Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 56 (Suami Idaman)


__ADS_3

Usapan lembut di perut yang semakin membesar membuat Nadia menatap lambat pada perut Vera. Gadis itu menatap penasaran pada Vera. Masih ada dua puluh menit lagi untuk masuk kelas. Ke duanya duduk di taman. Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat beberapa kali ibu hamil itu menguap kecil.


"Nggak mau ambil jatah cuti aja Ver?" tanya Nadia menatap Vera yang kini bersandar.


"Masih belum. Baru enam bulan, nanti kalau udah delapan bulan kurang aku baru mau ambil cuti," balas Vera.


Kepala Nadia mengangguk."Berat nggak sih bawa kandungan sebesar itu?" tanya Nadia kembali.


Vera terdiam sesaat. Sebelum sebuah senyuman terukir jelas di wajah ibu hamil yang terlihat mempesona. Wajah nya tampak begitu cerah, meskipun tanpa make up. Tampak begitu bersinar.


"Ya, berat. Apa lagi bayi nya agak besar. Kayaknya nanti lahiran harus operasi," jawab Vera,"oh iya, mana Zita. Kok masih belum datang. Ini sebentar lagi mau masuk kelas," tanya Vera. Sebelum mengedarkan pandangannya pada sekeliling taman kampus.


Nadia mengulas senyum. Membuat dahi Vera berlipat.


"Kok malah senyum. Bukan nya menjawab pertanyaanku?"


"Dia lagi masa susah, Ver! Maklum baru isi," balas Nadia membuat ke dua mata Vera membulat sempurna.


Zita sungguh sangat beruntung. Baru nikah dua bulan sudah di percayai oleh Tuhan untuk di titipkan buah hati.


"Wah! Syukurlah," ucap Vera turut senang.


"Top cerkan ya itu suami Zita. Dua bulan langsung jadi?" ujar Nadia sebelum cekikikan karena geli dengan perkataan nya sendiri.


Vera ikut terkekeh geli mendengar ucapan Nadia.


"Kamu nggak iri sama kami berdua?" goda Vera setelah tawa ke duanya berhenti.


"Ya, iri sih. Cuma ya itu, masih belum ada pasangan. Memilih pasangan juga nggak mudah. Apa lagi pasangan yang setia, di zaman sekarang itu cowok banyak yang nggak tau diri. Nggak cukup satu wanita, lihat yang cantik dikit matanya langsung bercahaya. Paling parah, malah langsung pendekatan sama itu cewek. Kita bukan kekurangan pria hebat. Tapi kita kekurangan pria yang setia," cerocos Nadia panjang lebar.


Vera mengangguk setuju. Apa yang di katakan oleh Nadia adalah benar. Wanita bukan kekurangan pria yang mapan. Ataupun pria yang hebat. Tapi kekurangan pria yang tau menjaga mata dan hati.

__ADS_1


"Ya, mau gimana lagi. Cowok setia itu langka," balas Vera pelan.


Nadia berdecak."Tapi setidaknya kamu dapat yang namanya cowok setia. Kayak kak Leo, setia banget. Udah ganteng, mapan, perhatian, romantis, dan setia lagi. Benar-benar bikin banyak orang iri," keluh Nadia di akhir kata.


Vera menepuk pelan pundak Nadia."Jangan patah semangat Nadia. Yang terpenting itu perbaiki diri dulu. Kalau mau pria yang setia, kamunya harus bisa jaga mata dulu. Kalau kamunya udah merasa kamu udah bisa menjaga mata, bisa menghargai hati orang lain. Sudah pasti bakalan dapat jodoh yang sama. Karena jodoh itu cerminan diri kita sendiri," nasehat Vera dengan lembut.


Nadia mengulas senyum. Bibir yang tadi nya di tekuk tampak kembali di tarik ke atas.


"Senang deh, kalau punya sahabat kayak kamu. Yang menegur saat salah, perhatian dan hangat. Sayang kamu wanita, kalau pria mah udah aku tarik naik pelaminan!" kelakar Nadia di akhir kata.


Vera hanya tertawa kecil mendengar pujian dan kelakar Nadia di akhir kata.


...***...


Leo melipat ke dua tangannya di depan dada. Zeo tampak santai, pria itu malah terlihat tenang memindahkan bidak catur nya. Seolah-olah tidak ada mata tajam yang tengah memperhatikan nya.


"Papa!" panggil Leo dengan nada serak seksi milik nya.


Hanya deheman yang terdengar di Indra pendengaran Leo. Pria tampan itu melepaskan tangan yang tadinya di lipat di depan dada.


"Jangan berwajah tanpa dosa begitu papa. Semenjak sandiwara papa padaku. Papa malah menghilang, baru pulang hari ini ke Indonesia. Aku mau dengerin alasan dari mulut papa. Meskipun mama udah ngomong," seru Leo.


