
Happy reading......
Zayden kembali ke kediaman Bachtiar, sebab tadi mama Linda menelpon pria itu, karena Berlian ngotot ingin tetap ke Rumah Sakit menjenguk Desi. ,,Kenapa dia sangat keras kepala, sekali sih? Tidak kusangka, gadis seanggun dia bisa mempunyai sifat keras kepala seperti itu?'' gerutu Zay sambil menyetir mobilnya.
Sementara itu di kediaman Bachtiar, saat ini Berlian tengah dibujuk oleh mama Linda untuk tidak pergi ke sana, karena wanita itu khawatir pada cucunya, sebab seharian Berlian belum beristirahat.
''Oma, Berlian mohon izinkan aku pergi ke Rumah Sakit. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Desi?'' Lagi-lagi Berlian memohon, akan tetapi Mama Linda menggelengkan kepalanya.
''Bukannya Oma tidak ingin mengijinkan kamu pergi ke sana, tapi ini sudah larut malam. Kalau kamu ke sana, besok bagaimana dengan kuliahmu? Lagi pula, masih ada esok hari Berlian. Tolong jangan keras kepala.'' Oma Linda berkata dengan nada yang frustasi.
Dia tahu perasaan cucunya saat ini seperti apa, gadis itu pasti merasa khawatir dan bersalah kepada sahabatnya, karena walau bagaimanapun Desilah yang menyelamatkan hidupnya. Bahkan sampai terbaring kritis di Rumah Sakit.
Tak lama mobil Zay terparkir di halaman kediaman Bachtiar, kemudian pria itu pun masuk lalu langsung menuju kamar Berlian. Dia melihat Mama Linda sedang membujuk gadis itu untuk tidak pergi ke Rumah Sakit.
''Kenapa kau begitu keras kepala sekali? Tidakkah kau ini kasihan dengan Oma-mu? Lihatlah! Dia sudah tua, dan kau malah membuatnya semakin sedih. Lagi pula, masih ada esok hari. Pagi-pagi kita bisa ke sana, tidak usah malam ini. Lihat, jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Apa kau yakin ingin ke sana? Bahkan pasien tidak boleh menjenguk, jam besuk sudah tutup.'' Zaidan berkata dengan nada yang tegas dan juga dingin.
''Kau tidak mengerti, aku---''
''Aku sangat mengerti perasaanmu. Aku tahu, kau sangat cemas, tapi tidak seperti ini caranya. Masih ada esok, sekarang lebih baik kau tidur. Setidaknya istirahatkan badanmu!'' Zay lagi-lagi membantah, kemudian dia berjalan ke arah Berlian dan juga Mama Linda, lalu dia mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya.
''Maaf,'' ucap Zay sambil menyuntikan sesuatu ke lengan Berlian. Wanita itu terperanjat kaget dan menatap Zayden dengan mata membulat, kemudian perlahan kedua mata indah itu pun tertutup rapat dan Berlian tertidur.
__ADS_1
''Zayden, apa yang kamu lakukan!?'' teriak Mama Linda dengan kaget, saat melihat Zay menyuntikkan sesuatu ke tubuh cucunya.
''Oma tidak usah khawatir, ini adalah obat bius. Dia akan tertidur, setidaknya malam ini dia harus beristirahat,'' jelas Zayden sambil menyelimuti tubuh Berlian.
Mama Linda yang mendengar itu tentu saja merasa tenang, yang dikatakan pria tampan itu memang benar, jika Berlian harus beristirahat. Setelah itu Mama Linda pun keluar dari kamar Berlian, sedangkan Zay tidur di ruang tamu, karena dia ingin memastikan Berlian tidak kabur ke Rumah Sakit.
Mama Linda tadinya menyuruh Zay untuk tidur di kamar tamu, tapi pria itu menolak. Hingga tanpa sadar matanya terpejam, walaupun dengan kaki menggantung, karena postur Zay yang tinggi sehingga sofa di ruang tamu pun tidak cukup menampung tubuhnya.
Pagi telah tiba, kicauan burung terdengar begitu indah menyejukkan hati. Semilir angin yang segar menerpa, menggoyangkan apa saja yang berada dalam jangkauannya.
