
Negatif.
Lagi-lagi hanya satu garis yang di timbulkan di permukaan tespek. Vera menghembus nafas pelan, sebelum menurunkan benda pipih yang di pegang.
"Masih belum," keluh Vera kecewa.
Tok!
Tok!
"Ver!" panggil Leo di luar pintu kamar mandi,"udah siap belum?" lanjut nya.
"Ya! Ini udah mau selesai," balas Vera berteriak dari dalam.
"Aku tunggu di bawah ya!"
"Ya!" jawab Vera singkat.
Derap langkah kaki menjauh dari pintu kamar mandi terdengar jelas. Vera dengan lesu membuang tespek ke tong sampah kecil yang ada di pojok kamar mandi. Tubuh nya melangkah menuju kaca besar.
"Jangan kecewa Vera. Ini masih beberapa bulan. Mungkin masih belum rezeki, siapa tau bulan besok udah ada!" monolog Vera pelan kala menatap pantulan wajahnya di cermin,"Vera semangat!" lanjut nya mencoba memberikan semangat pada dirinya. Tak lupa Vera menarik ke dua sudut bibirnya ke atas.
Meskipun jauh di dalam hati ia masih kecewa dengan hasil yang ia dapatkan. Vera menarik perlahan-lahan udara sebelum menghembuskan nya perlahan.
Jika Vera boleh jujur, wanita ini merasa resah dengan ke datang Lili ke dalam hidup ia dan suami.
Wanita yang paling berpeluang mengacaukan hubungan bukanlah orang baru. Pihak ketiga yang memiliki peluang besar dalam memperkeruh hubungan pasangan suami-istri adalah mantan. Baik di pihak wanita maupun pria. Mengingat sudah pernah ada rasa yang tumbuh. Perasaan manusia sangat lah ambigu. Terlihat dangkal satu waktu dan dalam di lain waktu.
Vera takut, jika Leo berpaling pada Lili. Mengingat Lili pernah bertahta di relung hati Leo sebelum dirinya. Bukankah wanita memiliki banyak ketakutan dalam hubungan. Begitu pula dengan Vera, wanita ini merasa takut dan resah. Meski terlihat tenang di luar.
Semakin tenang permukaan air, maka semakin bergejolak di dasarnya. Begitu lah hati.
...***...
Langkah kaki di ayun perlahan. Jari jemari yang saling bertautan mengisi ruas yang kosong. Ke duanya melangkah mengitari kota tua. Hari Sabtu, selalu ramai pengunjung. Baik turis, warga lokal sampai yang dari luar kota Jakarta banyak menghabiskan hari. Vera diam-diam memberikan tatapan mengintimidasi kala para gadis remaja sampai yang sudah berusia tiga puluhan melirik Leo dengan pandangan memuja.
Ada pula yang hampir meneteskan air liur saking terpesona nya dengan Leo Yamato. Pria ini terlihat tidak peduli, dari awal sampai di kota tua. Leo hanya memperdulikan wanita di samping nya ini. Berbincang dan sesekali menunjuk cosplay yang berada di sana. Leo tidak tau jika sang istri diam-diam membesarkan mata sempitnya untuk memberikan peringatan pada yang melihat suaminya. Bahkan sebelah bibir nya di angkat tinggi. Tidak lupa melotot.
__ADS_1
"Kita sudah beberapa jam putar-putar nih, mau makan siang atau bagaimana?" tanya Leo kala mereka menghentikan langkahnya kaki.
Vera sedikit menengadah menatap wajah tampan sang suami. Mengingat tingginya dan Leo cukup terpaut jauh.
Ingin sekali Vera bilang pulang saja. Karena tidak suka dengan pandangan nakal wanita lain pada suaminya. Vera masih mencoba bertahan, agar tidak terlihat aneh apa lagi cemburu di mata Leo. Dia tidak ingin Leo menggoda nya, jika ketahuan cemburu pada wanita lain.
"Ma——makan saja," jawab Vera tergagap,"makan di tempat mahal!" lanjut nya.
Dahi Leo mengernyit mendengar kata kedua yang keluar dari bibir Vera. Tidak biasanya, istri imutnya ini ingin tempat mahal.
"Tumben?" ujar Leo.
"Apanya?"
"Ya, tumben mau makan ke tempat yang mahal?" kata Leo dengan mata menatap intens sang istri.
