Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Terasa Janggal


__ADS_3

HAPPY READING


Sesuai dengan saran dari sang Mama, Berlian mengerjakan shalat dan membaca ayat suci Al-quran untuk menenangkan hatinya. Dia mengadu kepada sang pencipta, dan memohon maaf karena telah soudzon akan jalan takdirnya.


Sementara itu di dalam kamar, Dea menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka, jika putrinya mengalami penderitaan yang begitu dalam. Sebagai seorang ibu, tentu saja Dea sangat sakit. Namun dia berusaha untuk tegar di hadapan putri semata wayang nya.


Jantungnya bagaikan di remas remas saat mengetahui kebenaran yang begitu memilukan. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Dev, saat mengetahui tentang apa yang menimpa kepada Berlian.


''Astagfirullah, apa yang kulakukan ya Allah? Sehingga Engkau memberikan cobaan yang begitu berat kepada putriku?'' ucap Dea dengan lirih sambil menangis tersedu-sedu.


Mama Rose begitu penasaran saat melihat Dea masuk ke dalam kamar dengan keadaan menangis. Kemudian dia berjalan ke arah kamar putranya, dan membuka pintu kamar itu secara perlahan. Seketika Mama Rose kaget, saat melihat Dea tengah menangis tersedu-sedu di pinggir ranjang.


''Sayang, kamu kenapa?'' tanya Mama Rose dengan panik saat berada di samping Dea.


Tanpa menjawab, Dea langsung menghambur memeluk tubuh mertuanya. Dia tidak tahu saat ini harus melakukan apa, karena sebagai seorang ibu perasaan Dea tercabik-cabik, bahkan hancur tidak berbentuk.


Mama Rose tidak bertanya kembali kepada Dea. Dia mengusap punggung menantunya, hingga setelah beberapa menit Dea sudah jauh lebih baik. Mama Rose pun mengambil air yang ada di atas nakas, lalu memberikannya kepada Dea. Dan wanita itu langsung meneguk air putih itu hingga tandas.


Dengan perlahan, Mama Rose membantu Dea untuk duduk di tepi ranjang. Kemudian dia menggenggam tangan menantunya.


''Ada apa? Apa yang dikatakan oleh Berlian kepada kamu? Apakah ini ada hubungannya dengan Zayden?'' tanya Mama Rose.


Air mata Dea kembali mengalir saat mendengar pertanyaan Mama Rose, rasanya hanya untuk berucap saja dia tidak sanggup. Suaranya bagaikan tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


Mama Rose yakin, jika telah terjadi sesuatu sehingga membuat Dea menangis begitu pilu. Sebab, Mama Rose tidak pernah melihat Dea menangis sampai seperti itu selama ini.


''Katakan pada Mama! Apa yang diucapkan oleh Berlian?'' tanya Mama Rose terus mendesak Dea. Namun wanita itu menggeleng dengan pelan.


Dea bimbang untuk mengatakan sebenarnya kepada Mama Rose. Dia takut jika Mama Rose akan syok, dan terjadi sesuatu pada wanita paruh baya itu. Sebab melihat dari usia Mama Rose juga sudah cukup tua untuk menerima kabar yang begitu mengagetkan.


''Maaf Mah, Dea tidak bisa bercerita. Dea juga masih shock,'' jawab Dea dengan suara yang lirih dan purau.


''Mama mohon. Karena Mama yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Zaydeb? Jujurlah kepada Mama Dea! Atau Mama yang akan menanyakan langsung kepada Berlian, dan mendesak nya untuk bercerita!'' ancam Mama Rose pada Dea.


Wanita itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap Mama Rose sambil menggelengkan kepala. Dia meminta agar Mama Rose tidak bertanya kepada Berlian. Karena dia sangat yakin, jika itu terjadi Berlian akan semakin tertekan dan perasaannya akan semakin hancur.


Dea tahu jika Berlian sedang menata hatinya kembali dari sebuah luka yang begitu dalam dan menganga. Dia yakin, tidak mudah bagi putrinya untuk melupakan kejadian malam itu, tetapi Berlian adalah wanita yang kuat. Dia bahkan mampu menyembunyikan luka sebesar itu dari Dea.


''Aku akan bercerita pada Mama, tapi aku mohon dengan sangat. Jangan Mama bicarakan ini pada mas Dev! Aku tidak ingin dia tahu akan hal ini, karena kalau sampai mas Dev tahu, dia pasti akan murka Mah,'' ucap Dea pada Mama Rose.


