Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Di Jodohkan


__ADS_3

Happy reading....


Berlian terdiam sambil menatap pria yang ada di hadapannya itu, dan dia juga sedang menatap kearah Berlian. Keduanya sama-sama terdiam dengan wajah yang kaget.


''Sayang, kok masih disitu sih? Sini duduk, Oma kenalin kamu sama Om Darwis dan putranya,'' ucap Mama Rose mengajak Berlian untuk duduk di meja makan.


''I-ya O-ma,'' jawab Berlian dengan nada yang gugup, kemudian dia berjalan ke arah Oma-nya dan duduk di samping Mama Rose.


''Oh iya Darwis, Zayden, kenalkan ini adalah Berlian. Dia cucuku, putrinya Dev dan Dea,'' Mama Rose memperkenalkan Berlian kepada Om Darwis serta putranya.


Berlian menangkupkan kedua tangannya di depan dada. ''Berlian Om,'' ucap Berlian sambil tersenyum canggung ke arah Om Darwis. Sedangkan Zayden hanya menatapnya dengan wajah yang datar.


Tidak Zayden pungkiri, di dalam hatinya dia begitu bahagia karena telah menemukan seseorang yang selama satu bulan ini dia cari. Namun hilang bak ditelan bumi, tetapi ternyata takdir membawanya bertemu kembali dengan gadis itu.


Mereka pun mulai makan malam bersama, tetapi Berlian tidak sanggup dan tidak berani untuk menengok ke arah Zayden, sebab wajah pria itu masih terangiang di ingatan nya Berlian tentang kejadian malam itu.


Dia tidak menyangka jika anak dari sahabat Oma-nya adalah orang yang telah merenggut kesucian nya. Berlian benar-benar tidak nyaman berada di sana, dan dia pun tidak berselera untuk makan.


Rasanya ingin sekali dia pergi dari meja makan dan masuk ke dalam kamar, tetapi Berlian tidak enak kepada semua orang yang ada di sana. Sebab Mamanya selalu mengajarkan tatakrama dan sopan santun saat berada di meja makan.


'Kenapa aku dipertemukan lagi dengan dia?Aku benar-benar membencinya. Aku tidak bisa memaafkan nya!' batin Berlian dengan kesal, saat melihat Zayden ada dihadapannya saat ini. Bahkan pria itu terus aja menatap kearah Berlian.


Setelah makan malam selesai, Mama Rose mengajak semua orang untuk duduk di ruang tamu. Karena ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Mama Rose dan juga Om Darwis.


Berlian sebenarnya enggan, tetapi Mama Rose meminta Berlian juga ikut andil dalam obrolan itu. Akhirnya gadis itu pun menurut dan tidak bisa menolak, dia melangkah mengikuti semua orang.


''Kita bertemu lagi gadis kecil,'' ucap Zayden dengan nada berbisik di sebelah Berlian.

__ADS_1


Wanita itu mendelik tajam kearah Zayden. Sedangkan yang dilihat hanya terkekeh kecil lalu berjalan mendahului baru Berlian.


'Dasar pria mesumm, untuk apa sih jadi undang ke sini? Kenapa juga dia harus anak sahabat dari Oma? Bikin kesel aja,' batin Berlian menggerutu dengan kesal di dalam hatinya.


Setelah semua duduk di ruang tamu, Mama Rose menatap kearah Berlian dan juga Zayde bergantian. Kemudian dia pun berkata, ''Sebenarnya ini adalah sebuah perjanjian, dan kamu juga tahu akan hal itu Dev?'' ucap Mama Rose sambil menatap kearah Dev.


''Perjanjian? Perjanjian apa, Ma?'' tanya Dev dengan bingung.


''Kamu ingatkan waktu istri Om Darwis melahirkan, dan kamu ada di sana. Nah, kamu ingat waktu almarhumah istrinya Om Darwis menyebutkan permintaan terakhirnya sebelum dia menutup mata, apa kamu ingat?''


Dev dan Dea saling melirik satu sama lain, kemudian Dev nampak berfikir apa wasiat terakhir dari almarhumah istrinya Om Darwis, dan seketika mata Dev membulat saat mengingat sesuatu.


''Iya Mah, Dev ingat!'' seru Dev.


Mama Rose tersenyum, sedangkan Dea dan juga Berlian saling melirik dengan wajah yang bingung. Kemudian Dea berbisik kepada Dev, ''Mas, kenapa?'' tanya Dea dengan penasaran. Kemudian Dev membisikan sesuatu di telinga Dea, membuat wanita itu mengerutkan dahinya dengan mata membulat.


'Dasar pria mesuum. Mau ku colok apa, mata dia?' batin Berlian saat melihat Zayden terus aja memperhatikan dirinya, dan itu membuatnya tidak suka.


