Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Masuk Kampus Kembali


__ADS_3

Happy reading....


Malam ini semua sudah berkumpul di meja makan, Berlian juga sudah merasa jauh lebih baik setelah bercerita kepada sang Mama, dan dia berencana akan masuk kuliah besok.


Berlian tidak bisa terus menghindar dari ketiga orang itu. Sebab, walau bagaimanapun dia harus menghadapi mereka. Walaupun Berlian tahu itu sangatlah sakit dan sulit. Namun Berlian harus kuat di hadapan ketiga penghianat itu.


Dia tidak mau mereka tertawa senang di atas penderitaan nya. Dia harus kuat, Berlian akan membuktikan kepada mereka jika Berlian bukan gadis yang lemah, dan mampu untuk tindas. Dia akan membuat mereka menyesal telah melakukan itu kepadanya.


''Berlian, apa kamu mau pindah kampus saja?'' tanya Dev pada putrinya di sela-sela makan malam.


Berlian yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya, seketika menaruh kembali sendok itu di atas piring. Kemudian dia menatap kearah sang Papa dengan wajah kaget.


''Pindah? Kok pindah, Pah? 'Kan, Berlian dua bulan lagi sudah wisuda. Kenapa harus pindah?'' tanya Berlian dengan tatapan bingung ke arah Papa-nya.


''Papa sudah dengar semuanya. Kamu dikhianati 'kan sama anak ingusan itu, dan kedua teman kamu? Papa tidak ingin anak ingusan itu menggoda kamu lagi. Papa ingin kamu pergi dari Indonesia, biar dia tidak bisa untuk mendekati kamu lagi,'' jelas Dev sambil meminum air putih yang ada di gelas.


Berlian menggeleng dengan cepat. ''Tidak, Pa. Berlian 'kan sudah mau lulus kuliah. Lagipula, Berlian tidak akan terjerat ke dalam jurang yang sama untuk kedua kalinya. Berlian tidak akan tergoda oleh dia, Pa. Insya Allah, Berlian bisa untuk menjaga hati Berlian dari pria seperti Daffa,'' jawab Berlian meyakinkan sang Papah.


Dev menatap kearah putrinya. Dia benar-benar beruntung, karena putrinya wanita yang kuat seperti Dea. Dan Dea juga menurunkan sifat lembutnya kepada diri Berlian. Dev pun tidak jadi memindahkan Berlian ke luar Negeri.

__ADS_1


Berlian tidak menyangka, jika Papa-nya mengetahui dan mendengar pembicaraannya dengan sang Mama tadi siang. Berlian pikir, Papa-nya sudah berangkat ke kantor. Sejujurnya Berlian bukannya tidak ingin pindah dari kampus, hanya saja sangat nanggung. Sebab dua bulan lagi dia akan lulus kuliah.


''Mama setuju dengan Berlian, Pah. Duq bulan lagi 'kan dia akan wisuda. Masa mau pindah? Harusnya kalau mau pindah 2 tahun yang lalu, Pah. Lagi pula, Berlian harus menunjukkan kepada mereka, jika apa yang mereka bertiga lakukan kepada putri kita, tidak berpengaruh apapun. Putri Mama ini wanita yang kuat. Mama yakin kok, kalau kamu mampu untuk mengatasi mereka bertiga. Dan Mama sangat yakin, mereka pasti menyesal karena telah menyakiti dan menghianati kamu,'' ucap Dea memberi support kepada putrinya sambil menggenggam tangan Berlian, dan mengusap nya dengan lembut.


Berlian benar-benar beruntung karena mempunyai orang tua yang begitu menyayanginya. Maklum saja, dia adalah anak pertama dan juga anak satu-satunya. Dulu Dea pernah hamil anak kedua, tetapi Dea harus kecelakaan karena musuh Dev. Dan Dea harus kehilangan rahimnya, sehingga dia tidak bisa untuk mengandung lagi.


Malam kian larut, Berlian masih berdiri di pagar balkon sambil menatap bintang yang ber-kelap-kelip di atas langit. Satu bintang dengan cahaya yang begitu terang membuat Berlian menatapnya tanpa jenuh.


Pikirannya kembali menerawang kemalam naas, di mana kesucian yang telah di renggut paksa oleh seseorang yang sama sekali tidak dia kenal. Hati Berlian seketika merasa sakit, karena membayangkan bagaimana dia memohon dan menangis kepada pria itu. Namun, pria itu malah terus meng-gempur badannya tanpa henti.


