Tamu RANJANG Tuan DUDA

Tamu RANJANG Tuan DUDA
Ancaman Zayden


__ADS_3

Happy reading


Berlian, Tanisha dan juga Desi menatap ke arah samping. Dan mereka kaget, saat melihat seorang pria tampan kini tengah memegang tangan Tanisha, dengan sorot mata yang begitu dingin dan juga tajam.


''Dia!'' ucap lirih Berlian dengan kaget, saat melihat Zayden yang berada di hadapannya.


Berlian pikir, jika Zayden sudah pulang saat dia turun dari mobil pria itu, tetapi ternyata Berlian salah. Zayden malah ikut turun dan menghampiri dirinya.


''Jangan pernah menyakiti Berlian! Secuil saja kau menyentuh dan melukainya, maka tanganmu akan aku potong! Sehingga kau tidak akan pernah bisa untuk memegang apapun lagi!'' ancam Zayden dengan sorot mata yang begitu tajam. Kemudian menghempaskan tangan Tanisha dengan kasar hingga membuat wanita itu terhuyung ke belakang.


Untung saja Desi berada di samping Tanisha, dan menahan tubuh wanita itu, sehingga tidak jatuh ke bawah. Sementara Tqnisha menatap ke arah Zayden dengan tatapan bingung.


''Siapa kamu? Berani sekali kamu ikut campur urusan saya! Kamu tidak tahu siapa saya, hah!''geram Tanisha sambil menunjuk wajah Zayden.


Pria itu malah berdecih, mengejek kepada Tanisha. Kemudian dia menepis kasar tangan Tanisha yang sedang menunjuk wajahnya. ''Saya tidak perlu tahu sampah seperti kalian itu siapa! Karena bagi saya, tidak penting. Kamu hanyalah wanita yang tidak memiliki prestasi apapun. Dan bisanya menghianati seorang sahabat, dan menjebak orang itu!'' jawab sarkas Zayden.


Tanisha terperanjat kaget saat mendengar ucapan Zayden, kemudian dia melirik ke arah Berlian. Sedangkan yang dilirik hanya melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan acuh.


''Diam kamu! Kamu itu tidak tahu apa-apa ya. Jangan asal nuduh jadi orang.'' Tanisha benar-benar tidak terima jika dirinya dibilang seorang penghianat.


''Ckckck, anda ini lucu sekali ya? Dibilang penghianat, tetapi tidak suka. Namun nyatanya memang anda ini seekor ular berbisa? Saya peringatkan sekali lagi ya! Jika kamu masih mengganggu Berlian, maka saya tidak akan pernah segan menghancurkan keluarga kamu, sampai ke akar-akarnya! Hingga kamu dan keluarga kamu hanya akan menjadi Gelandangan di pinggir jalan!'' ancam Zayden sambil menunjuk wajah Tanisha dengan sorot mata yang dingin.

__ADS_1


Wanita itu begitu takut saat melihat sorot mata Zayden. Entah kenapa, bulu kuduknya terasa merinding. Karena aura di sana terasa begitu dingin. Tanpa mengucapkan apapun, Tanisha menarik Desi dan meninggalkan Zaydenn juga Berlian.


Sementara itu, Berlian hanya tersenyum tipis saat melihat wajah ketakutan Tanisha. Dia tidak menyangka jika nyali wanita itu menciut saat melihat kemarahan Zayden. Namun seketika Berlian mengalihkan tatapannya ke arah pria yang ada di sampingnya.


Om mau ngapain ikut saya turun Ngomong ngikutin saya tanya berlian dengan tatapan menyipit ke arah Zaidan.


Zayden menghela nafasnya dengan kasar, dia benar-benar harus bersabar menghadapi calon istrinya yang bar-bar dan juga sangat susah untuk didekati dan diluluhkan.


''Nih, saya mau ngembaliin buku kamu yang tertinggal di mobil saya,'' jawab Zayden sambil menyerahkan buku pelajaran Berlian.


Wanita itu menatap ke arah tangan Zayden, dan benar saja ada buku yang tertinggal di mobil Zayden. Wanita itu sama sekali tidak sadar, kemudian Berlian mengambil buku itu lalu pergi meninggalkan Zayden, tapi tangannya langsung ditahan oleh Zayden, sehingga langkah Berlian pun terhenti.


