
Happy reading.....
Tepat jam 04.30 pagi, Berlian mengerjapkan matanya saat mendengar adzan yang berkumandang tidak jauh dari hotel.
Wanita itu merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya, kemudian dia menengok ke arah samping, dan ternyata dia sedang tidur dengan berbantalkan lengan kekar suaminya.
Berlian menatap ke arah Zay dengan senyuman yang terukir indah di bibir mungilnya. Dia mengingat bagaimana pergumulan panas mereka semalam, di mana Zay menyentuhnya, bahkan melakukannya dengan sangat lembut.
Beda dengan pertama kali mereka melakukan itu, karena dulu Zay menganggap Berlian adalah seorang pelacur yang sengaja menjual kesuciannya.
Aku tidak menyangka, jika ternyata jodohku adalah seorang duda tampan. Rencana Allah memang tidak ada yang tahu. Semoga saja rumah tanggaku dan juga Om suami langgeng, sampai kakek nenek. Dan apapun prahara dalam rumah tangga kami, nanti bisa dilewati dengan kekuatan cinta. batin Berlian.
Saat wanita itu tengah melamun, tiba-tiba dia merasakan seseorang meniup wajahnya, dan ternyata itu adalah kelakuan dari Zay.
''Iiissh, Om suami ngapain sih niup-niup? Bau jigong tahu! Mana belum gosok gigi lagi!'' gerutu Berlian sambil menjauhkan wajahnya dari Zay, sedangkan satu tangannya menutup hidung.
Mendapat ledekan dari istrinya, Zay malah terkekeh. Kemudian satu tangannya menarik pinggang wanita itu, hingga menempel ke tubuhnya. Di mana mereka masih dalam keadaan polos, belum menggunakan apapun.
Jantung Berlian semakin berdebar dengan kencang, walaupun mereka sudah melakukannya, tetap saja, berdekatan dengan Zay membuatnya selalu menjadi gugup.
''Jika memang bau jigong, aku ingin membaginya denganmu!'' goda Zay sambil menaik turunkan alisnya. Kemudian dia mendekatkan bibirnya ke arah wajah Berlian, namun wanita itu segera menggelengkan kepalanya.
Dia mencoba menghindari ciuman dari suaminya, karena Berlian tidak mau jika bibirnya dicium dalam keadaan mereka belum melakukan gosok gigi.
Gesekan demi gesekan di tubuh polosnya, apalagi benda kenyal di dada Berlian, membuat kelelakian pria itu bangkit. Hingga Berlian bisa merasakan sesuatu mulai menusuk kedua pahanya di bawah selimut.
Melihat lampu merah sudah menyala, Berlian pun segera bangkit untuk menuju ke kamar mandi. Walaupun dia merasa di kedua pangkal pahanya terasa begitu sakit akibat pertempuran semalam.
__ADS_1
''Mau ke mana kamu, hmm? Sudah membangunkan singa, dan sekarang kamu tidak ingin bertanggung jawab? Terlalu kau Ani,'' ucap Zay sambil menangkap tubuh Berlian dan meniru suara Bang Rhoma. Sehingga wanita itu terlentang di kasur dengan posisi setengah polos.
Kedua tangannya segera menutup dua benda kenyal yang saat ini terpampang indah di hadapan Zay, namun segera dicegah oleh pria itu.
''Jangan ditutup! Lagi pula, aku sudah melihat semuanya. Bahkan setiap inti dari tubuhmu!'' goda Zay sambil mengedipkan sebelah matanya.
Berlian meneguk ludahnya dengan kasar, tubuhnya kembali meremang saat tangan Zay mulai nackal, memegang sesuatu yang begitu kenyal dan penuh di kedua telapak tangannya.
''Kita bermain satu ronde dulu, sebelum melakukannya di kamar mandi,'' tutur Zay. Setelah itu dia naik ke atas tubuh Berlian, dan mereka melakukan satu ronde di atas ranjang, setelah itu dilanjutkan ke kamar mandi.
Berlian ingin menolak, tetapi Zay selalu mengancam dengan kata, bahwa menolak suami adalah dosa. Jadi mau tidak mau, Berlian tidak mempunyai alasan yang lain.
