Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 22 (Pemikiran Yang berbeda)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


.


.


.


.


.


Wajah cantik Ana tampak pucat pasi. Darah di biarkan merembes melalui ************ nya. Ia menatap cermin kamar mandi dengan pandangan kesal. Ia tidak butuh janin yang tidak jelas bapaknya. Dengan tidak punya hati, Ana memilih menggugurkan janin di dalam perut nya. Jika ia tidak bisa mendapatkan Leo Yamato dengan anak yang ia kandung. Maka apa gunanya tetap mempertahankan nya.


"Sakit sekali," keluhannya. Buku-buku jari tangan nya memutih saat ke dua tangannya di kepal kuat.


Tidak peduli semarah apa Damar kepada nya nanti. Yang jelas, Ana tidak ingin anak di dalam kandungan nya. Ia masih punya waktu dua tahun lebih lagi untuk menyelesaikan kuliah nya.


Tok!


Tok!


Ketukan di luar pintu kamar mandi membawa pandangan mata Ana pada pintu.


"Ana! Kau masih lama di kamar mandi?" seru Damar di luar kamar mandi pribadi Ana.


Ke dua mata Ana terbelalak. Bagaimana bisa Damar berada di rumah nya. Padahal kemarin, sepupu nya itu bilang akan keluar kota. Tapi kenapa masih ada di Jakarta.


"Ya, Bang!" balas Ana ikut berteriak di dalam kamar mandi."Abang tunggu saja di ruangan tamu. Nanti Ana keluar!" lanjut nya.


Tubuh nya terasa melemas. Ana mencoba untuk tetap berdiri dengan tegak. Ke dua sisi kakinya mengalir darah, sangat deras. Lantai marmer kamar mandi di banjiri aliran darah. Aroma amis tercium samar-samar di hidung Ana.


"Baiklah, Abang tunggu di ruang tamu. Cepat keluar ya, ada yang ingin Abang Sampaikan."


"Ya, Bang!"


Derap langkah kaki Damar samar-samar di tangkap oleh indera pendengaran Ana. Tubuh Ana merosot terjatuh di lantai, bibir merah nya semakin memucat. Tenaganya terasa di kuras, belum lagi perutnya terasa sangat sakit. Rasanya di remas-remas sangat keras.


"Maafkan aku," lirih Ana.


Tangannya bergerak menarik rak di samping bathroom.


BRAK!


Rak yang terbuat dari plastik itu terjatuh dengan seluruh isi yang ada. Berhamburan di lantai. Setidaknya dengan begini, Damar tidak akan berpikir jika ia sengaja membunuh janin yang ada di kandungan nya. Ana benar-benar wanita yang sangat licik. Di saat hampir kehilangan kesadaran nya, ide licik masih saja terlintas di otaknya. Dengan perlahan ia merebahkan diri di lantai dingin kamar mandi.


Ke dua kelopak matanya tertutup perlahan-lahan. Hingga sang pemilik tubuh benar-benar kehilangan kesadaran.


...***...

__ADS_1


Kya!!!


Kya!!!


Kya!!!


Gendang telinga Vera rasanya mau pecah saja mendengar kan teriakan dari para penonton wanita di belakang nya. Permainan futsal di depan sana terlihat sangat menakjubkan. Kelompok Leo, terlihat jauh memimpin.


Semua mata tertuju pada Leo dan kawan-kawan. Beberapa kali, Leo dan yang lainya mencetak gol pada gawang lawan. Tidak lupa, ia memberikan kecupan di udara. Menghadap pada barisan penonton. Para gadis, semakin riuh kala gol di cetak untuk ke sekian kalinya. Dan, Leo Yamato kembali melakukan hal yang sama. Sebelum membentuk tangan dengan lambang hati.


Kya!!


Kya!!!


Kya!!!!


"Kak Leo memberikan cinta nya untuk aku!"


"Cih! Geer kamu. Jelas-jelas padakulah!"


"Pada ku!"


"Aku!!"


"Sssttt!!! Diamlah. Kita ke sini untuk menikmati permainan alumni kakak Senior kampus. Jadi nikmat saja!"


Segelintir rasa percaya diri dari gadis-gadis membuat Vera di barisan paling depan ingin muntah saja. Zita di samping Vera terkekeh pelan. Gadis ini baru saja tau status yang di sandang oleh Vera. Teman satu jurusan sekaligus satu kelas dengan nya ini. Ia dan Nadia sempat syok mendengar penjelasan Vera, tentang siapa dirinya.


"Kau tak cemburu dengan adik kelas kita yang menggilai kakak senior, sekaligus suamimu itu!" Goda Zita menyenggol bahu Vera.


