Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 33 (Tulus)


__ADS_3

Gelak tawa mengalun membuat Vera merenggut. Leo memegangi perutnya yang terasa keram. Wajah pucat dari Vera mendengar jawabannya benar-benar membuat pria ini gemas saja.


"Cih! Menyebalkan!" kata Vera dengan wajah sebal.


Vera memberontak dari pelukan Leo. Bangkit dari posisi tidur nya, ia duduk menatap tajam Leo yang masih asik dengan tawanya.


"Oh,.. astaga. Lucu sekali!" Ujar Leo mengusap pelan air mata yang mengalir karena tertawa.


"Tertawa saja terus!" Vera semakin kesal.


Leo mencoba menyudahi tawanya. Ia mengikuti jejak sang istri. Duduk di samping Vera. Menarik pinggang ramping Vera hingga masuk ke dalam pelukannya.


"Aku tidak mungkin menceriakan mu. Pernikahan ini, aku yang memulai. Memaksamu untuk menjadi nyonya muda Yamato. Hanya karena anak, bagaimana bisa aku menceraikanmu. Jikapun, kita kesulitan bisa memiliki anak. Aku tidak keberatan melakukan program bayi tabung. Ataupun kita memang tidak bisa memiliki nya. Tidak ada salahnya mengadopsi anak yatim-piatu. Mungkin belum rejeki kita. Jangan terlalu khawatir atau menekan diri, sayang!" Ucap Leo sembari mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri.


Vera mengigit bibir bawahnya."Jika masalahnya terletak padaku. Bukan pada kakak, apakah kakak akan masih berkata begitu?" tukas Vera pelan sedikit berat hati.


Leo menghela napas. Ia melepaskan pelukannya dari pinggang Vera. Menarik bahu Vera. Hingga ke duanya saling berhadapan.


"Tatap aku!" titah Leo dengan nada serak seksinya.


Vera mengangkat pandangan matanya. Menatap tepat di ke dua manik mata coklat terang tajam sang suami. Telapak tangan besar Leo meraih telapak tangan kecil Vera. Menggenggam nya dengan erat.


"Dengarkan aku, Vera. Kita sudah menikah satu tahun lebih. Beberapa bulan lagi akan menjadi hari ulangtahun ke dua tahun pernikahan kita. Jika hanya karena masalah anak, aku menceraikan. Mungkin, saat kamu tidak melakukan tugasmu sebagai istri kemarin. Aku juga sudah pasti menceraikan mu. Tapi nyatanya, aku tidak menceraikan mu. Aku tulus mencintai mu, apa adanya dirimu. Seperti kamu mencintai aku apa adanya Vera," papar Leo dengan nada serius,"saat aku menikahi mu. Saat itu aku terima cantik dan jelek mu. Aku terima bawel dan diam mu. Aku terima kelebihan dan kekurangan mu. Menikah bukan perkara aku butuh pasangan hidup saja. Tapi pasangan untuk sedia menyokong saat aku tak bisa berjalan. Pasangan yang akan mengulurkan tangan padaku saat aku terjatuh. Pasangan yang akan bersedia memberikan pelukan saat aku merasa letih. Menikah adalah rumah yang aku bangun pertama dan rumah terakhir. Jika aku meninggal mu hanya karena kekurangan mu. Maka aku akan juga di tinggalkan kelaknya saat aku juga memiliki kekurangan oleh pasanganku yang ke dua," lanjut Leo.


Ke dua mata Vera berkaca-kaca. Air mata mulai terjatuh dari pelupuk mata. Leo membawa Vera dalam pelukan nya. Pria ini tidak meminta Vera untuk diam. Ia menepuk-nepuk pelan punggung kecil sang istri. Vera adalah pribadi yang sulit menampakkan emosi nya secara terang-terangan. Ini kali pertama, Vera menangis di depannya. Dan Leo berharap istri nya tidak akan pernah menangis diam-diam. Tidak akan pernah menangis di belakang nya.


Ia ingin menjadi pundak untuk bersandar. Pelukan yang hangat untuk istri nya.

__ADS_1


"Ma——maaf, hiks...hiks.." ujar Vera teredam dada bidang Leo.


Leo tersenyum lembut. Kecupan hangat di layangkan pada puncak kepala Vera.


"Tidak apa-apa," balas Leo lembut.


...***...


Siti menatap aneh putri tunggal nya. Tidak biasanya putrinya ini datang ke rumah saat siang hari. Berada di dalam pangkuan nya. Saat sampai di rumah Siti tidak banyak kata. Hanya menanyakannya kabar sang menantu dan putri cantik nya ini. Bukankah setiap putri cantik di mata ibu mereka. Tidak peduli seperti apa pendapat orang lain. Di mata seorang ibu, putri mereka adalah anak perempuan tercantik di dunia.


