
Mobil melaju membelah jalanan. Siang Senin tidak terlalu ramai di jalanan. Mobil yang membawa pasangan suami-istri itu terlihat melaju santai. Leo mengusap pelan pipi chubby sang istri. Dari kaca spion mobil, Lucas berdecak iri. Sedangkan di samping kemudi Reza terkekeh pelan melihat kecemburuan sang sahabat.
"Jangan menatap mereka dengan pandangan cemburu, Lucas. Kau bawa saja mobil dengan baik. Agar jalanan nya nggak cemburu karena nggak di perhatiin," goda Reza.
Kedua mata Lucas mendelik kesal pada Reza. Leo terkekeh pelan mendengar godaan Reza pada Lucas. Ke dua sahabat nya ini menawarkan jemputan untuk ke duanya. Dengan senang hati Leo menerimanya. Kapan lagi menjadi Lucas, tuan playboy itu menjadi supir pribadi.
"Hei! Mataku ini lebih suka memandang istri orang dari pada jalanan yang datar," balas Lucas.
Jika tadi Lucas yang berdecak kesal. Kini gantian Leo yang berdecak kesal mendengar perkataan Lucas. Dan Reza yang terkekeh pelan kala bergantian menatap Lucas dan Leo yang berada di bangku belakang.
"Istri orang tidak boleh di lirik. Kalau nggak mau di bunuh suaminya!" tukas Leo cemburu.
"Ey! Cuma digoda segitu aja cemburu. Dasar suami posesif!" sungut Lucas.
"Kalau jadi suami emang harus begitu. Pria lain berani lirik mah langsung bacok!" balas Leo dengan nada serius.
Kepala Reza mengeleng kecil pertanda tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Leo. Sedangkan Lucas, mengangkat bahunya acuh.
"Banyak kok di luar sana yang biasa aja istri nya di lirik. Bahkan biasa saja saat istrinya di tatap lapar saat berpakaian terbuka. Lah, ini cuma lihat wajah aja yang tengah tidur. Main bacok," cibir Lucas.
"Kau belum punya istri saja bung!" tukas Leo,"jika kau punya dan kau cinta. Maka kau akan marah hanya karena istrimu di pandangi. Dan untuk mereka yang begitu, itu tandanya mereka udah nggak ada rasa cinta lagi pada istri mereka," lanjut Leo.
"Lah bagaimana begitu?" bantah Lucas.
"Ya, bisa saja. Kita aja deh nih, ya. Kalau punya pacar dan pacar kita di godain sahabat. Kalau suka pasti langsung adu jontos. Kalau nggak suka, ya malah ketawa aja. Apa lagi kalau status nya pasangan suami-istri," kini suara Reza itu terdengar.
Lucas mungut-mungut mendengar perkataan sahabat nya. Kemudi di putar perlahan. Kala masuk jalan tol.
"Tapi bukankah itu wajah?" tanya Lucas,"saat awal menikah tentu saja mengandalkan cinta. Tapi lama-lama ya, bosan juga sama isteri sendiri. Apa lagi makin lama wanita itu makin berubah. Yang tadinya kalem jadi kayak singa. Yang tadinya cantik dan imut-imut seketika jadi amit-amit. Karena udah mau tua. Jadi perasaan, ya wajarlah udah memudar!" lanjut Lucas pelan.
Pria tampan ini berbicara tentang realita pernikahan. Banyak pasangan di luar sana menggadang-gadang kan tentang perasaan. Yang tidak akan bisa hidup tanpa belahan jiwa mereka masing-masing. Namun lama kelamaan malah jadi bosan. Tak jarang pertengkaran lebih sering mewarnai hubungan rumah tangga.
Saat istri di lirik oleh pria lain. Tentu saja suaminya merasa biasa saja. Ia pun begitu, melirik wanita bahkan istri orang lain. Bukankah istilah rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri?
Diam-diam Reza mengangguk mengiyakan perkataan Lucas. Leo tersenyum tipis kala menoleh menatap wajah Vera yang masih terlelap. Kepala Vera berada di paha Leo dengan di alasi bantalan boneka berbahan lembut. Meskipun merasa kesemutan, pria ini terlihat enggan membangunkan sang istri.
"Benarkah begitu?" ujar Leo dengan nada lembut. Pandangan matanya masih menatap wajah cantik Vera. Bagi Leo, tidak ada yang bisa menandingi kecantikan Vera.
"Ya, tentu saja!" balas Lucas.
__ADS_1
"Menurutmu sendiri bagaimana?" ujar Reza,"kita ngomong jujur aja, nih. Pernah nggak merasa jenuh dan merasa capek dengan rumah tanggamu dan Vera. Apa lagi saat dulu, Vera acuh tak acuh padamu. Meskipun memenuhi kebutuhan fisik. Ia tidak memenuhi kewajiban nya sebagai isteri. Melayani kebutuhan biologismu," lanjut Reza penasaran.
Leo menghentikan pergerakan tangan mengusap pipi Vera. Ia terlihat diam dan berpikir. Apakah pernah merasa jenuh dengan hubungan pernikahan ia dan Vera. Atau sekedar merasa letih dengan pernikahan mereka?
Lucas dan Reza memasang dengan seksama indera pendengaran mereka masing-masing. Ingin mendengar jawaban jujur dari seorang Leo Yamato.
"Nggak," jawab Leo memberikan jeda,"karena aku menikah dengan Vera bukan karena aku cinta sama dia,"lanjut Leo membuat ke dua sahabat terdekat.
"Lalu——"
"Tunggu dulu. Aku belum selesai ngomong jangan di potong," sambar Leo cepat kala suara Lucas terdengar.
