Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Sadar


__ADS_3

Happy reading.....


Zay menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, sambil menatap pria yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Kemudian salah satu tangan pria itu merangkul pundak Zay, membuatnya semakin gugup.


''Jangan pernah berpikir macam-macam dulu, sebelum Berlian sah menjadi istrimu, paham! Jika berani memikirkan hal kotor tentang putriku, maka tangan ini, hmm ... yang akan menjadikan pisang ambonmu sate di pinggir jalan, kau paham!'' ancam Dev sambil menaik turunkan alisnya dengan tangan di remas di depan wajah Zay.


GLUK!


Zay meneguk ludahnya dengan kasar, saat mendapatkan ancaman dari calon Papa mertuanya. Seketika pria itu mengangguk dengan cepat, walaupun dia berotot besar, berbadan sixpack dan berwajah garang.


Akan tetapi, tetap saja, Zay juga takut kepada Dev. Sebab walau bagaimanapun, Dev lebih tua darinya dan sebentar lagi dia juga akan menjadi papanya.


Setelah mengancam calon menantunya, Dev melerai pelukan tersebut, kemudian dia pergi meninggalkan Zay yang masih sedikit terpaku dengan dada berdebar di taman belakang.


''Gila! Aku punya mertua kok galak dan serem banget ya?'' gumam Zay sambil mengusap dadanya.


''Aku serem itu, pada tempatnya juga,'' bisik Dev di telinga pria itu.


Zay terlonjak kaget, dia pikir Dev sudah pergi dari sana, tetapi ternyata pria itu masih berada di belakangnya.


''Astaga, Om! Ngagetin aja. Udah kayak jelangkung, datang gak diundang pulang gak diantar, nongol lagi kayak jenglot,'' ucap Zay. Namun seketika, dia langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam dari calon mertuanya.


''Apa kamu bilang? Kamu mengatakan saya Jelangkung dan jenglot? Memang kamu pikir, di dagu saya ini ada jenggotnya, hah! Berani kamu bilang seperti itu sama saya!'' geram Dev dengan wajah yang garang.


''Eh, bukan seperti itu Om. Maksud saya ... itu ... anu ...'' Zay terlihat ketakutan saat melihat wajah garang Dev.


Dia beranjak dari duduknya dan langsung lari masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu, di mana semua orang kini tengah berkumpul. Sementara itu Dev hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan Zay.


''Badan kekar, status juga sudah pernah masuk ke dalam gua, tapi kelakuan masih kayak ABG? Bener-bener susah dijelaskan?'' bingung Dev sambil menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala dengan heran.

__ADS_1


.


.


Saat ini Max sedang mengerjakan tugas pekerjaannya dari Zay untuk meeting besok pagi. Pria itu tidak pernah lepas meninggalkan Desi.


Hingga saat Max tengah memeriksa file yang ada di emailnya, tiba-tiba saja dia mendengar suara lenguhan. Pria itu kaget dan langsung menatap ke arah ranjang, dan terlihat jari-jari Desi bergerak, membuat Max seketika bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang pasien.


Max kaget, saat melihat mata Desi mulai bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian mata indah itu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Max yang melihat itu pun segera menekan tombol untuk memanggil Dokter dan Suster.


''Aku di mana?'' ucap Desi dengan nada yang sangat lirih.


''Syukurlah kamu sudah sadar. Aku benar-benar sangat senang,'' ujar Max dengan wajah yang bahagia.


Desi menatap ke arah samping. ''Ternyata aku sudah di surga. Pantas saja ada pangeran yang tampan,'' kata Desi sambil tersenyum ke arah Max.


Pria itu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Tak lama Dokter datang, kemudian memeriksa keadaan Desi.


''Bagaimana Dok, keadaannya?'' tanya Max kepada Dokter.


''Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritis dan juga komanya. Saat ini tinggal memulihkan keadaannya saja,'' jawab Dokter tersebut.


Setelah memeriksa keadaan Desi, Dokter dan Suster pun keluar dari ruangan. Sementara itu, Desi hanya menghela napas. Dia pikir, saat ini telah berada di surga dan bertemu dengan pangeran tampan, tapi ternyata ada sih salah.


''Syukurlah, aku benar-benar bahagia kamu sudah sadar,'' ujar Max sambil menggenggam tangan Desi.


Wanita itu tersentak kaget saat tiba-tiba saja Max memegang tangannya. Dadanya berdetak dengan kencang, karena baru kali ini ada seorang pria yang berkata begitu lembut kepadanya.


''Aku pikir tadi, kau adalah pangeran dan aku sudah berada di surga? Ternyata ini rumah sakit, tapi, Tuan siapa?'' tanya Desi sambil menatap Max dengan bingung.

__ADS_1


Pertemuannya dengan Max hanya satu kali, membuat Desi tidak ingat siapa pria itu. Karena Desi juga tidak pernah mengingat pria yang tidak pernah penting dalam hidupnya.


''Aku Max,'' jawab Max dengan singkat.


''Tapi, bagaimana---''


''Pertanyaanmu disimpan buat nanti saja! Sebaiknya kau istirahat. Bukankah Dokter sudah mengatakan, jika kau harus banyak istirahat?'' Max memotong ucapan Desi, membuat wanita itu bungkam.


Apa yang dikatakan Max memang ada benarnya, dia harus banyak istirahat, karena saat ini badannya juga masih terasa lemas. Kemudian Desi kembali menutup matanya, walaupun sebenarnya gadis itu sangat penasaran dengan Max.


Tepat jam 03.00 dini hari, Max yang sedang tertidur sambil duduk di kursi tiba-tiba saja bangun, saat mendengar teriakan Desi.


''Tidak! Tolong jangan jangan lakukan itu, kepada saya, Tuan! Saya mohon, jangan! Jangan!'' teriak Desi sambil memejamkan matanya.


Max segera berlari ke arah Desi, kemudian dia memegang tangan wanita itu hingga akhirnya Desi terperanjat kaget dan membuka matanya dengan nafas terengah-engah.


Saat dia membuka mata, Desi melihat di sana ada Max, dan ketakutannya semakin menjadi. Desi pikir, Max adalah salah satu dari komplotan orang-orang yang ingin mencelakainya.


''Kamu pasti salah satu dari mereka, 'kan? Tolong Tuan, jangan sakiti saya! Saya mohon, lepaskan saya, Tuan! Jangan lakukan apapun! Saya Mohon!'' Desi terus memohon, bahkan air matanya sudah mengalir.


''Hei, apa yang kau katakan? Aku Max, sepertinya kamu mengigau? Tenanglah! Aku tidak akan pernah menyakitimu!'' Max mencoba menenangkan Desi namun, wanita itu masih saja menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Kemudian Max memeluk tubuh Desi, mencoba menenangkan gadis tersebut. Dia tahu, jika Desi pasti trauma dengan kejadian beberapa bulan lalu yang menimpa dirinya.


''Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu. Aku bukan mereka. Aku bukan orang jahat,'' ucap Max sambil mengusap punggung Desi.


Perlahan wanita itu mulai melemah, dia mulai tenang. Setelah itu Max memberikan air dan meminta Desi untuk meminumnya. ''Apa sudah jauh lebih baik?'' tanya Max, dan Desi hanya menganggukkan kepala.


Max duduk di samping Desi. Dia mencoba menenangkan gadis itu, hingga tanpa sadar Desi tertidur dengan posisi dalam pelukan Max, tetapi memang berada dalam dekapan pria itu membuat Desi merasakan tenang.

__ADS_1


*Ak*u berjanji, akan melindungimu dan membahagiakanmu. batin Max


BERSAMBUNG.....


__ADS_2