping ranjang. Di atas nakas, sebelum meraih gelas berisi air putih. Memberikan nya pas Vera.
Vera menerimanya. Meneguk perlahan air putih. Menyisakan setengah.
"Minum obat, setelah itu istirahat!" ujar Leo. Sebelum menyodorkan beberapa butir obat pada Vera.
Vera menerima dan menelan obat di bantu air putih. Setelah itu gelas besar itu di letakan di tempat nya.
"Terimakasih Kak!" kata Vera.
Leo mengembang kan senyum. Sembari membenahi tempat tidur. Vera merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Selamat istirahat, istriku!" Ujar Leo sebelum melayang kan kecupan di dahi Vera yang terasa sangat panas.
Vera tersenyum. Leo menarik selimut tebal hingga batas dada. Sebelum bangkit dari posisi duduknya.
Hap!
"Temani aku di sini, sampai aku tertidur ya kak!" Ujar Vera memelas kala pergelangan tangan Leo di tangkap.
Leo mengurungkan niatnya. Ia kembali mendudukkan bodi belakang nya di bibir ranjang.
"Tidurlah," titah Leo.
Vera mengangguk. Tangan Vera pergelangan tangan Leo terasa sangat panas.
"Maafkan aku, Kak!"
.
.
..
.
Bersambung....
Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....βΊοΈβΊοΈπππ
.
__ADS_1