Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 58 (Kehangatan)


__ADS_3

Rasa iri dan dengki melekat di dalam hati gadis cantik itu, kala melihat bagaimana mesranya Leo menggandeng Vera. Belanja beberapa potong baju dress di bawah lutut. Rambut yang biasanya tergerai rapi kini di cepol tinggi. Senyum dan tawa menjadi sebuah kesakitan baginya. Harusnya yang berada di sana adalah ia. Harus nya yang tersenyum dan tertawa bersama pria yang ia cintai adalah dirinya. Dia yang bersama Leo dalam hitungan tahun. Kenapa harus wanita lain yang menyandang gelar nyonya muda Yamato.


"Lili!" panggil Risa.


Tidak bergeming. Wanita itu masih menatap fokus pada pasangan suami istri di seberang sana. Di tokoh baju khusus ibu hamil.


"Lili!" Panggil Risa untuk ke dua kalinya. Kali ini di sertai tepuk kan di bahu kanannya.


Lili tersentak dari lamunannya. Menoleh ke samping kanan, dimana Risa berdiri.


"Udah selesai kan?" tanya Risa dengan wajah bingung. Wanita ini bingung menatap kediaman Lili.


"Apanya?" Lili malah balik bertanya.


Risa membuang napas perlahan. Sebelum mengeleng pelan.


"Belanja nya lah, memang nya apa lagi?"


"Oh," jawab Lili hanya ber'oh ria saja.


"Ayo, pulang."


"Tunggu Mbak!" Lili mencegat pergelangan tangan Risa.


Dahi Risa berkerut dalam."Masih ada yang mau di beli?"


Kepala Lili mengeleng. Kerutan di dahi Lili semakin berlipat.


"Terus?"


Bibir Lili terbuka. Namun terkatup kembali, apa yang harus ia katakan pada Risa. Wanita di depannya ini tentu saja tidak akan memihak padanya. Risa adalah wanita yang tegas dan tidak suka dengan hal-hal aneh. Risa tidak akan mendukung apapun yang merusak norma. Percuma saja ia mencurahkan perasaan tak suka nya pada Risa.


Kepala Lili mengeleng kecil. Tangan melepaskan cekalan di tangan Risa. Hanya Ana yang mengerti dirinya. Ya, seperti nya ada baiknya ia menemui Ana nanti malam untuk membahas kelanjutan rencana mereka. Bibir merah merekah itu di tarik ke atas.


"Nggak jadi Mbak. Ayo, kita pulang," ucap Lili.


Wanita cantik itu melangkah terlebih dahulu. Meninggalkan Risa masih di tokoh baju. Di seberang tokoh. Leo tampak mencocokkan baju untuk Vera.


"Yang ini apa yang ini ya?" Tanya Vera menunjuk dua dress besar di tangan Leo dengan dua warna berbeda.


Warna putih dan warna biru langit.


"Sayangku, suka yang mana?" bukan menjawab. Leo malah balik bertanya.


"Nggak tau, dua-duanya memiliki pesona yang berbeda." Aku Vera di sertai gelengan kecil di awal.


Leo terkekeh kecil. Apa lagi saat pipi besar itu di gembung kan.


"Beli aja ke dua-duanya," balas Leo enteng.

__ADS_1


"Eh!" Vera terheran,"nggak bisa gitu dong. Kita punya banyak keperluan untuk di beli. Bukan cuma baju luar saja. Semua pakaian yang bisa di pakek udah kecil semuanya. Jadi harus di tukar kak," cegah Vera sembari memperingatkan sang suami akan kebutuhan nya.


Semua yang di pakai mulai dari dalaman sampai luaran itu ekstra lebar dan besar. Perubahan bentuk tubuh membuat Vera harus membeli yang baru. Leo meletakkan dua setelan dress di tangannya di gantungan. Mengusap pelan pucak kepala Vera dengan penuh kasih sayang.


"Iya, cuma untuk keperluan kali ini memang harus banyak. Lagian kan juga bakal di pakai untuk ke kampus. Hemat boleh, nggak ada larangan. Cuma terlalu hemat nggak baik sayangku." Peringat Leo sembari mengusap pelan.


Vera menghela napas perlahan. Benar, ibu hamil ini lupa jika keuangan sang suami sudah sangat stabil. Jauh lebih dari kata stabil.


"Ya, udah." Balas Vera di serta angguk kan pelan.


Leo tersenyum."Nah gitu dong. Setelah membeli baju dress. Dress rumah dan dress untuk ke kuliah. Kita tinggal beli beberapa potong sepatu," ucap Leo.


Vera hanya mengangguk. Ke duanya melangkah menuju deretan dress hamil. Meskipun, agak kesusahan. Vera masih memaksakan kehendak untuk memilih bajunya sendiri.


...***...


"Abang gila!" pekik Ana setengah berteriak.


Damar mengusap pelan kedua sisi daun telinganya. Menatap jengah Ana. Beruntung anak wanita satu ini tidak berada di antara mereka. Bisa-bisa bayi tampan itu menangis karena suara teriakan Ana yang melengking.


"Ini supaya nanti saat Gavin dewasa kita bisa menjawab pertanyaan tentang siapa ayahnya, An!"