''Kenapa cemberut aja sayang? Senyum dong! Nanti kalau kamu cemberut terus, disangkanya aku tidak memberikan nafkah batin lagi semalam sama kamu?'' ledek Zay sambil menoel dagu Berlian, saat mereka sudah bersiap untuk turun ke lantai bawah.
''Gimana aku nggak cemberut? Kamu tuh benar-benar kuat banget sih? Katanya cuma satu ronde, terus kenapa di kamar mandi juga?!'' kesal Berlian sambil melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan bibirnya sudah maju lima senti.
''Mencium istri itu pahala. Jangan menampilkan wajah seperti itu! Aku ini suami yang penyayang bukan?'' Lagi-lagi Zay menggoda Berlian, sehingga membuat istrinya semakin kesal.
''Nggak tau ah, Om suami nyebelin!'' Berlian merajuk sambil menghentakkan kakinya dengan kesal ke lantai. Kemudian dia keluar dari kamar hotel untuk menuju lantai bawah, di mana semua orang saat ini tengah menunggunya untuk sarapan.
Sesampainya di lantai bawah, semua orang sempat terkejut, saat Berlian dan juga Zay sudah bangun sepagi itu. Mereka pikir, pengantin baru pasti bangunnya akan lebih siang, karena semalaman melakukan olahraga yang panas.
''Kok pengantin baru jam segini udah bangun sih? Memangnya semalaman nggak bekerja keras bikin adonan?'' ledek mama Linda.
wajah berlian seketika bertemu Merah saat mendengar ledekan dari Omanya apalagi semua orang saat ini tengah menatap ke arah dirinya.
''Iya, aku pikir kamu semalam menghabiskan 10 ronde?'' timpal Desi.
__ADS_1
''Omah, Desi. Kalian kenapa sih ngeledekin aku terus? Nggak ada yang bikin adonan!'' jawab Berlian dengan wajah yang sudah merah seperti tomat rebus.
Semua orang terkekeh saat melihat Berlian malu-malu. Sedangkan Zay hanya memasang wajah datar saja. Memang pada dasarnya pria itu kulkas dingin berpintu 10, jadi ledekan seperti itu tidak membuatnya malu.
''Papa jadi penasaran, seberapa kuat menantu duda Papah ini memberikan kepuasan pada Putri papa yang cantik?'' Dev ikut-ikutan menggoda putrinya.
''Papa kok malah ikut-ikutan ngeledekin sih?'' rajuk Berlian.
''Tentu saja aku sangat kuat, Pa. Bahkan Putri Papa itu tidak akan pernah menyesal menikah denganku.'' Zay menjawab sambil membanggakan dirinya, membuat Berlian semakin kesal.
Dia benar-benar malu, karena diledek oleh semua orang. Jika tahu seperti itu, mungkin Berlian tidak akan turun dulu ke lantai bawah untuk sarapan. Lebih baik dia memakan sarapannya di dalam kamar saja.
Karena merasa kesal, Berlian menginjak kaki suaminya, hingga membuat pria itu mengaduh. Namun Berlian hanya bersikap cuek saja, seperti tidak terjadi sesuatu.
*R*upanya kelinci kecilku sedang merajuk. Jika seperti itu, wajahnya begitu manis. Ingin sekali aku melahapnya sekarang juga! Sayang, di sini ada Papa mertua. Bisa-bisa burungku kena tendang dari sangkarnya? batin Zaidan.
Selesai sarapan, Dea menanyakan apakah Berlian dan juga Zay akan tinggal di kediaman Bachtiar dulu, atau memang mereka akan langsung pindah ke rumah yang baru. Di mana rumah itu menjadi mas kawin untuk putrinya.
''Sepertinya aku akan langsung membawa Berlian pulang ke rumah baru kita, Mah. Tidak apa-apa 'kan? Tapi kami janji, akan sering main ke rumah Mama dan Papa,'' jawab Zay.
Dev memegang tangan istrinya sambil mengedipkan matanya. Dia mencoba memberi pengertian kepada Dea, jika saat ini Berlian sepenuhnya sudah menjadi milik Zay.
''Baiklah, tapi sering-sering main ke rumah ya!'' titah Dea sambil tersenyum manis, ldan dibalas anggukan oleh Zay dan juga Berlian.
''Karena Berlian dan juga Zayden sudah menikah. Lalu kalian berdua kapan menyusul?'' tanya mama Linda sambil menatap ke arah Desi dan juga Max bergantian.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1