
Happy reading
Dea dan Berlian terlihat bingung, kemudian mereka bertiga pun duduk di sofa dan menatap Mama Rose dengan tatapan yang heran. ''Mah, sebenarnya ada apa sih?'' tanya Dea pada Mama mertuanya.
Mama Rose masih belum menjawab, tetapi pandangannya mengarah ke Berlian yang berada di sampingnya. Kemudian wanita paruh baya itu segera memeluk tubuh Berlian dan menangis.
Melihat wajah cucunya, tentu saja luka itu kembali terasa. Dia tidak bisa membayangkan berada di posisi Berlian seperti apa. Sedangkan Berlian hanya diam saja, tidak mengerti kenapa Neneknya menangis.
''Omah tahu, kamu adalah wanita yang kuat seperti Mamamu. Kalian ini diciptakan sebagai penghuni surga. Dan kalian wanita yang hebat. Jika ada apa-apa, kamu jangan sungkan untuk berbicara kepada Oma. Oma akan merasa sakit jika kamu juga terluka,'' ucap Mama Rose sambil menangis dan melepaskan pelukannya, lalu menatap Berlian.
Gadis itu menatap kearah Dea, meminta jawaban darinya. Dan Dea menganggukkan kepalanya, memberi kode jika dia sudah menceritakan semuanya kepada Mama Rose.
Berlian tidak sanggup untuk berbicara kepada Omanya, dia takut wanita itu akan marah, tetapi ternyata wanita paruh baya itu malah kembali memeluk tubuhnya dan menangis tersedu-sedu.
''Jangan pernah merasa sendiri, Nak. Disini ada Oma, ada Papa, ada Mama. Kami akan menjagamu! Kamu adalah berlian dalam keluarga Bachtiar, dan kamu adalah berlian dalam hati kami. Tidak akan pernah kami membiarkan kamu terluka.'' Mama Rose berucap sambil mengecup kening Berlian.
Mendengar ucapan Omanya, Berlian sungguh terharu. Dia pun kembali menangis, tidak disangka jika kasih sayang keluarganya begitu besar kepada dirinya. Tadinya Berlian fikir, Oma dan juga Mamanya akan marah saat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, tetapi ternyata Berlian salah.
Dia benar-benar bersyukur telah dilahirkan dalam keluarga yang harmonis, keluarga yang begitu menyayanginya.
''Sekarang Oma tanya sama kamu, apakah kamu merasakan sesuatu? Apakah Zayden mengeluarkan benihnya di rahim kamu? Atau dia mengeluarkan ya di luar?'' tanya Mama Rose dengan gamblang.
__ADS_1
Dia yang mendengar ucapan Mama mertuanya pun menatap kearah Berlian, seolah menunggu jawaban dari gadis itu. Sementara Berlian menatap kedua wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan sendu, namun juga malu.
''Jangan ada yang ditutupi dari Mama dan juga Oma. Kami akan mencari jalan keluarnya, kamu tidak usah takut. Kami ada untuk kamu,'' ucap Dea dengan nada lembut sambil menggenggam tangan Berlian.
''Zayden mengeluarkannya di dalam Mah, tapi--'' Berlian menggantung ucapannya. Membuat kedua wanita yang berada di sampingnya menatap gadis itu dengan penuh tanda tanya, dan juga perasaan tidak sabar. Karena menantikan jawaban dari Berlian.
''Tapi apa? Jangan membuat Oma penasaran?'' tanya Mama Rose dengan tidak sabar. Sementara itu, Dea yang melihat Mama mertuanya hanya terkekeh kecil.
''Tapi, setelah kejadian itu, Berlian membeli obat pil kontrasepsi Oma, Mah di apotik. Berlian tidak mau jika benih yang ditanam pria itu tumbuh di dalam rahim Berlian. Aku tidak mau, jika nantinya seperti di dalam novel novel yang ku baca, hamil di luar nikah. Karena kesalahan yang tidak pernah aku inginkan,'' jelas Berlian dengan kepala menunduk.
