Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 49 (Hasutan Ana)


__ADS_3

"Papa!!!!!"


Teriakan keras membuat Zeo menyeburukan air kopi yang baru saja masuk ke dalam mulut. Membuat pria itu mengusap dada karena ulah sang istri. Nara datang dengan senyum sumringah dan panggilan yang mengelegar.


"Ini masih pagi, Ma. Jangan teriak-teriak, bikin papa jantungan aja. Kalau papa kena serangan jantung, mama bisa jadi janda," kesal Zeo. Sebelum tangan yang mengusap dada bidangnya yang di dapat dari hasil olahraga. Kini berpindah pada mulut. Mengusap tetesan air yang keluar terpaksa dari mulutnya.


Nara hanya bisa cengengesan dengan raut wajah bersalah. Tak lupa ia ikut mengusap dagu sang suami.


"Hehe...maafkan mama, Pa!" Ujarnya di sela membantu mengusap dagu sang suami tercinta."Abis kabarnya bikin mama langsung bergejolak. Ingin teriak sampai menari!"


"Memang nya berita apa sampai mama jadi histeris begitu?"


"Ini berita, tentang Vera dan Leo, Pa!"


"Ada apa dengan anak dan menantu kita?"


Nara menarik tangannya. Zeo masih duduk di kursi meja makan. Ke dua mata Nara berbinar-binar. Seakan kebahagiaan berita yang ia terima lebih dari berita mendapatkan harta karun.


"Papa jangan terkejut, ya!" peringat Nara.


"Oke, papa nggak akan terkejut."


"Papa, sebentar lagi kita bakal jadi kakek dan nenek!" ujar Nara,"Vera hamil kandungan nya udah tiga bulan lebih. Mama bahagia karena sebentar lagi kita bisa gendong cucu!" lanjut nya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Apa????????? Hamil???????" Teriakan keras dengan di sertai tubuh Zeo mengelepar berdiri dari kursi.


Jika tadi Zeo yang merasakan jantungnya berolahraga. Maka kini giliran Nara. Bedanya, bukan hanya jantung yang berpacu. Ke dua gendang telinga wanita itu berdengung. Menatap sebal sang suami. Bukanlah ia sudah bilang untuk tidak terkejut. Pada kenyataannya, tetap aja sama.


"Tadi katanya janji nggak teriak. Papa bikin mama kesal, ah!" Ujar Nara mengusap ke dua daun telinga nya.


Zeo terkekeh."Lupakan itu dulu, Ma!" ujarnya.

__ADS_1


"Kita jadi nenek dan kakek!" ujar Zeo kelewatan senang.


"Asik!" balas Nara ceria kembali.


Keduanya saling bergandengan tangan dan berputar-putra dengan raut wajah gembira. Siapa yang tidak gembira, saat hanya memiliki anak tunggal. Dan sekarang sudah menjadi seorang nenek dan kakek. Ke dua nya loncat-loncat tak jelas. Seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.


...***...


Leo memeluk Vera dari belakang. Ke dua nya menatap Zita dengan pria yang baru saja selesai melakukan ijab kabul. Terlihat wajah cantik Zita berseri-seri. Dengan baju kebaya membalut tubuh nya. Gadis itu melakukan terlihat bersalaman. Dan mengecup punggung telapak tangan sang suami. Gemuruh riuh mewarnai kebahagiaan pasangan baru itu.


"Kamu ingat nggak sayang. Saat kita nikah, kamu itu cemberut kayak orang baru di rampok!" Ujar Leo mengusap pelan pipi Vera yang terlihat semakin berisi saja.


Vera menoleh ke belakang."Nggak tuh, aku nggak begitu!" bantahnya cepat.


"Masa nggak ingat, kamu bahkan menatapku seperti macan betina yang ingin menerkam?" ujar Leo menggalih masa-masa dua tahun yang lalu.


Vera ingat, sungguh! Tapi ia malu mengakui jika ia seperti orang gila. Seperti wanita yang bar-bar saat itu. Di malam pertama yang harus nya di habiskan untuk memadu kasih. Ia malah menendang adik kecil Leo. Hingga pria itu berguling-guling di lantai kamar. Wajahnya memerah karena perbuatan Vera. Paling gilanya saat itu adalah Leo di larikan ke Rumah Sakit. Bayangkan betapa malunya Leo. Belum apa-apa, masa depan nya hampir hancur. Baru pegang baju saja, tongkatnya nyaris patah. Sejak itu Leo berhati-hati dalam menyentuh Vera. Takut terjadi hal begitu lagi. Mama dan papanya malah tertawa karena kejadian malam pertama itu. Mereka hanya menilai Vera takut saja, karena baru selesai menikah.


Apa lagi Vera tidak pernah menjalin kasih dengan lawan jenis. Hanya berteman dengan sesama wanita saja. Karena itu kedua orang tua Leo memaklumi apa yang terjadi.


