Suamiku, Terlalu Tampan

Suamiku, Terlalu Tampan
Bab 17 (Dia Yang sebenarnya)


__ADS_3

Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


.


.


.


Wajah Vera tampak pucat, duduk berhadapan dengan Arga. Dua hari ia tak masuk kampus dan tidak mengaktifkan nomor telpon nya. Kini ia memberanikan diri untuk mengahadapi permasalahan yang terjadi. Arga duduk dengan raut wajah biasa. Tidak ada guratan kerisauan di wajah tampan Arga.


"Silahkan nikmati makan dan minuman nya!" Seru sang waiters meletakan dua gelas jus jeruk, satu piring kentang goreng dan satu piring lagi pisang goreng keju.


"Terimakasih," seru ke duanya serentak.


Waiters tersenyum dan melangkah pergi dari meja ke duanya.


"Minum lah dulu," kata Arga.


Vera menyentuh minum nya, menyesapnya perlahan. Setidaknya, ia butuh kata waras untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.


"Arga," panggil Vera setelah merasa tenang.


"Hem," balas Arga.


"Malam itu.... apakah terjadi sesuatu?" tanya Vera dengan penuh keraguan dan ketakutan.


Arga menyandarkan punggung belakang nya ke kursi. Menatap intens wajah Vera. Ke dua manik mata Vera terlihat bergetar. Ada rasa takut yang sangat besar dari diri wanita di depannya ini. Ya, wanita mana yang akan baik-baik saja. Meskipun Vera tidak punya suami sekalipun. Wanita ini wajar merasakan perasaan takut. Apa lagi di situasi seperti saat ini. Vera adalah seorang istri. Ada hati lain yang harus di jaga.


Bibir Arga terbuka. Namun tertutup kembali. Haruskah ia jujur pada Vera?


Ragu.


Pria ini ragu untuk membalas pertanyaan Vera. Ia dan Vera memang tidak melakukan apa-apa. Mengingat yang membuka pakai Vera adalah Ana. Setelah semuanya selesai, Arga baru masuk dan melakukan hal yang sama. Tidur di samping Ana. Hanya sebatas tidur saja. Pria ini masih punya hati nurani, sedikit. Ini pertama kalinya, Arga merasa kasihan pada seorang wanita. Biasanya, pria ini enggan memberikan rasa kasihan pada lawan jenis. Tapi, Vera rasanya berbeda.


"Menurutmu?" Arga malah balik bertanya.


Tangan Vera saling bertautan, membuat nya mulai berkeringat.


"Aku tidak tau," aku Vera jujur.


Arga mengulas senyum tipis. Sebelum menghela napas kasar.


"Aku dan kamu tidak melakukan apapun, malam itu," ujarnya dengan nada berat khas milik nya.


"Benarkah?" tanya Vera antusias,"lalu kenapa aku dan kamu tidur tanpa busana saat itu?" lanjut nya ragu.


"Itu.....yakin kau mau tau?" tanya Arga ragu.

__ADS_1


"Ya." Kepala Vera mengangguk pelan.


Arga diam. Pria itu memilih menyesap jus jeruk milik nya hingga tandas.


"Aku tidak tau kau percaya atau tidak. Awalnya aku juga tidak ingin membicarakan ini. Mengingat aku juga mengambil keuntungan dari semua nya. Semua keputusan ada padamu. Aku harap kau jangan memotong pembicaraan ku kedepannya," kata Arga yang di angguki oleh Vera.


Arga menceritakan semua nya. Beberapa kali raut wajah Vera tampak menegang dan sedih. Pria di depannya ini mengatakan semua nya tanpa terkecuali. Biarlah Vera menilai sendiri, meskipun wanita ini membenci nya setelah apa yang terjadi tak masalah. Arga memberikan keputusan akhir pada Vera.


...***...


Rapat berjalan dengan lancar. Perencanaan pengangguran Villa mewah kembali di ulas dengan matang. Lucas turut hadir, mengingat pria ini adalah perancang bangunan Villa baru. Beberapa karyawati, menatap kagum pada Bos besar dan juga teman sang Bos. Ke duanya melangkah melewati lorong menuju lift pribadi.


"Bagaimana dengan Vera?" tanya Lucas.


"Keadaan nya cukup baik," balas Leo.


"Menurutmu apa tidak ada yang aneh pada Vera?"


"Apanya?"


"Sejujurnya, aku menang tidak berpikir aneh saat dia masuk ke apartemen. Tapi, melihat raut wajah nya yang berubah saat masuk ke dalam kamar membuat aku merasa adanya kejanggalan," papar Lucas.


Leo diam.


"Entahlah," jawab Leo pelan.


Pintu lift terbuka. Ke duanya melangkah masuk ke dalam. Hanya mereka berdua saja di dalam lift.


"Kau takut?" tanya Lucas.


Leo menoleh ke samping."Apanya, yang harus aku takutkan?"


