Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 28 (Dia biasa saja)


__ADS_3

Nadia bercerita tampak heboh sendiri. Vera dan Zita terkekeh sebelum tertawa keras mendengar ceria konyol dari Nadia. Gadis satu ini menceritakan betapa gemasnya ia pada Mark yang dan Reza. Sedangkan pada Lucas, entah kenapa Nadia merasa cukup kurang suka. Mengingat tuan muda Winata satu itu adalah seorang pemain ulung wanita.


"Jadi, kau suka siapa nih?" tanya Vera menatap lambat wajah Nadia yang terlihat memerah mendengar pertanyaan Vera.


Zita tampak penasaran dengan jawaban dari mulut Nadia. Mengingat tiga pria dewasa itu, merupakan pria incaran banyak wanita pada zaman sekolah bahkan sampai saat ini juga begitu.


"Aku suka sama Kak Mark, dia terlihat begitu manis di mataku!" Jawab Nadia dengan menangkup ke dua tangan nya di wajah cantik nya.


Kontan saja gemuruh tawa dari Zita dan Vera terdengar jelas. Beberapa orang yang melewati taman melirik ke arah ketiga nya.


"Tapi kak Mark agak sedikit mata keranjang sih," kata Vera membuat wajah yang tadinya sumringah menjadi sendu.


"Ya, namanya juga tampan. Jadi wajarlah dia agak begitu," timpal Zita.


"Yah..... padahal aku suka banget sama kak Mark," keluh Nadia kecewa,"lalu kau sendiri suka siapa Zit?" tanya Nadia.


"Aku?" Tunjuk Zita pada dirinya sendiri. Kepala Vera dan Nadia sontak mengangguk pelan.


"Ya, kamu siapa lagi!" kata Vera dengan pandangan mata menggoda.


Zita terkekeh kecil."Aku suka...Hem, siapa ya?" ujarnya membuat Vera dan Nadia mendengus kesal,"aku udah ada tunangan. Jadi, gak ada yang namanya suka-suka siapa. Aku senang aja melihat teman-teman suami Vera. Karena mereka seperti lukisan empat pangeran dari beberapa kerajaan. Udah, itu aja!" jawab Zita.


"Wah! Siapa tunangan mu?" tanya Nadia penasaran.


"Kenapa kami tidak tau kalau kau punya tunangan?" kini giliran suara Vera terdengar.


Zita melipat ke dua tangan nya di depan dada."Aku di jodohkan dengan keponakan jauhnya papa. Katanya dia pria yang bertanggung jawab, memiliki pekerjaan yang mapan dan gak mau pacaran. Kami saja bertemu baru hitungan jari. Mungkin tiga sampai empat kali lah. Dan pertunangan nya, waktu nya tiga tahun lagi. Sesuai dengan jadwal wisuda kita," papar Zita.


"Wah! Sianida dong ya?" kelakar Nadia,"siap menikah setelah wisuda?" lanjut nya.


Zita tersenyum geli. Vera mendesah kecil.


"Emangnya kamu suka dia. Dan udah yakin sama dia?" tanya Vera lembut. Arah pembicaraan mereka mulai serius.


"Awalnya sih ragu. Karena ini masalah masa depan. Dan, saat kita bertemu. Saling tukar pikiran, aku malah semakin yakin sama pertunangan ini. Karena pilihan orang tua lebih baik. Dan mereka lebih tau sifat seorang dengan lebih baik lagi. Seperti katamu, mendapatkan pria yang kita cintai adalah anugerah tak terkira. Namun mencintai pasangan setelah menikah adalah hal yang menakjubkan. Terimakasih loh, Vera. Kamu udah membuat aku yakin dengan yang namanya perjodohan. Gak semua perjodohan itu buruk," ujar Zita penuh rasa syukur.


Vera tersenyum mengangguk. Nadia jadi terharu mendengar pembicaraan ke duanya. Belum sempat bibir Nadia terbuka. Suara gemuruh dari beberapa orang membuat ketiga nya menoleh kebelakang.


"Oh, itukan Lili!" cicit Nadia dengan mata membesar.


"Apa yang membuat nya sampai ke sini?" kini giliran Zita yang angkat bicara.


Lili berhenti di hadapan ketiga nya. Tak lupa ia tersenyum lembut.


"Hai!" ujarnya dengan nada ramah,"mohon maaf sebelumnya jika aku menganggu kalian bertiga. Sebelum nya, perkenalkan namaku, Lili. Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Vera. Boleh pinjam Veranya nggak?" tanya dengan nada lembut.

__ADS_1


Zita dan Nadia serentak menatap ke arah Vera. Wanita itu mengulum senyum lembut seolah-olah berkata ia baik-baik saja.


"Ya!" jawab Nadia dan Zita serentak.


...***...


Ke duanya duduk di cafe tak jauh dari Kampus. Sudah lima belas menit berlalu, ke duanya masih saja diam. Seakan tengah bergelut dalam pikiran masing-masing.


"Silahkan nikmati minumannya!" Seru sang waiters yang meletakkan satu cup teh hijau hangat tanpa gula dengan es cappucino ke atas meja.


"Terimakasih!"


Itulah pertama kalinya seruan serentak dari Lili dan Vera terdengar setelah menghabiskan beberapa puluhan menit waktu. Mulai dari berjalan dari keluar area kampus sampai duduk saling berhadapan.