'Untung saja aku sudah meminum pil kontrasepsi. Jadi benih yang pria itu tanamkan di rahim-ku tidak jadi,' batin Berlian sambil menundukkan kepalanya.


Memang sejak kejadian itu, Berlian pergi ke apotik untuk membeli pil kontrasepsi. Dia tidak ingin mengandung anak dari seseorang yang tidak dikenal. Berlian tidak ingin hidupnya seperti berada dalam novel-novel yang pernah dia baca, di mana hamil setelah di tiduri oleh pria yang tidak dikenal.


Wajah pria itu tidak bisa Berlian hapus dari pikirannya, dan dia tidak akan pernah melupakan malam itu. Malam yang menjadi kehancuran hidupnya, dan Berlian tidak akan pernah mau untuk memaafkan pria yang sudah merenggut kesucian nya.


*********


Hari ini Berlian sudah siap untuk pergi ke kampus, dia sudah menyiapkan mental untuk bertemu dengan Daffa, Desi dan juga Tanisha. Bahkan Dev menyuruh satu anak buah untuk mengawal Berlian dari jauh. Sebab dia tidak mau jika dikawal dari dekat, Berlian malu kepada teman-temannya.

__ADS_1


Setelah mobil sampai di pelataran kampus, Berlian memejamkan matanya dan mengambil nafas dengan dalam kemudian menghembuskan nya dengan pelan melalui mulut. ''Bismillah ... Berlian kamu pasti bisa untuk menghadapi mereka. Jangan lemah Berlian! Mereka sudah jahat sama kamu, jangan biarkan mereka masuk kembali ke dalam hidup kamu!'' Berlian mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.


Setelah itu dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam kampus diikuti oleh pengawalnya dari jauh. Berlian berjalan sambil sesekali mengangguk dan tersenyum, saat teman-temannya menyapa dirinya.


Memang di kampus, Berlian cukup terkenal. Karena selain orang tuanya yang kaya raya, Berlian juga mempunyai paras yang begitu cantik. Sehingga siapapun yang melihat Berlian, pasti akan terpana dan terpikat. Bahkan Berlian bisa dibilang masuk ke dalam katagori primadona kampus.


''Pagi Berlian, ya ampun ... lu kemana aja? Satu bulan nggak masuk kampus. Lo sakit atau lu lagi ada masalah keluarga?'' tanya Septi,.salah satu teman kelasnya Berlian.


''Pagi juga, enggak kok. Aku cuma lagi ada masalah keluarga aja, makannya aku butuh ketenangan dan ga masuk kampus dulu. Gimana, kampus amankan?'' tanya Berlian berbasa-basi sambil berjalan menuju kelas.


''Aman, tenang aja. Selagi ada gue, udah pasti kampus itu nggak akan porak-poranda,'' jawab Septi sambil terkekeh dan Berlian pun ikut tertawa mendengarnya.


Saat Berlian masuk ke dalam kelas, di sana sudah ada Desi, Tanisha dan juga Daffa. Namun, Berlian acuh. Dia berjalan menuju ke kursinya tanpa menghiraukan ketiga orang itu.


Daffa, Tanisha dan juga Desi kaget saat melihat Berlian masuk kedalam kampus. Mereka pikir, Berlian tidak akan masuk sampai hari wisuda, tetapi ternyata mereka salah. Kemudian Daffa hendak berjalan ke arah Berlian, namun ditahan oleh Tanisha.


''Jangan samperin cewek jalaang itu! Ngapain kamu samperin? dDia itu sudah ternoda,'' ucap Tanisha dengan nada sedikit meninggi, agar semua orang mendengarnya. Dan benar saja, semua mata tertuju kepada Tanisha lalu bergantian melihat ke arah Berlian.


''Tanisha, lo kok ngomongnya kayak gitu sih? Berlian ini 'kan sahabat lo? Harusnya lo jangan ngomong kayak gitu?'' ujar Septi tidak terima saat Tanisha menyindir Berlian.

__ADS_1


''Halaah ... lo nggak usah ikut campur deh. Emang bener kok yang gue bilang. Dia itu wanita jalaang. Dia itu udah nggak suci. Modelnya aja berhijab, tapi kelakuan melebihi lontee!'' sindir Tanisha, sambil tersenyum sinis ke arah Berlian.


Bersambung


__ADS_2