
Pekikan tertahan di kerongkongan. Pupil matanya membesar, tubuh nya terasa bergetar. Hingga air mata mengalir di ke dua pipinya. Garis merah membawa debaran dan pekikan tertahan. Air mata haru mengalir deras, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Tangannya bergerak menurunkan benda pipih panjang yang pertama. Sebelum meraih dua benda yang yang sama. Vera melirik kiri dan kanan.
Sama.
Tidak berubah. Ada dua garis merah terlihat dengan jelas. Ke dua kakinya terasa tak bertulang. Ia terduduk di ubin kamar mandi.
"Aku hamil?" ujarnya masih tak percaya.
Hatinya berdebar. Vera bahagia, sungguh. Ingin rasanya Vera berlari dari kamar mandi saat ini untuk memberi tahukan kehamilan nya pada Leo yang masih berada di atas ranjang.
"Aku hamil!" sekali lagi Vera bergumam. Sebelum menangis sejadi-jadinya karena terlalu bahagia.
Dua garis merah yang setia, di setiap paginya ia tunggu untuk terlihat. Enam bulan lebih ia melakukan hal yang sama setiap hari. Pada akhirnya, ia mendapat dua garis merah yang ia harapkan. Kesabaran dan penantian nya berbuah manis. Sungguh sangat manis.
Meski ke dua mata di banjiri air mata. Garis bibir tinggi terlihat. Wanita itu menangis dan tersenyum dalam satu waktu.
...***...
Mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan sedang. Vera yang duduk bersandar di dada bidang Leo di lirik oleh sang supir dengan senyum tipis. Pria paruh baya ini senang melihat kemesraan sang majikan. Seperti pagi-pagi biasanya.
"Pulang jam berapa nanti kak?" tanya Vera. Sebelum sedikit menengadah wajahnya menatap wajah tampan sang suami.
"Kamu sendiri pulang jam berapa nanti?" bukan menjawab. Leo malah balik bertanya.
"Aku pulang setelah jam makan siang kak," jawab Vera.
Tangan besar Leo tampak mempermainkan jari jemari kecil Vera di dalam genggaman tangan nya.
"Mau makan siang bersama nanti sayang?" tanya Leo.
Vera tampak berpikir. Terlihat jelas pangkal hidung nya mengerut lucu di mata Leo. Sebelah tangannya yang merangkul tubuh mungil sang istri. Mengusap pelan pipi Vera dengan lembut.
"Kayaknya nggak bisa deh kak. Soalnya, aku sama Nadia dan Zita ada janji makan siang. Terus pulangnya nanti mau mampir ke tokoh buku dulu," bohong Vera.
Wanita yang tengah hamil ini setelah makan siang ingin memeriksa kehamilan nya dahulu. Memastikan, jika tespek tidak keliru. Vera tidak ingin memberikan berita pada pria yang kini memeluknya dengan kasih sayang merasa kecewa. Karena itu, ia harus memastikan nya terlebih dahulu. Sebelum memberikan kejutan jika ia benar-benar hamil.
__ADS_1
"Yah....padahal aku ingin makan siang dengan istriku tercinta," keluh Leo.
Vera mengembangkan senyum nya. Hidungnya mengendus-endus aroma tubuh maskulin Leo. Ia suka dengan aroma tubuh sang suami. Begitu harum dan menenangkan. Ke dua kelopak matanya terpejam saking nyamannya.
Leo tersenyum melihat kelakuan sang istri. Pelukan nya di eratkan.
"Nanti lulus mau kerja jadi sekretaris ku aja, nggak?"
Kelopak mata Vera terbuka perlahan mendengar penawaran Leo.
"Aku kan lulusan Sastra Bahasa Indonesia. Nggak mungkin jadi sekretaris dong kak," balas Vera.
"Kenapa nggak?" tukasnya,"lagipula semua jurusan bisa jadi sekretaris kok. Kalau kamu mau, kan bisa belajar juga bagaimana jadi sekretaris. Bukan cuma jadi bendahara dan istri ku saja," lanjut nya.
"Aku mau jadi penulis kak," jawab Vera,"itukan impian aku sejak SMP," lanjut nya.
Leo menghela napas."Kalau begitu nggak apa-apa jadi penulis. Tapi kantor nya di gedung kantor ku saja. Mejamu di depan mejaku," ujar Leo penuh harap.
Vera mendorong kecil dada bidang Leo. Memberikan jarak antara ia dan Leo.
"Emangnya, kakak nggak bosan apa. Di rumah ada aku, masa di kantor masih ada aku?"