"Aku sudah lama bersahabat denganmu, Leo. Semua tindak tandukmu, aku tau dengan sangat jelas. Kau juga merasakan keanehan itu tapi sepertinya memilih diam, Hem?" tebak Lucas.


Leo mendesah kecil. Meski Lucas adalah pria terkenal gila dan player. Ada sisi tegas dan peka yang tak banyak orang ketahui.


"Sudahlah," tukas Leo. Pria ini mencoba mengakhiri topik pembicaraan mereka.


"Lari dari masalah bukalah hal yang baik Leo. Itu akan menjadi bom waktu," nasehat Lucas.


Leo hanya mampu memaksakan senyum. Pria Yamato itu bukan nya tak tau dan tidak merasakan ada keanehan. Mulai dari Vera yang sering bengong sampai terlihat ketakutan. Pria ini memiliki untuk tidak bertanya. Bukan lantaran tidak ingin, namun Leo berpikir belum saatnya.


"Yeah! Aku tau," balas Leo pada akhirnya.


"Jika butuh bantuan aku dan yang lainnya ada di sisimu, kawan!"


"Terimakasih," ucap Leo.

__ADS_1


Lucas hanya tersenyum, sebagai balasan.


...***...


"Apa maksudmu Vera?" ujar Ana dengan wajah tak percaya dengan apa yang Vera tuding kan padanya.


Tak lupa wanita cantik itu memasang tampang polos. Seolah-olah ia tidak bersalah dan merasa syok dengan apa yang ia dengar dari bibir Vera.


"Jujur saja, An!" desak Vera.


Ana mengeleng pelan."Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu. Aku memang mengajakmu ke klub malam waktu itu. Hanya sebatas menikmati acara saja tidak lebih. Lalu....lalu apa ini! Kau tidur dengan kekasihku. Tapi malah mengfitnah aku?" teriak Ana dengan suara keras.


Kontan saja, orang-orang yang berjalan melewati lorong sepi itu berhenti. Ada beberapa geng yang lewat di sana. Mereka berhenti sekedar mendengar apa yang membuat perempuan populer di kampus itu mengeraskan suara.


"Kau!" teriak Vera tertahan. Wanita ini tidak percaya. Bagaimana Ana dengan sengaja berkata seperti itu. Ia sengaja menarik Ana ke tempat sepi hanya untuk bisa berbicara dari hati ke hati.


"Aku....aku tidak mengerti kamu Vera. Kita sudah berteman bertahun-tahun. Jika kau cinta dengan kekasihku tolong katakan dengan berterus-terang. Aku tidak ada masalah. Demi kamu, aku akan memberikan Arga. Tapi tolong jangan fitnah aku dengan semua yang terlah terjadi Vera. Kau yang tidur dengan kekasihku tapi... kenapa kau begini padaku?" katanya lagi dengan suara semakin keras.


Vera mengepalkan ke dua telapak tangannya di ke dua sisi tubuh nya. Bisik-bisik lirih terdengar jelas. Ana mengeluarkan bulir-bulir bening di ke dua matanya. Ia menangis terisak pilu.


"Gila. Teman makan temen!"


"Cih? Menjijikan ya. Wajah pas-pasan berteman dengan kak Ana saja sudah bersyukur. Malah tidur dengan kekasih Kak Ana."


"Tidak tau diri sekali."


"Hei! Ayo sebarkan!"


Begitulah bisik-bisik lirih orang-orang yang mendengar perbincangan mereka. Terlihat ada yang mulai mengetik sesuatu di ponsel mereka. Vera menarik napas dan mengeluarkan nya perlahan. Awalnya, Vera tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Arga.


Ingin membicarakan nya baik-baik. Malah mendapat hal seperti ini. Sekarang Vera baru tau, siapa orang yang telah ia sayangi selama ini. Tidak lebih dari serigala berbulu domba.


"Aku tidak menyangka kau begini. Aku salah menilaimu, Ana!" kata Vera dengan nada berat.


Vera melangkah meninggalkan Ana yang masih menangis. Namun jauh di dalam hati ia tersenyum bahagia. Rencana ke duanya berhasil. Mempermalukan Vera, sebentar lagi akan ada berita yang di inginkan oleh Ana. Tidak masalah kehilangan Vera. Toh, ia dari awal berteman dengan Vera tidak tulus.


.


.


.


Bersambung....


Mohon dukungan nya dengan cara Rate bintang lima, Like, Vote dan Komentar di akhir. Jangan lupa jadikan di simpan di jadikan favorit agar cepat mendapatkan notifikasi saat update ya kakak-kakak....β˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™


Sekali lagi author tegaskan, Jika ada yang gak suka sama cerita ini silahkan out sendiri ya. Dan tolong dengan sangat, jangan meninggalkan komentar yang membuat dirimu sendiri di nilai buruk!

__ADS_1


__ADS_2