Ke dua kelopak mata Vera berkedip lucu. Sebelum terkekeh yang di paksakan. Hatinya berdebar keras, wanita ini memutar memeras otaknya. Mau jawab apa pertanyaan sang suami.
"Gak boleh kah?" balasnya ketus setelah tidak mendapatkan jawaban yang pas. Wanita ini menjadi garang karena merasa tersudut kan.
Leo mengulum bibirnya. Ugh! Para wanita yang sedari tadi memperhatikan Leo menjerit tertahan. Vera mengutuk bibir seksi sang suami agar doer. Karena terlalu seksi itu tidak baik. Itulah yang kini ada di otak Vera.
"Ca...kit!" Ujar Vera mencoba melepaskan tangan Leo dari ke dua sisi wajahnya.
Leo terkekeh dengan nada serak. Tidak dapat di hindari lagi teriakan dari para wanita.
Kya!
Kya!
"Gila! Suara tawanya saja begitu seksi."
"Kang mas! Aku mau jadi istri ke dua mu!"
"Aku mau jadi selingkuhan mu!"
"Itu benar manusia kan ya?"
__ADS_1
"Itu mah manusia blasteran surga!"
Kya!
Kya!
Seketika gendang telinga Vera berdengung mendengar teriakan dan perkataan para wanita. Hatinya terbakar api cemburu. Dengan cepat ia menarik telapak tangan Leo dari ke dua sisi wajahnya.
"Sakit tau!" ujarnya kesal kala telapak tangan Leo lepas dari wajah nya.
Vera melangkah meninggalkan Leo lebih dahulu dengan wajah memerah. Leo terkejut.
"Mati aku, dia marah!" monolog Leo pelan. Sebelum mengejar sang istri.
Leo bermaksud ingin menggoda Vera saja. Eh, malah membuat wanita itu marah. Beberapa kali Leo memangil Vera, wanita itu memilih menulikan pendengaran nya. Membuat Leo seperti anak kucing yang mengikuti ibunya. Wajah Leo yang bersalah benar-benar sangat lucu untuk di lihat.
...***...
"Sayang, jangan marah dong!" Bujuk Leo dengan jari telunjuk menoel-noel pipi sebelah kanan Vera.
Vera membuang muka. Ke duanya sudah sampai di restoran yang tidak jauh dari kota tua. Vera hanya diam dan mengabaikannya. Wanita ini sibuk dari tadi dengan ponsel ditangannya. Itu, sungguh membuat Leo uring-uringan.
"Sayang, maaf!" ujar Leo lagi. Tak lupa dengan nada di imut-imutkan.
Vera menoleh. Ke dua sudut bibirnya berkedut ingin tertawa melihat bagaimana ekspresi Leo saat ini. Ugh! Benar-benar membuat Vera gemas. Ingin sekali Vera mencubit pipi Leo. Sekuat tenaga Vera mengontrol ekspresi wajah nya.
"Gak mau!" balas Vera dengan nada agak aneh di Indra dengar Leo.
Leo menghela napas lega. Pada akhirnya Vera mau buka suara juga. Ngambek nya wanita benar-benar membuat kaum para pria mati kutu. Seperti Leo Yamato saat ini.
"Apa dong yang bisa membuat sayangku, istri cantik ku, bidariku ini tidak marah lagi?" tanya Leo.
Tangan Leo meraih tangan Vera. Mengecupnya beberapa kali. Vera kembali membuang muka. Bibirnya terangkat ke atas. Ia tersenyum diam-diam. Inilah wanita duhai kaum pria. Marahnya sungguh sangat mudah di redakan. Asalkan jangan berteriak, memaki atau malah memukul. Cukup bujuk dengan berkata lembut dan penuh kasih sayang. Perempuan akan luluh dengan sendirinya. Bukankah sangat mudah? Lucunya kaum pria malah akan selalu berkata tidak bisa mengerti kaum wanita saat marah.
"Sayang!" panggil Leo.
Ia menarik sedikit bangkunya lebih dekat dengan bangku Vera. Mencondongkan wajahnya pada daun telinga Vera.
__ADS_1
"Kalau marah dua hari dua malam aku tahan ditempatkan tidur selepas pulang dari sini!" bisik Leo dengan nada yang bisa membuat para wanita merinding seketika.