
Happy reading
Berlian masuk ke dalam mobil dengan wajah yang cemberut. Mood-nya hancur karena bertemu dengan Zayden. Dia menghempaskan tubuhnya di jok belakang dengan perasaan yang kesal.
''Jalan Pak!'' titah Berlian kepada sang sopir, dan mobil pun mulai melaju meninggalkan cafe.
'Kenapa sih, aku harus bertemu dengan dia? Mood-ku kan jadi hancur gara-gara bertemu sama cowok mesum itu,'' gerutu Berlian di dalam hati.
Tatapannya lurus ke arah samping, Berlian menatap jalanan yang saat ini tengah padat oleh kendaraan, tetapi di pikiran Berlian mengarah pada perjodohan dia dengan Zayden.
Berlian ingin menolak, tetapi dia tidak bisa. Sebab itu adalah sebuah wasiat, dan yang dia tahu wasiat itu harus dijalankan. Apalagi antara kedua belah pihak sudah setuju dari awal.
Sementara itu, di kediaman Bachtiar. Mama Rose sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan Dea, dan di sana juga ada Samy, detektif pribadi Mama Rose, yang ditugaskan untuk menyelidiki tentang kejadian naas itu.
''Jadi benar, jika cucuku itu telah dijebak, tapi kenapa bisa secara kebetulan Zayden masuk ke dalam kamar yang sama?'' bingung Mama Rose sambil membaca bukti-bukti yang diberikan oleh Samy.
Dea dan juga Mama Rose, mendapatkan bukti jika Berlian memang dijebak oleh Daffa, Desi dan juga Tanisha. Samy juga mendapatkan bukti jika Zayden malam itu tengah memesan seorang wanita penghibur, untuk menemani malamnya. Akan tetapi, Mama Rose masih bingung, kenapa harus secara kebetulan.
''Apakah kamu tidak mendapatkan bukti lagi? Kenapa sampai, Zayden masuk ke dalam kamar itu? Dan apa hubungannya dengan mereka bertiga?'' tanya Mama Rose kepada Samy. Namun pria yang ada di hadapannya itu segera menggeleng.
''Maafkan saya Nyonya. Untuk itu saya belum mendapatkannya. Yang saya dapatkan hanya itu, tetapi memang malam itu Tuan Zayden meminta Madam Rere untuk menyiapkan seorang wanita, tetapi wanita penghibur itu kabur,'' jelas Samy kepada Mama Rose dan juga Dea.
Kedua wanita itu nampak terdiam, sedangkan Dea mengetuk jarinya di dagunya. Memikirkan fuzzle yang saat ini tengah diacak, dan dia sedang menyambung nya kembali.
__ADS_1
Masalah ini begitu rumit bagi Dea dan juga Mama Rose, tapi seketika Samy mengangkat bicara, ''Jika dalam pandangan saya, mungkin saja ketiga orang itu memanfaatkan Tuan Zayden, Nyonya?''
''Memanfaatkan Zayden? Maksud kamu?'' tanya Dea dengan tatapan menyempit ke arah Samy.
Pria berusia 30 tahun itu pun menjelaskan, ''Kemungkinan, saat Tuan Zayden memesan seorang wanita penghibur, salah satu dari ketiga orang itu ada di sana dan mereka mendengar semuanya. Barulah rencana itu dijalankan. Akan tetapi, itu hanya praduga saya saja Nyonya,'' ujar Samy dengan tatapan menunduk. Karena dia takut jika ucapannya salah.
Mama Rose menjentikan jarinya, membuat dua orang yang ada di hadapannya menatap kearah wanita paruh baya itu. ''Kamu benar Sam, sekarang kamu cek Cctv yang ada di diskotik itu. Cari tahu, apakah saat Max atau Zayden memesan wanita penghibur, di sana ada salah satu dari mereka. Kamu tentu sudah tahu bukan wajah mereka bertiga?'' titah Mama Rose sambil menatap kearah Samy, dan pria itu langsung menggangguk-kan kepalanya.
Setelah pembicaraan selesai, Samy pun pamit dari kediaman Bachtiar.
Saat Berlian sampai di rumahnya, dia kaget saat melihat seorang pria tampan yang berpapasan dengannya di pintu utama. Pria itu pun tersenyum kearah Berlian sambil mengangguk kan kepalanya, dan Berlian melakukan hal yang sama.
