
Mata Vera bergerak liar menatap tempat yang ia masuki bersama Leo. Suami tampan nya ini mengajaknya makan malam di tempat yang benar-benar membuat bibirnya tidak bisa diam bergumam kekaguman. Ada banyak lilin-lilin di pinggir jalan menuju tempat yang sudah di siapkan. Di atas kepala mereka ada ribuan lampu kecil terlihat begitu cantik dengan cahaya kuning nya. Deburan ombak terdengar jelas menyapa rungu masing-masing. Leo menggenggam tangan Vera dengan senyum bahagia. Ke duanya berhenti kala sampai di depan tangga dari batu. Dimana seorang pegawai wanita telah menunggu dengan setangkai bunga mawar.
"Silahkan!" Seruan dari seorang wanita memberikan satu tangkai mawar merah dengan satu note kecil.
...KAMU ADALAH ANUGERAH TERINDAH DARI TUHAN UNTUK KU...
Vera terpukau. Ia melirik Leo, pria itu malah tersenyum malu.
"Ayo jalan lagi!" ujar Leo. Sebelum menarik tangan Vera melangkah ke arah tangga.
Vera hanya mengikuti langkah kaki Leo. Ke duanya menaiki tangga pertama. Seorang wanita di tangga pertama menyodorkan setangkai bunga mawar yang sama, dengan note kecil.
...KAU OKSIGEN SEKALIGUS VITAMIN UNTUK KU...
Kembali Vera melirik Leo di samping nya. Pria ini menarik Vera naik satu tangga lagi.
...AKU LELAKI PALING BERUNTUNG KARENA MENDAPATKAN SEORANG BIDADARI DUNIA...
Isi note dari bunga ke tiga. Vera tak bisa berkata apa-apa. Ia dan Leo kembali naik ke anak tangga ke empat. Kembali ia meraih satu tangkai bunga dari pegawai yang memang sudah berdiri di samping tangga.
...KAU ADALAH RUMAH TERNYAMAN UNTUK KU TEMPATI...
...DUNIA KU BERPUTAR HANYA PADAMU...
...KU JANJIKAN AKU ADA UNTUKMU APAPUN YANG TERJADI...
...MARI HIDUP MENUA BERSAMA HINGGA NAPAS BERHENTI...
Enam note dan tangkai mawar telah berada di tangan. Saat Vera dan Leo sampai di meja mereka. Satu buket bunga besar terakhir di berikan oleh pegawai restoran ke tangan Vera. Vera menatap Leo dengan pandangan tak terbaca.
"Enam di tanganmu ditambah empat puluh empat tangkai mawar merah mengakan cinta ku tak terbatas padamu. Sedangkan arti bunga mawar merah adalah Aku akan selalu mencintaimu dan seluruh cintaku hanya kuberikan kepadamu," ujar Leo sebelum melepaskan genggaman tangannya pada Vera.
"Kenapa kakak harus melakukan ini?" tanya Vera seolah memastikan hal yang sudah pasti.
__ADS_1
Sudah kodratnya wanita selalu menginginkan hal yang pasti. Yang keluar dari mulut seorang pria.
"Aku bukan pujangga cinta. Aku lebih suka memperlihatkan kesungguhan ku padamu. Daripada hanya berkata-kata saja," ujar Leo.
Telapak tangan besarnya mengusap pelan pipi kanan Vera lembut.
"Jangan takutkan apapun. Atau meresahkan apapun. Aku tidak akan pernah berpaling, apa lagi mengkhianati mu. Aku cinta kamu, entah harus berapa ratus kali aku mengatakan nya. Bahwasanya, aku mencintaimu. Dan akan terus begini!" Tutur Leo masih mengusap pelan pipi Vera.
Vera merasa ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Dadanya semakin berdebar keras. Tangan bergerak cepat meletakan seluruh bunga yang ia dapatkan di atas kursi. Sebelum memilih memeluk Leo. Leo tersenyum lebar, membalas pelukan sang istri.
"Aku...aku juga mencintaimu. Sungguh. Sangat mencintaimu, suamiku!" Ucap Vera mengeratkan pelukannya pada pinggang Leo. Wajah nya di benamkan dalam, masuk ke dalam pelukan Leo.
Dari nada yang terdengar, Vera benar-benar jujur pada rasa. Tak menampik rasa takut di dalam diri. Karena saat kita sangat mencintai seseorang, hal yang paling kita takutkan adalah kehilangan. Vera takut, jika Leo akan meninggalkan nya.