''Kamu ini benar-benar tidak tahu sopan santun Ya! Sudah saya bantu balikin buku kamu, tapi kamu tidak ada terima kasihnya sama sekali. Apakah orang tua-mu tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap baik kepada orang?'' tanya Zayden dengan sorot mata yang tajam, dan juga penuh kekesalan kepada Berlian.


''Jangan pernah membawa-bawa nama mama dan juga papa. Asal Om tahu ya! Aku tidak akan pernah semudah itu untuk luluh dan juga memaafkan Om. Karena gara-gara Om, aku harus kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Mungkin bagi Om, itu biasa saja, tapi bagiku Itu adalah sebuah kehormatan bagi seorang wanita. Om paham 'kan? Nggak akan pernah mudah untuk mendapatkan maaf dariku!''


Setelah mengatakan itu, Berlian pergi meninggalkan Zayden dan masuk ke dalam kampus. Sedangkan pria itu hanya meringis kesakitan, dan menatap Berlian yang semakin jauh.


'Aku benar-benar direndahkan oleh seorang anak kecil? Sungguh keterlaluan!' batin Zayden menggerutu dengan kesal, kemudian dia berjalan ke arah mobil untuk pergi ke kantor.


Berlian memang masih menaruh dendam dan juga benci kepada Zayden. Karena walaupun mamanya mengatakan jika dia tidak boleh menaruh dendam kepada orang lain, tetapi Berlian hanyalah manusia biasa dia mempunyai amarah.

__ADS_1


Tidak mudah bagi Berlian untuk memaafkan kesalahan Zayden. Walaupun dia sudah melihat buktinya, jika Zayden sama-sama korban, tetapi tetap saja bagi Berlian Zayden sudah bersalah. Karena dia tidak mau mendengarkan permohonan dan permintaan Berlian pada malam itu.


Saat Berlian akan masuk ke dalam kelas, lagi-lagi langkahnya harus terhenti saat Daffa menarik tangannya dan membawa Berlian ke pojokan yang ada di pinggir kelas.


''Berlian, aku mohon. Tolong kamu bicara kepada papa kamu, untuk tidak menghancurkan restoran Papaku. Tolong kembalikan restoran Papaku! Aku minta maaf, jika aku bersalah. Aku melakukan itu karena aku---''


''Cukup! Sekarang percuma saja kamu meminta maaf. Jika papa sudah turun tangan, maka tidak akan pernah bisa ada yang mencampurinya. Walaupun aku memintanya untuk tidak menghancurkan restoran keluarga kamu, tetapi tidak bisa. Keputusan papa itu, sudah bulat. Dan aku tidak bisa melakukan apapun, maaf.'' Setelah mengatakan itu, Berlian pergi untuk masuk ke dalam kelas, tetapi Daffa malah menarik dan memeluk tubuhnya dari belakang


''Lepaskan aku!'' pinta Berlian sambil memberontak, tetapi Daffa segera menggeleng dengan cepat.


''Tidak akan! Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Jika kamu tidak berbicara kepada papa kamu!'' tolak Daffa.


Berlian menyikut perut Daffa, hingga membuat pria itu kesakitan dan melepaskan pelukannya. Kemudian dia menginjak kaki Daffa dengan keras, dan menampar wajah pria itu, hingga membuat Daffa benar-benar merasa sakit.


''Rasa sakit yang kamu rasakan sekarang itu, tidak seberapa dengan rasa sakit yang kurasakan. Dan asal kamu tahu ya! Tidak mudah bagiku untuk memaafkan kalian. Karena kejahatan kalian benar-benar keterlaluan!'' Berlian berucap dengan marah, bahkan air matanya sudah mengembun di kedua pelupuk mata indahnya.


Wanita itu membalik badannya dan pergi meninggalkan Daffa, lalu masuk ke dalam kelas. Satu tetes air mata lolos mengalir di pipi Berlian, tapi wanita itu segera menghapusnya agar tidak terlihat oleh siapapun.


Bohong jika Berlian tidak merasakan apa-apa. Bohong jika luka di hati Berlian telah sembuh. Dia mungkin terlihat begitu kuat dan tegar di luar, karena dia tidak ingin orang lain melihatnya sebagai wanita yang lemah, tapi siapa yang tahu, jika sebenarnya Berlian benar-benar hancur di dalam.


Bahkan setiap kali dia bertemu dengan Zayden, luka itu semakin menganga. Dan melihat Zayden, membuat Berlian semakin membenci pria itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2