''Baiklah, Mama tidak akan membicarakan ini kepada Dev. Ini semua hanya akan menjadi rahasia kita,'' jawab Mama Rose dengan penuh keyakinan.


Dea menghela nafasnya dengan pelan, kemudian wanita itu berjalan ke arah jendela kamar. Tatapannya kosong mengarah ke depan, rasanya untuk bercerita dia tidak sanggup, tetapi dia sudah berjanji kepada Mama Rose untuk memberitahukan semuanya.


Akhirnya Dea pun menceritakan apa yang Berlian beritahu kepadanya tadi saat berada di kamar, tidak ada yang dia lewatkan sama sekali. Dan Mama Rose yang mendengar itu, tentu saja sangat syok. Bahkan tubuhnya luruh ke lantai saat mendengar jika cucu kesayangannya telah dinodai.


Wanita itu menangis tanpa bisa ditahan lagi, dia juga merasakan sakit dan hancur seakan dia yang berada di posisi Berlian saat ini. ''Kenapa mereka begitu jahat? Kenapa mereka tega melakukan ini kepada, Berlian?'' tanya Mama Rose dengan emosi yang sudah tidak bisa dia kontrol lagi.

__ADS_1


Dea segera memeluk tubuh Mama Rose, mencoba menenangkan wanita itu agar darah tingginya tidak kumat. ''Sabarlah Ma! Tenang dulu. Kita lagi mencari tahu kebenarannya. Apa menurut Mama tidak janggal?'' tanya Dea dengan ambigu.


Mama Rose terdiam, kemudian dia mengingat setiap cerita Dea, lalu dia pun mengangguk. ''Kamu benar, sayang. Semuanya terasa ambigu. Apa hubungan Zayden dengan ketiga pengkhianat itu? Kenapa semua terjadi secara bersamaan? Apakah Zayden mengenal mereka bertiga?'' tanya Mama Rose saat perasaannya sudah jauh lebih tenang.


''Itu yang sedang Dea selidiki, Mah. Itu yang sedang Dea pikirkan. Rasanya Zayden tidak mungkin mengenal mereka bertiga. Sebab, Zayden kan baru pulang Mah dari luar negeri? Dea rasa, ada yang tidak beres Ma,'' ujar Dea sambil menatap ke arah Mama mertuanya.


''Kamu benar! Mama akan meminta detektif pribadi Mama, untuk menyelidiki semuanya. Karena Mama yakin, Zayden tidak mungkin bekerja sama dengan para penghianat itu untuk menghancurkan Berlian. Terlebih Zayden itu sangat pintar seperti Papanya. Dia tidak mungkin seceroboh itu untuk menghancurkan keluarga kita.''


Setelah berbicara dengan Dea, Mama Rose kembali ke kamarnya. Dia menelpon detektif pribadinya untuk menyelidiki tentang apa yang terjadi kepada cucu kesayangannya.


Sedangkan Berlian sudah merasa jauh lebih baik, karena dia sudah menceritakan semuanya kepada sang Mama. Setidaknya perasaan Berlian sudah plong. Walaupun ada rasa takut di hatinya saat Papanya mengetahui tentang kebenaran yang selama ini Berlian sembunyikan.


''Sayang, kamu sedang apa?'' tanya Mama Rose saat melihat Berlian berada di dapur.


''In Oma, aku lagi buat jus mangga,'' jawab Berlian sambil menuang jus dari blender ke dalam gelas.


''Ayo ikut Omah sebentar,'' ajak Mama Rose kepada Berlian, dan Gadis itu langsung mengikuti langkah sang Omah menuju kamar Dea.


''Loh, kita mau ngapain ke kamarnya Mama?'' tanya Berlian dengan heran.


Dea juga yang baru saja melaksanakan shalat Dhuha, merasa heran saat melihat Mama Rose dan juga Berlian ada di kamarnya. Kemudian dia melipat mukena dan juga sajadah dan menaruhnya di atas ranjang.


''Mama dan juga kamu Nak, kenapa kalian ke sini?'' tanya Dea dengan dahi mengkerut.

__ADS_1


''Ada yang perlu kita bahas bertiga,'' ucap Mama Rose sambil duduk di tepi ranjang.


BERSAMBUNG


__ADS_2