
...HAPPY READING...
Tante Indri dan juga Om Satya memisahkan perkelahian antara Vano dan juga Zayden, kemudian wanita yang berusia empat puluh delapan tahun itu menatap putranya dengan tajam. ''Kamu ini apa-apaan sih, pakai segala berantem? Malu tau nggak sama tamu!'' gertak tante Indri kepada putranya.
Sementara itu Zay merapikan jas yang ada di tubuhnya, kemudian dia menatap tajam ke arah Vano, begitupun dengan pria itu, dia juga menatap balik ke arah Zay dengan tajam. Kedua mata mereka seakan sedang berperang dalam diam.
''Sekarang kita pulang!'' ajak Zay sambil menggenggam tangan Berlian. Namun Vano yang lihat itu tentu saja tidak terima, dia melepas pegangan Zay di tangan Berlian, hingga membuat suasana kembali memanas.
Zay benar-benar geram dengan sikap Vano, kemudian dia hendak menonjok wajah pria itu kembali. Akan tetapi, Berlian menahannya sambil menggelengkan kepala.
''Saya mohon Pak, jangan cari keributan di sini!'' pinta Berlian dengan wajah memohon kepada Zay.
''Apa kamu bilang? Saya cari keributan? Yang ada itu dia, kamu ini calon istri saya dan kamu malah dekat dengan pria lain!?'' geram Zay dengan nada yang tegas.
''Heh, kalau bicara itu yang benar! Main ngakuin orang calon istri aja. Berlian, jawab pertanyaanku! Dia bukan calon suami kamu, 'kan?'' tanya Vano sambil menatap ke arah Berlian dengan tatapan penuh kepastian.
Berlian terdiam mendengar ucapan dan juga pertanyaan dari Vano, kemudian dia menganggukkan kepalanya. ''Iya Vano, dia calon suamiku,'' jawab Berlian dengan suara yang lemah.
Vano mundur satu langkah, dadanya seakan remuk seperti sebuah remahan rengginang yang hanya tinggal bubuk saja. Dia benar-benar hancur saat mendengar kenyataan jika Berlian telah dipersunting oleh pria lain.
Ingin rasanya Vano merasa jika itu hanyalah mimpi. Akan tetapi, itu adalah sebuah kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan. Dia yang selama ini mencintai Berlian, tetapi wanita itu telah dilamar oleh pria lain.
''Kamu bercanda 'kan, Berlian? Kamu selama ini tidak pernah cerita apa-apa sama aku? Jadi, mana mungkin bisa jika dia calon suami kamu?'' bantah Vano merasa tidak terima.
Tante Indri mengusap pundak putranya. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Vano, sebab tante Indri pun mengetahui jika Vano selama ini menyimpan perasaan kepada Berlian, tetapi pria itu memang ingin menyelesaikan kuliahnya dulu di Australia, baru dia akan melamar Berlian setelah lulus.
__ADS_1
''Itu adalah kenyataannya Vano. Papa dan Mama menjodohkan aku dengan Tuan Zayden. Maaf Tante, Om, jika acara kalian berantakan. Kalau begitu Berlian pamit dulu, assalamualaikum,'' ucap Berlian sambil mencium tangan tante Indri dan juga Om Satya, setelah itu dia pergi dari villa tersebut.
Vano mengepalkan tangannya saat mendengar jawaban Berlian. Sementara itu Zay menatap ke arah Vano dengan senyuman miring di bibirnya. Lebih tepatnya itu adalah senyuman kemenangan, bahwa dia lebih unggul dari Vano.
'Sok-sokan mau mendekati Berlian, dia hanya milikku! Dan hanya kelinci kecil kesayanganku!' batin Zay sambil menetap sinis ke arah Vano.
'Lihat saja! Aku akan merebut Berlian dari kamu, jika berani kamu menyakiti dirinya!' batin Vano dengan tekad yang kuat.
Setiap langkah Berlian dan juga Zayden terus dipandangi oleh Vano, dengan sebuah rasa sakit yang ada di dalam hatinya saat ini. Dia pikir, kepulangannya ke Indonesia akan membawa bahagia. Sebab dia akan bertemu dengan orang yang paling dia cintai.
Akan tetapi, Vano malah mendapatkan sebuah kenyataan yang begitu pahit. Ditambah dia sudah mempersiapkan semuanya untuk melamar Berlian, karena Vano juga meminta bantuan tante Indri, Mamanya. Namun ternyata jalan takdir berkata lain.
Vano merutuki dirinya sendiri, karena dia terlambat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Berlian. Dia pikir, Berlian tidak akan pernah di gaet oleh pria lain, tetapi ternyata dia salah.
Memang laki-laki itu harus Gercep (gerak cepat), jika tidak mau kehilangan belahan jiwa nya. Jika dia berjalan kek siput, maka jangan menyesal jika si do'i keburu di tikung oleh pria lain😁 Eeaaaa ....