Beda Vera dengan Leo. Pria yang kini mengecup dahi sang istri merasa lega dan amat bahagia. Leo merasa lega, sang istri mengucapkan kata cinta padanya. Lega melihat wajah haru dan bahagia Vera. Wanita yang beberapa bulan ini terlihat murung dan lesu. Leo khawatir melihat Vera terus bersedih dan merasa tak sempurna.
Entah sudah berapa tespek yang berada di tong sampah rumahnya. Leo yang diam-diam mencari tau apa yang membuat sang istri tampak berbeda. Hingga, tak sengaja menemukan benda pipih dengan satu garis. Leo rutin memeriksakan tong sampah kamar mandi setiap pagi. Ia terus menemukan benda yang sama. Dan wajah kecewa yang sama. Itu membuat Leo ikut sedih. Pria ini tidak menekan Vera untuk persoalan keturunan. Bagi Leo, kehadiran Vera. Dan menjadi suami cinta pertama adalah hal paling membahagiakan.
Ia menikah bukan semata-mata untuk keturunan. Tapi, tentang menghabiskan waktu nya dengan wanita yang tepat dan hebat seperti Vera. Wanita yang memiliki hati baik. Wanita yang sopan pada yang lebih tua. Tidak merendah orang yang memiliki kekurangan. Wanita yang mencintai ke dua orang tuanya seperti ke dua orang tuanya sendiri. Tapi sayang nya, Vera tak tau apa yang membuat ia jatuh cinta. Wanita ini selalu berpikir ia tak pantas bersamanya. Itu membuat Leo sering gemas.
"Akupun sangat mencintai mu, my wife!" seru Leo.
Beberapa pegawai restoran menatap iri ke arah ke dua pasangan suami-istri itu.
...***...
Damar menghela napas pelan. Menatap sepupu nya yang terlihat enggan menyusui bayinya. Wanita cantik itu terlihat acuh dengan bayi merah yang baru ia lahirkan.
"Ana!" panggil Damar pelan.
"Apa lagi?" ketus Ana.
"Lihat lah wajahnya Ana. Bayimu terlihat sangat haus!" ujar Damar pelan.
__ADS_1
Ana membuang muka. Ia tidak ingin melihat wajah putranya. Bayi yang tidak tau siapa ayahnya.
"Aku ingin kita secepatnya balik ke Indonesia. Bukankah aku sudah melahirkan nya, seperti yang Abang Damar minta."
Damar mengambil alih bayi merah yang berada di box bayi ke dalam gendongannya. Menimang pelan sang keponakan.
"Bukankah lebih baik di sini. Amerika lebih baik dari negara manapun. Kau bahkan tidak membutuhkan kartu keluarga untuk nantinya menyekolahkan nya!"
"Siapa juga yang mau merawatnya. Kalau Abang mau, ya rawat saja sendiri. Abang yang ingin mempertahankan bayi itu. Aku ingin kembali ke Indonesia," tukas Ana.
Damar mengalihkan pandangannya pada Ana yang berada di atas ranjang Rumah Sakit.
"Tidakkah kau merasa bersalah padanya, Ana?"
"Tidak," jawab Ana cepat,"aku ingin pulang. Aku merindukan pria itu," lanjut nya tanpa tau malunya.
"Oh, God! Bagaimana kau masih memikirkan suami orang, An!" ujar Damar tak percaya.
Bola mata Ana berotasi malas. Damar benar-benar cerewet. Sudah cukup tujuh bulan ia mendengar kecerewetan Damar saat di Amerika ini. Pria itu bahkan menyewakan bodyguard dua puluh empat jam untuk mengawasi nya. Selama tujuh bulan berada di Amerika.
...***...
"Mau cari oleh-oleh apa, nih?" tanya Leo kala mengedarkan matanya di tokoh pernak pernik kayu dan anyaman khas Bali.
"Mau beli apa ya?" Vera terlihat berpikir keras.
Leo terkekeh. Sebelum mencubit pipi chubby Vera. Membuat sang empunya mengaduh sakit. Dan mencubit pinggang Leo sebagai balasan.
Ke duanya kembali menyusuri trotoar jalan. Ada banyak seniman pelukis yang berada di sana. Leo menarik Vera mendekati seorang seniman lukisan yang kebetulan kosong.
"Mau apa?" tanyanya kala sampai di depan pria yang berambut gondrong itu.
"Melukis kan kebahagiaan kita," jawab Leo asal.
__ADS_1
Vera hanya menggeleng kecil sebelum tersenyum senang.