
Happy reading......
Hari kelulusan Berlian pun telah tiba. Wanita itu memakai kebaya berwarna soft dipadu dengan make-up natural. Begitu cantik, dan pasti membuat mata siapa saja yang melihatnya akan terpana.
Saat Berlian sampai di dalam rumah, tiba-tiba dia kaget, karena banyak orang yang sudah berkumpul di sana. Bahkan sudah ada calon suaminya juga beserta dengan Max.
''Selamat ya, sayang, akhirnya anak mama lulus juga kuliahnya,'' ujar Dea sambil memeluk tubuh Berlian. Kemudian dia memberikan kado kepada putrinya.
''Makasih Ma, ini apa?'' tanya Berlian sambil menatap ke arah sang mama.
''Itu kado buat kamu, buka deh!'' jawab Dea.
Kemudian Berlian membuka kado dari mamanya, dan seketika matanya berbinar bahagia saat melihat Al-quran yang sudah dicetak atas namanya.
''Wah ... Mah, ini seriusan buat Berlian?'' tanyanya dengan mata yang berbinar bahagia.
''Ya serius don! 'Kan di situ ada nama kamu, Berlian Az-zahra,'' jawab Dea sambil memeluk tubuh putrinya dari samping.
Semua orang di sana memberikan kado kepadanya, tetapi tidak dengan Zayden. Duda tampan itu tidak memberikan apa-apa, hingga membuat Berlian sedikit kesal, tapi dia tidak ingin menunjukkan wajah kesalnya di hadapan Zay.
Mereka mengadakan acara bakar-bakar di taman belakang, tetapi terlihat kesedihan di raut wajah Max. Bagaimana tidak? Sampai saat ini bahkan Desi belum sadar dari komanya. Padahal sudah dua bulan berlalu, wanita itu masih betah di dalam tidurnya.
''Kenapa wajahmu sangat sedih seperti itu?'' tanya Zay sambil memakan stik bakar di samping Max.
''Aku sedih, sebab Desi masih belum juga sadar. Ini sudah dua bulan berlalu, tetapi tidak ada perubahan apapun,'' jawab Max dengan raut wajah yang terlihat begitu lesu.
Zay menepuk pundak pria tampan itu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Max, sebab setiap hari Max selalu bercerita tentang apa yang dia rasakan terhadap Desi.
Max beranjak dari duduknya, membuat dahi Zay mengkerut heran. Kemudian dia pun bertanya, ''Kamu mau ke mana? Acara 'kan belum selesai?''
''Aku harus kembali ke rumah sakit, menemani Desi. Kasihan dia. Soal file buat meeting besok, nanti akan kukirimkan,'' jawab Max. Kemudian dia pamit kepada Dev dan juga Dea, setelah itu pergi meninggalkan kediaman Bachtiar.
__ADS_1
Semua orang saat ini tengah berada di ruang tamu, sementara Berlian masih duduk di taman belakang sambil melihat foto-foto kebersamaan dengan teman-temannya.
Namun, satu hal yang membuat Berlian aneh. Kenapa dia tidak melihat Daffa dan juga Tanisha di acara kelulusan itu. Padahal seharusnya, dua orang itu juga merayakan wisuda.
''Jangan suka melamun di siang hari! Nanti disenangi Jin loh,'' ujar Zay sambil duduk di samping Berlian.
Gadis itu hanya memutar bola matanya dengan malas, saat kehadiran calon suaminya. Kemudian dia hendak beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Zay.
''Kebiasaan, kalau orang datang malah pergi? Nggak baik tahu, ninggalin orang yang lagi bicara. Nggak sopan!'' ucap Zay dengan nada penekanan.
''Lalu, Tuan mau ngapain?'' tanya Berlian tanpa menoleh ke arah Zay sedikitpun.
''Seminggu lagi kita akan menikah, dan kamu masih memanggilku dengan Tuan? Tidakkah kamu mempunyai panggilan yang lebih manis untukku, kelinci kecil?'' tanya Zay sambil menatap Berlian dan menaik turunkan alisnya.
Gadis itu menoleh ke arah samping. Dia menatap tajam ke arah pria yang saat ini tengah menatap dirinya sambil tersenyum miring, kemudian dia mencubit pinggang Zay dengan gemas.
Sehingga membuat pria itu meringis kesakitan. Bagaimana tidak? Berlian sangat kesal saat dibilang kelinci kecil. Padahal dia bukanlah seekor hewan, tapi Zay selalu saja menyebutnya seperti itu.
