
Ke dua mata Leo tampak bergerak liar menatap barisan kotak susu ibu hamil di etalase tokoh kelontong. Senyum mengembang di bibirnya. Sebelum mendekati tempat di mana di pajang seluruh susu ibu hamil dengan banyak merek serta variasi rasa. Leo malah bingung. Tergambar jelas di ke wajah tampannya.
Derap langkah kaki mendekat membuat Leo menoleh kala suara hangat dari pegawai tokoh mendatangi nya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu kak?" tanya gadis kira-kira berusia dua puluh dua tahun kurang lebih.
Leo mengulas senyum dengan tangan menggaruk tengkuk belakang nya yang tak gatal. Ke dua pupil mata gadis itu membesar melihat visual pria yang sangat tampan. Membius dirinya, membeku dengan debaran jantung berdegup degup. Sungguh, wajah gadis itu terlihat seperti orang bodoh.
"Boleh tanya merek dan rasa apa yang bagus untuk ibu hamil nggak, Mbak?" tanya Leo dengan wajah ceria.
Tidak ada jawaban. Gadis itu masih terlalu terlena dengan ketampanan yang overdosis dari sang pelanggan. Mimpi apa semalam, hingga bisa mendapatkan pelanggan setampan pria di depannya ini.
"Mbak?" Seru Leo kembali melambai kan tangan nya di depan wajah sang pegawai.
Gadis itu masih sama. Leo menghela napas kesal. Sebelum menepuk kecil bahu sang pegawai.
"Mbak! Kok bengong sih," ujar Leo. Sebelum menatap gadis yang kini tersentak dari lamunannya.
"Ah? Eh?" ujarnya linglung,"tadi apa yang di butuhkan kak?" lanjut nya mencoba profesional menjadi pegawai tokoh.
"Saya mau minta saran nya. Di antara merek susu ibu hamil di sini merek yang mana yang paling bagus. Dan biasanya rasa apa yang paling pas untuk di minum oleh ibu hamil di kehamilan yang pertama?" tanya Leo.
Jleb!
Inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah. Pria yang baru saja membuat ia terpesona ternyata sudah ada yang punya. Lebih parah lagi, pria ini sudah memiliki status sebagai seorang suami sekaligus akan jadi seorang ayah. Patah sudah sebelum berkembang perasaan nya. Senyum di paksakan.
Gadis itu menoleh menatap barisan kotak susu yang tersusun rapi di rak. Dia harus waras, untuk waras ia harus mengalihkan pandangannya. Jika tak ingin tergoda lagi pada pria yang telah ada yang punya ini.
"Kalau untuk rekomendasi dari saya mungkin ada baiknya untuk mengambil susu dengan mereka Anmum Materna kak. Karena susu ini telah dilengkapi dengan Nuelipid untuk meningkatkan Gangliosida GA yang menjadi nutrisi penting bagi otak janin. Susu ini juga dilengkap dengan Asam Folat tinggi untuk perkembangan otak dan serat pangan yang menjaga fungsi pencernaan.Selain asma folat, susu ini juga dilengkapi dengan asam sialat untuk membantu perkembangan mental bayi," jelasnya dengan sangat lancar.
Leo terlihat mungut-mungut."Kalau rasa, rasa mana yang bagus?" tanya Leo kembali.
"Kalau untuk rasa itu tergantung ibu hamilnya suka rasa apa. Kalau ibu hamilnya suka mual, mungkin ada baiknya menghindar rasa vanilla. Mungkin bisa ambil rasa coklat atau Strawberry," balasnya.
Leo melirik ke arah barisan kotak susu. Ia pikir mungkin ada baiknya membeli yang rasa coklat. Mengingat Vera sangat suka rasa coklat.
"Saya ambil yang rasa coklat dua kotak ukuran 400gr, merek susu yang tadi Mbaknya sebutkan." Jawab Leo menunjuk kotak susu rasa coklat.
__ADS_1
Gadis itu mengulas senyum."Baik kak," jawabannya.
Gadis itu meraih dua kotak susu rasa coklat. Melangkah mendekati kasir di ikuti oleh Leo.
"Totalnya Rp165.000 ya, kak!" ujar gadis itu. Sebelum memberikan dua kotak susu yang sudah di isi ke dalam keresek.
Leo mengeluarkan dua lembaran uang seratus ribu. Memberikan nya pada sang pegawai. Dengan tangan kiri menerima kantong kresek. Gadis itu mengembalikan uang Leo dengan cepat.
"Terimakasih kak," ujar sang pegawai.
"Ya, terimakasih kembali Mbak." Jawab Leo sembari memasukan uang kembalian ke dalam saku celana nya.
Pria itu melangkah menuju pintu keluar tokoh. Tersenyum di sela langkah kakinya. Gadis pemilik tokoh mengusap dadanya yang masih berdebar karena kehadiran pelanggan tampan.
"Sayang sekali, sekali datang yang tampan. Eh! Malah ada yang punya," keluhnya.
...***...
Senyum lebar terbit di wajah tiga orang wanita. Zita tidak hentinya mengucap selamat pada Vera. Sedangkan Nadia tak kalah heboh nya. Keduanya duduk di cafe di dekat kampus. Setelah jam ke dua, mereka memutuskan duduk di cafe untuk berbincang-bincang.