Vera hanya mengangkat tinggi ke dua sisi bahunya acuh. Sebelum menurunkan nya seperti semula.


"Kenapa harus?" Vera malah balik bertanya.


Gemas. Sungguh, Zita gemas dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Vera kembali padanya.


"Ya, kan dia suamimu. Jika suamiku yang di eluh-eluhkan oleh gadis-gadis seperti mereka. Aku bakal menyeret suamiku keluar dari lapangan. Dan mengurung nya di dalam kamar selama-lama nya!" kata Zita dengan nada bersungguh-sungguh.


Vera terkekeh.


"Lalu kau mau makan apa jika suamimu, kau kurung selama-lamanya, huh!" cibir Vera.


Zita berdecak sebal."Aku....cari uang sendiri lah. Yang penting dia tidak di lirik wanita lain dan balik melirik wanita lain," ujar Zita memberikan jawaban yang lucu.


"Kalau begitu gak tau dong, dia setia atau gak nya?"


"Eh?"


"Iya dong. Kau mengurungnya di rumah karena takut dia di dekati perempuan lain. Dan berakhir mengkhianatimu, bukan?" tebak Vera.

__ADS_1


Kepala Zita mengangguk pelan. Tak lupa tersenyum masam.


"Seorang pria yang tidak setia. Tidak peduli, kau merantai atau mencegahnya keluar dari rumah Zita. Mereka akan tetap menyelingkuhimu," kata Vera dengan pelan.


"Lah, kan kalau di rumah gak bisa ngapa-ngapain."


"Memang kau punya rumah di hutan?"


"Gak, lah!"


"Ya, kalau rumah nya gak di hutan, kamu pasti punya tetangga kan, ya?" tanya Vera.


Kepala Zita mengangguk ragu.


"Nah kan. Kau kerja cari uang banting tulang. Suami di rumah dengan pemikiran gak bakal selingkuh. Padahal di rumah ada pembantu, belum lagi tetangga mu. Kalau di gak setia, semua nya bisa di embat Zita. Karena pria yang selingkuh gak bakal bisa di cegah. Rugi di siapa?" tanya Vera setelah memaparkan apa yang ada di otaknya.


Hembusan napas frustasi dari Zita terdengar samar. Mengingat di belakang tubuh mereka. Para gadis masih asik dengan teriak kan mereka masing-masing.


"Benar, sih!" pada akhirnya Zita membalas.


Vera mengulas senyum."Aku melepaskan kak Leo. Mau lihat seberapa kadar kesetiaan nya. Kau pikir selama satu tahun ini aku tidak melakukan apapun dengan nya karena apa?" ujar Vera memberikan jeda"itu karena aku takut. Saat aku memberikan semua nya. Tapi, dia malah pergi dengan wanita lain. Satu tahun hidup bersama cukup untuk mengamati nya. Aku menganggap satu tahun sebagai waktu pranikah. Antara aku dan dia. Agar saat kami tidak sesuai. Setidaknya, kala bercerai tidak ada anak yang tersakiti. Tidak ada anak yang bertanya, kenapa papa dan mama tidak bersama." Lanjut Vera. Menyadarkan punggung belakang nya pada sandaran kursi penonton yang keras.


Zita mengangguk mengerti. Ia tidak tau jika Vera memikirkan hal yang sangat jauh ke depannya.


"Sekarang menurut mu bagaimana?" tanya Zita penasaran.


"Apanya?"


"Kak Leo, apakah dia bisa kau percaya setelah sekian lama hidup bersama?"


"Ya." Kepala Vera mengangguk pelan."Aku mengamati bagaimana ia dan Ana. Bukannya aku tidak melihat bagaimana Ana menatap kak Leo. Dan mencoba menarik perhatian nya. Aku pikir, jika kak Leo tertarik pada Ana saat itu. Aku akan melepaskan nya. Malah aku akan bersyukur, karena aku melepaskan pria yang tidak bisa memegang komitmen. Tapi pada kenyataannya, dia tidak pernah tergoda. Hanya menanggapi Ana sebatas wajar," lanjut Vera.


Kini Zita paham benar, seperti apa sifat Vera. Wanita satu ini, adalah tipikal pemikir yang panjang. Dan sangat hebat. Setidaknya itulah di mata Zita.


"Lalu sekarang, apakah kau mencintai suamimu?" Zita penasaran.


Bibir Vera terbuka. Tapi terkatup kembali saat teriakan keras di belakang tubuh mereka terdengar nyaring. Di depan sana permainan terlah berakhir.


.


.


.


.


Bersambung...


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


.


__ADS_2