Leo terkekeh kecil."Kenapa harus malu, padahal cerita kita saat itu benar-benar lucu. Hampir saja bibit unggul milik ku mati saat itu. Kalau sampai adik kecilku patah, kita nggak bisa enak-enak lagi," bisiknya pelan di daun telinga sebelah kanan Vera. Pria ini sengaja menggoda Vera. Mengingat masalah masa lalu.


Muka Vera memerah. Ke dua matanya tidak berhenti menatap kegiatan Zita dan Davin di depan sana.


"Kalau patah ya tinggal ganti suami," balasnya becanda.


Leo cemberut."Berani emang ganti suami?"


"Ya, kenapa nggak berani?" tantang Vera dengan wajah masih memerah.


Leo mendengus sebal."Coba aja, sebelum malam pertama itunya aku gunting pakek gunting rumput!" balas Leo dengan nada kesal.


Kini giliran Vera yang terkekeh. Leo Yamato, terlalu posesif padanya. Dan Vera senang di posesifin sama suami.


"Lepas dulu tangan nya, kakiku kesemutan nih kak!" perintah Vera. Kaki yang di tekuk membuat rasa kebas menjalar.


Leo melepaskan Vera. Ia meringusut duduk di samping Vera. Nadia terlihat sibuk, karena menjadi pendamping pengantin wanita.

__ADS_1


...***...


"Senang bisa bertemu dengan nona Lili," ujar Ana dengan senyum lebar. Wajah nya terlihat sangat polos.


Ana sengaja mengajak Lili bertemu di restoran mahal. Wanita cantik itu baru saja mendapatkan berita tentang kepulangan Lili. Dan tentang perasan Lili yang masih tersimpan apik untuk Leo Yamato.


Lili hanya mengulas senyum tipis. Hanya sebagai tanda hormat saja tidak lebih. Mengingat ia tau siapa Ana. Wanita di depannya ini adalah putri dari seorang pengusaha sukses di Jakarta. Dan di Instagram nya Ana, Lili jelas sangat tau. Seberapa populer wanita cantik yang kecantikan nya setara dengan nya. Hanya bedanya, Ana dari keluarga kolongmerat. Sedangkan ia adalah anak dari orang tua biasa. Dari keluarga sederhana.


"Apa yang membuat nona Ana ingin bertemu dengan saya?" tanya dengan nada formal.


Ana tersenyum."Tidak usah terlalu formal nona Lili," ujar Ana.


"Ah, baiklah."


"Aku ingin membicarakan tentang kak Leo. Mantan kekasih Mbak Lili. Bolehkan aku memanggil nona Lili seperti itu?" ujar Ana.


Lili mengangguk."Ya, tidak apa-apa," jawab Lili,"ada apa dengan Leo. Dan kenapa bisa kenal dengan Leo?" lanjut nya.


Ana menyandarkan tubuhnya di kursi."Vera. Dia adalah mantan sahabat ku. Aku melihat Vera tidak pantas dengan kak Leo yang sempurna. Yang pantas dengan kak Leo adalah Mbak Lili. Bagaimanapun, Mbak Lili lebih segala-galanya. Tidak sebanding dengan Vera yang tidak ada kelebihan itu," ujarnya tentu nya berbohong. Siapa juga yang ingin memuji Lili. Rival ke duanya setelah Vera.


Ana merasa ada baiknya mengadu domba Lili dan Vera. Siapapun yang menang nantinya. Tentu saja akan membuat luka di hati Vera juga. Ia tak terima dengan kekalahan dalam kata tempo hari. Ia ingin, Vera menangis dan menjadi jahat. Ia percaya tidak ada orang yang benar-benar berhati malaikat di dunia ini. Jika tersakiti, tentu saja malaikat bisa menjadi iblis.


"Kenapa berpikir begitu?" ujar Lili,"apakah Vera pernah menyakitimu. Hingga dia dan dek Ana jadi musuh?" lanjut nya bertanya dengan raut wajah penasaran.


"Dia merebut pria yang aku cintai Mbak," jawab Ana.


"Ah?"


"Kekasihku tidur dengan nya. Dan dia malah menuduh aku menjebak nya," ujar Ana dengan raut wajah pura-pura sedih.


"Bagaimana pendapat Leo? Apakah dia tau?"


"Kak Leo nggak peduli. Dia tetap cinta Vera. Aku meras benci sama Vera karena itu," bohongnya.


Lili mengepal kan ke dua tangannya."Bagaimana wanita murahan seperti nya bisa bersama Leo!" murka Vera.


"Bagus. Ikan terpancing dengan sempurna. Kita lihat saja, kehancuran mu sudah datang Vera!" hanya hati kecil yang bisa berbicara saat bibir di tekuk kebawah. Berpura-pura teraniaya.

__ADS_1


__ADS_2