
Happy reading....
Semua tertawa terbahak-bahak saat melihat celana di bagian kedua paha Zayden basah..Mereka pikir, pria tampan tersebut mengompol, karena ketakutan menaiki pohon kelapa.
"Kenapa pada ketawa? Emangnya ada yang lucu ya? Bukannya bersyukur aku bisa turun dengan selamat," gerutu Zay dengan wajah ditekuk.
Berlian mendekat ke arah suaminya, kemudian dia terkekeh, membuat Zay menatapnya dengan heran.
"Ini pada kenapa sih? Emangnya ada yang lucu?" tanya Zay yang merasa bingung dengan tingkah semua orang yang menertawakan dirinya.
"Gimana nggak lucu, Om suami. Aku nggak nyangka, ternyata Om sepenakut itu buat manjat pohon? Sampai harus ngompol di celana," kekeh Berlian sambil memegangi perutnya yang terasa begitu keram.
Zay merasa heran, sebab dia tidak merasa mengompol. Kemudian pria itu menatap ke arah bawah dan benar saja, celananya basah . Namun seketika dia memutar bola matanya dengan malas.
"Ini tuh bukan cairan ompol. Kalian ini ada-ada aja! Kalau nggak percaya, sini coba cium sayang! Ini bau pesing apa nggak?" ujar Zay dengan ketus.
"Ya ampun, mana ada sih maling mau ngaku. Udah, lebih baik sana kamu ganti celana! Jorok banget, udah tua juga masih suka ngompol?" ledek Dev.
"Ini bukan ompol Papa, di atas itu ada genangan air dari daun kelapanya tadi, tidak sengaja menimpa ke arah celana. Bukan ompol," jawab Zay.
"Masa sih, Om? Ahh, Om suami malu ini buat ngakuin?" ledek Berlian sambil menyenggol bahu suaminya.
"Ya ampun, sayang. Kamu ini nggak pernah percayaan banget sih sama suaminya? Sini cium! Buktiin sendiri, bau pesing apa nggak!" kesal Zay sambil menarik tangan Berlian agar mencium bagian celananya.
Namun, seketika gadis itu langsung menjauh. Wajahnya sudah merona malu, saat suaminya sendiri tanpa malu menarik dirinya untuk mencium bagian kedua pangkal paha, di hadapan semua orang.
"Kenapa menatapku tajam seperti itu? Kamu 'kan tidak percaya? Ya sudah, cium sendiri lah!" ujar Zay.
"Sudah, sudah. Kalian ini kalau mau ciam-cium, sono di kamar saja, jangan di sini! Kasihan para jomblo?" ledek Dev sambil menatap ke arah Max dan juga Desi.
.
.
Malam telah berlalu, saat ini semua tengah berkumpul di halaman, karena ada acara bakar-bakar jagung bersama dengan api unggun. Tidak lupa, Bagus juga sudah pulang, dan dia sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya.
Namun, salah kedua teman Bagus yang berusia 30 tahun, menatap ke arah Desi terus-menerus. Pria itu sangat tertarik dengan Desi, sedangkan yang satunya menatap ke arah Berlian.
Zay yang melihat hal itu, menjadi geram. Dia tidak rela jika istri cantiknya dinikmati oleh pria lain. Kemudian dia mendekat ke arah Berlian, lalu mendekap tubuhnya dengan erat.
Semua orang yang ada di sana tentu saja sangat heran, saat melihat tingkah Zay. Begitu pula dengan Berlian. Dia merasa risih, karena di sana banyak orang yang sedang menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Om suami apaan sih? Lepasin, malu tau dilihatin orang tuh! Di sini lagi banyak orang juga, main peluk-peluk aja. Nanti diledekin sama semua, gimana?" bisik Berlian sambil mencoba untuk melepaskan pelukan Zay.
"Tidak mau! Biar aja, biarin pria itu tahu, kalau kamu itu hanya milikku!" jawab Zay dengan ketus, sambil menatap tajam ke arah pria yang saat ini tengah menatap istrinya.