Di dalam mobil, Berlian hanya diam saja sambil membuang mukanya ke arah samping. Dia benar-benar kesal dengan Zay, karena walau bagaimanapun Berlian merasa malu. Sebab telah membuat acara tante Indri kacau, dia merasa tidak enak.
Ekhmm! Zayden berdehem, mencoba untuk menarik perhatian Berlian, tetapi gadis itu masa bodoh. Dia tidak peduli sama sekali, karena hatinya saat ini sedang kesal.
''Apa kamu masih kesal, kepadaku?'' tanya Zayden di tengah kesunyian.
Berlian mendengkus dengan kasar. ''Menurut Anda, bagaimana? Masih bertanya lagi!'' ketus Berlian dengan wajah ditekuk.
''Loh, salahku di mana? Jelas-jelas di sini kamu yang salah. Sudah tahu mempunyai calon suami, tapi kamu malah mengobrol dengan pria lain, sampai tertawa lagi? Kamu pikir, aku ini apa patung!''
__ADS_1
Zayden benar-benar tidak terima saat dirinya disalahkan, karena menurut dia apa yang dilakukannya itu adalah benar. Di mana dia melindungi calon istrinya dari pria lain, Zay rasa itu tidak salah.
''Anda ini kenapa sih? Anda cemburu pada Vano, iya? Saya dan Vano itu sudah berteman dari kecil. Saya malu tau nggak sih, sama tante Indri dan juga Om Satya. Seharusnya Anda itu bisa menjaga wibawa anda sebagai seorang pria dan CEO. Jangan sembrono gitu dong!'' kesal Berlian tidak mau kalah dengan Zay.
Jika laki-laki dan perempuan berdebat, maka perempuan selalu benar, dan lelaki selalu salah. Sebab kodrat wanita itu, selalu benar dan tak mau salah🤣
Pria itu benar-benar tidak terima dengan perkataan Berlian, kemudian dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu membuka sabuk pengamannya dan menghadap ke arah Berlian. ''Kamu bilang apa tadi? Saya membuat kamu malu? Saya harus menjaga wibawa saya? Menurut Anda, bagaimana? Apakah saya harus membiarkan calon istri saya ketawa dengan pria lain?''
Suasana di dalam mobil semakin panas, mereka berdua bersi tegang tidak ada yang mau kalah satu sama lain. ''Terserah mau Anda apa! Kalau Anda cemburu, ya bilang saja, tapi jangan seperti itu dong caranya.'' Berlian masih ngotot dan berbicara dengan nada yang ketus, membuat Zayden benar-benar geram.
''Kamu membuatku benar-benar habis kesabaran kelinci kecil,'' ucap Zayden dengan nada yang dingin. Kemudian dia menarik tangan Berlian agar menghadap ke arahnya, lalu dia memegang tengkuk wanita itu dan mendaratkan ciumaan hangatnya di bibir Berlian.
Wanita itu terpaku saat Zay mencium bibirnya, apalagi saat ini Zaidan tengah melahap bibir mungil itu dengan rakus. Berlian mencoba untuk melepaskan, tetapi satu tangan Zay menahan kedua tangan Berlian, dan dia semakin memperdalam ciumaannya.
Wanita itu terus saja berontak, akan tetapi Zay malah menggigit bibir bawahnya, dan mulai menjelajahi rongga mulut milik Berlian. Rasa manis yang dirasakan oleh Zay, membuat pria itu kecanduan. Hingga beberapa menit kemudian tautan bibir itu pun terlepas.
Keduanya bernafas terengah-engah, dan satu air mata lolos membasahi pipi Berlian. Kemudian dia menampar wajah Zay dengan keras, hingga membuat pria itu terdiam.
PLAK!
''Jangan karena Anda pernah meniduri saya, Anda menganggap saya wanita murahan yang gampang anda cium seenak jidat. Saya masih punya harga diri! Seharusnya Anda jangan main nyosor begitu aja! Apakah Anda pikir, saya ini wanita pelacur? Sehingga Anda bisa memperlakukan saya seenaknya?'' Berlian berkata sambil menahan isak tangisnya, tapi dia tidak bisa menahan air matanya yang terus saja mengalir.
Zay yang melihat Berlian menangis, seketika merasa bersalah. Emosi di dalam hatinya membuat dia lupa dan kehabisan akal. ''Maafkan aku! Aku benar-benar terbawa emosi. Tadi aku--''
''Cukup! Sebaiknya Anda lajukan mobil ini untuk pulang! Saya tidak ingin berbicara apapun dengan Anda.'' pinta Berlian sambil membentak Zay. Kemudian dia memiringkan badannya ke arah samping dengan air mata yang terus saja mengalir deras.
__ADS_1
Berlian merasa, jika dia wanita yang kotor. Dia tidak bisa mempertahankan dirinya, karena tenaga Zay begitu kuat. Apalagi posisi Berlian yang di dalam mobil susah untuk dia melawan.
BERSAMBUNG