Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Aku Antar Pulang


__ADS_3

Happy Reading ......


Saat ini Berlian sedang bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit bersama dengan Dea dan juga mama Linda, sebab hari ini dia tidak masuk ke dalam kampus. Berlian juga sudah mengatakan tentang kondisi Desi yang sudah sadar dari komanya.


Mereka pun pergi menggunakan mobil, diantar oleh sopir pribadi mama Linda. Kemudian pergi ke Rumah Sakit untuk menengok keadaan Desi.


Sedangkan di tempat lain, Tanisha dan juga Daffa sedang bertanya kepada teman kelasnya tentang keberadaan Berlian, karena mereka tidak melihat gadis itu. Biasanya Berlian sudah ada di kampus, tetapi hari ini mereka belum melihatnya sama sekali.


''Anit, lo tau nggak di mana Berlian?'' tanya Tanisha kepada salah satu teman kelasnya.


''Aduh, sorry Tani, gue nggak tahu di mana dia. Kayaknya nggak masuk ke kampus sih,'' jawaban Anita sambil membereskan bukunya kemudian keluar dari kelas.


Tanisha dan Daffa melirik satu sama lain, kemudian mereka duduk di salah satu bangku yang ada di taman. ''Gimana ini, sayang? Si Berlian nggak masuk lagi ke kampus.''


''Entah sayang, padahal rencana kita sudah mau dijalankan,'' jawab Daffa.


Mereka berdua benar-benar dendam kepada Berlian, karena gara-gara gadis itu, rambut mereka botak dan usaha kedua orang tua mereka juga bangkrut. Itu kenapa, semakin membuat kebencian yang ada di dalam hati dan jiwa keduanya mendarah daging.


''Kita tunggu dia ke kampus aja. Lagi pula, percuma 'kan kalau nggak ada orangnya,'' jawab Daffa. Kemudian Tanisha hanya menganggukan kepalanya.


Mereka tidak sadar, jika ada seseorang yang mendengar ucapan mereka berdua. Bahkan obrolan mereka sampai ke telinga Max.


.


.


Sesampainya Dea, Berlian dan juga mama Linda di Rumah Sakit. Mereka langsung menuju ke ruangan Desi, dan saat mereka masuk gadis itu sedang dicek keadaannya oleh Dokter.


''Bagaimana Dok, keadaan sahabat saya?'' tanya Berlian pada sang Dokter tampan yang berusia 27 tahun tersebut.

__ADS_1


''Keadaannya sudah jauh lebih baik, Nona. Mungkin dua hari lagi juga sudah bisa pulang, tapi tetap kami harus memantau keadaannya dulu sebelum diizinkan untuk pulang,'' jawab Dokter tersebut sambil tersenyum manis ke arah Desi.


Setelah memeriksa keadaan Desi, Dokter dan Suster pun keluar dari ruangan tersebut. Dan kini tinggallah Berlian, Dea dan juga mama Linda di sana. Lalu Berlian mendekat ke arah Desi dan memegang tangannya.


''Bagaimana keadaan kamu? Apa sudah jauh lebih baik? Apa masih ada yang sakit?'' tanya Berlian.


''Nggak ada! Cuma masih sedikit pusing dan lemas aja kok,'' jawab Desi sambil tersenyum.


Kemudian Dea mendekat ke arah Desi dan memegang salah satu tangannya. Dia berterima kasih, karena gadis itu telah menyelamatkan putri semata wayangnya. Walaupun dulu Desi mempunyai kesalahan yang fatal, tapi dia memaklumi itu, karena di sana dia juga adalah korban.


Desi benar-benar beruntung mempunyai sahabat seperti Berlianx apalagi keluarganya begitu baik kepada dia. Sebab walaupun dirinya sudah melakukan kesalahan yang fatal, tapi keluarga Berlian tetap memaafkannya, bahkan mau membiayai pembayaran Rumah Sakit.


Setelah menjenguk Desi, kini mama Linda dan juga Dea pamit untuk pulang, tetapi Berlian masih di sana menunggu Desi, sebab Max sebelum datang. Dia kasihan kepada sahabatnya, karena tidak mempunyai teman ngobrol sama sekali.