Di lantai atas, Berlian mengerjapkan matanya, kemudian dia menggeliat dengan kecil. Tangannya mengucek kedua mata indahnya, lalu Berlian pun bangkit dan menguap. ''Ini sudah jam berapa, ya?'' lirih Berlian dengan suara yang serak, kemudian dia mengambil jam weker yang ada di samping tempat tidurnya.
''Astaghfirullahaladzim! Ini sudah jam 07.00. Ya Allah, aku kesiangan, nggak shalat subuh!'' kaget Berlian saat melihat Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Kemudian wanita itu pun segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu dia meng-qadha Shalat subuh sekalian dengan Shalat Dhuha.
''Pria itu pasti menyuntikkan obat tidur deh, sebaiknya aku siap-siap sekarang. Aku ingin melihat keadaan Desi. Lagi pula, kuliah juga mulainya jam 10.00,'' gumam Berlian sambil memoles wajahnya dengan make-up tipis.
Setelah siap dia turun ke lantai bawah menuju meja makan, dan di sana sudah ada Mama Linda yang menyambutnya bersama dengan Zayden. Pria itu sudah bangun, bahkan sudah membersihkan dirinya dan mengganti bajunya.
'Kenapa sih duda nyebelin itu masih ada di sini, sih?' batin Berlian saat melihat Zay dengan tatapan tidak suka.
''Kamu sudah bangun, sayang? Sini duduk, kita sarapan dulu!'' ajak Mama Linda sambil menepuk kursi di sebelahnya, kemudian Berlian duduk di sana dan meminum susu buatan Omanya.
__ADS_1
''Tuan, kenapa Anda masih ada di sini? Saya kira Anda sudah pulang tadi malam, setelah menyuntikkan obat tidur ke tubuh saya,'' sindir Berlian dengan wajah ditekuk.
''Aku hanya ingin memastikanmu saja, lagi pula, kau akan ke Rumah Sakit, 'kan? Jadi aku akan mengantarmu ke sana,'' jawab Zay sambil makan sarapannya.
''Oh, tidak usah, Tuan! Saya bisa sendiri kok,'' tolak Berlian dengan cepat.
Akan tetapi, Mama Linda tetap memaksa agar Berlian diantar oleh Zay. Karena wanita itu masih trauma jika cucunya akan dicelakai lagi oleh Tanisha dan juga Daffa. Padahal wanita paruh baya itu tidak tahu, jika dua penghianat yang ingin mencelakai Berlian sudah ditangkap dan disekap oleh Zay.
Saat keduanya akan keluar dari kediaman Bachtiar, tiba-tiba mobil sedan berwarna putih masuk, dan ternyata itu adalah orang tuanya Berlian yaitu Dea dan Dev.
Dea yang baru saja turun dari mobil seketika langsung menghambur memeluk tubuh putrinya. Dia benar-benar cemas dengan keadaan Berlian, kemudian dia menatap gadis cantik itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu memutar-mutar badan Berlian.
''Astagfirullah, Mama. Ini badan, bukannya bola, ngapain diputar-putar? Pusing tahu, Ma!'' kesel Berlian merasa pusing saat Dea membolak-balik badannya.
''Kamu nggak papa, 'kan? Ada yang luka nggak? Atau mereka ngapain kamu? Kamu disakitin nggak sama mereka?'' tanya Dea dengan wajah yang cemas, begitupun dengan Dev dia juga mengkhawatirkan tentang keadaan putrinya.
Berlian menggeleng, kemudian dia menjelaskan jika tidak terjadi apa-apa dengannya. Akan tetapi Desilah yang kenapa-napa, sebab menyelamatkan dirinya. Dan Dea yang mendengar itu tentu saja sangat sedih, walaupun dia juga sebenarnya kecewa kepada Desi.
Sementara Dev menatap ke arah Zay, dengan sebuah kode lewat matanya. Dan Zay yang melihat itu tentu saja sangat mengerti, kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan kecil.
''Ya sudah, kalian ke Rumah Sakitlah, lihat Desi. Sayang, kamu sebaiknya masuk ke dalam rumah! Kamu juga 'kan, masih capek baru datang. Aku akan keluar sebentar,'' ujar Dev sambil kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
BERSAMBUNG......