Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 23 (Gagal)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


.


.


.


.


Ruangan tengah apartemen mewah itu terdengar sangat bising. Ke empat pria dengan seorang wanita kembali melakukan permainan monopoli. Dapat di lihat, wajah siapa yang penuh dengan noda putih dari tepung terigu yang di cairkan. Hanya wajah tampan Leo yang mulus, wajah Vera tidak begitu.


"Gak mau lagi!" Gerutu Vera membuang kesal dadu di dalam gelas kecil yang ada di tangannya di atas meja.


"Iya, benar. Masa kalah mulu," kini suara Lucas ikut terdengar.


Leo tersenyum miring. Reza mendesah pendek begitu pun dengan Mark.


"Yang menyarankan main siapa. Yang kesal siapa," cibir Leo.


Kontan ke empat orang yang mengelilingi meja memasang wajah tanpa dosa. Mereka bungkam. Memang Lucas yang mengajak yang lain untuk main monopoli. Di sambut antusias oleh Vera dan yang lainnya. Leo bahkan sudah memperingati jika setelah main tidak ada kedongkolan di hati. Tapi, pada akhirnya, mereka tetap kesal dengan kemenangan mutlak dari seorang Leo Yamato.


"Ah, lapar!" kode Mark mencoba mengalihkan cibiran Leo pada mereka.


"Iya nih, lapar ya!" kini giliran Reza ikut angkat bicara.


Vera berdiri dari posisi duduk di lantainya.


"Kalau begitu aku masak dulu," ujar Vera dengan nada ceria.


"Wah, dimasakin sama nyonya muda Yamato lagi," ujar Lucas dengan senyum mengembang.


Leo menatap kesal. Vera melangkah menuju dapur, meninggalkan ke empat pria tampan berada di ruangan tamu.


"Kalian pikir rumahku ini panti sosial, huh! Numpang makan terus," cibir Leo dengan wajah tak suka.


"Salah sendiri, kami ajak makan di luar bersama nggak mau!" tukas Reza.


"Katanya, masakan buatan Vera paling enak dan sayang kalau di lewatkan. Ya, jelaslah kami jadi makan di sini. Siapa suruh malah promosi," imbuh Lucas dengan wajah yang teramat songong.

__ADS_1


Bug!


"AW! Sakit tau!" Marah Lucas membuang asal bantal sofa yang di timpuk oleh Leo.


"Aku bilang begitu, bukan berati ngajak kalian minta makan di rumahku!" protes Leo. Pria ini mengatakan itu bukan bermaksud ingin pamer atau ingin mempromosikan masakan Vera. Melainkan memang benar-benar tidak ingin makan di luar jika masakan istri nya sendiri lebih terasa enak dari pada masakan mahal di luar sana.


"Sudahlah, lagian Vera tidak masalah masak untuk kami." Cibir Mark.


Satu bantal sofa kembali melayang. Beruntung bantal itu jatuh ke belakang Mark. Hingga pria ini tidak harus mengalami nasib sial seperti Lucas.


"Syukurlah. Muka gantengku selamat!" Ujar Mark dengan menarik ke dua sudut bibirnya ke atas.


Kontan saja Reza, Lucas dan Leo mencibir. Vera dapat mendengar pertengkaran kecil para pria di ruangan tamu. Senyum kecil terbentuk di wajah nya.


"Ganteng dari mana, lebih ganteng si Sarimin pergi ke pasar


dari pada kamu!" ledek Reza.


Suara tawa melambung. Kacang yang ada di atas meja menubruk dada bidang Reza. Pria itu masih asik dengan tawanya.


"Sialan kau!" maki Mark dengan wajah memerah,"kalian berdua juga. Kalian pikir aku topeng monyet!" lanjut Mark protes.


"Bukan!" bantah Lucas,"kau pantat monyet nya!" lanjut nya.


...***...


Ke dua kelopak mata Ana terbuka perlahan. Aroma obat-obatan tercium oleh indera penciuman nya. Bibir yang biasa merah kini memucat. Rasa sakit teramat hampir merenggut nyawanya. Ana pikir, mengugurkan kandungan adalah perkara gampang. Hanya mengeluarkan darah dan sakit sedikit. Seperti saat datang bulan. Ia sama sekali tidak menyangka benar-benar sakit.


Menyesal?