"Mama!" panggil Vera pelan.


"Hem!"


"Mama dulu, susah nggak hamil aku?" tanya Vera pelan.


"Maksudnya?"


"Itu, maksud nya. Mama dulu berapa bulan atau berapa tahun baru hamil setelah menikah dengan papa?" tanya Vera menjelaskan maksud dari pertanyaan nya.


"Ah! Itu," Siti menjeda kata,"mama hamil kamu setelah enam bulan menikah. Memangnya kenapa?" tanya Siti menatap penasaran sang putri.


Ini pertama kalinya Vera bertanya ke arah sana. Biasanya, Vera sangat jarang bertanya tentang hamil. Jika pembicaraan di bawa ke arah sana saja, anak nya ini akan menghindar. Dan berbicara menyeleweng ke arah lain. Tapi, kali ini Vera lah yang membuka kata yang selalu ia hindari. Membuat hati Siti merasa ketidak nyamanan. Naluri seorang ibu memang lebih kental. Mereka tidak akan bertanya sampai anak mereka siap menceritakan masalahnya. Seperti saat ini, Siti tidak melanjutkan pertanyaan. Saat sang putri tidak memberikan jawaban.


Helaan napas dari Vera terdengar gusar.


"Mama! Vera takut," lirihnya.

__ADS_1


Elussan di puncak kepala Vera terhenti. Siti menatap lambat wajah putri nya berada di pahanya.


"Sayang!" panggil Siti lembut. Seakan tau masalah apa yang di hadapi putrinya.


"Ma! Jika Vera nggak bisa hamil Vera harus bagaimana?" tanya Vera lirih.


Sontak saja ke dua pupil mata Siti membesar. Wanita tua ini menarik cepat Vera untuk duduk. Vera menurut saja, kepalanya menunduk dalam. Ia tidak berani berbicara hal sensitif pada orang lain. Hanya ingin membicarakan hal ini pada sang ibu.


"Apa Leo mempersalahkan hal ini?" tanya Siti dengan pandangan mata menyelidik.


Kepala Vera mengeleng cepat."Tidak, Ma. Hanya saja, aku melakukan tes kehamilan beberapa bulan ini hasilnya negatif. Vera takut Ma! Kalau seandainya Vera tidak bisa memiliki anak," ujarnya jujur.


Nada suara Vera bergetar. Meskipun Leo mau menerima nya apa adanya. Bagaimana dengan orang tua Leo. Jika masalah nya ada padanya, tidak menutup kemungkinan jika ke dua orang tua Leo merasa keberatan dengan hal ini. Hanya akan ada dua kemungkinan yang jelas di mata Vera. Yang pertama Vera mungkin saja di minta di madu. Atau paling pahitnya, ia akan di ceraikan.


Leo mungkin bisa bertahan. Tidak dengan ke dua orang tua Leo. Yang sangat ingin memiliki cucu.


"Pasti ada jalan sayang. Bukankah beberapa bulan lalu kita ke Rumah Sakit untuk periksa. Kau maupun Leo baik-baik saja. Tidak ada masalah, jangan berpikir buruk sayang!" Nasehat Siti mengusap punggung tangan Vera.


Wanita ini kembali menangis. Ia


takut dengan kenyataan. Jika hal buruk itu terjadi, ia tak ingin menceraikan Leo. Perasan itu tubuh dengan cepat, hingga kehilangan terasa amat sangat menyakitkan. Akan tetapi, ia juga tidak siap membagi sang suami jika ia tidak melepaskan Leo. Vera bimbang. Begitu sensitif semenjak ke hadiran Lili. Entah kenapa wanita ini merasa terancam dengan kedatangan Lili dalam hubungan mereka.


"Tapi Ma..."


"Sayang! Dengarkan mama. Apapun yang terjadi kita berjuang dulu. Semuanya Tuhan yang atur. Jikapun Leo maupun keluarga Leo tidak menerimamu. Mama maupun papa selalu bisa menerima kamu masuk kembali. Kasih sayang mama dan papa nggak pernah pudar padamu. Kami bisa menghidupi mu sampai menutup usia Vera. Kami tidak bisa melihat anak kami menderita. Jika terjadi hal paling buruk pun. Bagi kami tidak ada yang lebih penting dari kamu. Jadi, jangan terlalu tertekan. Kami selalu mendukung dan berada di sisimu!" Ujar Siti mengusap air mata Vera dengan lembut.


Vera mengangguk pelan. Melihat wajah tua sang ibu. Di luar pintu, Bagas menghela napas. Lelaki tua ini ikut merasa sedih mendengar pembicaraan istri dan anak perempuan satu-satunya.

__ADS_1


__ADS_2