
Happy reading.....
Setelah Desi sadar, tentu saja Max tidak lupa mengabari Berlian. Dia tahu, wanita itu sangat mengkhawatirkan keadaan Desi. Sehingga saat Berlian tahu jika sahabatnya sudah sadar, dia pun segera bergegas ke sana.
''Aku minta maaf ya, gara-gara nyelamatin aku, kamu harus terbaring di rumah sakit sampai koma,'' ucap Berlian dengan nada penuh penyesalan.
Desi tersenyum ke arah Berlian. Dia sama sekali tidak menyalahkan gadis itu, karena bagi Desi, mungkin itu adalah sebuah penebus dosa dari kesalahannya yang telah ikut menjebak Berlian saat berada di hotel.
''Aku tidak pernah menyalahkanmu. Anggap saja, itu adalah tebusan rasa bersalahku. Sebab aku juga ikut andil, karena menjebakmu waktu itu di hotel,'' jelas Desi dengan kepala menunduk.
Desi tahu, seberapa banyak dia meminta maaf kepada Berlian, tidak akan pernah mengembalikan kesucian wanita itu lagi. Dan sampai sekarang, rasa bersalah itu masih saja bersarang di hati Desi. Walaupun dia sudah mengorbankan nyawanya, bagi Desi itu belum cukup.
''Jangan berkata seperti itu! Aku sudah memaafkanmu. Aku tidak pernah membencimu. Mungkin, memang itu jalan takdir yang harus aku lalui. Setiap manusia mempunyai cobaannya masing-masing dan berbeda-beda, kita hanya menjalani apa yang sudah Allah tentukan, bukan?'' jelas Berlian dengan senyuman manis di bibirnya.
Max dan juga Zay saling melirik satu sama lain saat mendengar jawaban Berlian. Jauh di dalam hati Zay, dia begitu bangga, karena memiliki calon istri yang berpikiran dewasa. Walaupun terkadang, Berlian sangat menyebalkan.
''Terima kasih ya, kamu tidak membenciku saja itu sudah lebih dari cukup bagiku,'' ujar Desi sambil menggenggam tangan Berlian.
''Aku tidak pernah membencimu, ataupun Tanisha dan Daffa. Hanya saja bedanya, memaafkanmu lebih mudah, ketimbang memaafkan mereka berdua. Rasa amarah masih saja bersarang di dalam hati, walaupun aku sudah mencoba ikhlas,'' jelas Berlian.
Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika memang rasa amarah masih saja menggerogoti hatinya, saat mengingat bagaimana Daffa dan juga Tanisha yang sudah menghianati dan menjebaknya.
.
.
Hari ini, adalah hari di mana sebentar lagi Berlian akan menyandang status sebagai Nyonya Osmond. Dia akan menikah dengan Zay, pria yang telah merenggut kesuciannya.
__ADS_1
Saat ini, Dea dan juga Desi tengah berada di kamar gadis itu. Mereka akan mengantar Berlian menuju pelaminan, tetapi air mata terus saja mengalir di kedua pelupuk indah milik Dea.
''Mama, kenapa menangis terus? Aku 'kan cuma menikah? Tidak pergi kemana-mana,'' ucap Berlian sambil menggenggam tangan sang mama.
''Kamu memang tidak pergi ke mana-mana, sayang, tapi setelah kamu menikah, maka sepenuhnya kamu adalah milik suamimu. Namun, kamu harus sering main ke sini ya, menengok mama dan juga papa,'' ucap Dea sambil memeluk tubuh Berlian.
''Berlian akan sering ke sini, tapi jika Mama tidak keberatan, bolehkah Desi tinggal di sini, menemani Mama dan papa? Desi juga 'kan di Jakarta tidak mempunyai siapapun? zdia hanya tinggal sebatang kara. Saudaranya semuanya jauh!'' pinta Berlian sambil menatap ke arah Desi.
Gadis itu cukup kaget saat Berlian mengatakan, jika dia harus tinggal di kediaman Bachtiar. Desi tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya tinggal di rumah mewah tersebut. Dia juga merasa tak enak, jika harus terus-menerus merepotkan keluarga Berlian.