''Berlian, Zayden. Sebenarnya ada sesuatu yang besar antara kalian.'' Mama Rose mencoba membuka pembicaraan.


Berlian dan juga Zayden melirik ke arah amama Rose, tapi entah kenapa perasaan Berlian benar-benar tidak enak, saat Omanyamengatakan ada sesuatu yang besar antara dirinya dengan pria yang pernah merenggut kesuciannya.


Akan tetqpi, Mama Rose meminta agar Dev saja yang menyampaikan kepada putrinya, sebab Dev adalah orang tua Berlian. Suasana begitu tegang dirasakan oleh Berlian, saat Mama Rose meminta Papanya untuk berbicara kepada dirinya.


''Sebenarnya ada apa sih, Pah?'' tanya Berlian dengan penasaran.


Dev menggenggam tangan putrinya, kemudian dia mengusap kepala Berlian dengan lembut.

__ADS_1


''Begini sayang, dulu saat istrinya Om Darwis itu melahirkan putranya yang bernama Zayden. Setelah itu beliau meninggal, tapi sebelum itu beliau berpesan, jika beliau akan menjodohkan putranya dengan anak Papa. Dan sekarang wasiat itu harus dijalankan, sebab Papa juga sudah berjanji kepada almarhumah tante Erin,'' jelas Dev.


''Tunggu dulu, Pah! Dijodohkan? Ma-ksud Papa, aku dijodohkan sama--'' Berlian menggantung ucapannya sambil menunjuk Zayden.


''Iya, kamu akan dijodohkan bersama dengan Zayden. Lagipula, kamu tidak punya pacar 'kan? Daffa juga pria yang berengsek. Papa yakin kok, Zayden laki-laki yang baik. Dia pria yang bertanggung jawab, tapi--''


Dev menggantung ucapannya sambil melirik arah Dea, Mama Rose dan juga Om Darwis. Dia seakan ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya kepada Berlian.


''Tapi apa, Pah?'' tanya Berlian dengan penasaran.


''Tapi anak Om ini bukan lajang lagi. Dia adalah seorang duda, karena dia dan istrinya telah bercerai. Dan Om harap, kamu mau untuk dijodohkan bersama dengan putra Om. Sebab, ini adalah wasiat terakhir dari almarhumah istri Om,'' ucap Om Darwis mengangkat bicara. Karena dia tahu Dev, merasa tidak enak jika harus mengungkapkan status Zayden saat ini yang seorang duda.


Berlian benar-benar kaget saat dirinya tahu jika dia telah dijodohkan dengan Zayden sadari bayi. Berlian pun menggeleng dengan cepat, kemudian ia beranjak dari duduknya.


''Tidak Pah, Mah, Oma! Dia bukan pria yang baik. Bagaimana mungkin Papa akan menjodohkan ku dengan pria sebrengsek dia?'' tolak Berlian dengan suara yang lantang, kemudian dia pergi dari ruang tamu menuju kamarnya.


Zayden kaget saat melihat reaksi Berlian yang menolak untuk dijodohkan dengan nya. Padahal dia sudah sangat senang, karena tidak usah dia mengejar Berlian, takdir telah berpihak kepadanya dan akan menyatukan mereka.


''Berlian, tunggu dulu, Nak! Kamu harus dengarkan dulu pembicaraan kami,'' ucap Dea memanggil putrinya. Namun Berlian tidak menghiraukan dan dia masuk ke dalam kamar.


''Mas, biar aku bicara sama Berlian ya. Maaf ya Om Darwis, Zayden. Jangan diambil hati ucapan Berlian. Maklum saja, mungkin dia masih trauma dengan lelaki,'' ucap dia dengan nada lembut. Kemudian dia pergi meninggalkan ruang tamu menyusul Berlian ke kamar.


''Memangnya, apa yang terjadi? Kenapa dia trauma dengan lelaki?'' tanya Om Darwis kepada Dev, sedangkan Mama Rose pun tidak tahu apa-apa dan dia juga melihat Dev dengan wajah yang bertanya-tanya.


''Berlian dikhianati oleh pacarnya, dan pacarnya itu berselingkuh dengan sahabatnya. Mungkin Berlian perlu waktu, tapi aku akan mencoba untuk berbicara kepada aberlian. Karena walau bagaimanapun, 'kan ini sebuah wasiat. Dan itu harus dijalankan bukan?'' jelas Dev sambil menatap kearah Zayden yang hanya diam saja tanpa berbicara sedikit pun.


'Jadi dia pernah disakiti oleh pria? Pantas aja reaksinya seperti itu. Mungkin juga dia membenciku, karena aku yang telah merenggut kesucian nya secara paksa?' batin Zayden merasa bersalah akan kejadian malam itu, di mana dirinya memaksa masuk untuk menerobos gawang yang masih tersegel.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2