Mama Rose dan juga Dea saling melempar tatapan satu sama lain, dengan senyum lega di wajah mereka. Kemudian kedua wanita itu pun memeluk tubuh Berlian. Mereka bersyukur jika Berlian tidak sebodoh itu.
''Mama senang, kamu mengambil keputusan itu, Nak. Setidaknya kita bisa antisipasi. Walaupun pada akhirnya jika kamu hamil, Mama tidak masalah. Karena itu bukan kesalahan kamu '' ucap Dea dengan lembut sambil memeluk tubuh putrinya.
''Tidak perlu Oma. Biarkan saja, karena Berlian yakin, tanpa Oma turun tangan, Papa sudah lebih dulu menghancurkan mereka, tapi seperti yang Oma tahu. Papa akan bermain-main sedikit,'' ujar Berlian yang sudah tahu jika Papanya telah memberi pelajaran kepada ketiga penghianat itu.
***********
Sementara itu perusahaan Osmond Corp, saat ini Zayden tengah duduk di kursi kebesarannya, dan di sana juga sudah ada Max.
''Apa Tuan serius? Tan sudah menemukan keberadaan gadis itu?'' tanya Max yang seakan tidak percaya saat Zayden mengatakan jika dia sudah menemukan Berlian.
__ADS_1
''Iya, dan kamu tahu. Saya bahkan dijodohkan dengan dia. Semalam saya dan juga Papa saya ke rumah gadis itu, dan kamu tahu? Ternyata dia adalah putra dari Devan ubah Bachtiar, pemilik dari perusahaan Arganendra Group,'' jelas Zayden, membuat Max tersentak kaget.
''Apa! Tuan serius?'' tanya Max dengan tatapan membulat dan wajah yang tidak percaya.
''Iya, dan aku takut jika gadis itu menolak perjodohan kami. Karena dapat aku lihat, jika dia sangat membenciku. Bahkan saat keluarganya dan juga Papaku mengatakan soal perjodohan kami, dia langsung pergi begitu saja.'' Zayden sejujurnya merasa bersalah atas kejadian malam itu.
''Tunggu dulu, Tuan! Sebenarnya saya merasa janggal Tuan,'' ujar Max sambil mengetuk jarinya di atas dagu, dan ucapannya membuat Zayden menatap ke arahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
''Yang janggal gimana, maksud kamu?'' tanya Zayden dengan heran.
''Apakah Tuan tidak merasa janggal? Kenapa Nona Berlian ada di hotel itu? Dan kenapa dia bisa berada di kamar yang sama. Jika memang benar dia dijebak, apa motif mereka menjebak Nona Berlian? Tidak-kah Tuan ingin menyelidiki ini? Karena dari cerita Tuan, saya bisa menyimpulkan kalau sampai Tuan Dev tahu akan hal ini, mungkin bukan hanya perjodohan kalian saja akan dibatalkan, tetapi kerjasama dan juga hubungan baik antara tuan besar dan juga keluarga dari Bachtiar pastinya akan renggang. Saya tidak yakin, jika Nona Berlian melakukan hal yang kotor?'' jelas Max sambil menatap kearah Zayden.
Pria itu nampak berpikir dengan penjelasan Max, kemudian dia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia membenarkan apa yang diucapkan Max. Berlian tidak mungkin datang ke hotel hanya untuk mendapatkan sebuah tawaran yang menjijikkan.
''Baiklah, kalau begitu kau selidiki soal ini! Aku ingin kabar secepatnya!'' titah Zayden kepada asisten pribadinya itu.
Max mengganggukkan kepalanya, kemudian dia keluar dari ruangan Zayden, meninggalkan pria yang saat ini tengah menatap keluar jendela sambil memikirkan kenapa sahabat Berlian menjebak dirinya.
Wajah Berlian yang tengah menangis dan memohon kepadanya, kembali terlintas dalam pikiran Zayden. Membuat pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, karena setiap dia mengingat moment itu, membuatnya merasa bersalah.
'Gimanapun caranya, aku akan tetap menikahimu. Dan aku akan tetap mendapatkanmu, untuk menebus semua kesalahanku!' batin Zayden dengan tekad yang kuat.
__ADS_1
BERSAMBUNG