Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 45 (Masihkah Cinta?)


__ADS_3

Usapan pelan di dahi Vera membawa senyum bersahaja di wajah wanita yang tengah hamil muda ini. Leo memeluk tubuh sang istri, membawa senyum lebar di wajah Vera. Bangunan kosong baru saja di bersihkan. Leo memutus untuk memulai dari awal kembali. Membangun perusahaan dari tangannya. Mengingat, pria ini sudah lama mengolah Perusahaan sang ayah.


"Harusnya kamu tidak usah turun tangan ikut membersihkan!" ucap Leo dengan nada manja.


"Suamiku mau buka usaha lagi. Bagaimana aku tidak ikut terjun serta. Aku ingin kakak tau aku mendukungmu," balas Vera dengan nada lembut.


"Hem!"


"Hem!"


"Hem!"


Deheman bergantian membuat ke dua pasang suami istri itu menoleh ke arah tiga pria yang terlihat kotor menatap mereka dengan pandangan kesal. Beda lagi dengan dua wanita yang menatap Vera dan Leo dengan pandangan memuja.


"Kita ini sebenarnya apa sih, udah bantuin. Eh! Malah jadi obat nyamuk melihat kemesraan mereka," dumel Lucas sebelum mencibir ke arah Vera dan Leo.


"Ya, benar banget. Terkadang suka gagal paham sama Leo. Kita itu selalu saja di anggap patung hingga seenak jidat nya ia memperlihatkan hal yang bisa membuat para jomblo pingsan masal. Karena saking kesalnya." Ujar Mark sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menyuarakan isi hati nya yang kesal.


Reza. Pria itu hanya menggembungkan ke dua pipi nya. Gaya cool, yang selalu terlihat saat sedang kesal.


"Kenapa? Aku suka lihat Vera sama kak Leo bermesraan. Kayak nonton drama Korea, ya kan Zita?" Nadia tak mau kalah. Wanita cantik itu ikut menimpali.


Zita mengangguk pelan."Kalian pada cowok saja yang sensitif sama hal begituan," ucap Zita.


Kontan saja tiga cowok tampan itu mengerang kesal. Susah, kalau lawan mereka seorang wanita. Karena kalau lawannya wanita, mereka sudah pasti kalah. Bukankah wanita itu makhluk yang selalu benar. Kalau wanita salah, maka pria lebih salah lagi. Begitulah peraturan tidak tertulis nya.


Vera tertawa lepas. Leo mengembang senyum. Ah! Leo sudah sangat lama tidak melihat istri tercintanya tidak tertawa selepas saat ini. Pelukan nya mengerat. Leo tidak ingin kehilangan Vera. Kehilangan wanita sehebat Vera. Ada banyak wanita yang cantik di dunia ini namun dunia kekurangan wanita berhati baik. Ada banyak wanita pintar di dunia ini namun dunia kekurangan wanita memiliki kepedulian besar pada sesama. Dan Leo Yamato beruntung mendapatkan wanita langka seperti Vera. Cantik bisa di olah, namun hati? Itu harga mati. Manusia tidak bisa merubah hati.


...***...


Risa menghela napas gusar melihat bagaimana antusias nya Lili berdandan menjadi cantik. Wanita itu melangkah mengambil tempat di samping Lili yang tengah tersenyum di depan kaca kecil di tangannya.


"Apa aku sudah sangat cantik Mbak?" tanya Lili sebelum menoleh ke samping kanan. Di mana Risa duduk menatapnya.


"Hem! Kau selalu cantik dan selalu cantik, Lili."


Senyum lebar tercetak jelas di wajah Lili. Tidak ada yang bisa menolak pesona dirinya.


"Memang nya kamu berdandan seperti ini mau kemana?"

__ADS_1


"Aku?" Tanya Lili sembari menunjuk dirinya.


Kepala Risa mengangguk pelan.


"Aku ingin menghadiri pembukaan kantor baru Leo. Orang suruhan aku bilang kalau Leo kembali membuat perusahaan. Dan aku ingin menjadi tamu kehormatan Leo," ujar Lili.


Alis mata Risa menungkik tajam."Memangnya kenapa kalau dia buka perusahaan baru. Kau dan dia tidak punya hubungan apapun Lili. Ingat, dia punya istri. Jangan membuat scandal aneh, Lili!" tegur Risa.


Ke dua bola mata Lili berotasi malas."Apa salahnya?" tanya nya dengan wajah tak tau dirinya.


Oh. Sungguh. Risa merasa pening menghantam kepalanya.


"Dia sudah punya istri Lili. Istri, bukan kekasih. Lagipula dia sudah bangkrut. Apakah ke dua orang tuamu akan menyetujui hubungan mu dan Leo?"


"Aku akan membuat nya setuju. Aku tidak peduli harganya lagi Mbak. Karena yang jelas hatiku menginginkan nya. Dan itu titik nggak ada pakek koma!" bantah Lili.