"Masa bosan sama istri selucu dan secantik kamu!" Jawabnya. Sebelum melepaskan cubitan nya karena di pukul kecil oleh Vera.
Bibir pink basah itu di poutkan karena kesal. Ke dua tangannya mengusap ke dua sisi pipinya yang memerah karena ulah sang suami. Pria itu semakin gemas melihat sang istri. Apa lagi melihat pipi chubby yang bergerak-gerak saat di usap. Ugh! Leo Yamato ingin mengigit pipi chubby Vera yang seperti bakpao itu.
"Ih, kakak sakit tau ini!" rajuk Vera.
"Itu belum seberapa. Aku malah punya pikiran mau gigit pipi mu yang kayak bakpao itu!" balas Leo.
Vera berdecak kesal. Sebelum melayangkan serangan. Wanita itu membalas perlakuan Leo. Mencubit hidung mancung Leo, membuat kegaduhan di bangku belakang terdengar jelas. Tawa Vera dan tawa kecil Leo, membuat sang supir tersenyum lebar. Dan mengeleng kecil melihat ke dua majikannya.
...***...
"Ver!" panggil Nadia kala sang dosen keluar dari kelas mereka.
__ADS_1
Vera menoleh menatap Nadia. Yang menatap nya dengan pandangan aneh.
"Kenapa?" tanya Vera.
"Kau sudah dapat kabar belum?"
"Soal apa?"
"Itu loh, katanya Ana sudah kembali masuk kuliah."
"Lalu kenapa?"
Nadia mengigit kecil bibirnya. Sebelum menarik kursi tempat duduk nya mendekati Vera. Wajahnya di dekatkan pada daun telinga Vera.
"Aku dengar rumor dia ke Amerika karena hamil. Dan ia sekarang balik lagi karena sudah melahirkan," bisik Nadia.
Gadis itu menjauhkan wajah dari daun telinga Vera. Menegakkan tubuhnya. Menatap Vera dengan wajah penasaran. Rumor buruk beredar saat Ana kembali masuk ke kampus.
Vera menghela napas pelan. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Haruskah ia merasa senang dengan rumor buruk tentang mantan sahabat nya. Wanita yang menjebak dan mengfitnahnya tidur dengan pria lain. Sayang nya, Vera tidak menemukan perasaan bahagia. Ia merasa iba dengan Ana. Mantan sahabat nya itu berasal dari keluarga yang berantakan.
Dan Vera tau dengan jelas hal itu. Lucunya, wanita satu ini berpura-pura buta dengan hal itu. Ia ingin Ana merasakan nyaman berteman dengan nya. Bahkan, Vera membawa Ana tidur ke rumah nya. Agar Ana merasa memiliki keluarga. Ibu dan ayahnya, sudah menganggap Ana sebagai putri sendiri. Selalu memperlakukan Ana dengan hangat.
Anehnya, niat baik Vera malah di salah artikan. Ana berpikir Vera ingin pamer dengan keluarga nya yang bahagia. Hingga iri bahkan membenci Vera.
"Sudahlah Nadia. Itu hidupnya, apapun yang ia lakukan tidak ada hubungannya dengan kita," ujar Vera pada akhirnya.
Nadia menatap lama Vera."Apa kamu nggak merasa senang. Karena orang yang mengfitnahmu mendapatkan ganjarannya?" tanya Nadia penasaran.
Kepala Vera mengeleng pelan.
"Kenapa?" tanya Nadia tak mengerti. Sebagai manusia biasa. Nadia keheranan. Karena jika ia di posisi Vera ia akan tersenyum sinis. Karena orang yang menjelekkannya menuai buah karma perbuatan nya. Bukan kah itu normal?
"Karena aku juga wanita." Jawab Vera mengusap pelan perut datarnya."Karena aku juga akan menjadi seorang ibu. Jika nanti putriku mendapatkan hal yang sama. Bisakah aku tersenyum senang?" lanjut nya.
Nadia tertegun. Sebelum menghela napas pelan. Ya, ia salah. Hampir saja ia menjadi wanita lebih buruk daripada Ana. Tidak sepatutnya ia tersenyum di atas kemalangan dan kesalahan wanita lain.
__ADS_1
"Ya, kau benar juga." Nadia mengakuinya dengan nada lirih.
Vera hanya mengangguk kecil. Diam-diam Vera berharap itu hanya sebuah rumor. Karena ia kasih dengan Ana. Sebagai seorang yang pernah dekat.