
Dokter cantik itu tersenyum bersahaja. Melihat raut ketakutan dari wanita yang duduk di depannya ini. Manik matanya kembali menatap data yang ada di genggaman tangannya.
"Bagaimana Dokter?" tanya Vera dengan nada khawatir.
"Tenang saja nyonya Vera. Tidak ada yang perlu di khawatir di sini. Rahim nyonya baik-baik saja. Tidak terdapat penyakit atau apapun itu. Hanya belum saja," jawab sang Dokter dengan nada lembut.
"Apakah tidak ada caranya untuk bisa hamil lebih cepat lagi Dokter?"
Dokter Meri tersenyum."Mungkin jika berkenan untuk mengikuti program kehamilan. Dengan membawa suami nyonya ke sini. Untuk konsultasi lebih lanjut."
Vera menghela napas pendek. Ia merasa takut membawa Leo bersama nya. Apalagi ke Dokter kandungan.
"Baiklah, Dok!" balas Vera lembut.
Dokter Meri ikut mengulas senyum.
...***...
Leo tampak gelisah duduk di depan ke dua orang tua wanita yang pernah singgah di hatinya. Bahkan pernah menjadi bagian dari hidup nya. Wanita yang pernah ia perjuangkan dan memutuskan meninggalkan nya demi sebuah ketenaran. Ingin menolak makan siang bersama. Pria ini merasa sungkan, mengingat bagaimana baiknya orang tua Lili padanya.
"Ayo di makan Nak Leo!" seru nyonya Mila pada Leo. Pria yang gagal menjadi menantu keluarga Lorenza.
"Ya, Bu!" jawab Leo sungkan. Tak lupa ia mengulas senyum tak enak hati.
Lili meraih beberapa lauk pauk meletakkan di atas piring Leo. Tak lupa senyum lebar terbentuk di wajah cantik nya. Tuan Lorenza hanya menatap tak terbaca pada Leo dan Lili.
"Makan yang banyak, Leo!" ujar Lili dengan senyum lembut.
"Oh! Terimakasih!" Jawab Leo sebelum menyuapi makan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Sudah lama kita tidak makan bersama, ya!" ujar Edo ayah Lili dengan nada berat,"semenjak Lili ke luar negeri Nak Leo tidak pernah lagi main ke rumah," lanjut Edo dengan nada kecewa.
Leo mengunyah cepat makan yang ada di mulutnya. Tersenyum canggung. Mengingat status ia dan Lili sudah tak lagi sama.
"Sudahlah ayah. Leo pastinya sibuk hingga tidak pernah bisa berkunjung lagi ke rumah," balas Lili dengan nada lembut.
"Yang terpenting sekarang Nak Leo sudah mau kembali main ke rumah ibu sama ayah sudah sangat senang," kata Mila,"Lili nggak balik lagi ke luar negeri kan ya?" tanya sang ibu dengan nada penuh harap.
Lili melirik Leo yang duduk tepat di samping nya."Entahlah Bu, Lili masih belum tau. Maunya sih nggak keluar negeri lagi. Cuma kayak nya kalau tetap di sini. Rasanya agak berbeda," jawab Lili masih menatap lekat wajah Leo.
"Apa empat tahun nggak cukup di negeri orang Lili. Sudah saatnya kembali ke negara sendiri. Seenak-enak nya negara orang, lebih nyaman di negara sendiri!" tukas Edo penuh wibawa.
"Benar, tidak usah kembali ke sana. Di sini kamu masih bisa berkarir," bujuk Mila.
Lili hanya diam. Sebelum menoleh menatap Leo."Menurut Leo bagaimana. Apakah aku sebaiknya tetap di sini atau kembali keluar negeri?" ujar Lili mencoba mencari tau apa jawaban dari pria yang sangat ia cintai ini.
Leo menghela napas. Ia merasa serba salah, di jawab pergi. Pria ini akan membuat orang tua Lili merasa kesal. Di jawab tetap di Indonesia, wanita yang pernah menjadi kekasih nya ini akan merasa jika dia yang menginginkan mantan kekasih nya untuk tetap tinggal.
Lili mengulas senyum."Ya, kamu benar. Di sini lebih nyaman," jawabnya pelan,"tapi tak menyenangkan saat kau sudah menjadi milik orang lain. Jika aku tinggal, aku berharap agar bisa memiliki mu kembali," lirih hati Lili yang tak mampu di ungkapkan dengan kata-kata.