"Pria siapa sih?" tanya Berlian dengan bingung.
"Makanya, kamu tuh jadi orang harus peka sedikit, jangan terlalu cuek dengan sekelilingmu," tutur Zay sambil memegang jagung yang sedang dibakar.
Berlian menatap heran ke arah semua orang, namun memang saat ini mereka tengah menatap dirinya. Dan itu benar-benar membuat Berlian tidak nyaman. Dia sesekali memberontak untuk melepaskan pelukan suaminya yang begitu erat, namun tetap saja, semakin Berlian berontak, semakin Zay mengeratkan pelukannya.
Akhirnya berlian pun hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini, karena menolak juga percuma.
"Yaelah, kalau mau mesra-mesraan itu lihat tempat dulu. Dasar mantan terong karatan!" ledek Dev tanpa menoleh ke arah Zay.
Merasa sindiran itu untuknya, Zay pun membalas, "Kalau memang Papa cemburu, ya udah, ajak Mama ke kamar lah! Bikin lagi adek bayi untuk aku dan Berlian!" tantang Zay.
"Dasar menantu edan!" gerutu Dev sambil melemparkan jagung dan langsung ditangkap oleh Zay.
Sedangkan mama Linda, bu Siti dan juga ayah Rozak hanya menggelengkan kepalanya saja, melihat perdebatan mertua dan menantunya itu. Entah apa yang membuat mereka seperti Tom and Jerry, tidak pernah akur satu sama lain, seperti memiliki dendam kesumat.
Sementara pria yang menatap ke arah Berlian tadi masih terus saja melihatnya, dia bahkan tidak peduli saat Zay merangkul pundak Berlian. Karena wajah cantik wanita itu, membuat siapa saja terpesona.
"Pah, apakah di sini ada besi yang sudah dibakar? Aku ingin sekali mencolok mata seorang pria yang sejak tadi menatap ke arah istriku!" geram Zay dengan rahang mengeras, sambil menatap pria yang tengah melihat ke arah Berlian.
Sementara itu pria yang satunya terus saja menatap ke arah Desi. Tadinya Max pikir pria itu menatap ke arah mama Linda yang saat ini tengah berada di samping Desi. Namun ternyata dia salah.
Max pun melakukan hal yang sama seperti Zay, dia merangkul pundak Desi di hadapan semua orang, dan itu membuat semua menatap ke arahnya.
Desi sampai tersentak kaget, saat tiba-tiba saja Max merangkulnya dengan erat di hadapan semua orang. Wajahnya sudah merah merona malu, karena dia pasti akan menjadi bahan ledekan, seperti halnya Berlian dan juga Zay.
"Ternyata di sini ada yang nggak mau kalah sama Zay dan juga Berlian? Makanya Max, dihalalin dulu, biar apa-apa itu enak. Ini belum sah juga, udah main rangkul-rangkul aja? Nggak lihat tempat?" ledek Dev sambil menggelengkan kepalanya.
Mama Linda yang melihat itu segera melepaskan tangan Max di bahu Desi. "ajangan pegang-pegang, sebelum halal!" tegas mama Linda.
Mendengar itu, Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sebenarnya merangkul Desi, hanya untuk menegaskan kepada pria yang sejak tadi terus menatap ke arah calon istrinya tanpa berkedip sama sekali.
"Habisnya ada mata buaya yang jelalatan, liatin Desi terus. Jadi aku---"
"Oalah ... jadi kalian berdua ini lagi cemburu, sebab pasangan kalian dilihatin sama pria lain? Ya ampun! Macam anak bocah aja sih? Yang satunya terong udah karatan, yang satunya, terong belum nyemplung?" ledek Bagus.
"Berisik!" ketus Zay dan Max bersamaan ke arah Bagus.
