
Pandangan tak bersahabat di tunjukan pada pria yang kini duduk di samping ranjang pesakitan. Bersebrangan dengan posisi duduk nya. Raut wajah pria itu tampak mengiba. Sudah lima belas menit ia berada di kamar rawat inap kelas VIP itu. Tatapan tajam penuh kebencian masih saja di menghujam Damar. Pria itu tau, seberapa benci nya Leo Yamato padanya. Meskipun ia tidak melakukan kesalahan. Siapa yang tidak akan membenci bahkan mendendam saat orang terkasih nyaris di renggut oleh malaikat kematian. Bukan hanya satu namun dua orang sekaligus. Damar pun akan begitu. Damar paham benar bagaimana isi hati dan otak Leo saat ini.
Beda Leo, maka tentu saja beda dengan Vera. Wanita itu terlihat biasa saja. Bahkan menerima kehadiran Damar dengan ramah. Mencegah Leo mengusir pria itu dari kamarnya.
"Hem!" Vera berdehem kecil mencoba menormalkan suasana yang terasa aneh.
Leo menoleh ke ranjang."Mau minum?" tanya Leo dengan wajah lucu nan mengenaskan di mata Vera.
Vera mengigit bibir bawahnya. Sebelum mengeleng pelan. Wajahnya menoleh ke arah Damar. Lelaki ini nyaris hanya diam setelah bersuara meminta bertemu dengan nya.
"Apa ada yang ingin Abang Damar katakan?" tanya Vera menatap dalam kakak sepupu Ana.
Sebagai Vera tau, Damar adalah seorang pria yang baik dan ramah. Pria ini bukanlah orang yang picik. Sayangnya, terkadang ia bimbang memutuskan sesuatu saat di dalam keputusan itu ada orang yang ia sayangi.
"Ya," jawab Damar lirih,"masalah Ana. Maafkan, dia ya Vera. Kita sama-sama tau Ana itu——"
"Maaf?" teriak Leo mengelar. Sumpah demi apapun, Leo benar-benar merasa darahnya mendidih mendengar nama wanita gila itu di sebutkan.
Damar menunduk dalam. Vera menghela napas.
"Kata maaf apa semudah itu keluar dari mulutmu. Saat istri dan anakku hampir meregang nya?" ujarnya lagi dengan nada emosi bahkan wajah putih itu memerah karena amarah. Urat lehernya mencuat.
Vera meraih tangan Leo. Mengusap pelan, mencoba mengontrol emosi sang suami yang benar-benar tidak stabil. Jika ia tidak menahan Leo untuk tidak menghakimi Ana dengan kekuatan dan kekuasaan yang ia punya. Mungkin, bisa jadi hari ini Ana sudah tinggal nama di dalam sel. Vera memang marah dengan Ana. Sungguh sangat marah, apa lagi saat putranya dalam bahaya. Bagi Vera, jika Ana hanya menyakitinya saja tak apa. Ia masih bisa menahannya, kemarahan di dalam dada begitu menggila saat hari itu. Dimana anak nya hampir tak bisa di selamatkan. Namun saat melihat wajah tampan sang putra. Hati benci dan kemarahannya mereda. Setelah otaknya dingin dan keadaan mulai stabil. Vera hanya berusaha berpikir positif. Jika Tuhan ingin menguji dan membawa putranya hadiri lebih awal saja. Hanya cukup di sana. Vera tak mau menyimpan rasa benci di dalam hati. Membawa kotor hatinya.
"Abang Damar ada baiknya pulang saja dahulu. Nanti setelah suasana lebih tenang kita bicara lagi," ujar Vera sebelum menoleh ke arah Damar.
Pria itu mengangguk paham. Berdiri dari posisi duduk nya.
"Aku pamit dulu, Ver! Leo!" ucapnya sebelum melangkah keluar kamar.
Manik mata coklat tajam itu masih memandang punggung belakang Damar dengan pandangan yang menyeramkan. Jika saja di mata Leo ada laser, sudah pasti dari tadi tubuh Damar sudah hancur lebur.
"Udah ah. Kok melihat nya begitu amat. Apa lebih menarik Abang Damar dari pada aku?" seru Vera mencoba menarik atensi Leo ke arahnya.
Benar saja. Leo menoleh ke arah Vera. Pintu tertutup terdengar. Leo membuang napas kasar.
"Masih bisa berkelakar di saat seperti ini, hem?" sebal Leo.
Vera hanya terkekeh kecil sebelum mengaduh kecil karena otot perutnya yang masih basah. Leo bangkit dari posisi duduknya.
"Apa yang sakit?" tanyanya dengan wajah panik.
Vera mengeleng kecil. Sebelum mengulas senyum."Jahitan operasi nya ketarik saat ketawa," jawab Vera jujur.
Leo menghela napas. Pria ini memang tidak bisa marah pada wanita yang sudah memberikan nya seorang putra. Mau tak mau Leo hanya mengulas senyum.
"Makannya, jangan banyak tingkah," ucapnya. Sebelum telapak tangan besar mengusap permukaan pipi Vera.