Tidak. Kata menyesal tidak melintas di benak Ana. Wanita cantik ini malah bersyukur karena telah mengeluarkan janin yang tidak seharusnya ada. Mengingat ia sendiri tidak ingin anak yang tidak jelas bapaknya itu menghancurkan masa depannya. Telapak tangan nya yang bebas dari selang infus bergerak menyentuh perut ratanya.


Dia sudah mati kan? Itulah yang kini ada di benak Ana. Wanita ini berharap janin itu benar-benar pergi. Setelah rasa sakit yang ia derita. Tidak lucu bukan, jika janin itu masih bertahan setelah ia merasakan rasa sakit teramat dalam.


Kreat!


Pintu kayu terbuka. Terlihat sosok Damar yang masuk dengan tas besar di tangan kirinya. Atensi Ana menuju seluet sang sepupu yang mendekati ranjang pesakitan.


"Bagaimana kondisimu, An?" Seru Damar di sela langkah kaki yang ia ayunkan.

__ADS_1


Ana mencoba berdehem kecil. Membasahi kerongkongan nya yang terasa serak.


"Lemas, Bang!" lirihnya.


Damar meletakkan tas besar yang ia bawa ke lantai. Ia duduk di kursi samping ranjang. Menatap khawatir sang sepupu.


"Itu wajar, karena kau mengalami pendarahan!" ujar Damar lembut.


"Bagaimana dengan dia, Bang?" tanya Ana dengan nada serak dan lemah.


Damar menoleh ke perut rata Ana. Wajah sedih dan letih Damar, membuat senyum tipis hadir di wajah Ana diam-diam.


"Hah!" Damar membuang pelan napasnya melalui mulut,"dia, syukur nya selamat. Beruntung saat itu kau cepat di tangani. Dan janin nya selamat. Kata dokternya, janinmu sangat kuat untuk bertahan. Ia ingin lahir ke dunia ini," kata Damar.


Senyum tipis di bibir Ana memudar. Hatinya berteriak histeris saat ini. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa setelah apa yang di lakukan olehnya. Janin itu masih bertahan di perutnya. Ingin sekali Ana memukul perut ratanya saat ini. Hingga janin itu keluar dari dalam rahimnya. Tidak masalah jika dirinya harus menanggung rasa sakit sepuluh kali lipat pun. Yang terpenting, janin itu lenyap. Untuk selama-lama nya, dari kehidupan nya.


"Kita akan langsung berangkat keluar kota beberapa Minggu lagi. Setelah kandungan mu besar, kita akan berangkat ke Amerika. Agar kau bisa melanjutkan kehidupan mu di sana. Abang tau, kau tidak akan mau menjalani kehidupan mu di sini. Apalagi sampai mama mu tau akan masalah mu ini," ujar Damar lagi saat tidak mendapatkan respon apapun dari Ana.


...***...


Beberapa bola masuk ke dalam ring. Ke lima orang dewasa itu beradu kecepatan dalam bermain. Setelah makan siang, mereka berlima malah menyambangi Mall Kelapa Gading. Bermain di area permainan. Gelak tawa mengalun. Kala Vera mengacaukan tempat Leo. Ia tidak rela sang suami memenangkan permainan.


"Halangi terus Ver!" sorak Lucas.


"Jangan biarkan dia menang!" kini suara Mark ikut serta.


Reza asik fokus pada bola. Leo mendengus sebelum Vera terpekik. Tidak menang tidak lah masalah bagi Leo. Asalkan memang banyak, dalam menyentuh sang istri. Tubuh di tarik dan Vera di peluk dari belakang. Sebelah tangan Leo mencekal tangan Vera. Ke dua kakinya mengapit kaki Vera.


"Hei! Jangan begini!" Vera memberontak.


"Sayang! Kau tau kalau aku kalah bermain saat ini, maka. Nanti malam sampai sorenya, kau tidak akan bisa tidur. Kalau perlu jangan turun dari tempat tidur!" Bisik Leo yang masih dapat di tangkap oleh pendengar teman-teman.


Kontan saja muka Vera memerah sampai menjalar di daun telinga nya. Reza, Mark dan Lucas bersorak dengan wajah mesum. Tak lupa di sela kegiatan memasukkan bola ke dalam ring. Mereka memberikan siulan. Menggoda keintimaan ke duanya pasangan suami-istri itu. Kala dagu Leo bersandar di bahu Vera. Dengan tangan kanan yang aktif memasukkan bola. Malu! Sungguh Vera malu saat ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2