...***...
Reza terlihat canggung duduk di ruang tamu bersama Vera. Pria ini pikir, Leo sudah ada di rumah. Mengingat sekretaris pria itu bilang jika sahabat nya itu sudah tidak lagi di kantor. Kebiasaan Leo yang pria ini tau adalah akan pulang ke rumah jika tidak di kantor. Anehnya, sahabat seperjuangan nya itu malah tidak berada di rumah. Mau pulang rasanya sungkan karena Vera sudah mengundangkan minuman dan cemilan.
"Memangnya kak Leo nggak di kantor ya, kak Reza?"
Glek!
Bola mata hitam Reza bergerak liar. Ia bukan pria yang mudah merangkai sebuah kebohongan. Di tambah ekspresi menyelidik dari Vera terasa mencengkiknya. Wanita satu ini tidak mudah di bodohi. Menyesal Reza datang ke rumah Leo tanpa menanyai keberadaan pria itu dahulu.
__ADS_1
"Heheh....iya, begitu lah. Kata Leo di minta menunggu di rumah. Karena dia lagi perjalanan pulang ke rumah," bohong Reza dengan tawa kecil di awal kata.
Vera masih menatap dirinya dengan pandangan penuh selidik. Belum sempat ia melontarkan tanya. Deru mesin mobil Leo terdengar jelas berada di depan rumah. Suara pintu mobil di buka dan di tutup cepat terdengar jelas.
Di dalam hati kecil Reza menyuarakan kata syukur. Setidaknya, ia tidak menimbulkan masalah pada keluarga Leo.
"Kayaknya kak Leo udah datang. Tunggu di sini sebentar ya kak!" ujar Vera. Wanita itu terlihat semangat berdiri dari posisi duduk nya melangkah menuju pintu besar.
Meski pintu telah di buka oleh pembantu rumah mereka. Vera masih ingin menyongsong sang suami. Leo tersenyum lebar, kala mendapati sang istri berada di rumah. Tak lupa pria ini memeluk sang istri dan melayangkan kecupan di dahi.
"Mau langsung mandi atau, mau ngobrol dulu sama kak Reza?" tanya Vera mengangkat pandangan nya pada wajah tampan sang suami.
Leo melirik ke depan dahinya berlipat melihat kehadiran Reza. Tumben sang sahabat tidak memberikan kabar. Tau-tau sudah ada di rumah nya.
"Mau ngobrol dulu sama Reza," jawab Leo pada akhirnya.
"Oke, deh. Sini tas kerjanya!" Ujar Vera menampung tangannya untuk menerima tas kerja di tangan kiri Leo.
Leo tersenyum lebar. Pria itu memberikan tas kerjanya pada Vera. Wanita yang terlihat sangat imut itu tersenyum dan melepaskan pelukan Leo dari tubuh nya. Lalu melangkah mendekati anak tangga.
Leo melangkah mendekati Reza. Tangan nya tampak melonggar kan dasi yang membelit lehernya seharian ini. Ugh! Benar-benar terlihat hot dan seksi dalam satu waktu. Beruntung tidak ada gadis yang akan serangan jantung melihat betapa mempesona nya Leo kala menarik asal dasi di lehernya.
"Tumben ke sini nggak kasih kabar, Za!" Ujar Leo sembari duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya di sofa.
"Bukan tumben. Aku sudah menanyai kabarmu pada sekertaris mu. Dia bilang kau sudah tidak di kantor. Aku pikir kau di rumah makanya aku ke sini," jelas Reza,"kau sendiri kemana, sampai Vera saja nggak tau kau di mana. Aku bahkan berbohong padanya kalau kau meminta aku langsung ke rumah. Biar dia nggak curiga, kau nggak ketemu Lilikan?" lanjutnya dengan pandangan memindai.
Leo tak menjawab. Pria ini sendiri tidak tau harus jawab apa pada Reza. Ia memang bertemu Lili, tanpa sengaja. Lebih tepatnya tidak sengaja bertemu orang tua Lili saat sebelum jam makan siang. Hingga ia di tarik ke rumah mantan kekasih nya itu. Jika itu Lili, mungkin saja Leo bisa menolak. Namun masalah nya, itu adalah orang tua Lili.
"Kau.....jangan bilang itu benar?" tebak Reza melihat kebungkaman Leo.
__ADS_1
Leo hanya mampu menghela napas pendek saja.