''Ya lagian Om, ngapain nyebut aku kelinci kecil? Emangnya aku hewan!'' kesal Berlian sambil menekuk wajahnya.
''Bukannya seperti itu. Kelinci kecil itu 'kan hanya ungkapan. Karena bagiku, kamu itu sangat manis. Jadi, tidak ada salahnya bukan, jika aku memanggilmu kelinci kecil?'' jelas Zay dengan jujur.
Pipi Berlian bersemu merah saat Zay mengatakan, jika dirinya sangat manis, tapi dia mencoba untuk menyembunyikannya dari pria itu. Berlian tahu, pasti Zay akan terus meledek dirinya.
''Dan jangan panggil aku, Om. Aku ini nggak pernah nikah sama tante kamu. Panggil aku Mas kek, apa sayang atau cinta, honey, bunny, sweety atau kamu mau manggilku suami durenku atau suami tampanku?'' goda Zay sambil menaik turunkan alisnya
.
Mendengar sebutan yang dibilang oleh pria kekar itu, Berlian malah tertawa terbahak-bahak, sampai memegangi perutnya. Bagaimana tidak? Bagi Berlian, sebutan itu sangatlah lucu. Melihat dari perawakan Zay yang kekar dan berotot, sangat tidak cocok jika dia dipanggil honey, bunny ataupun sweety. Menurut Berlian, itu sangat menggelikan.
''Kenapa tertawa? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?'' tanya Zay dengan heran.
__ADS_1
''Gimana saya tidak tertawa, Tuan? Anda ini ada-ada saja. Masa badan seperti ini, mau disebut honey, bunny, sweety? Jelas aja itu menggelikan. Memangnya Tuan ini sering magang di Gang mana?'' ledek Berlian sambil kembali tertawa.
Zay menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Apa yang dikatakan Berlian memang ada benarnya. Panggilan seperti itu memang sangat menggelikan, terlebih dengan ukuran badannya yang terbilang sangat kekar.
Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hati Zay, dia sangat senang saat melihat wajah bahagia dari calon istrinya. Apalagi Berlian sudah mau tersenyum saat berada di dekatnya. Padahal awal-awalan mereka bertemu, Berlian sangat kaku, jutek dan juga ketus.
''Jadi, panggilan yang cocok untukku apa?'' tanya Zay.
Berlian mengetuk jarinya di dagu. Dia memikirkan nama panggilan yang cocok untuk calon suaminya, tetapi melihat umur mereka yang terpaut cukup jauh, jika memanggil Zay dengan sebutan Mas, rasanya cocok tidak cocok.
''Bagaimana kalau, Om duda?'' usul Berlian.
Zay yang mendengar itu segera menggeleng dengan cepat. ''Tidak! Masa Om duda? Iya aku tahu, aku ini duda, tapi tidak usah diperjelas juga!'' tolak Zay dengan keras.
''Lalu apa dong? Masa Om janda? 'Kan nggak mungkin?'' kekeh Berlian sambil menggelengkan kepalanya dengan heran.
Keduanya sama-sama terdiam, memikirkan panggilan yang cocok untuk Zay, padahal hanya sebuah nama panggilan saja, keduanya sampai harus repot dan seperti orang kebingungan.
''Baiklah, kalau begitu kamu menyebutku Mas aja. Lagi pula, nanti setelah menikah juga kamu akan menyebutku seperti itu bukan?'' usul Zay.
Berlian menghembuskan napasnya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah pria yang berada di sampingnya tersebut.
''Baiklah, tidak ada pilihan lain, tapi mungkin nanti saat dapat panggilan yang cocok, aku akan menggantinya,'' jawab Berlian sambil beranjak dari duduknya, kemudian dia pergi meninggalkan taman belakang dan masuk ke dalam rumah.
''Dia benar-benar menggemaskan. Ingin sekali kulahap bibir seksinya, tapi sayang, aku bisa kena bogem om Dev. Sabar Zayden, sabar. Sebentar lagi dia akan menjadi milikmu seutuhnya, dan kau bisa membuat adonan setiap malam dan menyelam ke dalam gua,'' ucap Zay dengan lirih sambil tersenyum menyeringai.
BUGH!
Seseorang memukul pundak pria itu cukup keras, hingga membuatnya terlonjak kaget dan melihat ke arah belakang.
BERSAMBUNG....
__ADS_1