Lucas tersenyum malu."Oke, lanjut kan!" balasnya.
Leo mengangguk. Dan tersenyum kecil mengingat wajah kecil Vera yang begitu imut dan seperti bidadari tanpa sayap di mata Leo.
"Cinta itu mudah datang dan pergi Lucas. Mungkin orang-orang berpikir cinta lebih besar dari pada sayang. Namun sebaliknya bagiku, sayang lebih besar dari pada cinta. Saat kita mencintai sesuatu, biasa saja suatu saat kita kehilangan cinta itu sendiri. Namun saat kita menyayangi seseorang, maka sayang itu akan tetap berlanjut hingga tutup usia. Cinta itu tidak terus menerus. Namun sayang itu terus menerus. Aku menyanyi Vera, dan saat aku menyagginya. Rasa itu tidak pernah padam. Dulu aku sayang, hari ini begitu dan besoknya pun begitu. Perasaan itu tetap sama. Mau dia cerewet, mau dia mulai menua. Aku tetap sayang," ucap Leo terdengar begitu dalam dan tulus.
"Jadi, nggak ada rasa jenuh dong ya?" tanya Lucas.
"Ya. Nggak pernah ada," jawab Leo pelan.
Leo mengangkat pandangan nya dari wajah sang istri ke arah Reza di depan sana.
"Kesederhanaan diri dan kebaikan hati pasangan. Percaya nggak jika kau terus di perlihatkan kesederhanaan dan kebaikan hatinya yang selalu memberikan kejutan di setiap harinya. Kau bakal merasa, hangat. Dan nggak bakal butuh kehangatan lain dari rumah lain. Jika di rumah kau memiliki seseorang yang selalu membuat mu nyaman dengan kesederhanaan dan kebaikan nya. Wanita itu cahaya rumah tangga sedang kan kita adalah tiang kokoh rumah. Saat kita mulai belok dan salah dalam bertindak. Maka tiang akan hancur, dan dia tidak akan pernah bisa menyediakan kehangatan dari rumah yang telah hancur," ujar Leo penuh kedewasaan,"wanita cantik di luar sana banyak. Wanita pintar di luar sana banyak. Namun wanita yang sederhana, hangat dan bersahaja dengan kebaikan hati itu langka kawan," lanjut Leo.
Kontan saja Lucas dan Reza mengangguk menyetujui perkataan Leo. Tidak ada yang salah dari perkataan Leo.
...****...
"Gimana, apakah udah agak enakan?" Tanya Leo di sela pijetan di kedua sisi bahu Vera.
Wanita hamil itu malah merasa tidak enak badan setelah pulang dari liburan mereka. Keduanya berada di rumah ke dua orang tua Vera. Vera kalau udah sakit pasti maunya ibunya. Begitulah anak perempuan, jika sakit sedikit yang menjadi orang pertama yang mereka butuhkan adalah ibu.
Vera menoleh kebelakang."Udah, kok!" jawab Vera tak lupa tersenyum lembut.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Dua ketukan di daun pintu kamar membuat pasangan suami istri itu menoleh ke arah pintu yang tertutup.
"Mama boleh masuk?" suara Siti terdengar jelas.
"Masuk aja, Ma!" jawab Vera sedikit berteriak.
Kreat!
Pintu kamar terbuka. Leo turun dari ranjang melangkah cepat menuju Siti. Pria itu mengambil alih nampan di tangan ibu mertuanya.
"Terimakasih, Nak Leo," ucap Siti kala nampan berpindah tangan.
Leo hanya mengulas senyum. Mengikuti Siti mendekati ranjang. Wanita paruh baya itu mengusap pelan puncak kepala Vera. Sebelum punggung tangan nya menyentuh dahi Vera. Masih agak terasa panas. Meskipun tidak terlalu panas.
"Setelah makan bubur, nanti langsung ke Rumah Sakit, ya!" Ujar Siti sembari menarik tangannya.
Vera dengan cepat meraih tangan Siti. Aroma remah-remah tercium samar. Membawa telapak tangan dingin berbau rempah itu ke depan bibir nya. Mengecup beberapa kali sebelum tersenyum manja. Leo terkekeh melihat sifat Vera yang satu ini. Sudah bukan rahasia lagi jika Vera sakit manjanya ke Siti meningkat begitu saja.
"Peluk!" Ujar Vera dengan tangan di rentang.
Siti tertawa kecil sebelum membungkuk. Memeluk tubuh sang putri. Mengusap pelan punggung belakang Vera dengan lembut.
"Aroma ibu sangat harum," ucap Vera.
"Aroma bumbu dapur kok, harum!" Tukas Siti di sela usapannya."Udah mau jadi ibu, malah masih manja," goda Siti.
"Mau jadi mak-mak pun akan tetap sama, selagi mama masih ada!" tukas Vera.
"Nggak malu sama Leo?" goda Siti lagi.
Kepala Vera menengadah menatap ke arah Leo yang tersenyum kala pandangan mata mereka berbenturan.
"Ngapain malu, Ma! Lagipula kan kak Leo malah manjanya sama aku," balas Vera dengan nada serak.
Siti tergelak pelan."Ya, manjanya sama istri lah. Masa sama wanita lain," balas Siti.
Vera melepaskan pelukannya pada tubuh Siti. Wanita paruh baya itu menegakkan tubuhnya.
"Berani emang manja sama wanita lain?" tanya Vera mantap Leo dengan mata garang.
__ADS_1
Yang menggoda ibu mertua yang kena imbasnya malah dia. Siti masih terasa pelan melihat bagaimana wajah menyeramkan putrinya. Hormon hamil memang suka tidak stabil. Di goda dikit aja sudah marah seperti saat ini.