
Happy reading....
Desi dapat melihat raut kekecewaan di wajah Berlian. Ada rasa bersalah yang begitu dalam dihati desi saat melihat bagaimana terluka-nya seseorang yang selama ini sudah banyak membantunya. Bahkan mau bersahabat dengan dia tanpa melihat dari kasta.
''Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan itu, tapi aku terpaksa. Aku tidak punya pilihan lain, Berlian. Jika aku tidak menuruti keinginan-nya, maka beasiswa ku akan dicabut. Dan jika itu terjadi, bagaimana aku bisa kuliah? Bagaimana aku bisa melamar pekerjaan di kantor?'' ujar Desi dengan wajah menunduk.
Berlian menatap wanita berusia 23 tahuan itu dengan bingung. ''Maksud kamu, mencabut beasiswa? Siapa yang akan mencabut beasiswa-mu?'' Berlian bertanya dengan anda penasaran dan rwut wajah yang bingung.
Desi terdiam sejenak, kemudian dia menatap ke arah samping. Satu tetes air matanya lolos dari netra yang berwarna coklat itu, kemudian Desi menghembuskan nafasnya dengan kasar.
''Aku dipaksa oleh Tanisha untuk menjebakmu. Karena jika aku tidak melakukan itu, maka Tanisha akan meminta Papanya untuk mencabut beasiswa aku. Kamu 'kan tahu? Papanya Tanisha itu salah satu dosen di kampus kita,'' ujar Desi dengan nada yang sendu.
Berlian terdiam mendengar ucapan Desi, pikirannya masih berkecamuk antara percaya dan tidak. Kemudian dia menatap ke arah wanita yang ada di sampingnya. ''Kenapa Tanisha ingin menjebak-ku?.Apa salahku kepadanya?'' tanya Berlian dengan tatapan menyipit ke arah Desi.
Terlihat jika Desi menghembuskan nafasnya beberapa kali, seakan dia mengurangi beban yang ada di dalam hatinya saat ini. Dan itu tidak luput dari tatapan Berlian dan juga Max.
''Tanisha melakukan itu, karena dia ingin memiliki Daffa. Dia juga iri dengan kamu. Karena sejujurnya selama ini Tanisha tidak benar-benar tulus bersahabat dengan kamu. Dia menaruh dendam kepada kamu, Berlian. Dan sejujurnya, aku ingin sekali menceritakan semuanya kepada kamu, tetapi Tanisha dan juga Daffa selalu mengancam aku. Jika sampai aku membongkar perselingkuhan mereka, maka taruhannya adalah beasiswa aku. Mana bisa melepaskan beasiswa aku? Maafkan aku Berlian. Aku tahu aku salah.''
Desi berucap dengan nada yang tulus dan penuh penyesalan. Itu dapat tergambar jelas di kedua mata gadis itu. Bahkan air mata terus saja mengalir dari kedua netra milik Desi, karena dia benar-benar menyesal telah mengkhianati kepercayaan Berlian.
Selama 2 bulan ini Desi selalu saja dihantui rasa bersalah, karena dia tidak bisa membicarakan dan membongkar semuanya kepada Berlian. Desi terlalu takut jika beasiswanya akan dicabut oleh pihak kampus, karena walau bagaimanapun Papahnya Tanisha adalah Dosen di sana, dan mempunyai wewenang untuk mencabut Beasiswa Desi.
__ADS_1
Berlian benar-benar tidak menyangka, jika sahabat yang selama ini dia anggap sebagai saudara, yang selama ini dia percaya. Tega menusuknya dari belakang. Bahkan kekasih yang selama ini Berlian agung-agungkan di hadapan orang tuanya jika Daffa adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, tapi ternyata semua sia-sia.
Sakit, hancur dan juga sesak, tidak bisa lagi Berlian gambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Remuk, mungkin seperti remahan peyek yang sudah dihancurkan dan tidak berbentuk lagi.
''Aku minta maaf, Berlian. Jika memang setelah ini kamu membenci aku, maka aku terima. Karena memang aku salah. Selama dua bulan aku menyimpan semuanya dari kamu. Aku menyembunyikan perselingkuhan mereka, nyaliku terlalu kecil untuk membongkar semuanya. Sebab aku hanyalah orang biasa. Aku hanya orang miskin, yang tidak mempunyai apa-apa. Sekali lagi aku minta maaf, Berlian.''
