
Happy reading.....
Berlian terdiam sambil membuka buku pelajarannya, dan Tanisha yang melihat itu malah semakin gencar untuk menghina Berlian, hingga membuat anak-anak di dalam kelas itu menyoraki gadis berhijab itu.
Lama-lama Berlian benar-benar marah. Kemudian dia menggebrak meja dengan keras, sehingga suara yang tadinya riuh menyoraki dirinya seketika berhenti.
Lalu Berlian menengok ke arah Tanisha, Desi dan juga Daffa bergantian, sambil meremas buku yang ada di tangannya. Sorot matanya begitu tajam penuh amarah dan kekecewaan kepada ketiga orang itu. Dia sudah mencoba bersabar, tetapi manusia ada batas kesabaran nya.
''Kamu bilang apa? Aku ternoda, aku sudah tidak suci? Memangnya kamu pikir, di dunia ini ada yang sempurna? Apakah kamu juga suci? Kamu bahkan lebih kotor dari aku. Kamu tega menjebak teman kamu sendiri, hanya untuk menghancurkan-nya. Dan kamu malah merebut kekasih sahabat kamu sendiri. Apakah orang itu pantas disebut suci?'' ujar Berlian dengan tatapan menantang ke arah Tanisha, sambil tersenyum miring.
Tanisha mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Berlian. Dia benar-benar tidak terima telah dihina seperti itu. Namun, saat Tanisha ingin berbicara lagi, Berlian sudah lebih dulu memotong ucapannya.
''Sekarang kalian pikir deh! Mana ada, seorang sahabat yang menjebak sahabatnya sendiri dengan orang lain? Hanya untuk menghancurkan orang itu. Mana ada, seorang sahabat yang menikung sahabatnya sendiri, dan merebut kekasihnya? Kalian juga tahu 'kan? Daffa itu kekasihku, dan dia malah merebut Daffa, tapi tidak masalah sih bagiku. Sebab, jika sampah itu memang harus dibuang pada tempatnya!'' Berlian berucap sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dengan nada menyindir ke arah Tanisha, Desi dan juga Daffa.
Tanisha berjalan ke arah Berlian dan hendak menarik jilbab wanita itu, tetapi Berlian segera mencekal tangan Tanisha, lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai. Daffa yang melihat itu-pun tentu saja sangat kaget. Dia selama ini mengenal Berlian sebagai sosok wanita yang lembut, dan tidak pernah kasar kepada siapapun.
''Jangan kalian pikir, selama ini aku diam karena aku kalah? Tidak! Jangan kalian pikir, aku tidak bisa melawan? Singa itu pasti akan bangun, jika diganggu tidurnya . Apalagi saat kalian gigit ekornya. Jika memang kalian masih ingin hidup tenang, jangan cari masalah dengan ku!'' ancam Berlian sambil duduk kembali di kursinya.
''Huuuuu ....''
Semua orang menyoraki Tanisha, Desi dan juga Daffa. ''Dasar sahabat tidak tahu diri!.Sudah menghancurkan sahabatnya, sekarang malam merebut kekasih sahabatnya sendiri? Bener-bener nggak ada malunya!'' ucap salah satu teman Berlian di kelas.
''Emang benar kok, sampah itu memang harusnya dibuang ke tempatnya. Yang satunya gatel dan yang satunya juga playboy. Ya wajar aja, ikan asin bertemu dengan kucing garong,'' timpal seorang teman yang lain. Bahkan banyak lagi ledekan dan hinaan dari tekan-teman kelas kepada Tanisha and the gank.
Cacian dan makian keluar dari mulut teman-teman Berlian di kelas, kepada Desi, Daffa dan juga Tanisha. Hingga mereka bertiga malu dan keluar dari kelas, tapi sebelum itu Tanisha menunjuk wajah Berlian dengan sorot mata yang begitu tajam.
''Lihat saja, aku akan menghancurkanmu! Lagipula, tidak akan ada lelaki yang mau dengan kamu, wanita yang sudah tidak suci lagi!'' geram Tanisha sambil menatap Berlian dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Berlian tentu saja tidak terima, sebab semua itu terjadi karena Tanisha. Kemudian dia berjalan dan mendekat ke arah Tanisha, lalu mengayunkan tangannya dan menampar wajah wanita itu dengan keras. Hingga membuat pipi Tanisha merah, bahkan jejak tangan Berlian pun tercetak di pipi mulus itu.
Semua orang menatap kaget, saat melihat aksi berlian. Mereka terdiam, namun ada beberapa yang menyemangati Berlian agar menghajar Tanisha.
''Tamparan itu tidak cukup untuk kalian bertiga. Seharusnya aku bisa melakukan lebih dari ini, tapi aku percaya karma itu pasti ada. Dan kalian pasti akan mendapatkannya,'' ucap Berlian sambil menatap Tanisha dengan tajam.