__ADS_1
Vera hanya mengulas senyum. Leo duduk di pinggir ranjang, menaikan tangan Vera yang berada di dalam genggaman tangannya setelah melepaskan pipi sang istri.
"Aku mau menuntut Ana penjara seumur hidup," ujar Leo.
"Bukan itu agak keterlaluan?"
"Tidak bagiku. Itu adalah hukuman yang setimpal. Bahkan jika saja, hal buruk terjadi padamu dan Kai. Maka mungkin kepalanya sudah di pancung sebagai pembalasan," balas Leo dengan nada dalam dan menakutkan.
Pria ini serius. Jika terjadi hal buruk pada Vera dan Kai. Maka Ana akan sangat tersiksa, Leo janjikan hal seperti itu.
"Dia itu kasihan juga loh kak," ucap Vera dengan nada pelan.
Leo menghela napas. Punya istri baik itu memang hal yang bagus. Namun beda lagi kalau punya istri yang terlalu baik. Leo nyaris pusing dengan Vera. Bagaimana bisa ia terlalu baik. Terlalu baik dan bodoh itu beda tipis.
"Lalu apa aku harus peduli?" ketus Leo.
"Sebagai sesama manusia ya, harus peduli lah kak."
"Nggak sudi aku peduli kalau sama orang yang hatinya busuk, Vera."
Vera menghela napas. Wanita ini menegakkan tubuhnya. Memberikan kode untuk Leo duduk di ranjang di samping nya. Leo menurut. Ia duduk di samping Vera. Ibu dari anaknya itu menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Aroma maskulin menguar. Masuk memenuhi rongga paru-paru Vera. Ia memejamkan sekilas kelopak matanya. Leo memeluk tubuh Vera dari samping.
"Kakak tau. Ada orang yang mendapat kebahagiaan secara utuh. Ada yang juga tidak mendapatkan secara utuh. Seperti aku dan Ana. Dia tidak mendapatkan kebahagiaan secara utuh. Meskipun tampak sempurna, tubuh nya di penuhi oleh duri dan luka karena memaksakan diri untuk menjadi terbaik di antara yang terbaik. Tapi ke dua orang tuanya masih tak melihat nya. Sedangkan aku, mama dan papa nggak peduli mau aku unggul di antara yang lain maupun tidak. Mereka mendukungku dengan sangat baik," ucap Vera berhenti sejenak. Ke dua matanya masih tertutup.
"Haruskan kesedihan menjadi alasan untuk berbuat jahat, Vera?" bantah Leo yang tau kemana arah pembicaraan Vera.
Vera membuka ke dua kelopak matanya."Tentu saja tidak," jawabnya.
"Setidaknya, cobalah beri ia kesempatan terakhir. Kesempatan ketiga, kak. Jika kesempatan terakhir tidak ia pergunakan dengan baik. Maka tidak ada lagi kesempatan selanjutnya. Setiap orang pasti akan berubah saat ia menyadari kesalahannya kak," balas Vera.
Leo menghembus kan napas kasar."Ya sudah. Kalau itu keputusanmu. Aku bisa apa?"
Vera menengadah tersenyum lebar. Leo ikut tersenyum. Ini kesempatan terakhir dari Leo. Jika Ana kembali macam-macam. Jangan salahkan sisi kejam nya bekerja. Ia akan menempatkan orang di sisi Vera untuk memberikan keamanan untuk istrinya. Setelah keluar dari rumah sakit.
...***...
"Bukan kah Abang sudah kecewa padaku?" seru Ana kala melihat Damar datang dengan Gavin di gendongannya. Pria ini meminta waktu lebih dan memperbolehkan bayi usia lima bulan itu ikut masuk. Tentunya dengan bantuan si merah. Yang selalu bisa menyilaukan mata orang yang melihat nya.
"Ya, aku tentu kecewa padamu. Tapi bagaimana pun, aku tidak bisa mengabaikan mu. Meskipun aku sudah mencobanya," keluhnya.
Ana menghela napas. Ia membuang muka kala melihat putranya tersenyum kearah nya. Seolah-olah menginginkan Ana memanggil namanya. Sekedar mengajak nya berbicara. Ulu hati Ana terasa nyeri.
"Mama dan papa tidak akan membantuku. Dan tak bisa membantu. Tidak usah datang lagi Abang," ucap Ana pelan.
Damar menatap lambat wajah Ana. Satu Minggu di dalam lapas, Ana tampak kurus dan pucat.
"Ya. Aku dan orang tuamu tak bisa membantu. Tapi Vera bisa," ujar Damar.
__ADS_1
"Vera tentu saja memikirkan cara membunuhku saat ini."
"Kau salah. Ia meminta keringanan hukuman padamu Ana. Yang tadinya hukumanmu minimal dua puluh lima tahun berubah menjadi lima tahun. Tidak kau kau berpikir sebalik tentang Vera, An?" papar Damar,"ia sendiri yang berbicara pada suaminya. Kau sangat bodoh Ana. Kau menyia-nyiakan orang yang tulus sayang padamu. Hanya karena fokus menatap kemalanganmu saja," lanjut Damar.