Lili berdiri dari posisi duduk nya. Risa sedikit menengadah menatap Lili.


"Tidakkah kau berpikir jika itu hanya obsesimu semata. Karena dia menolak pesona mu?" seru Risa kala Lili ingin melangkah keluar dari apartemen.


Lili menghentikan langkah kakinya. Tidak membelikan tubuh nya menghadap ke arah wanita yang sudah lima tahun menemaninya di luar negeri.


"Kalau dia tiba-tiba berubah menjadi pria yang jelek. Apakah kau tetap akan mengatakan hal itu?" balas Risa,"tidak bukan. Aku tau kau dengan jelas Lili. Kau hanya melihat Leo dari fisik nya saja. Karena ia terlalu tampan hingga kau tidak bisa mengalihkan pandanganmu darinya," lanjut Risa.


Bungkam.


Lili hanya bisa bungkam. Ia tak bisa menjawab tuduhan Risa padanya. Bahkan otaknya mencoba mengolah apa yang baru saja Risa katakan. Apakah jika wajah Leo tidak setampan sekarang ia masih tetap akan mencintai Leo?


Tidak. Itu tidak mungkin! Memikirkannya saja, Lili merasa merinding. Ia tidak akan bisa menerima jika Leo buruk rupa. Tidak akan pernah.


...***...


Mulut Vera tampak menggembung karena ulah sang suami. Ke duanya duduk santai di atas karpet berbulu. Menonton drama Korea di TV. Pria itu tidak hentinya menyuapi Vera dengan buah-buahan yang baru mereka beli tadi sore di pinggir jalan. Leo sempat menolak saat Vera membeli buah apel, anggur dan buah jeruk di angkringan di pinggir jalan. Pria ini ingin yang terbaik untuk sang istri. Sayangnya, Vera menolak. Vera menjelaskan baik buah di dalam supermarket besar maupun di pinggir jalan itu sama. Tidak ada yang berbeda, kecuali pengemasan dan juga tempat nya di pasarkan.


Perdebatan kecil sempat mewarnai perjalan pulang mereka. Perdebatan di menangkan oleh Vera tentunya. Vera juga menerangkan jika mereka yang menjual di angkringan itu patut di bantu. Terkadang Vera melihat ibu-ibu sampai bapak-bapak yang usia yang sudah lanjut menjual buah dan makanan di pinggir jalan.


Vera juga menekankan nilai kebaikan di dalamnya. Hingga pria Yamato itu bungkam.


"Aaaa.....lagi sayang!" Titah Leo menyodorkan potongan buah apel ke mulut Vera yang membengkak.

__ADS_1


Vera mengunyah cepat buah yang ada di dalam mulutnya. Setelah menelan buah yang telah di haluskan. Vera melotot pada Leo.


Pria itu malah tertawa keras melihat mata sipit itu di buat-buat besar.


"Kakak menyebalkan, ah!" kesal Vera,"nggak lihat di mulut udah penuh. Aku udah kayak anak burung aja, yang disuapin. Mana di suapi nggak tanggung-tanggung banyaknya!" lanjut Vera nyerocos.


"Eh! Istri ku bisa juga nyerocos kayak bebek?" goda Leo.


"Kakak!" kesal Vera.


"Ouch! Sakit sayang!" teriak Leo kala mendapatkan cubitan di pinggang. Vera tertawa keras.


"Udah ah! Kita nonton lagi. Kasihan filmnya nonton kita!" ujar Vera. Sebelum menghadap ke arah layar TV.


Leo kembali menusuk dengan garpu potongan buah apel.


"Kak, anak kita nanti kayak Cha Eun Woo pasti bakal tampan ya kak?" ujar Vera dengan polosnya.


Pergerakan tangan Leo terhenti. Pria itu menatap aktor di layar TV.


"Enak saja. Bapak nya setampan ini malah mau kayak aktor itu. Ogah! Anakku, harus mirip papanya. Nggak boleh mirip aktor Korea manapun." Protes Leo meletakan potongan apel yang sudah di tusuk kembali ke piring kecil.


Vera menoleh ke samping. Menatap wajah mengemaskan sang suami.


"Lah! Emang papanya tampan ya?" goda Vera,"kok aku nggak tau ya?" lanjut nya.


Leo kesal."Lihatlah. Mau di foto belum mandi sampai bangun tidur pun tetap tampan. Masa nggak lihat!" ujar Leo dengan percaya dirinya.


"Masa sih?" Goda Vera lagi menyentuh sisi kiri. Tepat di rahang tegas Leo.


"Iya!"


"Nggak lihat tuh!"


"Apa?"


"Nggak lihat!"


Leo kesal. Serangan di mulai. Vera tertawa keras kala Leo menggelitik pinggang ramping sang istri. Ke duanya saling serang sampai tawa keras mengalun. Bisa di pastikan jika besok pagi mereka akan di omeli oleh tetangga. Karena membuat keributan setelah magrib.

__ADS_1


__ADS_2