Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 5 (Kecewa)


__ADS_3

Gerbang kampus terlihat ramai. Beberapa mahasiswa berlalu lalang. Vera dan Ana berjalan beriringan, mengobrol ringan. Seputar pelajaran mereka. Deru mesin mobil di samping tubuh ke duanya. Membuat langkah Ana dan Vera berhenti. Dahi Vera berlipat, mobil mewah itu menyamping. Menghambat langkah ia dan sang sahabat. Kala pintu mobil di buka, pandangan takjub. Pria bermata tajam itu tersenyum lebar.


Desisan kagum pada wajah terlalu tampan dengan rahang tegas itu terdengar gaduh. Beberapa pasang mata menatap penasaran siapa sang pria. Ada yang sengaja menghentikan langkah kaki mereka untuk masuk ke dalam area Kampus. Membiarkan jarum jam berjalan, keterlambatan masuk kuliah tidak di permasalahkan. Terutama untuk kaum hawa.


"Hai! Ana," serunya dengan senyum memukau.


Ana hanya memberikan senyum sungkan.


"Oh, hai Arga!" ujarnya lembut.


Pria gagah itu melirik Vera. Gadis imut yang seperti anak SMA bukan seorang mahasiswa. Melihat Arga melirik sang sahabat, Ana mengulas senyum.


"Oh, iya. Perkenalkan ini sahabat ku, namanya Vera. Dan Vera perkenalkan ini Arga dia kekasih baru ku." Ujar Ana menunjuk Vera dan Arga berganti-gantian.


Arga mengulurkan tangannya pada Vera. Mau tak mau Vera menerima uluran tangan Arga. Tersenyum lembut, pada kekasih baru Ana.


"Vera!" ujarnya.


"Arga," ujar Arga.


Tangan besar itu terlepas. Arga mengalihkan pandangan matanya pada Ana.


"Kita jadikan makan malam bersama?" tanya Arga dengan nada berat.


Ana melirik Vera. Ke duanya janjian makan malam.


"Bagaimana ya, aku lupa kalau kita ada janji makan. Aku malah mengajak Vera makan bersama," kata Ana dengan wajah di buat tidak enak hati.


"Tidak apa-apa An! Kau pergilah dengan Arga," ujar Vera cepat.


Ana memasang wajah ragu. Tangan yang menggandeng tangan Vera di goyang pelan.


"Gini aja, kau ikut saja makan malam sama kita. Bolehkan Ga?" Ana menoleh menatap sang pria.


Arga tersenyum lembut. Mengangguk pelan, Vera mengoyakkan pelan punggung tangan Ana. Sedikit berjinjit, mengingat tingginya dan Ana cukup jauh.


"Hei, jangan begitu. Aku tak enak pada pacar barumu," bisik Vera dengan nada rendah.


Ana tersenyum lebar."Tidak masalah. Arga pria yang baik. Kau bisa melihat nya dengan lebih leluasa. Menelisik apakah dia baik atau tidak, untuk ku!" balas Ana dengan nada rendah.


Arga hanya menatap ke duanya. Menanti apa keputusan gadis di depannya ini.


"Tapi..."

__ADS_1


"Ayolah, Ver!" bujuk Ana dengan nada manja.


Vera mendesah pelan. Melihat wajah cantik Ana memelas membuat Vera luluh. Vera tak suka melihat wajah Ana yang sedih apa lagi memelas seperti ini. Pada akhirnya kepalanya mengangguk pelan.


"Oke," putusnya.


Ana tersenyum semakin lebar."Kita berangkat sekarang. Sekalian jalan-jalan dulu. Sebelum mencari makan malam," ujarnya.


Vera hanya pasrah di tarik menuju mobil mahal milik Arga. Pria bermata tajam itu melangkah cepat menuju sisi mobil. Membuka dua sisi pintu untuk ke dua gadis itu. Sebelum melangkah ke sisi kursi pengemudi.


Ana duduk di depan. Vera duduk di belakang.


...***...


Dua jam ke tiganya berkeliling di Mall di bilangan Jakarta Selatan. Arga, pria itu begitu ramah pada Vera. Berbeda dengan pria yang lain, yang pernah menjadi pacar Ana. Sejak SMA Ana sudah memiliki banyak pacar. Tidak satupun pria tampan yang bisa di lewatkan oleh Ana. Mengingat visual Ana yang begitu cantik. Mulai dari kakak kelas sampai adik kelas mereka. Bukan hanya teman satu SMA saja, di luar SMA mereka juga begitu. Bahkan seorang mahasiswa tampan dan berprestasi pernah menjadi kekasih Ana.


Vera tidak pernah keberatan hanya sekedar menjadi obat nyamuk dari Ana. Atau sebagai pengantar surat sampai bunga untuk Ana. Toh, Ana pantas mendapatkan semua nya.


"Kalian sudah laparkan?" Tanya Arga di sembari langkah kaki mereka.