Setelah beberapa saat, mama Linda dan juga Dea pulang. Dua orang pria masuk ke dalam ruangan Desi, yaitu Max dan juga Zayden. Kedua pria itu lalu duduk di sofa, sedangkan Berlian memutar bola matanya dengan malas. Dia benar-benar tidak suka dengan kedatangan Zay, walaupun sebentar lagi pria itu akan menjadi suaminya


Dia mengerti dengan kesibukan sahabatnya, sebab Berlian memang mempunyai satu toko pakaian muslim, di mana menjual berbagai gamis, jilbab, mukena dan lain-lain.


Namun, saat Berlian masuk ke dalam lift, tiba-tiba saja satu tangan menahan pintu lift yang akan tertutup, dan ternyata itu adalah Zay. Dia pun masuk ke dalam dan berdiri di samping Berlian, sedangkan gadis itu hanya acuh saja, dia tidak peduli dengan kehadiran Zayden.


''Biar kuantar kamu pulang,'' ucap Zay.


Berlian menatap ke arah samping sekilas, kemudian dia kembali menatap ke arah depan. ''Tidak usah, Tuan. Saya bisa pulang sendiri kok,'' jawab Berlian.


''Tidak ada penolakan! Sebab ini perintah dari oma Linda,'' tutur Zay.


Mendengar nama omanya disebut, Berlian tidak punya pilihan. Dia hanya membuang naasnya dengan kasar. Kemudian mereka berjalan ke arah basement dan pergi dari Rumah Sakit, menuju toko di mana selama ini Berlian mengais rezeki.


Walaupun Berlian anak orang kaya, tapi dia tidak manja. Sebab dia tidak ingin merepotkan orang tuanya, dan lagi pula, Berlian ingin menjadi wanita yang mandiri dalam berkarir, tidak ingin bergantung kepada kekayaan milik papanya.

__ADS_1


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, keduanya sama-sama merasa canggung. Kemudian Zay berdehem kecil, mencoba menarik perhatian Berlian. Namun, gadis itu masih tetap menikmati pemandangan yang ada di luar jendela mobil.


''Bagaimana dengan fitting baju kemarin? Apakah lancar?'' tanya Zay.


''Maaf Tuan, Anda berbicara dengan saya?'' tanya Berlian sambil menunjuk wajahnya sendiri. Sebab Zay tidak menyebut namanya, jadi dia tidak tahu pada siapa pria itu bertanya.


Zay benar-benar harus mempunyai stok sabar menghadapi Berlian. Sebab gadis yang ada di sampingnya ini lumayan menyebalkan dan menguji kesabarannya.


''Tidak! Saya sedang berbicara pada kaca mobil. Jelas-jelas di sini adanya kamu, tidak ada patung sama sekali,'' kesal Zay sambil menekuk wajahnya.


Berlian menatap pria yang ada di sampingnya dari sudut ekor mata. Dia tersenyum saat melihat wajah merajuk Zay. Pria tampan dan dingin sepertinya bisa juga menekuk wajahnya dengan kesal.


Benar benar menggemaskan. batin Berlian.


''Oh, saya pikir Anda sedang berbicara sama kursi mobil?'' ledek Berlian. ''Fitting baju kemarin lancar kok, Tuan. Tidak ada kendala sama sekali,'' sambungnya lagi dengan cuek.


Setelah itu tidak ada pembicaraan kembali antara mereka. Keduanya sama-sama terdiam. Berlian juga bingung harus berkata apa, hingga tidak terasa hujan mengguyur begitu deras di luar.


Saat mobil berhenti di lampu merah, tatapan Berlian mengarah pada seseorang yang tengah berdiri di bawah tiang dengan kedinginan. Kemudian dia membuka pintu mobil, tapi ditahan oleh Zay.


''Kamu mau ke mana? Di luar hujan deras loh?'' tanya Zay saat melihat calon istrinya membuka pintu mobil.


''Aku keluar sebentar, ya! Apakah ada payung? Aku mau menghampiri seseorang,'' jawab Berlian. Kemudian tatapannya mengarah ke samping Zay, di mana ada sebuah payung lalu dia mengambilnya dan membukanya.


Zay melepaskan cengkraman di tangan Berlian, kemudian dia memperhatikan calon istrinya itu ke mana dia pergi. Dan ternyata menghampiri seseorang yang tengah berdiri kedinginan di pinggir jalan.


''Siapa dia? Kenapa Berlian menghampirinya?'' gumam Zay dengan tatapan bingung. Kemudian dia menjalankan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan, sebelah kedua orang tersebut.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2