Zeo mengangkat wajah tampannya. Meskipun sudah berumur, ayah kandung dari Leo Yamato ini masih saja terlihat gagah.


"Kamu marah sama papa?" bukan nya menjawab. Zeo malah melempar kan pertanyaan pada sang putra.


Marah?


Apakah ia marah pada sang ayah? Leo sendiri juga bingung dengan perasaannya. Ada perasaan lega, kesal, dan senang dalam waktu bersamaan.


"Nggak, aku nggak marah sama papa. Cuma nggak habis pikir saja, bagaimana papa bisa ngerjain aku sampai sebegitu nya. Aku bahkan sampai nangis di depan mama dan papa karena merasa bersalah. Aku yakin papa pasti tertawa di belakangku karena aku menangis bukan?" papar Leo sebelum memasang tampang sebal.

__ADS_1


Zeo tersenyum. Benar! Ia tertawa di belakang Leo saat putra tampan nya itu pulang. Sungguh! Sumpah demi apapun, Zeo merasa terhibur melihat wajah yang biasa terlihat dingin dan berwibawa itu menangis sesenggukan di depan matanya. Oke, anggap saja ia keterlaluan karena bahagia melihat wajah sengsara sang putra. Meskipun ia harus mengorbankan gendang telinga nya. Karena Nara, sang istri tercinta nyocos kayak bebek padanya.


"Jangan senyum-senyum nggak jelas, Pa!" kesal Leo,"papa terlihat semakin menyebalkan jika tersenyum begitu!" ucap Leo mencabik.


"Oke! Oke, papa minta maaf padamu. Papa hanya mencoba memperlihatkan padamu. Mana wanita yang tulus dan mana wanita yang hanya mengincar hartamu. Eh! Ternyata papa salah, selain harta dan tahta. Wanita juga tergila-gila pada ketampanan. Ini salah papa, karena memberikan gen tampan overdosis padamu," jawab Zeo dengan kepercayaan diri yang besar.


Leo mendengus kesal mendengar kenarsisan sang ayah. Akan tetapi, itu tidak sepenuhnya salah. Dari mana lagi gen terlalu tampan nya jika bukan dari sang ayah. Pria di depannya ini.


"Aku nggak perlu yang begitu papa. Aku cinta Vera lebih dari pada yang papa dan mama tau. Mau mereka gila atau senewen suka sama aku. Aku nggak bakal berkhianat. Karena Vera adalah separuh jiawaku. Alangkah bodohnya aku menukar batu permata dengan batu kerikil di luar sana papa. Nggak ada yang layak menjadi nyonya muda Yamato selain Vera, istriku!" jelas Leo dengan lugas.


Zeo tersenyum. Ah, Zeo merasa sang putra sangat jeli dalam memilih pasangan. Vera adalah wanita yang tepat untuk putranya. Wanita itu memiliki sopan santun yang tidak lagi di miliki oleh wanita sekarang. Lemah lembut kalau berbicara dengan yang lebih tua darinya. Saat Leo mengatakan ingin menikah. Zeo sempat khawatir, takut putranya salah pilih. Saat melihat calon istri sang putra. Yang tak lain dan tak bukan adalah anak tetangga baru mereka.


Zeo langsung setuju. Karena ibu Vera satu kampung dengan istri nya. Dan mereka jelas tau silsilah keluarga Vera. Di saat anak itu kecil pernah melihat dengan jelas kelembutan dan kebaikan hati Vera. Menantu idaman, saat itu Zeo berpikir alangkah membahagiakan jika suatu hari nanti Vera menjadi menantu nya. Dan benar saja, doanya terkabul.


...***...


"Sini!" Seru Leo menepuk-nepuk permukaan kasur.


Vera yang baru keluar dari kamar mandi. Langsung melangkah mendekati sang suami. Ia duduk di atas kasur. Tangan Leo langsung bekerja memijit kaki Vera.


"Eh! Jangan kak." Cegah Vera kala tangan Leo bergerak.


"Kenapa?"


"Kakak pasti capek pulang kerja. Jadi, istirahat aja." Ucap Vera mengangkat tangan Leo.


Leo menggenggam tangan Vera."Sayang. Aku memang capek karena kerja. Tapi kamu lebih capek. Seharian dengan kegiatan kampus dan kemana-mana membawa anak kita. Sebagai ayah, aku juga harus ikut andil. Nggak bisa ikut meringankan beban dari kandungan. Maka, aku pijet kakimu sebagai balasan," ucap Leo.


Vera tersenyum."Ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai istri kak," bantah Vera.


"Dan memijit kamu adalah kewajiban aku sebagai ayah, sayang!" balas Leo.

__ADS_1


Ke duanya terkekeh pelan. Sama-sama sayang anak, meskipun yang hamil adalah Vera. Bukan berarti yang harus menderita sendiri adalah Vera. Ah! Benar-benar suami idaman.


__ADS_2