"Abang mau membuat aku malu dengan tes DNA pada banyak pria yang tidur denganku?" decak Ana sebal.


"Sebenarnya berapa banyak yang tidur dengan mu, hingga kau sendiri kesulitan menentukan siapa yang harus ikut tes DNA?" ucap Damar nyaris tak percaya dengan apa yang terjadi.


Ana terlihat tegang. Sebelum tidur dengan Arga. Wanita satu ini memiliki kesenangan melaksanakan perjalanan cinta satu malam. Hanya satu malam tanpa tau siapa yang telah tidur dengan nya. Bercampur baur dengan Arga. Mungkin orang-orang menganggap nya murahan. Lucunya, itu hanya nyanyian tidur baginya. Tidak terlalu menganggap lebih dari cemoohan dan cibiran bahkan hinaan dari orang-orang padanya. Yang penting ia senang.


"Yaβ€”β€”ya, bisa di bilang begitu. Mungkin," jawab Ana tergagap.


Damar merasa pening seketika. Ibu jempol dan jari telunjuk nya memijat perlahan pangkal hidung nya.


"Tidak usah di pikirkan. Abang bisa membuat surat adopsi untuk Gavin. Setelah itu selesai, nggak perlu hal-hal yang nggak ribet di buat pusing kayak gini. Kalau dia mau tau siapa ayahnya biarkan dia tes DNA sendiri saja nanti," jawab Ana enteng.


Wanita cantik ini mengangkat sebelah kakinya. Menyilangkan nya di atas kaki kanannya.


"Berikan nama dan nomor semua pria yang tidur dengan mu satu bulan sebelum kau hamil!" ucap Damar.


"Heh! Gila saja," makinya semakin kesal,"aku melakukan one night stand mana tau aku siapa dia dan dimana ia tinggal. Apa lagi nomor telepon nya," lanjut nya.


Ke dua mata Damar terbelalak. Pria ini ingin sekali mencekik leher Ana, sepupu cantik nya. Terkadang Damar berpikir kenapa Tuhan memberikan wajah yang begitu cantik untuk wanita seperti Ana. Membuat wajah cantik itu terbuang sia-sia.


"Ya, God!" seru Damar begitu kesal.


...***...


Vera menunduk melihat tingkah sang suami. Pria itu duduk di bawah dengan telinga di tempel kan di perut besar Vera. Tangannya tak berhenti mengusap pelan. Gerakan anak mereka baru terasa, sesekali membuat dahi Vera mengernyit.


"Malam sayangku, ini papamu!" Sapa Leo dengan nada serak basah.

__ADS_1


"Malam juga papa," jawab Vera dengan nada lucu.


Keduanya terkekeh melihat tingkah laku anehnya. Leo menengadah menatap wajah Vera.


"Dia setiap di sentuh selalu menghindar loh, lihat ini!" Celoteh Leo dengan telapak tangan menyentuh perut Vera.


Kontan saja pergerakan bayi terlihat. Seolah-olah menghindari sentuhan Leo.


Vera tersenyum lembut.


"Debaran jantung nya terasa. Aku jadi nggak sabar melihat dia lahir." Ucap Leo lagi dengan daun telinga di letakan di perut Vera.


Terdengar debaran jantung si kecil. Vera mengusap pelan rambut hitam legam Leo. Sesekali hidung mancung Leo menggelitik perut Vera.


"Aku juga nggak sabar melihat putra tampanku. Pasti lebih tampan dari papanya," ucap Vera.


Leo menengadah menatap wajah sang istri.


"Mana boleh begitu?" protes Leo.


"Ya, tentu dong."


"Nggak boleh lah. Tetap papanya yang harusnya tampan nomor satu," bantah Leo tak setuju.


"Ah, masa sih?" goda Vera dengan wajah lucu.


Kepala Leo mengangguk."Ya, jelas dong. Dia datangnya dari aku, yang harus tampan berkali-kali lipat ya harusnya aku dong," tukas Leo dengan wajah merajuk yang lucu.


Vera mengulum senyum."Kalau anak nya perempuan. Tentunya lebih cantik dari aku. Karena dia lelaki jadinya lebih tampan dari ayahnya," balas Vera.


"Ya, kalaupun anaknya perempuan misalnya. Tetap cantik ibunya lah di mataku," bantah Leo dengan wajah menatap penuh cinta Vera.


Ke dua sisi bibir yang berkedut karena menahan tawa, pecah seketika. Vera tertawa, membuat perut besar itu bergerak. Leo tersenyum lebar. Leo senang melihat wajah bahagia sang istri dan suara tawa Vera. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kebahagiaan sang istri tercinta.


"Cantik nya istriku," puji Leo.


Vera memerah mendengar perkataan Leo. Menepuk pelan hidung mancung Leo dengan jari telunjuk dan jari tengah yang bersatu. Leo tersenyum lebar.


"Gombal lagi," ujar Vera.


"Aku kalau sama kamu mah, bukan gombal. Tapi udah kayak jadi pujangan cinta," balas Leo dengan mengedipkan sebelah matanya setelah berbicara.


Keduanya terkekeh. Rumah besar Leo selalu terdengar tawa dari sang pemilik rumah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Pingin punya suami kayak Babang LeoπŸ₯ΊπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜


__ADS_2