''Tentu saja, Mama mau. Nak Desi, apakah kamu mau untuk menemani Tante dan juga om tinggal di rumah ini? Setelah Berlian pergi dari sini, tentu saja kami akan merasa kesepian,'' pinta Dea sambil menatap Desi dengan tatapan memohon.
Desi terlihat bingung, kemudian dia menatap ke arah Berlian, dan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.
''Tapi Tante, Berlian, aku tidak mau membuat kalian repot,'' ujar Desi sambil menundukkan kepalanya.
Desi pun mengangguk, dia setuju untuk tinggal di kediaman Bachtiar. Karena melihat tatapan mama dari sahabatnya, membuat Desi tidak tega. Apalagi keluarga Berlian sudah banyak membantu dirinya.
Dengan langkah perlahan, Desi dan juga Dea menggandeng tangan Berlian menuruni tangga menuju pelaminan, di mana semua orang saat ini sedang berkumpul.
Semua mata tertuju ke arah tiga wanita itu. Mereka benar-benar terpana dengan kecantikan Berlian yang begitu anggun dan menawan. Bahkan Zay sampai tidak berkedip sama sekali.
''Tutup mulutmu, Nak! Jangan sampai lalat masuk!'' ledek Papa Erwin kepada putranya.
Zay yang tersadar segera menutup mulutnya. Dia benar-benar terpesona dengan kecantikan wanita yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai istrinya, dan Zay akan memiliki Berlian seutuhnya.
''Baiklah, karena mempelai wanita sudah ada di sini, bisa kita mulai acara ijab qobulnya?'' tanya penghulu kepada Dev dan juga Papa Erwin.
__ADS_1
''Bisa Pak, silakan dimulai acara ijabnya,'' jawab Dev mempersilahkan.
Walaupun Zay sudah pernah menikah, tetapi tetap saja, dia masih merasa gugup untuk mengucapkan ijab qobul. Tangannya sedikit gemetar, bahkan keringat mulai terlihat di pelipis pria itu, karena dia menahan kegugupan di dalam dirinya.
''Tidak usah gugup, santai saja, rileks. Ini bukan yang pertama kali bagi kamu Zay,'' bisik Papa Erwin di telinga putranya.
''Papa ini malah ngeledek, bukannya ngedoain lancar. Nanti kalau gagal, gimana mau belah duren?'' jawab Zay dengan nada berbisik. Namun mampu terdengar oleh Dev dan juga Berlian.
PLAK!
Dev memukul bahu Zay cukup keras. Dia tidak habis pikir dengan calon menantunya itu, yang ada di otaknya hanyalah belah duren dan duren saja. Sesekali seharusnya dia membelah semangka, bukan hanya durian saja yang nikmat.
''Jika di otakmu memang hanya ada duren, maka hafalkan Ijab qobulnya. Jika sampai salah, maka durianmu melayang, paham!'' ancam Dev dengan nada penekanan.
Papa Erwin, Max, Dea, Desi dan juga mama Linda hanya terkekeh saat mendengar ucapan Dev yang sedang mengancam calon pengantin yang sedang dilanda kebingungan dan kegugupan.
''Kamu ini Mas, bukannya nyemangatin, malah tambah bikin orang gugup?'' heran Dea sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah itu, penghulu mulai mengucapkan ijab qobul. Kemudian dengan satu tarikan napas, Zay sudah sah mempersunting Berlian dengan mas kawin satu buah rumah beserta satu perusahaan miliknya yang berada di Paris kepada Berlian.
Dia memang tidak ingin memberikan hal yang kecil. Karena bagi Zay, Berlian adalah wanita yang istimewa. Jadi dia akan memberikan yang terbaik untuk istrinya.
''Selamat ya sayang, mama harap, pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek. Apapun masalah yang nanti akan menerjang rumah tangga kalian, harus diselesaikan secara baik-baik. Jangan memakai emosi, dan harus saling percaya,'' ucap Dea saat Berlian dan juga Zay meminta restu dari para orang tua.
BERSAMBUNG......
CieeeešOm Duda akan Belah semangka Jugaš¤£š¤£
__ADS_1