__ADS_1
Semua orang benar-benar terhibur dengan kelakuan para pria tersebut. Bahkan Dea benar-benar bahagia, bisa merasakan kehangatan keluarganya kembali. Begitupun dengan bu Siti dan juga ayah Rozak, yang sudah lama tidak berkumpul dengan putrinya. Apalagi sekarang di sana mereka sudah mempunyai cucu, sehingga rumah itu terasa begitu ramai.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, dan saat ini semua sudah tidur di kamarnya masing-masing, tetapi Max tidak tidur di kamar, sebab dia tidak kebagian. Akhirnya pria itu pun hanya tidur di ruang tamu saja, ditemani oleh Bagus dan juga ayah Rozak serta Ibu Siti.
Sementara mama Linda dan juga Desi satu kamar. Sedangkan Zay dan Berlian tidur di kamar yang lain.
"Sayang, di sini panas sekali. Tidak ada AC, ya?" bisik Zay sambil memeluk tubuh Berlian dari belakang.
"Nanti makin malam itu terasa makin dingin Om suami," jawab Berlian.
Namun Zay tidak menghiraukan ucapan istrinya. Dia membuka pakaiannya, hingga bertelanjang dada, dan itu menampilkan otot-otot kekarnya dengan tujuh kotak roti sobek yang ada di perutnya.
"O-Om sua-mi mau ngapain?" tanya Berlian dengan gugup.
"Aku gerah, tidak tahan tanpa AC. Biarkan aku tidur seperti ini. Kalau bisa, ingin sekali kubuka semuanya, tapi aku ingin kamu juga melakukannya?" goda Zay sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Berlian.
"Dasar suami pictor!" kesal Berlian. Sedangkan Zay hanya terkekeh kecil, mendengar runtuka istrinya.
Hari kian malam, saat ini sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Zay yang tadinya merasa kepanasan, sekarang dia malah menggigil kedinginan. Padahal sudah memakai selimut. Kemudian pria itu mengambil bajunya, namun seketika ide brilian muncul di kepalanya.
Zay mulai menggoda Berlian, meniup-niup telinga istrinya. Tidak lupa, satu tangannya dia masukkan ke dalam baju, menggenggam sesuatu yang penuh di telapak tangannya.
"Eemh, Om suami, ngapain sih? Aku ngantuk tau," ujar Berlian yang sedikit terusik tidurnya.
"Aku kedinginan sayang," jawab Zay sambil memeluk tubuh Berlian dengan erat. Sedangkan tangan satunya sedang memainkan permen coklat milik istrinya.
"Aduh Om suami, ini masih malam. Aku ngantuk." Berlian berkata sambil mencoba menyingkirkan tangan nakal suaminya, namun Zay malah semakin mempermainkannya.
"Aku akan membiarkanmu tidur, tetapi kamu harus membantuku untuk menghangatkan tubuh ini!" pintanya.
"Aduh, nanti aja, besok ya! Aku beneran ngantuk ini," jawab Berlian sambil terus memejamkan matanya. Namun tangannya terus memberontak.
Namun bukan Zay namanya, jika dia menyerah begitu saja. Pria itu terus saja mengganggu tidur istrinya, sampai membuat Berlian akhirnya menyerah dan membalikkan tubuh.
Melihat itu, Zay tersenyum senang..Kemudian dia mulai menyatukan bibir mereka, dan sedikit demi sedikit dengan perlahan sentuhan lembut dan memabukkan dilakukan oleh pria itu, hingga penyatuan pun terjadi di bawah dinginnya malam.
Rasa dingin yang dirasakan oleh Zay pun tidak terasa lagi. Bahkan yang saat ini ia rasakan hanyalah gelora panas yang ada di dalam tubuhnya. Apalagi mereka sudah menghabiskan dua ronde dalam waktu kurun dua jam, dan itu membuat Berlian benar-benar kelelahan, sehingga wanita itu akhirnya tidur kembali.
Padahal selama melakukan pergulatan panas, Berlian tidak membuka matanya. Dia merasakan semua itu dengan mata tertutup, walaupun mulutnya mengeluarkan sebuah suara yang sangat seksi di telinga suaminya.
'Benar-benar mantan terong karatan. Dia tidak membiarkanku istirahat dalam semalam,' batin Berlian merutuki suaminya yang kelewat terlalu haus.
__ADS_1
BERSAMBUNG......