Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 6 (Iri Hati)


__ADS_3

Ke dua kelopak mata sempit itu berkedip pelan. Erangan tertahan di kerongkongan. Tubuh mungil nya menggeliat perlahan, meregangkan persendian yang terasa kaku. Kepalanya menoleh ke samping, menatap jam weker di samping ranjang yang menunjuk kan pukul enam lewat lima belas menit. Vera duduk perlahan, menyandar kan punggung belakang nya di dasbor ranjang.


"Apa tadi malam itu benar air mata?" monolognya dengan suara serak khas bangun tidur.


Vera menggaruk kepala belakang nya yang terasa gatal seketika. Dahinya berkerut dalam, seakan berpikir keras dengan keanehan Leo. Tunggu! Leo Yamato dari awal kan memang sudah aneh. Kalau tidak aneh, pria itu tidak mungkin memaksakan kehendak. Menikah dengan nya, seorang gadis biasa saja. Tidak memiliki kelebihan yang benar-benar mampu membuat orang takjub. Ia gadis sederhana, apa adanya agak terkesan urakan. Bukan tipe gadis yang di sukai pria Yamato itu. Meski kenyataan nya memang dia yang menjadi nyonya muda Yamato.


"Ah, sudah lah. Lebih baik aku membersihkan diri dulu sebelum masak makan pagi. Dari pada si Akik tua itu bangun dan berwajah muram karena tidak ada makanan di atas meja," putusnya. Sebelum menurunkan ke dua kakinya. Menginjak lantai marmer kamar.


Vera bergegas sekedar cuci muka dan gosok gigi. Untuk ritual mandi, gadis satu ini selalu melakukan nya setelah memasakkan makan pagi untuk sang suami. Beda hal nya dengan Leo, CEO muda itu tak lagi berada di apartemen. Pria itu terlihat kacau, perutnya keroncong. Bangunan pencakar langit milik nya masih sepi. Mengingat ia berangkat pagi buta. Pria ini marah, kesal tapi... sayang. Begini lah akhirnya.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiga ketukan di luar pintu. Mengalihkan atensi Leo ke arah pintu.


Kreat!


Pintu terbuka lebar kala wanita cantik dengan rok selutut memasuki ruangan. Tangan kanannya membawa nampan berisi kan satu gelas kopi hangat dan sepiring roti. Wanita cantik ini harus bergegas datang ke kantor karena sang bos meminta di buatkan kopi dan makan. Mengingat sepagi ini belum ada restoran atau cafe yang buka.


"Selamat pagi Bos," sapa Sekretaris Leo dengan senyum manis.


"Pagi," jawab Leo seadanya.


Wanita itu ingin menggerutu, tapi apa boleh buat. Ia hanya bawahan, yang di bayar. Mau tak mau, suka tak suka harus tetap melakukan nya.


"Bagaimana dengan proposal pembangunan Villa baru di Tangerang, Nina?" tanya Leo kala sang sekretaris meletakan pesanan nya.


Ibu satu anak itu mengulas senyum. Mundur satu langkah, seperti yang Leo sering katakan. Beri jarak aman. Nina sebenarnya tak mengerti kenapa sang CEO tampan ini sangat enggan berdekatan dengan wanita. Selalu meminta jarak antara ia dan pekerjaan lain nya. Dan kegilaan ini sudah di mulai satu tahun yang lalu. Entah ada apa dengan satu tahun yang lalu.


"Untuk proposal sendiri sudah selesai Bos, hanya saja katanya ada kendala dari rancangan bangunan yang di nilai masih biasa," balas Nina.


Leo mungut-mungut pertanda mengerti. Villa yang di bangun kali ini masih tersendat pada rancangan bangunan. Mereka ingin mengusung tema modern, akan tetapi dengan penghijauan di dalamnya harus terlihat alami.


"Di bagian team perancangan bagaimana?"


Nina terdiam sejenak."Mereka masih pusing. Belum menemukan ide yang pas. Saya dengar-dengar tuan Lucas Winata sudah kembali ke Indonesia. Beberapa investor tertarik dengan rancangan tuan Winata. Mungkin ada baiknya kita membawa tuan Winata untuk bekerja sama dengan perusahaan Yamato."

__ADS_1


Leo menarik segaris senyum. Tidak masalah. Toh, Lucas bisa dengan mudah menjadi budak nya. Seringai yang muncul di bibir sang atasan membuat Nina merinding. Jika boleh jujur, Nina takut dengan bos muda nya ini. Leo mungkin terlihat hangat dan angkuh dalam satu waktu. Entah kenapa Nina merasa bos nya ini memiliki jiwa psikopat jika menyeringai. Atau apakah ini hanya filing anehnya saja. Entahlah.


...***...


"Ada apa dengan wajah mu, Ve?" tegur Ana dengan wajah sok polosnya.


Vera menoleh ke samping. Bibirnya mencabik. Sebelum merebahkan kepala nya di bahu Ana.