'Dia siapa ya?' batin Berlian sambil menatap punggung Samy yang keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.
''Assalamualaikum,'' ucapan Berlian sambil melenggang masuk ke dalam rumah.
''Mamah, Oma, pria tadi siapa? Berlian melihat ada seorang pria keluar dari rumah ini, tapi Berlian tidak pernah melihatnya?'' tanya Berlian dengan penasaran kepada Oma dan juga Mamanya.
''Oh, itu Samy, detektif yang Oma perintahkan untuk menyelidiki tentang kasus kamu. Dan kamu tahu! Zayden tidak bersalah. Pria itu juga korban,'' ujar Mama Rose sambil merangkul bahu Berlian.
''Tunggu! Apa Oma bilang, korban? Jelas-jelas, dia yang mengambil mahkota Berlian, Oma. Kenapa dia juga korban? Harusnya dia tersangka nya dong!'' bantah Berlian dengan dahi mengkerut.
Dia tidak terima saat Omanya menyebut jika Zayden juga korban. Padahal jelas-jelas, Zayden yang merenggut semuanya. Zayden yang menghancurkan masa depannya, bahkan pria itu penyuka permen karet.
__ADS_1
Mama Rose dan juga Dea mengajak Berlian untuk duduk di sofa, mereka tahu perasaan blBerlian saat ini seperti apa. Dan tugas mereka adalah menenangkan Berlian, karena mereka tahu tidak mudah untuk melupakan kejadian yang menghancurkan masa depannya.
''Saat itu, Zayden dan juga kamu dijebak. Dan Oma yakin, Zayden tidak ada sangkut pautnya dengan ketiga penghianat itu. Ini bukti-bukti yang didapatkan oleh detektif Oma.'' Mama Rose menyerahkan amplop coklat kepada Berlian, di mana semua bukti-bukti yang Samy dapatkan selama dua hari ini.
Berlian pun segera membuka amplop itu dan membacanya satu persatu. Alisnya bertaut heran, saat mendapatkan sebuah bukti jika Zayden memang tidak terlibat. ''Tapi Oma, jika dia tidak terlibat. Kenapa bisa kebetulan?'' tanya Berlian dengan tatapan menyempit ke arah dua perempuan yang berada dihadapannya.
Mama Rose pun menjelaskan tentang praduga Samy, dan Berlian yang mendengar itu hanya diam saja. Dia tidak tahu respon apa yang harus diberikan, karena walau bagaimanapun, Berlian sudah kadung benci kepada Zayden. Karena pria itu yang telah merenggut kesucian nya.
Setelah mengetahui siapa pria yang baru saja berpapasan dengannya di pintu utama, sekaligus tahu kebenarannya. Berlian pun melangkahkan kakinya untuk ke kamar. Dia merasa gerah dan akan membersihkan diri, sebab nanti malam Berlian dan juga keluarganya akan ada acara makan malam.
**********
Malam ini sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh Dea, jika mereka akan pergi keluar untuk makan malam. Dan saat ini, Berlian sudah siap dengan gamis berwarna abu-abu dengan jilbab senada.
''Sebenarnya, kita mau makan malam dengan siapa sih?'' tanya Berlian saat berada di dalam mobil.
''Dengan Om Darwis dan juga putranya,'' jawab Dev yang sedang menyetir.
Berlian kaget saat mendengar jika mereka akan makan malam bersama dengan pria mesum itu, tapi mau menolak pun Berlian tidak bisa. Sebab keputusan Papanya itu sudah final, dan tidak akan pernah bisa diganggu gugat.
Dea yang melihat ketidaksukaan di wajah putrinya, seketika membisikkan sesuatu. Karena saat ini Dea berada di samping Berlian, sedangkan Mama Rose duduk di depan.
''Jangan terlalu benci, sayang. Nanti cinta beneran. benci dan cinta itu beda tipis,'' bisik Dea. Membuat gadis itu merengut kesal.
__ADS_1
'Sejujurnya aku males banget harus makan malam dengan dia. Tatapannya itu, membuatku tidak nyaman. Seakan pria itu sedang menelanjangi ku saja?' batin Berlian sambil menatap kearah samping.
BERSAMBUNG