Saat Tanisha akan membalas tamparan Berlian. Daffa segera menghentikannya dan membawa Tanisha keluar dari kelas, tapi wanita itu berontak. Karena dia tidak terima telah dipermalukan oleh Berlian.
Sedangkan Desi menatap Berlian dengan sendu. Dia benar-benar merasa bersalah atas semua yang telah dia lakukan. Sangat terlihat jelas di kedua mata Desi, jika wanita itu memang sangat menyesal. Dia ingin sekali mendekat kearah Berlian dengan minta maaf, tetapi nyali nya seketika lenyap saat melihat amarah Berlian.
Desi sangat yakin, jika Berlian pasti sangat membenci dirinya. Dia pun ikut bersama dengan Daffa dan Tanisha keluar dari kelas.
************
Jam 03.00 sore Berlian sudah pulang dari kampus. Hari ini begitu melelahkan baginya, bukan karena pelajaran saja, tetapi pikirannya sedang kacau karena emosi yang membuatnya benar-benar menguras tenaga.
''Oma!'' kaget Berlian dengan saat melihat Mama Rose ada dihadapannya saat ini.
Berlian pun langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Dia tidak menyangka, jika Oma nya akan datang jauh-jauh dari Belanda. Karena memang Mama Rose sudah sekitar 7 tahun tinggal di Belanda.
''Halo sayang, wow ... cucu Oma sudah besar sekali ya? Dulu kamu masih sangat imut imut, masih SMA. Sekarang udah besar. Gimana kabar kamu, sayang?'' tanya Mama Rose sambil mencium kening Berlian.
''Alhamdulillah Oma, kabar Berlian baik. Berlian kangen banget sama Oma. Kenapa Oma baru pulang sekarang?'' tanya Berlian dengan wajah cemberut.
Kemudian Mama Rose mengajak Berlian untuk duduk di ruang tamu. Dia benar-benar merindukan cucu satu-satunya itu. ''Iya maaf, butik Oma di Belanda itu sangat ramai. Dan Oma di sana juga banyak kerjaan, jadi baru bisa pulang sekarang.''
**********
__ADS_1
Malam pun telah tiba. Saat ini Berlian Dev, Dea dan juga Mama Rose tengah berada di meja makan untuk makan malam. Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka, sebab semua fokus kepada makanannya.
Setelah makan malam selesai, Mama Rose mengajak Dev, Dea dan juga Berlian untuk duduk di ruang keluarga. Sebab ada yang ingin Mama Rose bicarakan kepada mereka.
''Ada apa, Ma?'' tanya Dev kepada sang Mama.
''Dev, Dea, kalian ingat sahabat Mama yang bernama Om Darwis 'kan?'' tanya Mama Rose kepada Dea dan juga Dev.
Dua orang itu terdiam sambil menatap satu sama lain. Kemudian Dev mengangguk, ''Iya Mah, Dev ingat. Om Darwis yang mempunyai perusahaan terbesar di Eropa 'kan? Lalu kenapa?'' tanya Dev dengan dahi mengkerut dan tatapan heran ke arah sang Mama.
''Apa kamu ingat, saat dulu Om Darwis menemani istrinya di rumah sakit, waktu lahiran? Kamu ingatkan, saat anak pertamanya lahir?''
Dev nampak berpikir, kemudian dia pun mengangguk. ''Iya Dev dan Dea, juga sempat melihat anak mereka lalu kenapa?'' tanya Dev dengan penasaran.
''Nah, kebetulan Om Darwis itu sedang ada di Indonesia dan putranya juga berada disini untuk mengurus perusahaan. Mama mengundang mereka untuk makan malam besok. Jadi Dea, nanti kamu siapkan makan malam ya untuk menyambut kedatangan mereka!'' jawab Mama Rose sambil menatap kearah Dea.
''Iya Mah, nanti Dea siapkan makan malam yang spesial untuk menyambut Om Darwis dan juga putranya.''
''Maaf Oma, Papa, Mama. Om Darwis itu siapa ya?' tanya Berlian yang sejak tadi hanya menyimak saja.
''Gini lho sayang. Om Darwis itu adalah anak dari sahabatnya Oma. Dan kebetulan, dia sudah kenal dengan Oma sangat lama. Oma bahkan sudah menganggap dia sebagai adik sendiri. Besok dia akan ke sini bersama putranya, karena Oma yang mengundang nya untuk makan malam. Jadi kamu besok malam tidak boleh kemana-mana ya! Karena akan ada pembicaraan penting, sekaligus kita akan malam bersama,'' jelas Mama Rose sambil mengusap kepala Berlian yang tertutup hijab.
''Pembicaraan apa, Ma?'' tanya Dev penasaran.
''Besok kamu akan tahu. Lagipula, kamu juga pasti masih ingat.'' jawab ambigu Mama Rose.
Berlian mengangguk paham, walaupun sebenarnya dia penasaran. Kemudian dia pamit masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
__ADS_1
**BERSAMBUNG**