Setelah mengatakan itu, Desi meminta Max untuk menghentikan mobilnya, dan dia pun keluar dari mobil Max. Berlian yang melihat itu pun mencoba menghentikan Desi, tetapi wanita itu terus saja berjalan hingga dia menghentikan Bajaj dan menaikinya.
Berlian tahu jika Desi memang tidak bersalah, dia hanya di bawah ancaman Tanisha dan juga Daffa. Entah Berlian harus apa sekarang, karena dia benar-benar bingung kesalahan apa yang telah diperbuat kepada mereka, sehingga Daffa dan juga Tanisha begitu jahat kepada dirinya.
Di sebuah restoran, Zayden mengepalkan tangannya saat mendengar percakapan Berlian dan juga Desi. Dia tidak menyangka jika wanita sebaik Berlian, bisa di jahati sebegitu dalamnya. Zayden bertekad, jika dia akan membalaskan rasa sakit hati Berlian kepada orang-orang yang telah menyakitinya.
''Nona, kita sudah sampai,'' ucap Max mengagetkan lamunan Berlian.
Gadis itu tersentak kaget, kemudian dia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengusap air matanya yang sejak tadi terus saja mengalir tanpa Berlian bisa cegah. ''Kita sampai di mana, Tuan?'' tanya Berlian kepada Max, karena di sana bukanlah rumah kediaman Bachtiar.
''Kita berada di restoran Nona. Tuan Zay sudah menunggu anda di dalam,'' ujar Max sambil membukakan pintu mobil samping Berlian.
Gadis itu mendesah pelan, kemudian dia keluar dari mobil lalu mengikuti langkah Max masuk ke dalam restoran tanpa banyak bicara.
''Silakan Nona.'' Max mempersilahkan Berlian untuk masuk ke dalam ruangan VVIP, di mana di sana Zayden sedang menunggu dirinya dan duduk di atas sofa dengan makanan yang sudah tersaji di atas meja makan.
__ADS_1
''Terima kasih,'' ucap Berlian dengan nada yang lirih. kemudian dia masuk ke dalam
''Sebenarnya ada apa Tuan, memanggil saya ke sini? Tadinya saya mau ke toko buku, tapi Tuan malah ngajak saya ke sini. Ada apa?'' tanya Berlian tanpa tedeng eling-eling.
Zayden tersenyum saat mendengar pertanyaan Berlian. Ini yang dia suka dari gadis itu, Berlian berani dan sama sekali tidak takut kepadanya. Padahal di kantor, dia sangat ditakuti oleh semua karyawan. Bahkan rekan bisnisnya pun takut kepada Zayden.
''Kita makan dulu! Kamu belum makan 'kan?'' tanya Zayden sambil meminum jus-nya.
Mata Berlian menyipit saat melihat jus mangga yang berada di hadapannya, karena jus itu adalah kesukaannya Berlian. Kemudian dia menatap ke arah Zayden, sedangkan pria itu hanya tersenyum sambil mengangkat satu alisnya.
''Apakah kamu tidak suka dengan makanannya? Atau dengan minumannya?'' tanya Zayden dengan tatapan heran kepada Berlian.
Gadis itu terdiam sambil menatap minuman dan juga makanan yang ada di atas meja, karena itu semua adalah makanan favorit dan minuman kesukaan Berlian. Jadi bagaimana Gadis itu akan menolak.
''Tidak! Saya suka kok dengan makanan dan juga minumannya. Hanya saja saya heran, ini semua 'kan makanan kesukaan saya? Bagaimana Tuan bisa tahu?'' Berlian bertanya dengan tatapan menyelidik, sedangkan pria itu hanya terkekeh kecil.
''Jangan kepedean! Hanya kebetulan saja kok, saya mana tahu jika ini makanan favorit kamu? Sudah makan saja! Sayang banget kalau nggak dimakan,'' jawab Zayden dengan nada acuh. Kemudian dia mulai mengambil makanan ke dalam piringnya diikuti oleh Berlian.
Padahal jauh di dalam lubuk Zayden, pria itu tersenyum. Kemudian dia berkata di dalam hati, 'apapun tentangmu, pasti aku akan mengetahuinya. Jangankan makanan dan juga minuman favoritmu, bahkan ukuran dalaman kamu pun, sudah pasti aku tahu!' batin Zayden sambil tersenyum tipis.
BERSAMBUNG...
__ADS_1