Ana tercekat. Bodoh! Bagaimana bisa Vera masih berpikir begitu. Ia sudah mencelakai nya. Harusnya Vera meminta hukuman berat padanya. Atau kematian. Lucunya, mantan sahabat nya malah memberikan ia keringan hukuman.
"Kita sahabat selamanya, ya Ana!"
"Apapun yang terjadi kau tetap sahabatku. Aku akan selalu berada di sisimu dan mendukungmu. Walaupun orang tua mu tidak begitu."
"Kau terlihat sangat cantik Ana kalau tersenyum. Aku berharap Tuhan akan senantiasa menjaga dirimu. Dan tidak merampas senyum di wajahmu."
Bagaimana kan kaset rusak. Ana teringat kembali janji Vera dan perkataan Vera padanya. Oh Tuhan! Bagaimana bisa ia sebodoh dan sejahat ini. Air mata mengalir deras. Ana menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Menangis sesenggukan. Sumpah demi Tuhan ia menyesal. Ia sangat menyesal. Mendorong Vera menjauh darinya karena obsesi. Karena rasa iri. Meskipun Vera telah tulus, ia mencoba membutakan mata hatinya dari ketulusan Vera.
Damar menatap sedih Ana. Damar berharap Ana akan berubah. Gavin di dalam gedongan Damar hanya menatap aneh ibunya. Anak lelaki ini hanya tau pada Damar dan Baby Sitter yang mengasuhnya. Ana hanya sekedar orang yang ia kenal. Mengingat Ana sama sekali tidak pernah mengendong nya.
...***...
^^^4 Bulan Kemudian^^^
Rumah besar Leo dan Vera terlihat ramai. Beberapa orang tampak tengah mengambil beberapa makan dan cemilan yang di sediakan dari tuan rumah sebagai kegiatan syukuran karena Vera dan Kai selamat.
Di gazebo, si mungil nan mengenaskan tengah menjadi bulan-bulanan para wanita. Baik teman satu jurusan Vera, maupun teman-teman yang ia kenal bersama dengan para tetangga lama rumah orang tuanya ikut hadir.
Kai bayi tiga bulan itu terlihat menatap liar para ibu-ibu yang mengerubungi nya. Vera tersenyum melihat bagaimana antusias nya kaum para wanita pada putranya.
"Kai tampak gemas. Pipi nya chubby dan bikin gemas banget mau cubit," ujar ibu-ibu dengan make up sedikit menor.
"Enak saja, nggak boleh lah. Cucuku nggak boleh di pegang-pegang. Di lihat saja nggak boleh di pegang." Nara tampak protes pada tetangga nya.
"Ya, elah Buk! Mentang-mentang baru punya cucu imut. Suka sekali marah-marah kalau mau pegang-pegang," timpal Bu RT.
"Ya, nih. Tapi ngomong-ngomong nih ya. Mau tanya sama Bu Nara sama Vera, nih. Gimana sih caranya mau menghasilkan keturunan tampan?" kini suara yang lain terdengar.
Teman kuliah Vera yang baru nikah tertawa geli mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh wanita yang sudah bersuami.
"Iya, nih. Masa aku sama suami bikin anaknya biasa aja," ujar wanita berkerudung biru.
Nara dan Vera terkekeh pelan. Mereka pun juga tak tau caranya bisa melahirkan anak tampan. Karena pengaturan gen bukan mereka yang buat. Tapi Tuhan yang atur. Mereka hanya sekedar bikin dan jadi. Itu saja bukan?
"Vera yang jawab aja deh," seru Nara usil.
Vera melongo mendengar sang ibu mertua melempar kan jawaban padanya. Kontan saja para kaum hawa menatap ke arah Vera dengan wajah penasaran. Vera terkekeh di buat-buat meski terasa nyeri di perut.
"Ah, itu——tanyakan pada suamiku saja. Karena yang kasih kecebongkan dia. Jadi dia yang tau dia memberikan kecebong unggul atau bukan. Kalau kita kan terima bersih saja," jawab Vera tergagap.
Serentak mereka mengalihkan pandangan pada Leo yang tengah bercengkrama dengan para bapak-bapak dan kaum muda lainnya. Merasa di tatap, Leo menoleh kebelakang. Bulu kuduknya merinding kala manik mata coklat kelam tajam itu bersitatap dengan puluhan manik mata.
__ADS_1
"Mereka bukan melihat kearahku kan ya?" ujarnya dengan nada pelan nyaris berbisik.
Oh God. Leo berkedip beberapa kali. Dan melirik kiri dan kanan. Ah, bisa di simpulkan mereka menatap nya. Leo menunjuk dirinya sendiri kala mata Vera bersitatap dengan matanya. Vera mengangguk pelan. Senyum ibu-ibu terlihat menyeramkan saat mereka serentak memanggil Leo dengan telapak tangan bergerak meminta mendekat.