Waiters wanita itu tersenyum. Sebelum melangkah kembali ke posisi nya. Kembali hening tercipta.


"Hem!" Vera berdehem terlebih dahulu. Memecahkan suasana aneh antara mereka,"ngomong-ngomong ada apa ya, kakak mau ketemu dengan aku?" tanya Vera langsung ke pokok masalah.


Lili mengulas senyum. Benar-benar terlihat sangat cantik dan ayu. Satu kata yang di tangkap oleh retina mata Vera. Tidak salah, wanita di depannya ini menjadi wanita paling di sukai banyak mantan kakak senior nya. Mengingat wajah cantik wanita ini.


"Aku hanya ingin mengobrol saja. Kau tau siapa aku bukan?" kata Lili sebelum melemparkan pertanyaan.


Vera mengangguk patah-patah. Siapa yang tidak tau Lili Lorenza. Wanita cantik dan sekaligus, mantan pacar suaminya. Tentunya, setelah Nadia dan Zita memberikan informasi terkait siapa Lili.


"Ya," jawab Vera singkat.


"Hubungan kami baik-baik saja," jawab Vera jujur.


Lili mungut-mungut pelan, pertanda mengerti.


"Apakah dia masih suka merokok diam-diam?" tanya Lili.


"Kak Leo tidak suka merokok. Karena aku tidak bisa menghirup aroma rokok," balas Vera.


Senyum dingin tercetak jelas di wajah Lili. Saat mereka berpacaran dulu, Lili seiring kali menegur Leo perihal merokok. Hal hasil, pria itu berhenti merekok. Itupun di depannya dan malah sembunyi-sembunyi merokok di belakang nya. Lucunya, pria itu malah berhenti merokok hanya karena wanita biasa saja ini.


Dari sudut manapun Lili melihat dan memindai Vera. Wanita ini tidak lah cantik. Masih sangat jauh dari kategori cantik. Dengan hidung minimalis, mata sempit, pipi chubby, bibir pink pucat tanpa lipstik dan wajah biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Di tambah tinggi dan bentuk tubuh yang tidak ada yang bisa di banggakan. Dadanya saja, datar.


Hanya sedikit bening saja. Tidak terlalu putih, tetap saja tidak secantik dia. Lili pikir, Leo menikah dengan wanita yang jauh lebih cantik atau bahkan lebih seksi darinya. Tapi, kenyataan malah sebaliknya. Lalu apa yang membuat Leo tertarik pada Vera. Lili tak habis pikir saja.


"Kau mencintainya?" tanya Lili kembali setelah sekian lama terdiam memindai Vera.


"Ya. Tentu saja aku mencintai suamiku," jawab Vera dengan penuh keyakinan.


"Ah, tentu saja kau cinta. Siapa juga yang tidak mencintai pria setampan dan semapan Leo. Aku terlalu bodoh bertanya," gumam Lili nyaris berbisik.

__ADS_1


"Ah, apa?" tanya Vera yang tidak mendengar dengan jelas gumaman Lili.


"Ah, tidak apa-apa," jawab Lili. Sebelum mengulas senyum.


...***...


Denting sendok dan garpu beradu menjadi nada tersendiri di meja makan. Leo makan dengan khidmat. Pria satu ini tidak pernah menyia-nyiakan makan buatan sang istri yang selalu enak di lidahnya.


"Kak!" panggil Vera pelan.


Leo menghentikan pergerakan tangannya. Ia menatap Vera dengan pandangan bertanya.


"Ada apa?"


"Tadi siang, Kak Lili mantan pacarmu ke Kampus ku. Dan dia terlihat seperti memperingati aku," ujar Vera.


Khuk!


Khuk!


Kontan saja Leo tersedak. Dengan cepat Vera meraih gelas minum. Memberikan pada sang suami. Tidak lupa ia menepuk-nepuk pelan punggung belakang Leo dan mengusapnya.


"Kenapa malah tersedak," kesal Vera.


Leo mengatur suaranya. Dengan berdehem beberapa kali. Jujur saja, Leo tidak menyangka jika Lili mendatangi Vera. Leo takut Lili berkata yang aneh-aneh pada istri nya.


"Dia bilang apa?" tanya Leo dengan nada berat.


"Dia hanya bilang tentang kalian. Yang sebenarnya tidak perlu aku dengar. Betapa cintanya kakak padanya, dan masih banyak lagi!"


Wajah Vera tampak kesal. Leo meraih pinggang Vera merapatkan tubuhnya dan sang istri.


"Abaikan saja. Aku tidak peduli masa lalu, karena masa sekarang dan masa depan ada di samping ku!" Ujar Leo tak lupa mendaratkan kecupan di pipi kanan Vera.


Vera mendengus dengan wajah merona. Leo terkekeh renyah.


"Jangan terkekeh!" portes Vera sebal.


"Oke! Oke! Jangan cemburu sayang. Tapi kalau merasa tempat mu tidak aman, makanya senang kan aku di atas ranjang. Kita make baby too high?" Ujar Leo tak lupa mengedip sebelah matanya genit.


Bug!


"Dasar mesum!" kesal Vera sehabis memukul dada bidang Leo.


"Mesum-mesum begini, tapi suka kan?" goda Leo.

__ADS_1


Ke dua pasangan suami-istri itu terdengar heboh di maja makan. Dapat di dengar dengan jelas tawa keras dan erangan kesal dari Vera.


__ADS_2