"Ya, kita cari tempat makan yuk." Jawab Ana sembari menengadah.


Arga tersenyum. Mengusap pelan penuh kasih sayang puncak kepala Ana. Vera lagi-lagi menjadi penonton ke romantis Ana dan Arga. Mereka cocok di mata Vera. Arga pria tampan dengan lembut pada wanita. Tidak terlihat raut wajah kesal karena membawa nya juga. Karena biasanya, mantan kekasih Ana sangat kesal jika Ana membawanya ketika kencan. Tapi, Arga berbeda. Pria itu terlihat tak keberatan. Bahkan mau ikut berbincang-bincang dengan nya.


"Ok, Vera mau makan apa?" Arga menurun kan tangan nya dari atas puncak kepala Ana. Sedikit mencondongkan kepalanya ke depan. Menoleh ke arah samping kanan.


Kepala Arga mengangguk-angguk pelan. Sebelum membawa retina matanya pada sang kekasih. Seolah tau. Ana membuka suara.


"Kita makan Sushi saja." Usul Ana."Bagaimana, tidak apa-apa kan?" Tanya Ana menoleh ke samping kanan dan kiri. Menatap Vera dan Arga berganti-ganti.


Kontan saja ke duanya mengangguk cepat. Pertanda menyetujui usulan Ana.


...***...


Suara pintu di buka berbunyi nyaring. Lampu apartemen telah di matikan. Vera melepaskan sepatu sneaker hitam milik nya, sebelum meletakkan sepatu milik nya di atas rak sepatu. Menukarkan nya dengan sendal khusus rumah. Pelan-pelan Vera melangkah masuk, sebisa mungkin gadis ini meminimalisir suara. Cahaya remang-remang dari pantulan lampu apartemen lain yang masih menyala mempermudah gadis ini melangkah masuk. Berharap cemas, jika Leo sudah terlalap. Jujur saja, ia sengaja pulang larut malam. Hanya untuk mengindari suaminya satu itu. Kejadian tadi malam sungguh membuat nya kikuk.


Bles!


Tubuh Vera tercekat. Langkah kaki lebarnya membeku. Ke dua mata sipit itu terbelalak melihat siapa yang duduk di sofa dengan pandangan mata tajam menatap ke arahnya. Ke dua tangan kekarnya di lipat di dada. Pria itu menurunkan tangan yang terlipat di dada. Membuang asal remote kontrol di atas kursi. Vera seperti maling yang tertangkap basah.


"Bagus, jam segini baru pulang!" tegur Leo dengan nada berat. Raut wajah pria itu cenderung dingin. Manik mata coklat kelam itu menajam.


Vera menelan air liurnya dengan susah payah. Beberapa kali ia terbatuk kecil, membenahi posisi berdiri nya dengan lurus.

__ADS_1


"Tidakkah kau melihat jam berapa sekarang. Dan istri mana yang pulang jam segini, bahkan di antar oleh pria." Lanjut Leo sembari berdiri dari duduknya.


Pria Yamato ini melangkah lebar mendekati Vera. Sontak saja, Vera mundur secara spontan. Setiap langkah yang di ambil maju oleh Leo. Maka langkah mundur juga di ambil oleh Vera.


Gadis itu menggenggam erat tali tas sandang sebelahnya.


"Kenapa diam?"


"Itu,.."


"Apa?" potong Leo cepat.


Bibir Vera terbuka. Namun terkatup kembali.


Bruk!


Sial.


"Siapa yang meletakan di dinding di belakang sini!" gerutu Vera kala punggung nya menabrak dinding.


"Vera!" Panggil Leo dengan tangan mengekang tubuh mungil Vera. Menunduk kan tubuh nya.


Kepala Vera mendongkrak. Hembusan napas mint menerpa wajah kusamnya. Bagaimana tidak kusam, seharian di luar rumah. Tidak bisa mencuci muka, baru pulang di jam sebelas malam. Malah ketahuan oleh sang suami.


"Vera!" panggil Leo lagi dengan nada rendah.


Vera tak menyahut. Bibir pink pucat tanpa lipstik itu di gigit pelan.


"Jawab panggilan suamimu," tegur Leo.


Telapak tangan Vera memberi kan batas pada dada bidang Leo. Memberikan sedikit jarak antara mereka. Debaran jantung Leo terasa jelas.


"Vera!" lagi-lagi Leo memanggil nya.


Kenapa. Kenapa begini? Bibirnya sangat berat untuk di angkat. Lidahnya kelu, tak mampu menjawab panggilan sang suami.


"Kenapa kau begini padaku?" tanya Leo dengan nada berbeda.


Ke dua mata Vera membesar. Kala menatap mata pria ini berkacak-kaca. Leo melepaskan kekunggannya, membuat tangan Vera mengawang. Tanpa kata Leo melangkah menuju kamarnya. Ponsel mahal di kamar tergeletak tak berdaya dengan beberapa item foto. Vera dengan pria. Tertawa dan tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2