"Aku letih," keluh Vera pelan.


"Kenapa?"


"Entahlah."


"Kau sudah mau main rahasia-rahasian sama sahabat mu, huh?"


"Tidak. Hanya saja....sudahlah. Tidak usah di pikirkan."


"Apa terjadi sesuatu padamu dan kak Leo?" pancing Ana.


Kontan saja kepala Vera di tegakkan kembali. Gadis berambut sebahu itu mengeleng pelan.


Ana memicingkan ke dua mata indah nya. Menatap Vera dengan pandangan tak percaya.


"Hei! Ada apa dengan tatapan curiga mu!"


Ana memasang wajah khawatir."Aku hanya takut kau dalam masalah. Tapi tidak membicarakan nya padaku," katanya dengan nada lirih.


"Ituβ€”β€”"


"Tolong jujurlah padaku, Vera. Jika kau berbohong begini aku merasa kita sangat jauh. Katanya sahabat tapi, kau terlihat tak menggangap aku begitu," potong Ana dengan nada di buat-buat sendu.


Vera kalang kabut melihat wajah sendu Ana. Yang Vera tau adalah Ana khawatir padanya. Ia menyembunyikan banyak hal, hanya agar Ana tak khawatir.


"Maafkan aku," sesal Vera.


Telapak tangan Vera di genggaman pelan.


"Katakan saja apa ada masalah?" desak Ana.

__ADS_1


Vera menghembuskan napas kasar dari mulut.


"Seperti nya aku tak bisa bertahan lebih lama lagi dengan dia," kata Vera.


Akhirnya. Inilah kata yang di tunggu-tunggu oleh Ana. Masalah keluarga Vera dan Leo, senyum segaris. Tipis, sangat tipis di bibir merah merekah Ana tak terlihat. Namun matanya terlihat sayu, seakan ikut merasa kan perasan ketidak kuattan Vera.


"Jika tidak kuat maka berhentilah. Aku akan mendukung mu. Apapun keputusan mu kedepannya, Ver!" kata Ana dengan nada sungguh-sungguh,"dan tentu nya ini yang aku inginkan. Memisahkan mu dengan kak Leo yang tampan. Pria itu hanya pantas bersanding dengan aku. Bukan kau. Maaf Vera, aku bisa menjadi sahabat yang baik untuk mu. Tapi untuk kakak Leo. Dia tak boleh bersamamu yang biasa saja. Hanya aku yang boleh di cintai oleh kak Leo," lanjut hati kecil Ana.


Vera tersenyum."Terimakasih telah mengatakan ini Ana. Hanya kau yang ada ada di pihakku."


"Sama-sama Vera. Kita kan sahabat!" ujar Ana dengan semangat.


Ya, tentu saja gadis cantik ini semangat. Mengingat kehancuran rumah tangga Vera adalah keberhasilan untuk Ana. Ana Wiliam, gadis cantik yang sempurna. Terlahir dari keluarga yang kaya dan otak yang pintar. Membuat nya berbangga hati. Sayang nya, tidak bertahan lama.


Saat SMA ia mulai merasakan perasaan iri. Untuk pertama kalinya pada Vera. Gadis biasa yang apa adanya. Gadis dengan semangat yang penuh. Keluarga Vera yang hangat. Ayah Vera adalah ayah yang hebat. Sangat mencintai keluarga, terutama Vera.


Bagas tidak pernah membentak Vera ataupun mengabaikan Vera. Bagas selalu ada saat Vera butuh. Sedangkan dia? Ayahnya memang pria yang hebat. Tapi bukan ayah yang hebat. Pria itu lebih mencintai anak selingkuhan nya dari pada dia. Ana benci kenyataan itu. Paling benci saat melihat ibu Vera yang menjadi tempat curahan Vera. Selalu mendukung Vera. Siti benar-benar ibu impian Ana.


Ibunya lebih fokus pada sang ayah. Bahkan menekan Ana menjadi anak yang sempurna untuk tuan besar Wiliam. Ibunya tergila-gila pada ayahnya, hingga menelantarkan nya. Apa yang bisa di berikan oleh ayah dan ibunya? Hanya sebatas uang dan uang.


Lalu, gilanya lagi. Vera mendapatkan pria sesempurna Leo Yamato. Tidak. Ana tidak rela, Vera lebih bahagia. Tidak rela. Karena Ana ingin yang satu ini. Leo Yamato, harus menjadi pria nya.


"Hem. Sahabat!" ujar Vera tersenyum tulus.


Ana hanya menampilkan senyum palsu. Apakah kata-kata itu masih akan tetap saja saat Ana merebut suami Vera? Vera tentu akan menyesal nanti nya.


.


.


.


.


Bersambung...


'Mengunting dalam lipatan & pagar makan tanaman'


Itulah pribahasa untuk Ana...😏πŸ”ͺπŸ”ͺ

__ADS_1


__ADS_2