"Wah! Gimana rasanya nih udah isi?" tanya Nadia dengan nada ceria.
"Syukurlah. Aku berpikir kau akan merasa sedih karena masalah yang menimpamu," ujar Zita dengan wajah menatap khawatir Vera.
Vera mengangguk pelan."Ya. Sebenarnya yang aku khawatir kan adalah kak Leo. Ia terlihat terpukul karena masalah ini, Zit!"
Nadia mengusap pelan pundak Vera dengan lembut.
"Yang sabar ya, Ver!" ujar Nadia.
Vera mengangguk pelan sembari mengulas senyum."Pasti Nad! Karena kebahagiaan bukan dari harta. Apa lagi, sekarang ada ini bersama kami. Rasanya kayak, masalah sekarang ini kecil!" Ucap Vera sembari mengusap pelan perut nya.
"Mau coba usap boleh nggak?" tanya Nadia penasaran.
Kepala Vera mengangguk kembali. Nadia tersenyum senang. Dengan gerakan cepat mengusap pelan perut datar Vera. Masih satu bulan lebih satu Minggu. Kandungan Vera belum terlalu terlihat.
"Kamu kapan melakukan pernikahan Zita?" tanya Vera menatap temannya yang duduk tepat di depannya.
__ADS_1
"Satu bulan lagi. Keluarga ku ngebet mau nikah cepat. Katanya biar aku ada yang jagain," balas Zita.
"Sebenarnya nikah itu enak nggak sih?" tanya Nadia. Sebelum menarik tangannya dari perut Vera.
Vera menoleh ke samping. Menatap wajah penasaran Nadia. Begitu pula dengan Zita.
"Enak kok," jawab Vera,"enak kalau kita sudah benar-benar siap. Siap di sini, adalah siap lahir dan batin. Meski nggak semuanya enak," lanjut nya.
"Enaknya di mana dan nggak enaknya di mana?" tanya Nadia lagi.
Vera melipat tangannya di depan dada. Sebelum menyandarkan punggung belakang nya di kursi kafe. Sembari mengerutkan dahinya, mencoba mempersingkat apa yang akan ia terangkan pada Nadia.
"Enaknya kita memiliki seseorang yang akan berada di sisi kita. Dengan status yang jelas secara agama dan hukum. Kemana-mana nggak risau karena ada yang menjaga. Kalau ngapa-ngapain nggak ada yang larang," ujarnya,"nggak enaknya, paling saat kita adu mulut hanya karena hal sepele. Tapi itu jujur seru banget. Apa lagi kalau sedang dalam masalah cemburu-cemburuan. Rasanya kayak lucu tapi gemesin," lanjut Vera.
Zita tersenyum. Wanita satu ini merasa ikut terpanggil. Dan berharap jika rumah tangga nya akan seperti Vera. Apalagi jika suami nya bisa menyayangi nya dengan tulus. Serta mampu menjaga mata.
Nadia hanya mungut-mungut mendengar jawaban Vera.
...***...
Nara meletakan sepiring pisang goreng panas dan dua gelas teh hangat tanpa gula di atas meja. Zeo dan Nara menatap hamparan padi yang menghijau di depan rumah besar keluarga Nara.
"Gimana kabar Leo?" tanya Zeo pelan.
Nara menghela napas pelan."Leo sudah agak baikan. Tapi kasihan tau, ih!" kesal Nara.
Zeo malah terkekeh melihat wajah cantik sang istri. Wanita yang telah berusia empat puluh lebih. Namun terlihat tetap cantik di usia yang tak lagi muda.
"Dia harus belajar mandiri, Ma!" tukas Zeo.
Nara cemberut."Ya, boleh aja. Masa ngerjain anak sendiri. Nggak ingat apa dia nangis kayak gitu tiga Minggu yang lalu. Papa malah ketawa di belakang dia," cibir Nara.
Zeo mencomot pisang goreng. Sebelum mengigit pelan ujungnya. Mengunyah dengan senyum di wajah yang masih tampan.
"Bayangan saja Ma. Dia dari kecil sampai besar itu taunya senang. Kapan lagi lihat dia susah. Bukannya mama bilang mantannya datang. Kita harus membuat Leo jatuh miskin. Untuk melihat siapa yang tulus padanya," seru Zeo setelah menelan pisang yang sempat ia kunyah.
"Papa nggak percaya pada Vera atau bagaimana ini sih, ah! Mama jadi bingung," ujar Nara sebal.
__ADS_1
Zeo tertawa pelan."Aku tentu tidak meragukan Vera, Ma. Tapi para wanita yang mencoba menggoda anak kita," balas Zeo.
Nara terdiam dan mengangguk mengerti. Sekarang ia mengerti kemana arah pemikiran sang suami. Dia akui, jika Zeo memang sangat hebat. Ia bisa memanipulasi semuanya. Hingga perusahaan terlihat bangkrut dan di ambil alih oleh orang kepercayaan nya. Terkadang Nara berpikir, Zeo terlalu suka mempermainkan Leo. Apa jadinya, jika Leo tau jika sang ayah yang membuat nya menangis keras karena rasa bersalah. Ah, entah lah.